
"Pegangan padaku, kalau kau tidak mau jatuh!" Seru Max sambil merengkuh tubuh Liliana kedalam pelukannya.
"Kau.. jangan cari kesempatan ya! Aku akan membunuhmu kalau kau macam-macam kepadaku!" Serunya mengancam.
"Bahkan saat marah pun kau terlihat sangat imut, aku jadi ingin memakanmu." Max tersenyum, kemudian membawa gadis itu keluar dari rumah Duke Geraldine dengan cara menggendongnya.
"Kau ini bicara apa?" Liliana kesal dengan sikap Max yang seenaknya.
Pria ini kenapa selalu menggangguku?
Mereka pun sudah tiba diluar mansion tanpa ketahuan siapapun. Liliana menghela napas lega, karena Max membawanya dengan berlari.
"Kenapa kau terlihat sangat lelah? Aku kan menggendong mu barusan?" Max merasa heran karena Liliana terlihat lelah.
"Hey! Apa kau manusia? Mengapa kau bisa berlari begitu cepat, bahkan ketika menggendongku?" tanya Liliana dengan napas yang masih terengah-engah.
"Katanya kau mau balas dendam, tapi kenapa fisikmu lemah sekali? Bagaimana mau balas dendam kalau begini?" Max meremehkan fisik Liliana yang lemah dan mudah lelah
"Kata siapa aku mau balas dendam? Kau tau apa?" Liliana tidak suka dengan sikap Max yang asal menebak dan ikut campur urusannya.
Max menaikkan bahu dan alisnya, dia menatap wanita cantik itu. "Semua tentang wanitaku, mana mungkin aku tidak tahu," Max tersenyum lebar.
Entah kepada siapa dan kenapa kau balas dendam, aku akan selalu membantumu.
"He-hey, siapa yang kau bilang wanita mu?" mata wanita itu membulat terkejut dengan tatapan dan ucapan Max kepadanya.
"Ayo kita pergi, acaranya sudah mau dimulai!" Tanpa izin dari Liliana, lagi-lagi pria itu memegang tangan Liliana.
"Kau ini! Kenapa selalu sembarangan memegang ku?" gerutu gadis itu kesal.
"Dasar kucing galak pemarah, sudahlah jangan marah-marah terus. Kita akan bersenang-senang hari ini," ucap Max yang masih menggenggam erat tangan Liliana.
"Kucing galak pemarah?" tanya Liliana dengan alis terangkat. Dia menepis tangan Max yang memegangnya dengan keras.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kau tidak mau kupegang, jalan sendiri saja. Tapi kau harus mengikuti aku," Max tersenyum pahit karena Liliana masih menjaga jarak dengan dirinya.
Tidak apa Max, ikan besar ini memang sulit didapatkan. Tidak seperti wanita lain yang dengan mudahnya bertekuk lutut dihadapan mu. Sabarlah Max...
"Aku tidak bisa pergi begitu saja, aku bahkan belum bicara pada Daisy dan sir Adrian!" Seru Liliana khawatir dengan orang-orang terdekatnya yang akan panik kalau dia tidak ada di rumah.
"Tenang saja, aku sudah kirim pesan pada Adrian. Lebih baik kau ikut aku sekarang, atau kita akan ketinggalan!"
"Ketinggalan apa?" tanya Liliana dengan kening berkerut.
"Ikut saja, aku jamin kening berkerutmu akan hilang, lalu bibirmu itu juga akan tersenyum," ucap Max sambil menyentuh bibir Liliana dengan jarinya. Dia bertekad ingin membuat Liliana tersenyum, bukan hanya melihatnya marah-marah dengan wajah serius tanpa ada rasa bahagia.
Liliana berjalan mundur, menghindari gerakan Max yang terkesan agresif itu. "A-Apa kau adalah orang mesum? Seenaknya saja kau menyentuh tubuh wanita?"
"Apa kau tidak suka?"
"Tentu saja! Aku tidak suka kau menyentuhku seperti orang mesum," Liliana tidak ragu menunjukkan ketidaksukaannya pada tindakan Max.
"Aneh...padahal semua wanita selalu senang disentuh olehku, kenapa dia tidak?" gumam Max berfikir dengan suara pelan.
Max langsung tersadar, dia melambaikan tidak dengan isyarat tangan. "Haha wanita siapa? Aku tidak bicara apa-apa tentang wanita. Ayo kita pergi Lily," Max tertawa canggung, dia mengalihkan pembicaraan.
"Eugene, kau ini selalu seenaknya saja!" Liliana melihat Max dengan kesal dan gemas.
Jelas-jelas dia bicara tentang wanita. Siapa yang dia maksud?
Max mengajak Liliana pergi ke sebuah tempat yang katanya bisa membuat Liliana tersenyum. Max mengajak dia pergi ke sebuah danau, dimana banyak pasangan yang sedang kencan disana.
"Ayo kita naik perahu!" Ajak Max pada wanita itu. Namun, Liliana malah tertegun berdiri mematung disana tidak bergerak sama sekali.
Sepertinya saran Pierre berguna juga. Sudah kuduga memang tidak ada yang bisa mengalahkan pesona Maximilian Gallan Istvan. Dia pasti akan tunduk dengan ku hari ini. Tidak ada wanita yang luluh ketika diajak berkencan seperti ini.
"Lily, apa kau baik-baik saja?" tanya Max pada Liliana yang masih berdiam diri disana. "Haha, aku tau kau pasti sangat senang kan karena aku mengajakmu kemari?" tanya
__ADS_1
"Kau..." Liliana mengepalkan tangannya, matanya memancarkan perasaan luka.
Tempat ini adalah tempat dimana dia.. Liliana malah teringat Arsen pernah melamarnya disana. Hatinya kembali terluka oleh garam yang ditaburkan oleh Max secara tidak sengaja.
"Apa? Kau pasti mau memujiku kan?" tanya Max dengan percaya diri bahwa wanita itu akan memujinya. "Ayo tersenyumlah," pinta Max yang ingin membuat Liliana tersenyum sekali saja kepadanya.
Bukan pujian atau senyuman yang dia dapatkan, tapi kemarahan Liliana. "Kau sudah gila! Aku benci kau!" ucap Liliana sambil berjalan pergi meninggalkan tempat itu dalam keadaan marah.
Max dibuat kebingungan dengan sikap Liliana, dia melihat gadis itu pergi meninggalkannya sendiri. "Pierre.. kau bilang bahwa wanita suka tempat romantis! Awas aja saat aku kembali ke istana nanti," Max geram karena saran dari Pierre tidak bisa membuat Liliana tersenyum.
Max menyusul Liliana yang sudah berjalan cukup jauh dari tempatnya berdiri. Akhirnya mereka tidak jadi naik perahu seperti yang dibayangkan oleh Max. Dia memang playboy dan suka bermain dengan banyak wanita, tapi dia tidak pernah berkencan serius dengan salah satu dari mereka. Hanya Liliana yang ingin dia ajak berkencan, memulai semua dengan hubungan normal antara pria dan wanita. Namun, Liliana bersikap dingin dan galak kepadanya.
"Hey! Kau mau kemana?" tanya Max sambil menghadang jalan gadis itu. "Aku tidak mengerti kenapa kau marah, kalau kau tidak suka tempat itu kau harusnya bilang. Jangan sampai mengucapkan kau benci padaku,"
"Berisik, aku mau pulang saja." jawabnya dingin.
Pria itu mendengus kesal, "Kau ini! Aku sedang menagih hutangku,"
"Aku tahu makanya aku ikut denganmu. Tapi tidak dengan tempat ini, karena aku tidak suka,"
"Nah.. harusnya kau mengatakan ini dari tadi agar aku tidak bingung. Lalu kenapa kau tidak suka tempat ini? Apa jangan-jangan kau pernah berkencan disini dengan seseorang?" Max asal menebak alasan Liliana membenci tempat itu.
Sebenarnya kenapa kau selalu bersikap dingin kepadaku? Apa kau pernah terluka? Apa hanya dendam saja yang ada didalam pikiranmu?
Max terlihat bingung, dia ingin tau apa yang membuat Liliana menggebu-gebu dengan balas dendamnya.
"Aku tidak mau membahasnya lagi!"
Mengingat Arsen, hatimu menjadi sakit. Dan tanpa sadar aku melampiaskan kekesalan ku kepadanya.
Kedua tangan Max meraih bahu Liliana, "Sebenarnya aku tidak mau menanyakan ini, tapi.. aku ingin tau apa yang terjadi padamu. Kenapa kau ingin balas dendam pada count Wales dan nona Adara? Apa ini ada hubungannya dengan mendiang nona Adaire?"
Deg
__ADS_1
Liliana dibuat terkejut dengan pertanyaan Max kepadanya, kepalanya mendongak ke arah Max.
...---****---...