Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 102. Istana dingin


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Max semakin mendekati Liliana, tubuhnya mengunci tubuh sang istri. Dia menyeringai, menatap istrinya dengan nanar.


"Yang mulia, apa yang sedang kau lakukan saat ini?"


"Meminta hak ku sebagai suami!" Ujarnya tegas.


"Yang mulia, ini bukan saatnya kita melakukan-"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Max sudah melahap bibir itu dengan dalam. Kedua tangannya mengunci tangan Liliana, hingga gadis itu kesulitan untuk bergerak. Jari-jari Max, memasuki sela-sela jari istrinya itu lalu menggenggamnya.


"Hmph.. hmphh..!!"


Tak lama kemudian, Maximilian melepaskan pagutan bibirnya dari Liliana. "Auw.." bibir bagian bawah pria itu berdarah. "Wah.. putri mahkota, kau sangat berenergi ya...sampai-sampai kau menggigitku seperti ini."


"Yang mulia, sekarang bukan waktunya melakukan ini! Aku punya banyak pekerjaan!" protes gadis itu pada suaminya.


Max menatap Liliana dengan dahi mengerut, "Pekerjaan... pekerjaan...dan pekerjaan terus? Kenapa kau selalu saja bicara tentang pekerjaan? Kapan kau akan bicara tentangku? Kapan kau punya waktu untukku?" Pria itu merengek pada Liliana.


Setelah Liliana menikah dengannya, wanita itu selalu saja sibuk melakukan pekerjaannya. Bahkan mereka belum melakukan malam pertama. Apalagi Liliana saat itu masih dalam masa periodenya.


"Jangan merengek seperti ini yang mulia...bukankah kau menginginkan aku menjadi istrimu dan putri mahkota negeri ini? Maka aku akan melakukan tugasku dengan baik,"


Bagaimana ini, ada beberapa laporan di ruang kerjaku yang belum aku periksa. Bianca pasti sibuk sendirian disana sekarang.


"Benar aku ingin kau disisiku. Kalau tau kau akan begini, aku jadi menyesal..." gerutu Max yang tidak bisa mendapatkan keinginannya lagi. Dia bisa saja memaksa Liliana, tapi dia tidak mau melakukan itu.


Liliana mendorong tubuh suaminya perlahan-lahan. Kini mereka berdua dalam posisi duduk di atas ranjang. "Kau menyesal apa? Apa kau menyesal sudah menikahi ku? Atau menyesal apa, suamiku?" Jari-jemari cantik Liliana bermain di leher suaminya.


"Ugh...bukan begitu," wajah Max langsung memerah dengan sentuhan istrinya itu.


"Jadi? Kau menyesal apa?" Tanya Liliana yang lalu mengalungkan tangannya di leher Max. Kedua wajah mereka mendekat.


"Aku menyesal kenapa aku harus menjadi putra mahkota dan membuatmu sibuk dengan urusan negeri ini!" Kata Max tegas.


"Jangan pernah menyesal yang mulia, hidup ini sudah diatur oleh yang kuasa. Yang mulia, aku mencintaimu.." Liliana berbisik ditelinga suaminya, terlihat seringai di wajah cantiknya itu.


Deg!


Hati Max berdebar-debar mendengar kata cinta dari Liliana. Membuat saliva pria itu naik turun. "Kau..mau malam ini? Malam ini ya?" bujuk Max pada istrinya. Dia mendekap tubuh Liliana ke pangkuannya.


Liliana mendekat lebih dulu pada Max, dia mencium pipi suaminya penuh cinta dan kelembutan. "Suamiku, maafkan aku..aku akan menebus untuk malam pertama kita. Tapi tidak hari ini," ucap Liliana sambil tersenyum.


Kemudian gadis itu berlari ke arah pintu, menghindari Max yang tubuhnya sudah panas.


"Kau...mau pergi kemana kau setelah membuat jagoan ku mengeras ini?!" Teriak Max pada istrinya yang sudah berada didekat pintu luar. Max mendesah

__ADS_1


"Maafkan aku yang mulia, aku banyak pekerjaan! Aku akan mengganti malam pertama kita, aku janji!" Liliana keluar dari kamar itu.


"Ta-tapi ...itu ku sudah naik!" Max langsung kesal melihat istrinya pergi. "AHHHh!! Gagal lagi.. ya Tuhan...siapa orang bodoh yang membuat istriku bekerja sangat keras?!" Gerutu Max yang kesal karena istrinya terus saja bekerja dan tidak sempat malam pertama. "Ya, aku harus liburan.. aku harus menjauhkan Liliana dari istana ini agar dia tidak bekerja terus!" Teriak Max kesal sendiri.


Semenjak Liliana menjadi putri mahkota, gadis itu tidak punya waktu untuk suaminya. Mereka berdua sama-sama sibuk.


Kemudian Max memanggil Pierre ke kamarnya. "Pierre!"


"Ya, yang mulia?" sahut Pierre.


"Kau membawa apa yang aku minta?" tanya Max sambil menatap tajam ke arah Pierre.


Glek!


Pierre menelan ludah begitu dia melihat amarah di wajah putra mahkota.


Kali ini apa yang terjadi? Apa yang mulia bertengkar dengan putri mahkota ya?


"Pierre! Apa kau tuli?" Tanya Max membentak bawahannya itu.


"I-iya yang mulia, maafkan saya." Pierre langsung menyerahkan sebuah dokumen pada Max. Tapi Max malah menepisnya.


"Apa kau suruh aku membacanya?!" Max menatap sinis pada Pierre.


Pierre langsung terperangah melihat sikap Max dan cara bicaranya yang kesal itu.


"Jadi saya yang harus membacakannya?" Tanya Pierre.


"Lalu aku yang harus membacanya? Dasar bodoh! Kalau begitu untuk apa aku membawamu kemari?"


"Baik yang mulia saya lama membacakan jadwal putri mahkota." Pierre membuka dokumen itu.


"Tidak usah dibacakan! Langsung saja katakan padaku, apa putri mahkota ada jadwal senggang Minggu ini?" Tanya Max langsung pada intinya. Dia berencana mengajak Liliana pergi bulan madu.


"Putri mahkota, tidak memiliki jadwal kosong untuk Minggu ini, yang mulia." Jawab Pierre setelah melihat sekilas apa yang ada didalam dokumen itu.


"A-Apa?" Max terperangah.


Tidak ada jadwal kosong? Memangnya seberapa sibuk menjadi putri mahkota? Perasaan, aku tidak sesibuk itu.


"Berikan dokumen itu padaku! Cepat!" Titah Max pada Pierre. Dia tak percaya bahwa Liliana tidak punya jadwal kosong.


Pierre tidak bicara, dia lambat memberikan dokumen itu pada Max. Kemudian pria itu memeriksa dokumen ditangannya. Dia melihat begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh Putri mahkota.


Pekerjaan istrinya lebih banyak daripada pekerjaannya. Hal itu membuat Max mengerutkan kening dan menaikkan bahunya. "Aku tidak percaya ini! Apa ini kerja rodi?!" Max meremass dokumen itu dengan kesal.


Ya,kalau dia tidak memiliki jadwal kosong, lalu kenapa? Aku hanya tinggal membatalkan semua jadwalnya saja, kan?

__ADS_1


Pierre akhirnya mengerti apa yang membuat putra mahkota marah. Itu karena istrinya sangat sibuk dan tidak ada waktu untuknya.


"Pierre!"


"Ya, yang mulia?" Sahut Pierre cepat.


"Batalkan semua jadwal putri mahkota pada akhir pekan!"


"Ya?"


"Pierre, apa aku harus berkata dua kali? Oh sepertinya kau lah benar-benar tuli, sebaiknya kau periksakan dirimu ke tabib!" Sindir Max dengan sarkas.


"Hahaha...iya baiklah yang mulia,"


"Apa kau mengejekku? Aku sedang perhatian padamu, Pierre.."


"Iya yang mulia , terimakasih. Saya akan mengikuti saran yang mulia," ucap Pierre sambil tersenyum.


Terserah anda saja yang mulia.


"Beritahu pada Bianca, kosongkan jadwal putri mahkota hari itu. Dan kosongkan jadwalku juga di hari yang sama." ucap Max dengan suara yang sedikit pelan.


...*****...


Keesokan harinya, Raja memutuskan hukuman untuk Ratu. Hukuman untuknya adalah pergi ke istana dingin, yang artinya dia diasingkan disana. Otoritas istana dalam yang awalnya dipegang ratu, akhirnya dipegang oleh Liliana yang saat ini berstatus sebagai putri mahkota.


Ratu memakai pakaian sederhana dan hanya pergi bersama pelayan setianya saja. Dia akan diantar oleh pengawal istana ke istana dingin.


"Ibu..." Laura sedih karena ibunya akan dibawa ke istana dingin.


"Putriku, jagalah dirimu baik-baik. Jika kau perlu bantuan ibu, kau bisa pergi ke istana dingin atau mengirimkan pesan." Ucap Ratu Freya pada anaknya. Dia memeluk Laura, kemudian dia pergi bersama satu orang dayang dan beberapa pengawal istana.


Liliana dan Max berada disana. Mereka melihat kepergian Ratu sampai keluar istana utama. Ratu menyeringai saat melihat Liliana.


Dia mendekat ke arah Liliana. Tadinya Liliana ingin mengucapkan salam pada Ratu, namun Ratu berbisik ke telinganya.


"Ketika kau menjadi Ratu, kelak kau akan mengalami semua ini. Percayalah, ketika suamimu menjadi seorang Raja. Kasih sayangnya bukan hanya untukmu saja, dia bisa membagikan kasih sayangnya menjadi beberapa bagian. Cinta itu tidak abadi, perasaan seorang Raja bisa mudah berpindah. Ingat ini, putri mahkota!"


Deg!


Ada rasa tidak nyaman di hati Liliana saat mendengar ucapan Ratu. Namun dia tetap berusaha untuk tenang, "Maaf, tapi putra mahkota tidak akan seperti itu. Apa Ratu lupa? Kalau putra mahkota membuat janji sehidup semati dengan saya dihadapan dewa!"


"Iya aku tidak lupa. Tapi, aku hanya mengingatkanmu saja. Aturan dibuat untuk dilanggar dan janji ada untuk diingkari!" Ujar Ratu sambil tersenyum sinis.


"Selamat jalan yang mulia Ratu," ucap Liliana dengan wajah dingin. Dia tidak mau membahas ataupun terpengaruh pada ucapan Ratu.


Ratu diantar ke istana dingin dan meninggalkan istana utama dengan penuh rasa dendam. Dia bersumpah akan kembali dan membuat semua orang yang membuatnya seperti ini, membayar harganya.

__ADS_1


...-----****----...


__ADS_2