Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 216. Bumil sensitif


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Mengurung? Siapa yang mengurung? Begitulah raut wajah Max saat ini ketika Iya menatap istrinya yang marah-marah. Semenjak hamil, memang istrinya menjadi lebih sensitif dari biasanya. Dia menginginkan sesuatu yang di luar nalar, bahkan dia ingin ikan sapu di simpan di kamar mandinya, memakan buah jambu di tengah malam, meminta suaminya mengelus dirinya sepanjang malam.


Begitu manjanya ibu hamil yang satu ini, seperti kaki di kepala dan kepala di kaki. Kadang membuat Max pusing akan permintaannya yang aneh-aneh itu. Tapi Max selalu sabar menghadapi istrinya, dia memaklumi semua itu karena dia sangat mencintai istrinya juga calon anak mereka.


Demi menjaga istrinya dari bahaya dengan tidak membiarkannya keluar dari istananya dan kini dia sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamarnya. Sikap posesif pria itu semakin parah saja.


"Apa kau merasa aku mengurungmu?" Max mendesah, seraya melirik istrinya yang sedang marah-marah itu.


"Bukan merasa, tapi kau memang mengurungku! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?" tanya Liliana dengan rengekan yang memelas.


"Apa kau ingat terakhir kali kau bermain di taman? Kau terjatuh karena batu yang ada disana, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu padamu dan calon anak kita. Mengertilah bahwa ini demi kebaikanmu juga!"


"Kebaikanku? Kebaikanmu ini seperti racun bagiku! Aku kesal kau kurung aku seperti ini, kau terlalu berlebihan. Lagian, tidak terjadi apa-apa tuh padaku. Aku baik-baik saja, kau saja yang berlebihan sampai membuat tukang kebun istana kehilangan pekerjaannya!"


"Menurutmu aku berlebihan? Lily, sepertinya kau tidak paham apa yang aku khawatirkan ini. Bisa-bisanya dengan mudah kau bicara aku BERLEBIHAN?"


Aku melakukan semua ini untuk keselamatannya juga, tapi kenapa dia tidak memahami diriku?


"Iya, kau berlebihan! Sampai kau tidak memperbolehkan diriku untuk keluar dari kamar ini! Aku jenuh, aku ingin pergi keluar dan menghirup udara segar. Aku bukan burung di dalam sangkar,"


"Sungguh Liliana! Sama sekali aku tidak menganggapmu seperti burung di dalam sangkar, kau adalah istriku, kau adalah cintaku, kau adalah kesayanganku dan segalanya untukku." tutur pria itu mencoba membuat istrinya mengerti bahwa dia melakukan semua ini demi kebaikannya juga. Ya, walaupun caranya memang berlebihan.


"Kalau kau sayang padaku, kau pasti tidak akan mengurungku seperti ini!"


"Kenapa kau susah memahamiku? Aku hanya ingin kau dan calon anak kita baik-baik saja! Jadi jangan membantah dan tinggallah di kamarmu, sampai aku mengizinkanmu untuk pergi keluar!" tegasnya tak mau kalah.


Keduanya pun terlibat cekcok dan adu mulut, pasangan suami istri itu tidak ada yang mau mengalah. Pada akhirnya terjadilah yang namanya perang dingin di atas ranjang, sebab keduanya tertidur tanpa bicara sepatah katapun.


Mereka tertidur dengan punggung yang saling membelakangi. Diam-diam Liliana menangis, ia merasa sedih karena Max membentaknya.


"Hiks...hiks..."


"Ratuku, apa kau menangis?" tanyanya cemas.


Pertanyaan Max tak kunjung mendapatkan jawaban, hanya suara isak tangis yang terdengar dari wanita yang berbaring memunggunginya itu. Akhirnya Max memegang tangan istrinya, membalikkan tubuh itu hingga berhadapan dengannya. "Lily, sayang?"


"Hiks...hiks..." wanita hamil itu masih menangis, matanya merah.

__ADS_1


Max mengusap air mata Liliana dengan kedua tangannya. "Kenapa kau menangis, hah? Kau tambah jelek kalau menangis begitu, nanti bayi kita juga ikut menangis!"


"Aku tidak suka kau membentakku, aku sakit hati...aku ingin kau mengizinkanku pergi jalan-jalan...hiks.. huhuu..."


"Sayang--kau." Max tidak tega melihat istrinya menangis terus, bukankah hal ini juga akan berdampak buruk pada janin yang ada dikandungnya?


Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


"Hiks... huhuu..."


"Okay fine, aku minta maaf...maafkan aku ya. Aku izinkan kau keluar kamar tapi tidak keluar dari istana ini."


"Tapi aku ingin pergi ke taman Sakesfir...huhu..."


Wanita itu merengek lagi, membuat Max menghela nafas entah untuk ke berapa kalinya. Dia menepuk jidatnya, rasa kasihan, tak tega dan khawatir bercampur aduk didalam dadanya saat ini.


Max tidak punya pilihan, mungkin dia memang harus memberi izin pada istrinya. "Baiklah baiklah...kau bisa pergi kesana, tapi kau pergi denganku! Kau harus pergi denganku!" pria itu mengulang ucapannya sampai dua kali.


Liliana akhirnya mulai berhenti menangis, dia menganggukan kepala. Kedua matanya yang berair itu menatap suaminya. "A-apa benar aku bisa pergi kesana?"


"Iya, BISA! Tapi aku yang akan menemanimu, beberapa pengawal dan pelayan juga akan ikut."


Lagi-lagi Liliana menangis, entah apa maunya kali ini. "Huaahh.. huhu..."


"Sekarang kenapa kau menangis lagi?"


"Aku tidak mau pergi bersama pengawal dan pelayan, aku hanya ingin berdua denganmu."


"Ya ya baiklah, kita pergi berdua...tapi kau harus berjanji padaku untuk menuruti apa perintahku. Paham?"


"Iya aku paham." Liliana mengangguk-angguk setuju.


"Baiklah, kalau begitu mari kita tidur. Besok aku harus mengerjakan tugas lebih awal agar bisa menemani istriku jalan-jalan."


"Tunggu, jangan dulu tidur!"


"Sekarang apalagi?" tanya Max sambil membelai rambut panjang istrinya.


"Aku haus," Liliana memegang lehernya yang kehausan karena habis menangis.

__ADS_1


Max dengan sigap mengambilkan gelas di atas nakas lalu dia mengisi gelas kosong itu dengan air didalam teko. Dia pun memberikannya pada Liliana. "Ini sayang,"


"Ehm...aku tidak mau air putih," wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Lalu mau apa?"


"Jus."


"Jus? Pada jam segini kau mau minum jus? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Max mengerutkan keningnya.


"Tidak salah, aku memang mau jus. Tiba-tiba aku ingin jus stroberi."


"Baiklah, aku akan buatkan jus untukmu..spesial!" Max tersenyum lalu dia mencubit gemas pipi istrinya. Kemudian tangannya beralih pada perut istrinya yang masih rata. "Sayang, sehat-sehat ya nak. Ayah akan buatkan jus dulu untukmu," ucapnya pada perut itu.


Liliana tersenyum pada suaminya, dia berhenti menangis. Max lega melihatnya, ia pun beranjak pergi ke dapur dan membuat jus itu sendiri.


"Yang mulia, biar hamba saja yang melakukannya." tawar Daisy yang kebetulan masih ada di dapur istana.


"Tidak perlu, biar aku saja...aku bisa melakukannya." jawabnya sambil mengocok ngocok stroberi ke dalam wadah, lalu dia campurkan susu ke dalam sana.


Pria itu tampaknya sudah terbiasa membuat jus dengan tangannya sendiri seperti seorang ahli. Padahal sebelumnya dia hampir membakar dapur istana.


"Woah...yang mulia Raja, sekarang yang mulia begitu terampil dalam membuat jus." Daisy tersenyum seraya memberikan pujian yang membuat Max bangga.


"Haha...mungkin ini semua karena ibu hamil yang satu itu, hampir setiap malam dia memintaku membuatkan jus untuknya. Mungkin karena inilah aku jadi terbiasa."


Ya, memang hampir setiap malam Liliana mengidam ingin minum jus stroberi dan harus Max yang membuatkannya.


"Hehe, yang mulia mohon bersabarlah..."


"Aku selalu sabar menghadapi orang yang aku cintai, tidak apa-apa." Sama sekali pria itu tidak kebesaran dengan semua ini. Dia lakukan karena rasa sayang, tidak peduli akan lelah.


"Syukurlah yang mulia, jalani semuanya dengan ikhlas dan nikmati saja yang mulia. Karena masa-masa ngidam seorang istri itu adalah masa-masa yang sulit untuk dilupakan dan menjadi kenangan yang indah."


"Kenangan yang indah bagaimana maksudmu?" tanya Max dengan tangan yang masih sibuk dengan jusnya.


"Maksud saya, cerita ketika seorang ibu mengidam bisa diceritakan pada anaknya nanti dan mereka akan tertawa mendengar ceritanya ini yang mulia."


Max terdiam saat dia telah selesai menyajikan jusnya. Dia pun tersenyum membayangkan bila nanti kisah ini diceritakan pada anaknya. "Kau benar Daisy,"

__ADS_1


Daisy hanya tersenyum menanggapi ucapan Max. Memang benar, masa-masa ini mungkin hanya akan terjadi satu kali atau mungkin dua kali saat Liliana melahirkan anak kedua mereka.


...*****...


__ADS_2