
...🍁🍁🍁...
.
.
Arsen menatap Liliana dengan tatapan nanar, penuh n*fsu, tatapan yang bisa membuat wanita manapun bergetar melihatnya. Apalagi keadaan Liliana saat itu tidak memakai baju.
Mengapa dia ada disini? Dia tidak mengetuk pintu, bahkan aku masih belum berpakaian.
"Tuan Count, kenapa anda kemari tanpa mengetuk pintu? Saya masih belum berpakaian! Seharusnya anda minta izin dulu pada saya, anda juga menyentuh saya" Liliana kesal menegur pada Arsen yang berani masuk ke kamarnya bahkan menyentuh punggungnya. Tak cukup dengan semua itu, dia melakukan ketidaksopanan yang lain, yaitu memeluk Liliana dari belakang.
Oh, jadi dia mau main tarik ulur setelah menggodaku?
Arsen hanya tersenyum, kemudian dia beranjak dari tempat tidur Liliana. Gadis itu masih menatap waspada pada Arsen, tangannya masih memeluk kain dan menutup bagian tubuhnya yang tanpa d*laman.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja dan tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ingin membantumu mengoleskan salep, karena Daisy sedang tidak ada disini." ucap Arsen sambil tersenyum lalu mengambilkan selimut dan dia pakaian pada tubuh Liliana.
Cantik sekali Liliana, bahkan tubuhnya juga seksi. Jika dia berada di bawah tubuhku, bagaimana rasanya? Seandainya aku bertemu dengannya lebih dulu daripada Adara, aku pasti sudah menjadikannya istri kedua ku. Ah sepertinya aku jatuh cinta lagi. Arsen menatap wanita itu dengan tatapan aneh.
Setelah melihat bagian tubuhku kau mengatakan tidak bermaksud? Tidak sengaja? Br*ngsek kau Arsen!
Liliana menatap Arsen dengan kesal. Dia memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya itu. "Akan saya maafkan kali ini, " jawab Liliana ketus.
"Terimakasih banyak dan aku mohon jangan marah ya. Aku sudah menyiapkan obat untukmu, kau tinggal meminumnya. Aku harus pamit dulu untuk menemui ayah mertua," ucap Arsen pamit pergi dari kamar itu.
"Menemui yang mulia Duke? Tunggu tuan count!" Liliana memanggil kembali Arsen.
"Ya?" Arsen menoleh ke arahnya.
"Bagaimana keadaan nona Adara? Lalu..." Liliana terlihat bingung, karena terlalu banyak yang dia tanyakan. Intinya dia ingin tau bagaimana nasib Adara setelah melakukan ini padanya, dia tidak mau perjuangannya sia-sia.
__ADS_1
"Jika kau punya banyak pertanyaan tentang itu, aku akan membawamu kesana agar kau bisa mendapatkan jawabannya. Tapi sebelum itu kau harus berpakaian dulu. Aku akan menunggumu di depan rumah," ucap Arsen lalu dia melangkah pergi dari sana.
Arsen keluar dari kamar itu dan menutup pintunya, dia memerintahkan pada Adrian agar tidak boleh ada yang masuk seorang pria ke kamar Liliana kecuali dirinya dan Duke Geraldine. Adrian mengangguk patuh pada Arsen, tapi dalam hatinya dia tidak suka diperintah oleh Arsen.
"Cih! Siapa juga yang akan menuruti perintah mu? Tuanku adalah yang mulia putra mahkota dan nona Liliana, kau tidak bisa mengaturku. Ngomong-ngomong kenapa tuan count Arsen memerintahkan ku seperti itu? Dan senyumannya barusan terlihat mencurigakan, dia bahkan masuk ke dalam kamar nona Liliana tanpa sopan santun. Sudah jelas kalau dia punya maksud lain pada nona. Lalu, apakah didalam sana tadi, yang mulia putra mahkota sudah berhasil mengatakan perasaannya?" gumam Adrian bertanya-tanya sendiri.
Setelah hampir 10 menit berpakaian, dibantu okeh Daisy yang baru saja datang. Liliana ditemani Daisy, pergi menemui Arsen didepan mansion Geraldine.
"Kenapa kau bersama dengan pelayanmu?" tanya Arsen terlihat tidak senang karena Liliana bersama dengan Daisy.
"Maafkan saya tuan count, tapi Daisy memang selalu bersama saya kemanapun saya pergi. Apa tuan count keberatan?" tanya Liliana sambil tersenyum tipis.
Apa rencana mu Arsen? Mengapa kau terlihat aneh hari ini? Tatapan mu padaku, mengisyaratkan rasa obsesif. Apa aku salah?
"Tidak masalah, ayo kita naik pergi." ucap Arsen mengajak Liliana pergi, dia mengulurkan tangan seraya mengajak Liliana naik ke dalam kereta kuda.
"Kemana kita akan pergi tuan count? Bukankah kita akan pergi ke penjara bawah tanah?" tanya Liliana sambil membalas uluran tangan Arsen.
Deg!
Mengapa aku takut melihat raut wajahnya yang seperti ini? Dia tampak menyeramkan.
Liliana berdebar melihat raut wajah Arsen yang misterius baginya.
...*****...
Duke Geraldine dan Adara berada di penjara istana. Itu karena Max ikut andil memerintahkan bawahannya dalam kasus Adara dengan alasan bahwa Adara sudah melakukan kesalahan pada penerus Duke, yaitu Adaire dan mencelakai Liliana yang sekarang sudah menjadi anak angkat Duke Geraldine.
"Ayah, apa ayah tega membiarkan anakmu berada di penjara?" tanya Adara memohon dengan wajah memelas kepada sang ayah untuk membebaskan dirinya dari penjara istana. Adara menangis, berharap simpati untuk ayahnya.
Ini semua karena wanita sialan itu! Jika saja aku membunuhnya, ini semua tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melakukan itu, karena petugas istana sudah ikut campur. Maka urusannya bisa menjadi lebih rumit, akan sulit untukku menolong mu Adara," ucap Duke Geraldine dengan suaranya yang dingin.
Nyut
Rasanya dada Adara berdenyut-denyut, mendengar suara sang ayah yang dingin. Bahkan Duke Geraldine juga mengatakan bahasa aku, bukan ayah seperti biasanya.
"Ayah.. maafkan aku, aku memang salah karena telah melukai Liliana. Tapi itu karena dia mencuri kalung kakak!" Adara mencoba mencari alasan. Dia berharap Duke Geraldine akan percaya padanya.
Tidak ada pilihan lagi, meski aku harus mengemis menangis darah... aku harus keluar dari sini. Reputasi dan nyawaku sudah terancam.
"Diam Adara! Masalahnya tidak sesederhana itu! Apa kau benar-benar menyayangi Adaire? Aku ragu kau menyayangi kakakmu dengan tulus!" Duke Geraldine menatap tajam pada Adara dengan penuh amarah.
"A-Apa maksud ayah?" tanya Adara dengan mata berkaca-kaca menatap ayahnya.
Duka Geraldine menunjukkan sebuah kertas pada Adara. Adara mengambil kertas itu dan melihat apa yang tertulis disana. "A-ayah, ini tidak benar! Seseorang pasti menjebak ku, aku tidak mungkin melakukan ini pada kakak!" Adara menggelengkan kepala, dia menyangkal semua yang tertulis di kertas itu.
Disana tertulis transaksi Adara dengan pedagang obat-obatan terlarang, termasuk obat yang bisa membuat seseorang menjadi gemuk permanen. Ada juga bukti yang mengatakan di kertas itu, bahwa Adara pernah menyuruh seseorang untuk mencelakai Adaire dengan air kimia hingga kaki Adaire terluka. Satu persatu kejahatan Adara terbongkar, kini kebaikan hati Adara yang selalu terlihat di mata duke Geraldine mulai hilang.
"Kau masih menyangkal? Adara, akan bebas dari sini kalau kau terbukti tidak bersalah," ucap Duke Geraldine sambil membalikkan badannya membelakangi Adara, pria paruh baya itu menangis.
Adaire maafkan ayah nak.. maafkan ayah.. ayah macam apa aku ini? Kenapa aku menutup mata untuk semuanya?
"Ayah! Mengapa ayah tega padaku? Kenapa ayah hanya sayang pada kak Adaire saja? Kenapa ayah tidak menyayangi aku?" tanya Adara diiringi air mata.
"Kata siapa aku tidak sayang padamu? Selama ini aku selalu mendahulukan dirimu dibanding kakakmu, kalau kau tidak ingat. Aku akan mengingatkanmu!" Duke Geraldine kembali berbalik menatap Adara sambil menangis.
#Flashback
...----****----...
Hai Readers 😍 author mau up lagi nanti siang, kasih komen nya yang banyak ya..😀😍
__ADS_1