Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 146. Sudah bukan rahasia lagi


__ADS_3

Wanita itu jatuh tidak sadarkan diri di dalam gendongan Max, tangannya terkulai lemah.w


"Lily!"


Max membawa Liliana masuk ke tenda pengobatan. Ada dua orang tabib di tenda itu, mereka memberi hormat saat tau Raja Istvan yang datang. "Tolong dia!"


"Baik yang mulia." ucap seorang pria yang bersiap memeriksa Liliana yang sudah berbaring diatas ranjang di sana.


"Bukan kau! Harus tabib wanita yang memeriksanya!" titah Max dengan mata tajam melihat ke arah si tabib pria itu.


Jika Raja Rayden ibaratkan matahari yang cerah dan hangat. Raja Istvan adalah kebalikannya, dia adalah bongkahan es yang dingin dan sulit mencair. Huuhhh.. merinding sekali walau hanya melihatnya saja, apalagi saat mendengar suaranya ini. Seorang tabib pria merinding saat mendengar suara Max yang dingin.


"Ba-baiklah yang mulia, saya yang akan memeriksanya." ucap seorang tabib wanita yang berdiri disebelah tabib laki-laki itu.


"Cepat!" kata Max lantang. Dia menatap Liliana yang sedang berbaring disana dengan cemas.


Selagi tabib wanita itu memeriksa Liliana, datanglah Duke Geraldine bersama Adrian dan Andreas ke tenda itu.


"Yang mulia, biar saya saja yang menunggu putri saya. Yang mulia sebaiknya anda segera kembali ke-"


"Apa kau berani memerintah seorang Raja?" Max langsung memangkas ucapan Duke Geraldine dengan tegas dan menggunakan kekuasaannya sebagai Raja, memerintahkan pria itu untuk diam.


Duke Geraldine terdiam dengan wajah cemas. Dia takut kalau Max tau Liliana sedang hamil dalam keadaan mendadak seperti ini.


Haahhhh...apa memang caranya harus seperti ini?


Tak lama kemudian, setelah tabib wanita itu memeriksa kondisi Liliana dan memberikan obat yang dapat meredakan pendarahannya dan juga mengobati luka memar ditubuhnya. Max langsung menanyakan keadaan Liliana pada si tabib wanita.


"Bagaimana keadaannya? Kenapa dia bisa berdarah sebanyak itu? Apa dia terluka parah?" Max memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada tabib itu, dia sangat mencemaskan Liliana.


"Yang mulia, anda tenang saja...pendarahannya sudah berhasil dihentikan, bayinya masih bisa diselamatkan tepat waktu. Hanya saja, nona harus banyak beristirahat untuk menjaga-"


Grep!


Belum selesai tabib wanita itu menjelaskan, Max sudah menarik baju si tabib dengan tatapan mata yang penuh pertanyaan. "Apa maksudmu? Bayi? Bayi apa maksudnya?!" Max membentak.


Duke Geraldine hanya menghela nafas, dia tidak bicara sepatah katapun Karena dia sudah tahu bahwa ini semua akan terjadi. Keadaan Liliana yang sedang hamil tidak bisa disembunyikan lagi.


"Yang mulia, tolong tenanglah!" Adrian mencoba menenangkan Max yang emosional.


"Jawab, kenapa kau diam saja? Bayi apa maksudnya?!" tanya Max lagi pada tabib wanita.


"Bayi yang ada didalam kandungan nona, bayinya selamat. Nona sedang mengandung dan baru saja nona hampir kehilangan bayinya."


"Apa? Maksudmu dia hamil?" tanya Max terperangah mendengar penjelasan tabib itu.


Lily sedang hamil? Itu pasti anak kami..

__ADS_1


"Berapa usia kandungannya?" tanya Max tajam.


"Dari hasil pemeriksaan saya, usia kandungan nona memasuki bulan 3." jelas si tabib sambil menundukkan kepala.


"Hahahaha...memasuki tiga bulan? Tepat sekali... hahaha..." Max tiba-tiba tertawa tak tak terkendali, perasannya kini terasa campur aduk.


Tiba-tiba saja Max memerintahkan kedua tabib dan yang lainnya untuk pergi dari sana, kecuali Duke Geraldine yang diminta untuk tetap tinggal.


Max menatap pria paruh baya itu dengan tatapan penuh pertanyaan, ada kemarahan dan kekecewaan juga didalam matanya itu. Ya, selain itu dia juga terkejut karena dia baru tau Liliana sedang hamil sejak berpisah dengannya.


"Duke Geraldine, jawab aku...kau sudah tau tentang kehamilan Liliana?" tanya Max dengan menajamkan pada Duke Geraldine.


"Tentu saja yang mulia." jawab Duke Geraldine jujur.


Max menaikan bahunya, dia tersenyum sinis. "Jadi, kau sengaja merahasiakan ini?"


"Tidak yang mulia, saya berniat memberitahukan semua ini pada yang mulia. Tapi, anda tau sendiri bagaimana sikap keras kepalanya Liliana?" jelas Duke Geraldine pada Max.


Max terdiam mendengarkan penjelasan Duke Geraldine, dia memang tau sikap keras kepala wanita itu. Pasti Liliana yang meminta Duke Geraldine untuk merahasiakan tentang kehamilannya.


Jadi karena ini Liliana kabur? Dia menyembunyikan kehamilannya.


"Bayi itu adalah milikku kan?" tanya Max lagi pada duke Geraldine.


"Anda yang paling tau." jawab Duke Geraldine pada Max.


"Haahhh...." Max menghela nafas lega, berpikir bahwa hubungan mereka masih terikat dengan bayi yang ada didalam kandungan Liliana saat ini. "Duke, aku akan kembali menikah dengan Liliana, tolong restui kami berdua!" ucap Max tiba-tiba pada Duke Geraldine.


Keputusan yang mulia Raja selalu saja sembrono dan terkesan tergesa-gesa, inilah yang membuat Liliana terluka saat itu.


"Duke Geraldine, ini perintah!" kata Max tegas.


"Yang mulia, maafkan saya. Saya menolak memberi restu karena saya tidak mau memaksakan kehendak putri saya lagi. Saya, tidak mau putri saya terluka lagi dengan keputusan yang tergesa-gesa seperti dimasa lalu. Keputusan dan izin saya saat menikahkan putri saya dan yang mulia Raja, jujur saja saya sangat menyesalinya."


"Duke!" Max tidak suka ditentang.


"Saat menikahinya...yang mulia berjanji pada saya dan Liliana didepan dewa. Yang mulia akan selalu membahagiakan anak saya walau anak saya tinggal di istana, tapi ternyata apa faktanya? Putri saya tidak bahagia dan dia malah hidup menderita, menjadi wanita yang dicemooh semua orang karena anda yang mulia."


Max mendesah, wajahnya penuh dengan rasa bersalah. "Baiklah, aku akui aku salah karena sudah melanggar janjiku. Tapi kau tau sendiri alasannya kenapa? Aku tidak akan membicarakan masa lalu lagi, tolong bicarakan masa depan, masa sekarang...Liliana sedang mengandung anak kami, anak itu membutuhkan kedua orang tuanya. Harap Duke mengerti apa maksudku, aku melakukan ini demi kebaikan Lily." jelas Max yang terkesan membela dirinya.


"Yang mulia, anda sangat egois...mengubur masa lalu begitu saja. Padahal putri saya sangat terluka karena yang mulia, sekarang saya tau kenapa Liliana meninggalkan anda dan memilih menyembunyikan keberadaan anak ini." ucap Duke Geraldine kecewa pada Max yang menganggap seolah-olah masa lalu Liliana adalah hal mudah baginya.


Seorang pria mungkin mudah saja untuk bercerai tanpa rasa malu atau luka sedikitpun, dia bisa menikah lagi dengan mudah, tapi bagi seorang wanita yang diceraikan suaminya secara tidak hormat adalah hal yang memalukan dan membuat luka mendalam. Apalagi orang-orang di kerajaan sangat sensitif terhadap seorang janda, apalagi wanita itu adalah wanita yang ditinggalkan oleh putra mahkota kerajaan Istvan.


"Malu, sedih, kecewa, terhina, sakit hati, itulah yang dirasakan Liliana saat bercerai dari yang mulia. Semua orang mencemooh dia, karena yang mulia, anda seorang pria...anda tidak mengerti betapa merugikannya hal ini bagi seorang wanita yang diceraikan suaminya!" Seru Duke Geraldine mengeluarkan semua penat didalam hatinya tentang Max.


Max meneteskan air mata mendengar ungkapan hati sang Duke kepadanya. KEKECEWAAN pria itu pada Maximilian mantan menantunya. Duke sudah hilang respect pada Max.

__ADS_1


"Yang mulia, hubungan kalian adalah keputusan kalian...tapi mengenai restu seorang ayah, saya tidak setuju."


Tadinya aku ingin membuat Liliana kembali bersama dengan orang yang dia cintai, tapi melihat Raja plin plan seperti ini, aku jadi hilang rasa kepadanya. Bagaimana bisa putriku bahagia tinggal dengannya?


"Duke, tolong pikirkan hal ini matang-matang! Mengapa kau berubah pikiran? Bukannya kau mendukungku, aku adalah orang yang dicintai oleh putrimu? Kau tega memisahkan kami."


"Yang mulia memang benar, anda adalah pria yang dicintai oleh Lily, tapi anda tidak bisa membuatnya bahagia." kata Duke Geraldine.


Max tidak peduli pendapat Duke Geraldine, dia tetap pada keputusannya untuk membawa Liliana kembali ke negeri Istvan dan menikahinya lagi. Max pergi dari sana untuk kembali melanjutkan pertandingan persahabatan, dalam perjalanan dia berpapasan dengan Ibu suri dan dayangnya.


"Salam Baginda Raja Istvan," ucap ibu suri sopan.


Emma juga membungkuk hormat didepan Raja Istvan itu.


"Salam yang mulia ibu suri." Max menundukkan kepalanya seraya memberi hormat.


"Yang mulia Raja Istvan, apa kau tau bagaimana keadaan nona itu?" tanya ibu suri dengan wajah cemas.


"Dia baik-baik saja dan hanya butuh istirahat." ucap Max sambil tersenyum tipis.


"Benarkah? Haahhh... syukurlah, Aiden pasti lega mendengar ini." Ibu suri menghela nafas lega karena Liliana baik-baik saja.


"Oh ya yang mulia ibu suri, kalau boleh saya tau apa hubungan Raja Rayden dengan nona itu?" tanya Max penasaran, dia merasa ada yang janggal dengan kedekatan Liliana dan Aiden.


"Sebenarnya saya malu mengatakan apa hubungan mereka, karena Aiden belum mengatakan perasaannya. Tapi sepertinya nona itu akan menjadi permaisuri negeri ini." ucap ibu suri sambil tersenyum.


Hah? Liliana menjadi permaisuri? Bagaimana bisa? Raja Rayden...dia menyukai wanitaku? Sungguh berani!


Max menundukkan kepalanya, dia tidak menyangka bahwa terjadi begitu banyak hal saat dia dan Liliana berpisah. "Yang mulia, sepertinya anda salah paham...nona itu, dia sedang mengandung anak saya dan tidak akan menjadi permaisuri negeri ini." ucap Max menjelaskan.


Ibu suri tercengang saat mendengarnya, dia tidak percaya begitu saja dengan ucapan Max. "Tolong jangan bercanda ya, yang mulia Raja Istvan!"


Wanita itu hamil? Dia mengandung anak raja Istvan? Apa mungkin? Dia kan wanita yang disukai oleh Aiden...


"Saya tidak bercanda, kalau yang mulia ibu suri tidak percaya silahkan tanyakan pada pihak yang bersangkutan. Dan sebagai catatan, dia adalah mantan putri mahkota kerajaan Istvan yang artinya adalah mantan istri saya." ucap Max menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang hubungannya dan Liliana.


Max pergi meninggalkan ibu suri yang wajahnya pucat setelah mendengar penjelasannya. "Emma, bagaimana ini? Satu-satunya wanita yang disukai oleh anakku adalah mantan putri mahkota kerajaan Istvan? Bagaimana bisa? Dia juga sedang hamil, tidak pantas untuk mendampingi Aiden! Bagaimana bisa Aiden menyukai dirinya?!!" Ibu suri jadi gusar sendiri dan kecewa, dia yang tadinya mau menjenguk Liliana kembali berbalik arah.


Begitu mudahnya hati ibu suri berbalik jadi membencinya.


Berita kehamilan Liliana sudah bukan rahasia lagi, semua orang disana sudah mengetahuinya karena ibu suri yang memberitahukannya. Berita kehamilan Liliana terdengar sampai ke telinga Julia.


"Apa itu benar ayah? Wanita itu sedang hamil? Apa ayah serius?!!" Julia tidak senang dengan kabar ini.


"Ayah benar-benar serius, bahkan tabib sudah mengkonfirmasinya. Usia kandungan juga sudah menginjak 3 bulan, artinya bayi itu memang bayi yang mulia...pewaris kerajaan Istvan." jelas Duke Norton terlihat kesal dan sedih dengan berita ini.


"Hah! Lalu bagaimana denganku ayah? Dia pasti akan kembali merebut posisi yang bahkan belum pernah aku naiki!" Julia kalang kabut panik sendiri, akan bagaimana nasibnya kelak bila Liliana kembali ke istana.

__ADS_1


Ayah dan anak itu terlihat gelisah menghadapi berita yang menurut mereka sangat buruk.


...*****...


__ADS_2