Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 154. Harga yang harus dibayar


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setiap menjalani hidup, kita pasti punya pilihan. Pilihan yang kita ambil pasti akan berdampak pada kehidupan kita. Entah itu baik atau buruk.


Kini Max harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya, keputusan akan pilihan dari kesempatan yang diberikan penyihir agung padanya. Sesat memang, tapi Max harus mengambil pilihan.


Liliana harus hidup, itulah pikirannya saat ini. Namun rupanya harga yang harus dia bawah ternyata tidak murah.


"Apa tidak ada pilihan ketiga?" Max berharap ada pilihan dimana dia tidak bisa memilih keduanya. Kenapa di saat dia punya pilihan untuk menyelamatkan kembali Liliana, rasanya berat?


Berat bukan karena dia takut mati, tapi karena dia takut semua tidak bisa terjadi sesuai dengan rencananya. Benar-benar rumit kedua pilihan itu dan tidak mudah.


"Yang mulia raja, saya tidak tahu bahwa anda adalah orang yang suka menawar." Canda penyihir agung dengan seringai di bibirnya.


"Apa kau tidak berbohong padaku? Apa kau jujur? Jika kau bohong padaku, kau akan merasakan akibatnya!"


"Nyawa saya yang jadi taruhannya yang mulia," penyihir agung menundukkan kepalanya.


"Pasti kau tujuan, kenapa kau mau membantuku? Katakan! Apa yang kau inginkan dariku? Uang, kekuasaan, status, kehormatan, wanita? Aku bisa berikan semuanya untukmu, kau hanya tinggal katakan saja apa yang kau mau?"


Max tau bahwa setiap hal di dunia ini pasti tidaklah gratis. Ada harga yang harus dibayar, apalagi Max adalah orang yang tidak mau berhutang pada orang lain. Dirinya adalah seorang Raja yang memiliki status tertinggi di kerajaan itu bahkan dia di hormati oleh orang banyak.


"Saya...ingin nyawa seseorang, maksud saya...nyawa dua orang." Penyihir agung tersenyum menyeringai, entah nyawa siapa yang dia inginkan.


Bukan minta uang, jabatan, status atau daerah kekuasaan? Tapi penyihir agung malah meminta nyawa dua orang sebagai gantinya? Nyawa siapa yang ingin dia ambil?


"Kau ingin nyawa? Nyawa siapa yang kau inginkan? Apakah mereka ini adalah salah satu dari rakyatku?" Tanya Max dengan menajamkan pandangan pada penyihir agung.


"Benar, saya menginginkan nyawa dua orang itu. Saya ingin menghabisi nyawa mereka berdua dengan tangan saya sendiri, yang mulia hanya perlu menyerahkan mereka."


"Katakan siapa??"


"Saya ingin melenyapkan orang yang sama dengan orang yang sudah melenyapkan nona Liliana,"


"Apa? SIAPA??" Max tercengang mendengar penyihir agung mengatakan tentang orang itu. Dia semakin penasaran siapa orangnya.


Penyihir agung hanya tersenyum menyeringai.


"Sebutkan siapa orang itu?!"


"Dia tinggal di istana ini sebagai selir yang mulia Raja,"


"Selirku? Aku tidak punya selir."


"Apakah saya salah? Saya kira wanita berambut hitam itu adalah selir anda karena dia selalu berada di sekitar anda."


"Apa? Wanita rambut hitam?" Max tercengang.


Julia Norton! Apakah itu dia? Dia yang melenyapkan Lily?


"Benar, dia adalah seorang penyihir hitam...ayahnya juga berasal dari sekte iblis." Ucap penyihir agung itu.


"Hahaha...kau ingin nyawanya? Baiklah, akan ku kabulkan. Saat ini juga!"


"Terimakasih sebelumnya yang mulia,"


"Sebaiknya kau tepati janjimu atau kau mati!" Ancam Max pada penyihir agung itu.


Malam itu juga karena waktu yang tidak banyak, Max dan penyihir agung pergi menemui Julia di istananya. Sebelum itu, tak lupa Raja Istvan memerintahkan salah satu prajuritnya untuk menjemput duke Norton dari rumahnya agar dibawa ke istana.


Max baru teringat bahwa dia tidak mempunyai alasan untuk melenyapkan ayah dan anak itu. Lalu dengan cepat si penyiar agung memberikan buktinya buktinya, bahwa Julia memang penyihir hitam dan ayahnya adalah penganut sekte iblis.


Penyihir agung mempunyai sebuah bola yang disebut bola rekaman, bola rekaman itu memperlihatkan bagaimana Liliana mati karena sihirnya. Bagaimana wanita hamil itu meregang nyawa di tangan Julia yang saat itu menyamar menjadi Doris sang pelayan setia.


"Lily..." lirih pria itu saat melihat bagaimana berita yang dia cintai kesakitan saat dia meregang nyawa di tangan Julia.


Seharusnya aku menyingkirkanmu dari dulu.


Dia sakit hati melihat wanita yang dia cintai meregang Jawa dengan cara yang mengenaskan, apalagi keadaannya saat itu sedang hamil. Tangisan itu tiba-tiba saja menjadi sebuah kemarahan dan murka.


"Yang mulia, nona Julia dan Duke Norton telah tiba di aula istana." Adrian melapor pada Rajanya.


"Apa semua menteri sudah berkumpul disana juga?" Tanya Max sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"Sudah yang mulia,"


Ada apa sebenarnya? Mengapa yang mulia mengumpulkan semua orang malam-malam begini di aula istana? Apa dia akan mengumumkan sesuatu yang penting?. Pikir Adrian dalam hatinya.


"Bagus, dalam dua jam ini harus sudah selesai." gumam Max dengan suara pelan dan senyum menyeringai. "Duke Geraldine, apa dia juga datang?"


"Beliau sudah berada di aula istana bersama para menteri," jelas Adrian sambil membungkukkan badannya seperti biasa.


"Penyihir agung, ikut aku!" Ujar Max pada penyihir agung yang berdiri tepat di belakangnya.


"Ya, yang mulia." jawab penyihir agung.


Mereka bertiga memasuki ruang aula istana kerajaan Istvan, semua memberi hormat pada Max. Laura dan Eugene juga ada disana, mereka bertanya-tanya, kenapa Max mengumpulkan semua orang di aula istana.


Raja duduk singgasananya, tanpa banyak berbasa-basi dia meminta penyihir agung untuk memutar rekaman dari bola sihir miliknya.


"Disini kalian akan menyaksikan terbongkarnya seorang penjahat di balik bangsawan, seorang yang memiliki ilmu hitam berada di kerajaan ini. Awalnya... Aku tidak menyangka bahwa orang-orang ini ternyata adalah bagian dari orang ilmu hitam."


Julia dan Duke Norton langsung menelan ludah begitu mendengar ucapan sang raja yang begitu keras di depan semua orang itu.


Apa yang mulia sudah tau semuanya?. Julia dan sang ayah saling meridik satu sama lain dengan gelisah.


"Penyihir agung, tunjukkan!" Titah Max pada penyihir agung.


Penyihir agung itu menunjukkan rekaman dimana Liliana terbunuh. Semua orang yang berada di aula istana menyaksikannya.


######


"Kau...kau penyihir hitam?"


"Benar dan hanya kau saja yang tau tentang ini. Maka dari itu, yang lain tidak boleh mengetahuinya." Julia mendekati Liliana, dia melihat darah yang mengalir dari tubuhnya ke kaki Liliana dan membasahi lantai juga. "Apa rasanya sakit sekali? Bagaimana?"


"Kau... benar-benar biadab! Kau tega melakukan ini kepadaku dan anakku, sebenarnya demi apa? Aku bahkan tidak pernah memusuhimu. Aku bahkan pergi dari kerajaan Istvan bersama anakku, tapi kau..." Liliana tidak mampu bergerak banyak maupun berdiri, kakinya lemas dan perutnya sakit seperti di remas-remas.


Julia duduk jongkok, dia menatap wanita itu dengan sinis. "Ya, kau memang sudah pergi tapi bayanganmu tidak pernah pergi dari kehidupanku! Aku mencinta Baginda raja, aku hanya ingin bersamanya sebagai Ratu di negeri Istvan, menjadi orang nomor dua setelahnya. Lalu semalam, dia mengatakan akan kembali mengangkatmu menjadi permaisuri? Sungguh konyol, bukan?"


"Kau...tidak akan dan tidak boleh menjadi permaisuri. Penyihir hitam, orang berbahaya sepertimu tak pantas untuk mendampingi yang mulia Raja dan kau tidak berhak untuk menjadi Ratu. Aku tidak akan membiarkannya," ucap Liliana dengan tatapan matanya yang tajam pada wanita itu.


"Mungkin kau harus sedikit sadar diri, Liliana. Kau tidak akan bisa mencegahku, kalau kau mati bukan?" Julia tersenyum sarkas, dia senang melihat rivalnya itu tak berdaya.


"Hahahaha... PFut...sungguh lucu, polos, konyol apa bodoh ya? Tidak akan ada yang mendengarmu. Aku sudah membatasi semuanya dengan sihirku,"kata Julia sambil tertawa-tawa mengejek Liliana.


"Kumohon, selamatkan anakku...aku janji, aku tidak akan mengganggumu lagi!"


"Apa kau bilang? Jika aku menyelamatkan anakmu, maka aku akan berada dalam bahaya besar. Aku tidak mau menanggung resiko itu, aku akan terancam kalau kalian masih hidup."


Julia menjerat leher Liliana dengan sihir hitamnya, hingga dia tercekik. "Ohok... ohok..."


Wanita itu sudah ada niat besar untuk membunuh Liliana. "MATILAH!"


Cahaya hitam menyelimuti tubuh Liliana, mata Julia yang awalnya berwarna hijau kini berubah warna menjadi hitam semua. Tangannya terpancar sinar hitam yang begitu pekat.


#####


Setelah rekaman sihir itu telah diputar habis, sontak semua orang langsung melihat ke arah Julia dan juga ayahnya yang terlihat begitu gelisah.


Duke Geraldine tercengang melihat itu semua, dia tidak percaya bahwa putrinya dibunuh oleh penyihir hitam dan penyihir hitam itu adalah Julia , seorang wanita terhormat Putri keluarga Duke.


"Kau...kau yang sudah membunuh putriku?!" Sang ayah baru saja kehilangan putrinya itu tersulut api emosi, dia mencekik leher si wanita yang telah membunuh putrinya.


"Kkkeukhhhh..."


"Dasar penyihir hitam! Wanita iblis!" Duke Geraldine murka.


"Pengawal tangkap Duke Norton dan putrinya! Bawa kehadapan ku!" Teriak Max dengan suara yang menggelegar.


Akhirnya Julia yang keadaannya sudah sangat terjepit itu, keluarkan sihir hitamnya dan menyerang semua orang di sana. Dia melindungi sang ayah yang akan ditangkap oleh pengawal istana.


"Aku tidak percaya ini, Duke Norton ternyata...."


"Putrinya juga...aku tidak percaya, aku sempat mendukung mereka berdua." Seorang pria mengucapkan rasa sesalnya Karena Dia pernah mendukung Duke Norton dan putrinya untuk masuk ke dalam anggota keluarga kerajaan.


"Pergi! Jangan berani mendekat lagi, atau kalian akan mati!" Tubuh Julia memancarkan sinar hitam, matanya memerah dan dia menatap semua orang di sana dengan tajam seraya mengancam.

__ADS_1


Namun, tidak sulit bagi Max dan penyihir agung untuk mengalahkan penyihir hitam. Max menggunakan sihir pengikatnya untuk menahan Julia dan ayahnya dengan mudah.


Mereka berdua sudah berada dihadapan Max dan penyihir agung. "Duke Norton dan putrinya, mulai hari ini dan sampai kematian mereka! Gelar mereka akan dicabut dan mereka akan dijatuhi hukuman pancung karena sudah melakukan pelanggaran berat sebagai rakyat negeri Istvan, bersekutu dengan iblis dan membunuh permaisuri Raja!"


Semua orang tidak ada yang berani menentang keputusan mutlak dari sang raja, karena memang ayah dan anak itu terbukti telah bersalah. Kini hukuman mati menanti mereka berdua didepan mata.


"Yang MULIA! Tolong ampuni kami...tolong..." Julia yang memiliki harga diri tinggi, kini dia memohon ampun kepada Raja.


Max mendongakkan kepala Julia dengan sihirnya dia menggerakkan kepala kecil itu. "Ughh... yang mulia..."


"Saat dia memohon ampun padamu, apa kau mengampuninya? Apa kau melakukan itu? Kau membunuh Liliana dan anakku begitu kejam! Sekarang kau harus membayar harga yang mahal untuk itu,"


"Ti-tidak yang mulia...kumohon jangan..."


Duke Norton dan Julia sudah tidak bisa mengelak lagi dari hukuman. Sihir hitam di dalam tubuh Julia sudah di kunci oleh penyihir agung. Kini mereka berdua berada di tengah-tengah alat pancung, bersiap untuk kehilangan kepala mereka.


"Kenapa dan siapa kau? Kenapa kau melakukan ini? Aku bahkan tidak mengenal dirimu," ucap Julia bertanya kepada penyihir agung.


Duke Norton juga melihat penyihir agung dengan bingung.


"Mungkin kalian lupa, kalau kalian sudah membunuh ibu, ayah dan kakakku. Kalian tuduh mereka sebagai penyihir hitam!"


"Kau..." Duke Norton akhirnya ingat dia pernah membunuh satu keluarga yang di klaim sebagai penyihir hitam padahal mereka adalah penyihir dengan kekuatan suci.


"Dan sekarang kalian akan membayar semuanya, seperti apa yang dirasakan ayah, ibu dan kakakku!" Penyihir agung tersenyum menyeringai. "Rasakanlah neraka!"


Akhirnya ayah dan anak itu di hukum pancung, namun bukan hukum pancung biasa karena penyihir agung memantrai alat pancung itu untuk membakar jiwa mereka.


Tubuh mereka berdua langsung terbakar jadi abu, penyihir agung tertawa melihatnya karena keluarganya dulu mati dibakar oleh Duke Norton.


****


Setelah hukuman mati itu dilakukan, hanya tinggal 2 jam lagi menuju tengah malam dan pria itu harus segera menentukan pilihannya. Max kembali ke istana dan Duke Geraldine menemuinya.


"Yang mulia,"


"Duke, aku memohon beribu-ribu maaf padamu...tapi aku rasa itu tidak cukup. Penyebab semua ini adalah aku dan aku tidak akan memintamu memaafkanku lagi." Max menatap mantan ayah mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Terlihat penyesalan dan rasa bersalah di wajahnya.


Tatapan Duke Geraldine melemah melihat pria itu."Yang mulia...saya minta maaf dan saya berterimakasih. Saya minta maaf karena saya tidak mengerti perasaan yang mulia, padahal yang mulia juga berduka karena kehilangan putri saya, tapi saya menyalahkan anda."


"Tidak, ini adalah salahku...jika bukan karena diriku, kau tidak akan kehilangan putrimu."


"Tidak yang mulia...saya akan mencoba mengikhlaskan kepergian Liliana. Saya harap yang mulia hidup bahagia...dan saya berterimakasih karena anda sudah bersikap adil, menghukum mereka." Terlihat mata sang Duke yang terlihat sembab, dia banyak menangis karena putrinya.


Max menatap ke arah sang Duke dengan tatapan berkaca-kaca. "Duke, aku janji....aku akan membalikkan keadaan seperti semula. Kau juga harus berjanji padaku, kalau kau harus menjauhkanku dari hidupmu dan hidup Liliana." Kata Max yang lalu tersenyum lembut.


Duke Geraldine tidak paham dengan apa yang dikatakan Max padanya. "Yang mulia, apa maksud anda?"


Kenapa yang mulia bicara seperti ini?


Max tidak menjawab lagi, dia pun pergi meninggalkan Duke Geraldine yang termenung bingung.


Duke, kau jangan khawatir...kau masih punya kesempatan untuk bertemu dengan putrimu.


Setelahnya Max pergi bersama penyihir agung secara diam-diam. Dengan kedua tangannya sendiri, Max membongkar kembali makam Liliana. Dia melihat tubuh wanita itu masih utuh didalam peti mati. "Lily..."


"Yang mulia, apa kita bisa mulai?"


"Baiklah," Max menelan ludah, lalu dia menggendong Liliana ala bridal.


"Apa yang mulia yakin, memilih pilihan kedua?"


"Iya,"


"Meski anda harus menjual jiwa anda pada iblis?" Penyihir agung bertanya lagi pada Max tentang pilihannya.


Sebenarnya, mau pilihan pertama atau kedua. Sama-sama tidak menyenangkan.


"Ya, setidaknya jika aku memilih itu...aku masih bisa bertemu dengannya dalam dunia ini. Atau aku tak bisa hidup, di dunia yang tidak ada dia didalamnya." Max menatap Liliana dengan tatapan mata sedih. Keinginannya sudah mantap untuk pilihan kedua.


Ini harga mahal yang harus kubayar karena aku sudah membuatmu seperti ini.


"Baiklah yang mulia, mari kita pergi ke tempat yang aman. Saya akan memulai ritualnya," ucap penyihir agung itu.

__ADS_1


Max dan penyihir agung pergi ke salah satu tempat sepi didalam istana.


...****...


__ADS_2