Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 131. Kencan terakhir


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Max membuka matanya lebar-lebar, dia tidak percaya bahwa Liliana ada didepannya. Wanita itu bahkan tersenyum kepadanya.


Liliana menatap pria itu, dia berusaha menahan air mata yang mengalir.


"Lily, apa ini benar-benar kau?"Tanya Max sambil berjalan menghampiri wanita itu.


"Iya, ini saya yang mulia. Apa yang mulia ada waktu? Bukankah kita harus bicara hari ini?" Liliana bertanya dengan suara lembut pada Max.


Kenapa dia terlihat kacau? Apa dia belum tidur semalaman?


Max langsung memeluk Liliana dengan lega. Bersandar di dalam tubuh mungil wanita cantik itu. "Aku pikir kau tidak mau bicara denganku lagi. Ternyata kau masih mau berbicara denganku," ucap Max sambil memeluk Liliana.


Wanita itu memaksakan dirinya untuk membalas pelukan Max. Dia juga membenamkan wajahnya di pelukan Max.


Aku akan memelukmu sepuas hatiku, hanya untuk hari ini saja.


"Lily, apa kau percaya padaku? Aku dan wanita itu tidak melakukan apapun, aku dijebak dan aku akan segera membuktikannya padamu!" Max melepaskan pelukannya, kemudian dia memegang kedua tangan wanita itu.


"Sssttt... saya tau, jadi jangan bicara lagi. Jika yang mulia tidak sibuk, apa saya bisa meminta waktu anda sebentar? Kita bicara sambil jalan-jalan." ajak Liliana pada Max.


Max terheran-heran, dia merasa ada yang aneh dengan Liliana.Tiba-tiba saja Liliana mengajaknya jalan-jalan ditengah masalah rumit yang sedang terjadi diantara mereka. "Lily, ada apa denganmu? Kenapa kau..."


"Kalau yang mulia tidak mau jalan-jalan, ya sudah. Saya akan kembali ke kediaman Duke, saya juga tidak mau bicara dengan yang mulia." Liliana membalikan tubuhnya. Dia terlihat kesal pada Max.


"Ti-tidak, aku mau jalan-jalan. Ayo kita pergi," ucap Max sambil menahan Liliana pergi darisana.


"Boleh tidak, tempatnya...atas rekomendasi saya?" tanya Liana sambil tersenyum pada Max. Senyuman tipis dan menyiratkan sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh Max.


"Ah....iya." Max memegang tangan Liliana.


Max menunda semua jadwalnya selama dua jam. Liliana juga tau bahwa ini bukan saatnya Max untuk berjalan-jalan, dia melakukan ini karena dia takut akan segera pergi dari sisi pria yang sangat ia cintai itu.


Liliana mengajak Max ke taman danau tempat mereka akan bertemu sebelumnya, namun tidak jadi. Disanalah Max meminta maaf pada Liliana karena dia tidak datang seperti apa yang sudah dijanjikannya pada Liliana.


"Lily, maafkan aku...saat itu aku sedang bersama Duke Norton dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya. Aku tidak bermaksud mengingkari janji kita,"


"Sssttt..." Liliana menutup bibir pria itu dengan jari telunjuknya. "Hari ini aku tidak mau mendengarmu membicarakan masalah yang sedang kita hadapi. Aku ingin selama dua jam ini kita berkencan."


"Kencan?" Max tercekat mendengarnya.


Kenapa Lily sangat aneh? Disaat seperti ini dia mengajak kencan?


"Kumohon...aku sangat stress karena semua masalah ini. Aku ingin kita tidak memikirkan masalah itu lebih dulu!" Seru Liliana sambil meraih kedua pipi Max dengan lembut.


Entah kapan lagi aku bisa menyentuhmu seperti ini Maxim.


Benar juga, Lily pasti sangat stress dengan masalah ini. Setelah sampai ke istana, aku akan membereskan semua masalah. Aku tidak akan menikahi nona Julia, tidak akan! Aku tidak akan mengkhianati Liliana.


Max dan Liliana jalan-jalan disekitar taman danau itu. Max berjanji pada Liliana bahwa dia tidak akan menikahi Julia seperti yang diminta oleh para bangsawan. Dia tidak akan mengkhianati cintanya dan akan kembali menikahi Liliana.


"Ya, aku percaya padamu. Kita akan tetap bersama selamanya." ucap Liliana sambil tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Kau tidak berbohong, kan? Kau benar-benar percaya padaku? Kau tidak akan meninggalkan aku karena semua ini, kan?" tanya Max yang ragu karena sikap Liliana pada hari itu, terasa aneh dan manja kepadanya.


Tidak terjadi sesuatu pada Lily, kan? Aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya ini.


"Iya, aku percaya padamu yang mulia. Sekarang, mari kita makan bersama. Aku sudah lapar," ucap Liliana sambil tersenyum dan memegang tangan Max dengan erat.


Entah kapan lagi aku bisa menggenggam erat tanganmu seperti ini. Kita harus berpisah demi kebaikan bersama.


"Kau lapar? Aku juga lapar," Max menggandeng tangan Liliana.


Mereka berdua makan bersama di sebuah di restoran, keduanya tertawa seperti tidak ada masalah yang terjadi. Setelah makan, Max menguap dan terlihat lelah. Liliana sudah menduganya, bahwa Max pasti tidak tidur semalaman karena masalah yang terjadi di istana.


Maxim pasti tertekan dengan semua masalah yang terjadi bertubi-tubi padanya. Kantung matanya hitam dan tebal, wajahnya juga pucat.


"Yang mulia.."


"Ya?" sahutnya.


"Waktu kita tinggal setengah jam lagi, apa kau mau kembali ke istana sekarang?" tanya Liliana pada pria tampan itu.


"Setengah jam lagi apanya? Kita masih punya banyak waktu dan berapapun waktu yang akan aku habiskan denganmu, aku tak peduli." ucap Max sambil menatap dalam kepada Liliana.


"Ya, yang mulia benar. Kita akan menikah lagi setelah ini dan semuanya akan kembali seperti sedia kala. Lalu kita akan punya banyak waktu," ucap Liliana sambil tersenyum.


Maafkan aku, aku berbohong.


"Itu kau tau."


"Tapi kita harus kembali, kau harus beristirahat." ucap Liliana sambil tersenyum.


"Kau adalah calon raja negeri ini, kau harus sehat selalu dan tidak boleh sakit. Bagaimana kau akan memimpin negeri kalau Rajanya saja sakit? Kau harus menjadi raja yang hebat!" kata Liliana dengan harapan tulusnya.


"Apa kau senang kalau aku menjadi raja yang hebat?"


"Tentu saja, raja yang hebat dan dicintai semua rakyatnya. Bagaimana aku tidak bisa suka pada pria seperti itu?"


Max mengecup kening Liliana dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Liliana, aku beruntung karena aku memilikimu sebagai pendampingku. Maafkan aku karena aku bukan pria yang sempurna untukmu, aku telah menyakitimu.."


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kau juga tidak bermaksud menyakitiku kan? Kau hanya melakukan semua ini demi semua orang, kau tidak sengaja." ucap Liliana sambil tersenyum dan meminta Max untuk tidak membahasnya lagi.


"Jadi.. kau memaafkanku?"


Liliana mengangguk pelan.


"Terimakasih banyak! Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan padaku, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah kau berikan kepadaku."


"Baiklah aku mengerti!"


"Aku janji," Max mencium lagi kening Liliana dan memeluk wanita itu dengan erat.


Mereka berdua kembali ke istana setelah menghabiskan waktu dari siang sampai malam di luar istana. Segudang pekerjaan sudah menanti Max, namun Liliana meminta pada Pierre secara diam-diam agar dia diberikan waktu untuk bersama Max satu jam lagi.


Pierre pun menyetujuinya, dia juga akan merahasiakan kepergian Liliana dari Max. Liliana masuk ke dalam kamar yang dia tempati di istana putra mahkota, disana dia bersiap selagi Max sedang berada didalam kamar mandi.

__ADS_1


Liliana memakai baju tipis, dia berpenampilan cantik secantik mungkin malam itu. Dia juga menghiasi ranjang itu dengan bunga-bunga dan menebarkan wewangian disana.


Wanita itu juga menyiapkan lilin yang bisa membuat seseorang tertidur lelap. Entah apa yang akan dia lakukan malam itu bersama Max.


Cekret!


Pintu kamar mandi terbuka, terlihat pria tampan dengan telanjang dada. Dia adalah Maximilian, calon raja negeri Istvan. Dia menatap Liliana yang sedang duduk diatas ranjang. Max terpana melihat kecantikan Liliana, rambutnya tergerai panjang, baju tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya itu membuat Max tergoda.


Salivanya naik turun melihat Liliana, apalagi ketika wanita itu tersenyum menyambut dirinya. "Apa kau sudah selesai mandi? Mau aku bantu keringkan rambutmu?" tanya Liliana sambil tersenyum manis.


"Lily, apa yang kau..."


Liliana menarik tangan pria itu, dia membantu Max mengeringkan rambut Max dengan handuk kering. Pria itu sudah duduk didepan Liliana. "Kau tidak perlu melakukan itu,"


Ada apa dengan semua ini? Kenapa ada bunga-bunga diatas ranjang? Lalu wewangian apa ini?


Max kebingungan dengan apa yang terjadi dan apa yang dilakukan Liliana. Suasana malam itu di kamar itu tampak seperti suasana malam pertama.


"Rambutmu sudah selesai aku keringkan. Kau tidak akan terkena flu kalau sudah seperti ini. Oh ya, bagaimana? Apa kau suka dengan wewangiannya?" Liliana membelai pipi pria itu.


"Lily, sebenarnya apa yang kau lakukan?"


"Apa lagi? Aku sedang mencoba solusi terbaik untuk melupakan semua masalah kita malam ini."


"Dan.. apa solusi itu?" tanya Max sambil menatap istrinya itu.


Liliana mengecup lembut pipi suaminya, dengan satu tangan membelai dada bidang sang suami. "Ini..."


Pertahanan Max sebagai pria sudah runtuh, dia tidak tahan lagi dengan godaan yang diberikan.


"Akkh!!" Liliana sudah berada di pangkuannya.


"Lily, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini dan apa akibatnya?"


"Aku sudah tau..." dengan sengaja Liliana membelai belai tubuh suaminya yang kekar itu dengan lembut.


Tubuh Max semakin panas, bagian tubuhnya sudah sulit untuk dikendalikan. "Lily...jangan.."


"Lakukan saja, aku tidak apa-apa. Kau bisa memelukku sepuas hatimu malam ini, mari lupakan semua masalah diantara kita malam ini saja. Jangan pikirkan pekerjaan, negeri dan orang-orang. Malam ini, kau hanya untukku saja yang mulia."


Ucapan Liliana selembut sutra dan semanis madu, siapa yang tidak akan tergoda untuk mereguk manisnya. Disaat tubuh yang molek itu sudah pasrah diberikan untuk Max.


"Kau akan menyesalinya," ucap Max dengan tatapan nanarnya pada Liliana.


Tangan Liliana memeluk tubuh suaminya, "Aku tidak akan, yang mulia."


Hanya ini hal terakhir yang bisa akan berikan padamu.


Max menikmati setiap sudut tubuh istrinya, keduanya memadu kasih dengan penuh cinta pada malam itu. Ciuman, pelukan yang penuh kerinduan. Malam panas penuh gairah dalam waktu 1 jam.


Liliana terbangun di pelukan suaminya dalam keadaan tidak memakai sehelai benang. Tanda merah seperti bekas gigitan nyamuk yang banyak di tubuhnya terutama bagian dada dan leher.


Tangan Liliana menyingkirkan tangan kekar Max yang membelit tubuhnya. Wanita itu segera berpakaian dengan lengkap. Kemudian dia menyalakan lilin aromatik yang fungsinya bisa membuat rileks dan lelap dalam tidurnya.

__ADS_1


"Kau harus menjadi Raja yang hebat, kau harus hidup bahagia walau tanpa ada diriku. Satu hal yang harus kau tau, aku mencintaimu..sangat.." Liliana mencium kening Max sambil menahan air matanya.


...****...


__ADS_2