Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 113. Tersesat, senang?


__ADS_3

...🍂🍂🍂...


Maxim berlari menghampiri istrinya, dia memeluk gadis itu dengan lembut penuh kerinduan dan kasih sayang. "Syukurlah kau sudah sadar, syukurlah istriku.."


"Maxim, kenapa kau ada disini?" Liliana kebingungan karena melihat sosok suaminya berada disana dan memeluknya.


Kenapa pelukannya terasa begitu nyata? Bukankah aku sudah ada di alam baka? Mengapa Max juga ada disini?


"Kenapa pertanyaanmu sangat aneh? Tentu saja aku disini!" Max melepaskan pelukan istrinya, dia mencium kening Liliana dengan lembut. "Sayang, mana yang sakit? Apa kau merasa tidak enak badan? Dimana yang terluka, hah?"


Liliana masih melihat suaminya dengan kening berkerut. Dia masih mengira bahwa dirinya berada dialam lain. Liliana memegang lehernya yang belum lama di cekik oleh si raja iblis itu. "Kenapa tidak sakit lagi?" Gumam gadis itu dengan suara pelan.


"Lily? Kau kenapa? Jangan bilang padaku kau terbentur lalu hilang ingatan?" Max mulai panik melihat gelagat istrinya yang aneh begitu dia siuman.


"Kau terlalu banyak nonton opera drama!" Seru Liliana sambil menatap suaminya.


Ini terlalu nyata untuk disebut mimpi atau alam baka. Bahkan tempat ini mungkin juga bukan surga. Lalu mengapa aku disini? Kenapa Maxim juga ada disini? Bukankah dia seharusnya masih berada di wilayah Utara dan aku sudah mati oleh iblis itu?


"Jadi kau ingat aku, kan? Lily, aku suamimu sayang.." Ucap Max sambil memegang kedua tangan istrinya.


"Maxim, apa kau masih hidup atau kau sudah mati?" Tanya Liliana masih dalam kebingungan yang sama.


"Hah? Apa?" Max tercekat mendengar pertanyaan Liliana.


Plakkkk


Tiba-tiba saja Liliana menampar suaminya dengan keras. "Auw!" Keluh Max sambil memegang pipinya.


"Aku bisa menyentuhmu...terasa keras, tanganku juga sakit." Gumam gadis itu sambil melihat tangan kanannya yang belum lama menampar Max. Tangan itu terlihat merah dan terasa pedih.


"Kau ini kenapa?" Max menatap istrinya dengan kening berkerut keheranan.


"Maxim! Apa ini benar-benar dirimu? Kau ikut mati bersamaku?!" Liliana menarik baju suaminya, hingga kedua wajah mereka berdekatan. Mata mereka bertemu dan saling menatap.


"A-apa maksudmu? Sepertinya kepalamu benar-benar terbentur ya?" Max semakin bingung dengan kata-kata Liliana padanya.


Liliana menatap suaminya dengan kedua mata polos dan kening berkerut, "Bu-bukankah aku sudah mati oleh iblis sialan itu? Me-mengapa kau ikut juga denganku kesini? Apa kau juga mati?"


Max menahan tawa saat mendengar pertanyaan Liliana. Dia merasa istrinya sangat imut dan polos. "Lalu jika aku mati, kau anggap ini dimana?" Tangan Max membelai pipi Liliana.


"Bukankah kita berada di sur-surga?" Tanya gadis itu ragu-ragu.


"PFut.. hahaha yang benar saja." Max menggeser rambutnya ke belakang, dia terkekeh.


"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Liliana heran.


Tiba-tiba saja Max menatap gadis itu dengan tajam dan seringai terlihat dibibirnya. "Kalau kau masih berfikir ini adalah mimpi, maka..."


Max mencondongkan kepalanya, dia mencium istrinya yang sudah lama tidak bertemu itu. Dia membenamkan bibirnya pada benda kenyal berwarna merah milik Liliana. Kehangatan itu bertemu di kerinduan yang mendalam.


Liliana membalas ciuman suaminya, sudah lama dia tidak merasakannya. Dia merindukan Max, sejak dia pergi ke Utara bahkan setiap saat.


Bibir yang bertemu terasa hangat dan semakin dalam saat kedua lidah mereka saling bersahutan satu sama lain. Berpadu menjadi satu. Suara desahh dan decakan terdengar saat mereka sibuk bermain lidah.


Kedua tangan mereka saling memeluk tubuh dengan lembut dan erat. Seolah tak mau melepaskan satu sama lain.


Ini bukan mimpi, ini kenyataan dan ini bukan di alam baka. Aku masih hidup.


Tangan Liliana membelai leher suaminya, jari jemari cantiknya meremas leher itu dengan gemas. Entah bagaimana ceritanya, Liliana sudah berada dibawah tubuh kekar suaminya. Tubuh Liliana terbaring di ranjang yang keras itu. "Hahhhh.... cukup, aku tidak bisa bernapas lagi Maxim." Liliana menghela nafas, setelah dia melepaskan pagutan bibirnya dari sang suami.


"Apa kau masih mengira ini mimpi?" Max tersenyum pada istrinya.


"Tidak, ini nyata. Bukan mimpi.." Ucap Liliana sambil menatap suaminya penuh kerinduan.


"Bagus, akhirnya kau sadar. Dasar bodoh!"


"Kau yang bodoh! Untung kau tidak terlambat!" Liliana memukul-mukul dada suaminya. Perlahan air mata jatuh membasahi pipinya.


Max tidak tega melihat air mata sang istri, dia mengusap lembut air mata Liliana dengan kedua telapak tangannya yang besar itu. "Maaf.. aku memang datang terlambat,"


"Aku akan memaafkanmu, kalau kau memelukku! Dasar bodoh!" Keluh Liliana pada suaminya, minta dipeluk.


Keduanya sama-sama duduk diatas ranjang, kemudian Max memeluk Liliana. "Aku merindukanmu istriku, aku sangat rindu. Dan maafkan aku..."


"Aku juga merindukanmu." Liliana balas memeluk suaminya dengan mesra.

__ADS_1


Setelah melepaskan rindu mereka dengan pelukan dan ciuman, sambil menatap wajah sama lain. Max menyediakan air minum dan makanan untuk istrinya. "Minumlah dulu, kau pasti haus."


"Hem, memang." Liliana meminum air yang ada diatas daun karena tidak ada gelas disana. "Haahh.. syukurlah aku masih bisa merasakan haus dan merasakan segarnya air minum ini. Artinya aku masih hidup." Liliana merasa lega.


"Lily.. sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau diculik olehnya?"


"Maxim, dia adalah Raja iblis Lucifer." Jawab Liliana sambil menatap tajam ke arah suaminya.


Max tercengang, "Apa? Jadi itu benar? Dia benar-benar raja iblis?"


Tadinya Max hanya menduga bahwa Lucifer adalah raja iblis, setelah mendengar ucapan Liliana. Itu memang benar, bahwa pria itu memang Raja iblis yang dia cari.


Liliana mengangguk, "Dia menangkap anak-anak dan wanita, dia memakan daging dan mengisap darah mereka dan ketika dia memakannya. Dia akan kembali menjadi muda, juga mendapatkan kekuatan. Aku sudah melihatnya sendiri. Bagaimana jadinya bila manusia yang digigitnya, akan menjadi seperti dia atau berakhir dengan kematian. Dan Maxim...dia mengenalmu,"


Pembicaraan suami istri itu tentang iblis, menjadi lebih serius. Pasalnya Lucifer mengenal Maximilian. Tapi Max tidak mengenal dirinya. Namun, Liliana yakin bahwa ada dari bagian suaminya yang mirip dengan Lucifer.


"Kau pikir dia mirip dengan ku? Lily, jangan bercanda!" Max mendesah tak percaya.


"Aku serius. Terutama mata, kedua mata kalian memiliki warna yang sama dan ketika marah mata merahnya menyala. Persis seperti matamu, belum lagi wajah kalian..." jelas Liliana yakin.


"Aku juga merasakan hal familiar saat berada didekatnya. Seolah dirinya dan diriku terhubung. Ah...tapi itu tak mungkin, ini hanya asumsiku saja." Ucap Max bingung dengan spekulasinya sendiri.


"Ya sudah, kita skip dulu pembicaraan tentang ini. Kita bicarakan tentang kita saja, dimana kita berada dan kita harus segera kembali."


"Lily, maafkan aku. Sepertinya kita belum bisa kembali, kita tersesat." Ucap Max.


"Apa maksudmu? Kenapa kita belum bisa kembali?"


"Manaku terkuras habis saat menyelamatkanmu, untuk menembus dinding Lucifer dan menggunakan kekuatan teleportasiku secara berulang. Aku tidak bisa menggunakannya untuk sekarang dan harus mengumpulkan manaku dulu."


"Jadi?"


"Untuk sementara waktu kita akan tinggal disini, atau mencari jalan keluar dari tempat ini. Tapi sepertinya aku memilih pilihan pertama, karena tubuhmu masih belum pulih." Jelas Max sambil melihat ke arah istrinya.


Aku juga tidak bisa kembali begitu saja tanpa kekuatan sihir.


Gadis itu setuju saja dengan pilihan suaminya. Karena memang keadaan tubuhnya juga belum benar-benar pulih. Namun agar mereka layak tinggal disana, Max membersihkan tempat usang dan penuh debu itu. Dia yang tidak pernah melakukan bersih-bersih sendiri, kini harus melakukan itu dengan kedua tangannya sendiri, karena istrinya yang masih sakit.


"Kau terlihat seperti ayah rumah tangga," tutur Liliana sambil memandang suaminya yang sedang sapu-sapu lantai didepan kamar.


"Hey! Apa kau sedang mengejekku?" Lirik Max pada istrinya sebal.


"Jelas-jelas kau mengejekku! Awas saja kalau kita berada diatas ranjang yang sama nanti!" Ancam Max pada sang istri.


"Huh! Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau kita berada diatas ranjang yang sama?" Gadis itu menyilangkan kedua tangannya didada.


"Aku akan menerkam mu sampai habis," Max mengedipkan sebelah matanya pada Liliana, dia mengisyaratkan sesuatu.


Jadi dia mau meminta itu?


"Huh! Jangan pikir kau bisa mendapatkannya dengan mudah. Aku masih mempersalahkan masalah surat itu,"


"Surat?" Max melirik ke atas, dengan wajah bingungnya.


"Ya.. kau mengirim surat pada semua orang tapi tidak mengirim surat padaku. Aku masih sangat kesal," Liliana menatap suaminya dengan tajam.


"Oh itu...karena aku ingin.."


"Hentikan itu suamiku! Aku tidak akan memberikan hak mu dengan mudah! Silahkan kau bersih-bersih sendiri, aku mau tidur." Liliana berbaring dari duduknya, dia menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Max tercengang mendengar ucapan Liliana. "Tidak! Skenarionya bukan begini!" Max melihat Liliana sudah tertidur pulas.


Beberapa saat kemudian, Max selesai bersih-bersih rumah. Dia pun menghampiri istrinya dan tidur disebelahnya. Dia melihat Liliana tertidur pulas.


Tangannya membelai rambut panjang sang putri mahkota, istri tercintanya itu. "Sepertinya akan bagus kalau kita tinggal berdua seperti ini. Di tempat yang tenang tanpa memikirkan tugas negara, tanpa pengawal dan pelayan disekitar kita. Kita bisa jalan-jalan, menghabiskan waktu berdua saja. Pasti akan terasa sangat indah, karena itu adalah mimpiku untuk berdua denganmu Lily." Max memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


Belum lama Max menutup matanya, dia merasakan tubuh Liliana bergetar dipelukannya. Max terbangun dan melihat istrinya.


"Sayang?"


"Tidak! Jangan makan aku, jangan! Darah....itu....jangan makan aku, aku masih ingin hidup. Jangan bunuh aku..." Liliana bicara dalam tidurnya. Dengan kepala menggelengkan, wajahnya terlihat panik. Peluh peluh keringat membasahi wajah cantiknya itu.


Lily mengigau.


"Sayang, tenanglah..kau baik-baik saja. Ada aku disini." Max memegang kedua tangan istrinya, agar dia tenang dan tidak banyak bergerak.

__ADS_1


"Jangan...sakit.. pergi kalian...pergi...hiks.." Liliana menangis, dia masih berada dalam mimpi buruknya.


"Hey... sayangku, aku disini. Kau baik-baik saja," Max berbisik pada Liliana sambil menatapnya dengan cemas.


Tangannya memegang pipi Liliana dan berusaha membangunkannya. Tak lama kemudian, kedua mata Liliana terbuka lebar. Gadis itu terengah-engah seperti habis dikejar-kejar sesuatu. "Aku disini, kau sudah baik-baik saja."


Liliana memeluk sang suami sambil menangis. "Aku sangat takut, makhluk makhluk itu mereka ingin membunuhku. Aku sangat takut Maxim!" Pekik wanita itu ketakutan.


"Jangan khawatir, aku sudah ada disini. Kau akan baik-baik saja," ucap Maxim sambil memeluk Liliana seraya menenangkannya.


Lucifer pasti akan menganggu dan mencelakai orang-orang. Aku harus segera memulihkan kekuatanku dan segera kembali ke istana. Aku harus memusnahkannya.


...*****...


Ketika pasangan suami suami istri itu sedang tersesat dan entah dimana. Dua hari kemudian, orang-orang istana masih gempar dengan hilangnya Max dan Liliana. Belum lagi banyak laporan wanita dan anak-anak yang menghilang di pusat kota.


Raja sendiri yang memimpin pencarian putri mahkota dan putra mahkota. Namun belum ada titik terang dimana keberadaan anak dan menantunya itu. Akhirnya dia memanggil Brietta untuk mencari tau keberadaan mereka lewat si peramal.


"Salam hormat saya kepada matahari kekaisaran Istvan." Brietta menundukkan badannya dengan sopan didepan sang Raja.


"Berdirilah wahai peramal!" ujar Raja padanya.


Brietta mendongakkan kepalanya dan sedikit melirik ke arah sang Raja. "Ya yang mulia,"


"Apa kau tau kenapa aku memanggilmu kemari?" Tanya Raja pada Brietta dengan sorot mata yang tajam.


"Saya akan dianggap bohong bila saya tidak tahu alasan Baginda memanggil saya." Sebagai seorang peramal, tentu saja Brietta tau banyak hal. Apa yang akan terjadi dimasa depan, termasuk kenapa raja memangilnya saat ini.


"Lalu, katakan apa tujuanku memanggilmu kemari?" Tanya Raja sambil menatap tajam wanita tua itu.


Lebih baik aku mengujinya dulu, benarkah dia seorang peramal atau hanya penipu saja.


"Baginda ingin bertanya kepada saya, tentang keberadaan yang mulia putra mahkota dan juga yang mulia putri mahkota. Apa saya benar?"Brietta menyunggingkan senyum di wajahnya yang keriput itu.


Raja tersenyum mendengar ucapan Brietta dan tebakannya yang memang benar, "Rupanya seperti apa kata Sir Eugene, kau memang bukan penipu."


"Saya tau anda akan berkata seperti itu, Baginda."


"Kita sudahi basa-basinya. Katakan, apa kau tau dimana anak dan menantu perempuanku berada?" Tanya Raja langsung pada intinya.


"Saya tidak tahu yang mulia,"


Raja tercengang mendengar ucapan Brietta. "Bukankah kau seorang peramal? Kenapa kau tidak tahu dimana mereka?" Suara Raja mulai meninggi.


"Sayangnya kekuatan ramalan saya tidak berfungsi pada yang mulia putra mahkota."


"Kenapa?"


"Baginda, saya tidak tahu alasannya. Tapi saya bisa merasakan kalau yang mulia putra mahkota dan putri mahkota dalam keadaan baik-baik saja." Kata Brietta yakin.


"Benarkah mereka baik-baik saja? Apa mereka tidak ditangkap oleh iblis itu?" Tanya Raja khawatir.


"Benar yang mulia, saya bisa merasakannya. Dan saya melihat sedikit didalam penglihatan saya pada putri mahkota, bahwa beliau berada disebuah padang rumput yang jauh dari disini. Tempatnya terpencil." Tutur wanita tua itu pada Raja. "Mereka berada disebuah rumah tua," tambahnya lagi.


Brietta menutup matanya, dia tidak bisa melihat Max tapi dia bisa melihat dan merasakan sedikit tentang Liliana. Dia yakin bahwa Liliana dan Max berada disana, akan tetapi dia tak tahu apa nama tempatnya.


"Rumah tua? Padang rumput dan tempat terpencil?" Raja bergumam memikirkan tempat apa yang dideskripsikan oleh Brietta.


Raja langsung meminta para bangsawan wilayah untuk berkumpul saat itu juga. Dia akan menanyakan tentang wilayah yang disebutkan Brietta pada masing-masing daerah kekuasaan mereka.


...****...


Di tempat terpencil itu, keadaan Liliana sudah mulai pulih. Dia sedang berjemur didekat padang rumput. Dia menyukai suasana di tempat itu.


"Padahal aku dan Max sedang tersesat tapi kenapa aku senang ya? Hem...udara disini begitu berbeda dengan istana," ucap Liliana sambil merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar disana.


"Ya, aku juga senang kita tersesat disini. Karena aku bisa berduaan denganmu," ucap Max sambil memeluk istrinya dengan mesra.


"Maxim," Liliana menatap suaminya.


"Lily, ayo kita lakukan? Mumpung suasananya sedang..." Max tidak melanjutkan kata-katanya, dia malah mencium punggung tangan Liliana dengan gentle.


"Lakukan apa?" Liliana menghindar menyembunyikan wajah merahnya.


"Sayang..." Max memegang wajah sang istri dan menatapnya dengan nanar.

__ADS_1


Ya, ini memang kesempatan bagus untuk mereka berduaan. Saat di istana mereka sudah disibukkan oleh tugas negara, hingga belum sempat melakukan prosesi penyatuan tubuh. Tapi, apakah harus ditempat seperti ini?


...----*****----...


__ADS_2