Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 74. Tidak tahu malu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Hahahaha.. apa kau sedang bercanda denganku? Bagaimana bisa mungkin kau adalah istriku? Pertanyaan konyol macam apa yang aku tanyakan ini? Tentu saja kau bukan dia!"


Arsen tertawa, dia tidak percaya bahwa Liliana adalah istrinya di masa lalu. Walau dia sudah mengaku bahwa dirinya adalah Adaire.


"Kalau kau tidak percaya, ya sudah...aku kesini hanya ingin mengatakan selamat tinggal padamu. Karena besok mungkin aku tidak akan bisa mengatakannya," ucap Liliana sambil tersenyum sinis.


"Apa maksudmu?"


"Hukuman untukmu sudah dijatuhkan, kau akan di eksekusi besok. Selamat, Arsen!" Wanita itu tersenyum puas.


"A-apa?" Arsen ternganga mendengar berita buruk itu dari Liliana.


"Hukuman yang setimpal untuk menebus dosa dosamu, harusnya kau senang. Mungkin dengan hukuman ini kau akan terbebas dari api neraka! Ah...tidak, kau tidak boleh lepas, bahkan di neraka sekalipun!" teriak Liliana emosi. Dia teringat dengan masa lalunya.


"Kau...jadi kau benar-benar si gajah bengkak itu?" Arsen menyadari bahwa Liliana adalah Adaire, istrinya yang sudah meninggal. Melihat dari sikapnya yang penuh dendam dan murka padanya.


"Jadi kau baru sadar?" gadis itu mendelik sinis.


"Hahaha.. bagaimana bisa kau menjadi gadis cantik seperti ini? Apa kau melakukan sihir? Si gajah bengkak itu.. harusnya sudah mati, kenapa orangnya masih ada disini dalam wujud yang lain?" Arsen tertawa, dia tak percaya bahwa Liliana adalah adalah Adaire.


"Kau percaya akan keajaiban? Arsen.. itu terjadi padaku. Wanita yang kau bunuh pada malam itu, wanita yang kau khianati dengan kejamnya! Aku hidup kembali didalam tubuh ini, Tuhan sayang padaku.. Tuhan tidak tega membiarkanku mati tanpa membalas dendam padamu dan Adara," ucap Liliana sambil tersenyum sinis.


"Aku.. masih belum percaya.. ternyata kau... ternyata selama ini kau berada di dekatku?" ucap Arsen sambil menatap tajam pada Liliana.


"Walau aku belum puas melihatmu mati seperti ini begitu saja, tapi aku ucapkan selamat tinggal.." Liliana melangkahkan kakinya pergi dari sana, setelah dia puas mengejek Arsen.


"Tunggu! Aku belum selesai bicara!" Arsen memanggil Liliana dengan tenaganya yang tersisa.


Liliana menoleh kebelakang dengan tatapan sinis, "Apa?"


Apa dia mau meminta maaf?


"Jika kau adalah Adaire, maka statusmu masih istriku kan?" tanya Arsen sambil tersenyum.

__ADS_1


"APA? Betapa tidak tau malunya dirimu, mengajukan pertanyaan seperti ini padaku?" Liliana tak habis pikir.


"Seharusnya kau membantu suamimu saat ini. Kau masih hidup dan kami tidak membunuhmu. Bebaskan aku dari sini dan aku akan memaafkan mu. Lalu mari kita hidup bahagia bersama," Arsen tersenyum memandang Liliana.


Si gajah bengkak sekarang sudah menjadi cantik. Dan dia adalah istriku.


"Heh! Kau benar-benar tidak tahu malu, bahkan sampai akhir kau tidak meminta maaf? Kau pikir aku mau bersama denganmu lagi? Lelaki bajingan dan sampah!" Liliana memaki pria yang pernah menjadi suaminya itu. Dia semakin jijik padanya.


"Haha, kau kemari bukan untuk mengejekku. Aku tau kau kemari untuk melihatku karena kau masih mencintaiku, Adaire?" tanya Arsen percaya diri.


Liliana mendesis kesal, alisnya terangkat dan matanya menatap tajam penuh kebencian pada Arsen.


Bukan hanya Liliana yang marah dan jijik pada Arsen, tapi lelaki dibelakang sana juga merasakan hal yang sama. Max tidak sabar dan ingin menghampiri Arsen.


"Yang mulia, mohon tahan emosi anda!" Seru Blackey mengingatkan.


"Bagaimana bisa ada orang yang begitu tidak tahu malu seperti dirinya? Wanitaku mencintainya? Apa dia gila? Dia mau mati ya!" gerutu Max kesal.


"Yang mulia, tenanglah dulu! Kita dengarkan nona dan Count Wales sampai akhir! Nona akan marah kalau anda ketahuan menguping,"


"Hey...mana mungkin seorang putra mahkota menguping? Aku hanya mendengarkan! MENDENGARKAN, kau paham Blackey?" Ucap Max sambil melotot pada si burung gagak itu.


Max dan Blackey kembali menguping. Mereka memperhatikan Liliana dan Arsen dari kejauhan.


"Hahahaha, darimana kepercayaan dirimu itu berasal? Benar-benar tidak tahu malu.. Arsen, kau adalah sampah. Taukah kau, aku sangat menyesal karena pernah mencintaimu. Itu adalah hal yang terburuk didalam hidupku, tapi hari ini dan seterusnya.. aku akan melepaskan perasaan dendam ini. Aku harap kau juga sama," ucap Liliana dengan hati yang berat sambil tersenyum pahit.


Ya, benar.. aku harus hidup bahagia setelah ini. Tidak boleh ada dendam karena masih ada banyak orang yang mencintaiku.


Arsen terdiam, dia sadar bahwa kata-kata Liliana bukanlah kata-kata cinta. Melainkan kata yang mengandung kebencian. Apa meminta maaf sudah terlambat untuk dirinya yang tidak berperasaan dan tidak tahu malu?


"Adaire... bagaimana keadaan Adara?" tanya Arsen pada Liliana. Kali ini suaranya terdengar serius dan membuat suasana menjadi tegang.


"Tenang saja, dia tidak akan mati sama seperti dirimu. Hanya hukuman seumur hidup," jelas Liliana tegas.


"Baguslah...aku harap dia melahirkan bayinya dengan selamat," ucap Arsen sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Liliana terpana melihat Arsen yang sikapnya berubah secepat itu. Tapi Liliana tidak peduli lagi, kali ini dia benar-benar pergi meninggalkan Arsen disana. Setelah kepergian Liliana, Arsen tertawa sendiri seperti orang gila. Dia juga menangis meratapi hidupnya yang mungkin hanya tinggal beberapa jam lagi.


Liliana berjalan sempoyongan, dia tak kuasa menahan tangis. Kenangan pahitnya bersama Arsen masih tersisa didalam hati. "Hiks...hiks..bahkan sampai akhir pun dia tidak meminta maaf, dia..."


Sakit hatinya mengingat kenangan dulu, dimana Arsen berpura-pura mencintainya.


Di lorong penjara itu dia menangis sendirian. Max menghampirinya, lalu menyeka air mata Liliana.


"Aku tidak suka kau menangis karena pria lain, jadi hapuslah air matamu itu!"


"Yang mulia.." Liliana memeluk pria itu, dia menangis didalam dekapannya.


"Jangan menangis demi pria itu, apa kau seperti ini karena kau masih mencintainya?" tanya Max.


Liliana menggeleng, "Bukan begitu, aku hanya kesal karena sampai akhir pun dia tidak meminta maaf padaku! Bukan karena aku memiliki perasaan padanya," ucap Liliana menjelaskan.


"Awas saja kalau kau masih memiliki perasaan padanya! Aku akan..."


"Akan apa?"


"Aku akan memakanmu saat ini juga, untuk menjadikanmu milikku.."


"Memakanku? Apa maksudmu?" tanya Liliana dengan wajah polosnya.


Max mendekatkan wajahnya ke arah Liliana, dia menatap bibir cantik kekasihnya. Niatnya sudah jelas, dia ingin melahap bibir itu.


Saat kedua bibir itu akan bersentuhan, seseorang datang menghampiri Liliana dan Max. Membuat mereka jadi berjauhan.


"Ehem, hormat pada yang mulia putra mahkota.." pria itu membungkukkan setengah badannya penuh hormat.


"Duke Geraldine?" Max terkejut melihat Duke Geraldine tiba-tiba berada disana.


"Ayah?" Liliana terpana melihat ayahnya disana.


Kenapa ayah berada disini?

__ADS_1


Duke Geraldine menatap putra mahkota dan Liliana dengan tajam. Dia seperti tidak senang melihat kebersamaan mereka.


...----****----...


__ADS_2