Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 70. Raja cemburu


__ADS_3

...****...


Max, Liliana, Eugene dan Pierre sampai didepan ruangan kesehatan istana. Max meminta pengawal dan sekretaris pribadinya untuk tidak masuk ke dalam ruangan dan menunggu diluar saja.


Eugene dan Pierre mengangguk patuh, mereka paham bahwa Max dan kekasihnya ingin berduaan saja didalam sana.


Max dan Liliana masuk ke dalam ruangan itu berdua saja. Sementara Eugene dan Pierre menunggu di depan pintu ruang kesehatan, disana juga terlihat beberapa pengawal yang menjaga selain mereka berdua..


Max menatap tajam pada kekasihnya, kemudian dia menggendong Liliana hingga gadis itu terduduk diatas ranjang. "Yang mulia.."


"Pandai sekali kau membuatku marah, kita baru saja jadian.. dan kau sudah menggoda pria lain!"


"Maaf, menggoda maksudnya?" Liliana menangadah kearah Max.


Max membuka jubah yang sebelumnya dia lilitkan pada rok Liliana. "Yang mulia!" Pekik wanita itu terkejut, saat paha mulusnya terlihat. Pasalnya, gaun Liliana robek dibagian itu.


"Kenapa? Malu? Lalu kenapa tadi kau seperti ini didepan para bajingan itu?" tanya Max sambil tersenyum menyeringai, tangannya menyentuh paha mulus kekasihnya dengan perlahan.


"Yang mulia.. tadi aku benar-benar tidak sadar kalau keadaanku seperti ini," ucap Liliana dengan suara gemetar karena menahan geli sentuhan Max.


Dia ini kenapa? Apa dia kerasukan setan cemburu?


Max mendekatkan wajahnya pada wajah cantik sang kekasih. Tangannya masih bergerilya di paha putih yang cantik itu. "Masih berani keluar seperti ini? Katakan padaku, bagaimana aku harus menghukum mu?" ucap Max berbisik ditelinga Liliana.


Napas panasnya berhembus di leher cantik yang jenjang itu, membuat sekujur tubuhnya menjadi panas. Gadis itu menggelinjang dan menggeliat kegelian. Saat jari-jari Max mulai menyusuri punggungnya dengan perlahan.


"Yang mulia...hen-hentikan.."


"Masih mau berpakaian seperti ini didepan bajingan itu? Tampaknya kau masih belum tau bagaimana marahnya kekasihmu ini, Liliana.." dengan sengaja, Max melepas tali-tali yang mengikat gaun Liliana hingga terlepas.


Liliana merasakan longgar pada gaun bagian atasnya, korset di perutnya sudah terlepas. "Maximilian! Apa kau sudah gila?" kesopanannya musnah saat Max sudah mulai berniat menelanjanginya.


Apa dia ingin menelanjangiku?


Max mendorong tubuh Liliana ke bawah ranjang. "Maximilian!" tangan Liliana mendorong tubuh yang menindihnya itu. Dia ketakutan melihat sosok Max yang sedang marah itu.


"Apa kau sudah jera? Masih mau berpenampilan seperti itu lagi? Masih mau membahayakan dirimu untuk orang lain? Aku kan sudah pernah katakan, aku tidak suka kau cantik didepan orang lain! Apalagi memamerkan pahamu seperti ini?" ucap Max dengan suara dingin dan tajam sampai menusuk ke hati Liliana.


Kenapa dia semarah ini? Ya ampun, dia benar-benar raja cemburu. Kemarahannya seperti api yang terus menyambar, bagaimana aku menghentikannya?


"Dengarkan aku, yang mulia.. aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud mempertontonkan diriku didepan mereka semua, aku berdandan cantik seperti ini juga untuk dirimu kan? Lihat, aku memakai kalung dan jepitan yang kau berikan padaku.. aku tidak bermaksud memamerkan tubuhku pada mereka, kumohon jangan marah.." ucap Liliana menjelaskan dengan lembut.


Max terdiam sejenak, tapi tatapannya masih saja tajam karena marah. Seakan ada api yang membakar wajahnya.


"Oh benar juga, ini bukan salahmu. Tapi salah para bajingan itu, kenapa mereka melihat kekasihku seperti ini? Haruskah aku cabut bola mata mereka keluar?" Max tersenyum menyeringai.


Haihh...dia masih saja cemburu. Dan dia malah tambah marah padaku.


Tak ada jalan lain lagi selain menenangkan amarah seorang pria cemburu selain dengan gerakan manja dan lembut. Liliana memberanikan dirinya mengecup pipi sang kekasih dengan lembut.


"Tenanglah...kecantikanku, hanya milikmu saja yang mulia," ucapnya lemah lembut.


Astaga! Aku tak percaya aku bersikap lembut dan mengucapkan kata-kata romantis seperti ini.


Max terdiam, dia membeku sambil memegang pipinya. "Yang mulia.." wanita itu menatap Max dengan kebingungan.


Tatapan Liliana membuat wajah Max terbakar, dia memerah. Kemudian memeluk Liliana dengan lembut. "Kau sudah mulai berani ya sekarang?"


Suaranya melembut, dia sudah tidak marah kan?


Liliana tersenyum didalam dekapan Max, dia merasa bahwa kekasihnya sudah tidak marah lagi. "Kau sudah tidak marah?"


"Siapa yang marah? Aku hanya cem-"


"Kau cemburu?" Liliana memangkas ucapan Max dengan cepat. "Dasar raja cemburu," gumamnya sambil tersenyum.


"Hem.. iya.." jawab Max mengaku.

__ADS_1


"Barusan kau sudah marah-marah padaku dan membuatku ketakutan. Sekarang giliranku yang memarahimu!"


"Memangnya aku salah apa?" tanya Max sambil merapikan kembali gaun Liliana yang dia lorotkan sebelumnya.


"Kau sudah berjanji padaku tapi kau mengingkarinya! Aku kan sudah bilang untuk merahasiakan hubungan kita didepan semua orang!"


"Oh itu.. maafkan aku. Aku tidak tahan melihat pemandangan tadi, tanpa sadar hatiku bergerak lebih dulu dibandingkan logikaku. Tapi, tidak apa-apa.. kelak tidak akan ada yang menganggumu lagi di masa depan, semua orang sudah tau kalau kau spesial bagiku.."


"Haahh... dalam situasi genting begini, bagaimana kau bisa bicara seperti ini yang mulia? Jika ayahku tau.. bagaimana?" gumam Liliana kebingungan, karena semua orang diluar sana pasti sedang membicarakannya dan Max. Kalau Duke Geraldine tau, dia tidak akan senang akan hal ini.


"Lily, apa kau sangat tidak mau menjadi putri mahkota?" ucap Max sambil memegang tangan Liliana, dia juga menatapnya dengan nanar.


"Bukankah kau sendiri yang bilang, kau takut mengekang kebebasanku? Apa kau berubah pikiran?" Liliana bertanya balik pada pria itu.


"Ya, aku berubah pikiran. Jalan satu-satunya agar kita bisa bersama, hanyalah kau harus menjadi putri mahkota.." ucap Max penuh harapan.


"Aku menolaknya yang mulia," jawab Liliana tegas.


Max melepaskan tangan Liliana, dia mendesah, "Haahhhh...aku sudah tau kalau kau akan jawab begitu. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan tetap menunggu sampai kau berubah pikiran." Max menatap wanita itu dalam-dalam.


"Aku tidak akan berubah pikiran, yang mulia.."


"Sepertinya cintamu padaku, masih belum cukup untuk membuatmu berubah pikiran. Dan sepertinya aku lebih mencintaimu daripada kau yang mencintaiku," suaranya terdengar kecewa. Terlihat senyuman pahit dibibirnya.


"Yang mulia, bukan seperti itu.." Liliana mencoba menjelaskan.


"Sudahlah, jangan membahas ini dulu..kalau membahas ini, kepalaku malah jadi panas. Aku lebih suka bermesraan denganmu. Kita belum lama menjadi pasangan kekasih, masa sudah bertengkar? Lupakan saja yang barusan aku katakan!" Max kembali tersenyum, namun senyuman itu terlihat getir.


Liliana memeluk Max lebih dulu, dia berusaha menenangkan hati pria itu yang terluka karena dirinya. "Maafkan aku yang mulia,"


Tangan Max menyapu lembut rambut panjang gadis itu, "Tidak apa-apa.."


Terlepas dari hubungan mereka yang sudah resmi menjadi kekasih. Max yang terlahir sebagai putra mahkota, harus tetap menjadi putra mahkota. Bisa saja dia mundur dari posisinya, tapi bagaimana dengan kerajaan Istvan jika dibawah pengaruh ratu Freya?


Dia mempertahankan kedudukannya segala putra mahkota adalah untuk melindungi dirinya dari kejahatan orang-orang yang ingin menjatuhkannya. Dia tidak bisa melepaskan status itu.


Keduanya masih sama-sama berada didalam ego masing-masing. Cinta mereka belum cukup kuat untuk menghadapi perbedaan.


...****...


Setelah bertemu dan berduaan dengan Liliana, tidak membuat suasana hati Max membaik. Suasana hatinya malah memburuk, dia tiba-tiba saja mengajak Eugene dan para kstaria black knight lainnya untuk berlatih pedang.


"Astaga! Bagaimana bisa kau terpilih menjadi kstaria black knight dengan kemampuanmu yang seperti ini? Tikus jalanan saja bisa melakukan gerakan bodohmu itu!" Max menodongkan pedang kepada salah satu kstaria yang tangannya sudah dipatahkan oleh Max.


"Sa-saya.." Ksatria itu terengah-engah, dia memegang tangannya yang sudah mati rasa.


Beberapa ksatria lain menolongnya dan menghentikan kemarahan Max untuk membunuh pria itu. Eugene menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.


"Sir Eugene, apa yang terjadi dengan yang mulia?" tanya seorang kstaria keheranan melihat sikap putra mahkota yang lebih garang dari biasanya.


"Masalah hati," jawab Eugene sambil menghela napas.


"Kalau itu.. aku juga tidak bisa berkomentar, karena masalah hati memang rumit!"


Mereka melihat Max yang terlihat emosional dan tidak ada yang berani mendekat padanya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Disisi lain, Ratu Freya sedang menyelidiki panah yang hampir menembus tubuhnya. Dia mengatakan pada Raja bahwa dirinya hampir terbunuh. Raja mendengar laporan itu dan langsung khawatir pada sang istri. Jika Liliana tidak tepat waktu menolongnya, mungkin saja Ratu Freya akan terluka.


"Tenanglah ratuku, aku akan menyelidiki masalah ini sampai tuntas! Kau tidak usah cemas. Tapi.. kita harus berterimakasih pada putri Geraldine yang sudah menyelamatkanmu, undanglah dia untuk makan malam besok."


Hiyy.. malas sekali aku harus mengundang wanita itu kemari? Tapi dia sudah menolongku, jadi anggaplah ini sebagai rasa terimakasih saja.


"Baiklah yang mulia, hamba akan mengundang putri Geraldine untuk makan malam besok." Senyum Ratu Freya mengembang, dia memeluk suaminya dengan mesra.


Setelah insiden itu Liliana langsung menerima hadiah dari istana. Hadiah berasal dari Raja, dikirimkan ke mansion Geraldine. Liliana tak bisa menolak hadiah itu karena sang Raja yang memberikannya. Dia juga mendapatkan undangan makan malam dari Raja dan Ratu. Hal ini membuatnya resah, karena dia yang ingin menjauh dari keluarga kerajaan malah semakin dekat dengan keluarga kerajaan.

__ADS_1


*****


Akhirnya berita dan gosip tentang putri mahkota mulai beredar di kalangan bangsawan kelas atas, Liliana dan Julia yang akan digadang-gadang menang dalam pemilihan itu. Bahkan ada rumor yang beredar bahwa Max dan Liliana adalah sepasang kekasih.


"Nona! Kenapa nona masih berlatih pedang?" tanya Daisy.


"Ada apa Daisy?" Liliana meletakkan pedangnya, wajahnya terlihat berkeringat. Dia merapikan ikat rambutnya.


"Nona.. semua orang sedang membicarakan nona.Katanya nona adalah calon Ratu berikutnya di negeri ini, tapi nona malah santai saja?"


"Lalu aku harus apa? Biarkan saja mereka bergosip semau mereka," ucap Liliana sambil meneguk air di dalam botol.


"Tapi nona, surat-surat dari para bangsawan itu.."


"Haihh.. belum apa-apa dan ini sudah melelahkan. Baiklah, mari kita baca surat surat itu.." Liliana menghela napas panjang dan wajahnya terlihat malas.


Tadinya aku ingin membakar semua surat dari nona-nona bangsawan itu. Tapi, aku takut disangka tidak sopan. Dan aku tidak menyangka bahwa perilaku Maximilian padaku saat berada di istana, membuat masalah lainnya untukku. Di kehidupan kali ini, aku hanya ingin hidup damai.


Liliana dan Daisy masuk ke dalam ruangan Liliana selalu bersantai. Disanalah Liliana membuka suratnya satu persatu, surat itu berasal dari para bangsawan yang ingin menjalin hubungan dengan keluarga Duke Geraldine.


"Nona.. anda memiliki banyak surat," Daisy takjub dengan surat-surat yang jumlahnya ratusan itu.


"Ini semua gara-gara si Raja pencemburu, dia benar-benar membuat masalah!" gerutu wanita itu sambil membuka buka surat dengan gusar.


"Raja pencemburu?" gumam Daisy bingung.


Saat sedang membuka-buka surat, Liliana melihat sepucuk surat dengan kertas yang lusuh dan kotor. Dia membuka surat itu karena penasaran.


Liliana membaca surat itu lalu dia tersenyum lebar, tidak seperti saat dia membaca surat yang lain. "Jadi Lizzy ada di kota ini? Lizzy dan tuan Geordo.." ucap Liliana senang.


"Nona, ada apa?" tanya Daisy yang heran melihat Liliana begitu senang.


"Daisy, dimana orang yang mengirimkan surat ini? Maksudku siapa dia?" tanya Liliana semangat dengan senyuman mengembang di wajah cantiknya.


"Seorang nona bertubuh gemuk dan ayahnya, mereka bilang surat ini penting untuk disampaikan segara pada nona!"


"Ya.. kau benar Daisy, surat ini memang lebih penting daripada semua surat itu." Liliana tersenyum bahagia.


Lizzy dan Geordo, orang yang pernah menyelamatkannya datang ke kerajaan itu untuk bertemu dengan Liliana. Bahkan mereka tau bahwa kini Liliana adalah seorang bangsawan kelas atas dengan Noble status.


Siang itu, Liliana langsung memerintahkan orang untuk menjemput Lizzy dan Geordo laku membawanya ke mansion Geraldine. Saat itu juga, Lizzy dan Geordo langsung dibawa oleh kstaria keluarga Geraldine ke mansion itu.


Lizzy dan Geordo terpana melihat kastil yang luas tempat tinggal Liliana. Mereka masih belum percaya kalau Liliana tinggal di istana yang mewah itu. Istana Duke Geraldine.


"Woah.. ayah, Lily benar-benar beruntung.. dia bisa masuk ke dalam rumah yang besar ini," ucapnya takjub melihat-lihat ke arah sekitar..


"Iya, ayah pikir terjadi sesuatu pada Lily...karena saat itu ada beberapa pria aneh yang mencarinya. Ternyata dia baik-baik saja disini," ucap Geordo merasa lega karena Liliana baik-baik saja.


"Tuan dan nona, apa ada minuman atau makanan yang tuan dan nona inginkan?" tanya Daisy sopan kepada kedua tamu nonanya itu.


"Saya tidak ada, tidak apa-apa.." jawab Lizzy sopan.


"Ya, saya juga tidak. Kami kesini hanya ingin melihat Lily.. maksud saya nona Liliana!" ucap Geordo sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah tuan dan nona. Jika ada yang tuan dan nona butuhkan, silahkan katakan pada saya! Nona Liliana akan turun sebentar lagi, mohon menunggu..'" ucap Daisy sopan.


Nona menolak semua undangan para bangsawan kelas atas dan menerima surat dari tuan dan nona ini. Pasti mereka sangat penting untuk nona Liliana.


Geordo dan Lizzy takjub karena pelayan di mansion itu memperlakukan mereka dengan sopan, tidak seperti pelayan bangsawan lainnya.


"Kalian sudah datang?" sambut Liliana kepada Geordo dan Lizzy sambil tersenyum.


Lizzy langsung berdiri, dia tersenyum lebar saat melihat wanita berambut merah yang memakai gaun berwarna hijau emerald itu sedang berjalan ke arah mereka.


...----****----...


Hai Readers.. maaf ya untuk ch ini mungkin ada banyak Typo๐Ÿคง author sedang kurang Semangat๐Ÿคญ btw makasih ya buat yang sudah kasih vote dan giftnya โค๏ธ๐Ÿ˜ semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian.. Aamiin..

__ADS_1


Untuk visual, di next chapter ya ๐Ÿ‘๐Ÿ˜š tunggu aja..


__ADS_2