
...🍁🍁🍁...
Max sampai di ruangan sang Raja, dia bersama sang ratu disana. Max memberikan hormat pada keduanya dengan formal, wajah dinginnya masih sama.
Ratu Freya menatap anak tirinya dengan sinis dan tajam. Namun dia menunjukkan senyuman sinis dan licik pada Max, entah apa yang dia rencanakan kali ini.
Ada apa dengan wajah si j*lang itu?
Max melihat ke arah ibu tirinya dengan tatapan jijik, seolah wanita itu adalah wanita kotor. Ya bagi Max, ratu Freya tidak lebih dari orang yang sudah merebut ayahnya dari ibunya sampai membuat ibunya meninggal dunia karena sakit-sakitan saat dia diturunkan menjadi Ratu.
Sampai akhir hayatnya, ratu Rosabella sangat mencintai raja Alberto ayahnya yang bajingan. Bahkan setelah menikah dengan Freya ayahnya juga memiliki selir lain yang cantik dan masih berusia 15 tahun, sayangnya selir itu meninggal tenggelam di dalam danau yang terletak di istana.
"Ada apa Baginda raja memanggil saya? Pestanya akan segera dimulai," tanya Max pada ayahnya.
"Iya ini masalah pemilihan putra mahkota, ayah raja putri dari Duke Norton cocok untukmu," ucap Raja Alberto pada anaknya.
Max langsung terperangah mendengarnya, dia melirik ke arah Freya dan wanita itu tersenyum licik.
Kenapa kau menatapku begitu? Ini hanya sedikit pembalasan saja dari sikap arogan mu itu. Freya tersenyum senang.
Pasti ini ulah wanita j*l*ng itu.
"Ayahanda, sudah saya katakan..kalau saya akan memilih putri mahkota saya sendiri. Ayahanda dan Baginda Ratu tidak perlu repot-repot untuk mengurus masalah itu," Mac tersenyum.
"Namun.. putra mahkota, apa kau pikir masalah putri mahkota calon ratu kerajaan ini.. adalah masalah yang bisa diputuskan olehmu saja? Kamu harus mempertimbangkan pendapat kami juga. Kami memilih putri Duke Norton bukan tanpa alasan, itu karena dia pantas menjadi putra mahkota negeri ini."
Pantas? Itu karena Duke Norton masih memiliki ikatan kekerabatan denganmu. Kau ingin mengikatku dengan pernikahan politik? Jangan mimpi.
"Saya tetap tidak setuju," ucapnya tegas
"Putra mahkota!" sergah Raja Alberto kesal.
"Saya akan memilih sendiri pendamping saya, Baginda raja dan Baginda ratu cukup percaya saja pada saya." Max memegang dadanya dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu di pesta ini, kami ingin melihat siapa putri mahkota yang kau pilih. Apa kau bisa melakukannya putra mahkota?" tanya ratu Freya menantang Max untuk menunjukkan putri mahkota yang dia pilih.
"Apa yang dikatakan Ratu benar, pasti wanita itu akan hadir di pesta bukan? Dan dialah sebab kau ingin mengadakan pesta ini, siapapun calonnya. Aku akan sangat senang jika wanita itu adalah bangsawan murni dari kerajaan ini," ucap Raja sambil tersenyum.
Wajah Max pucat pasi, dia memang sudah memiliki keinginan untuk menikahi Liliana dan menjadikannya sebagai putri mahkota. Namun, jika dia menunjukkannya di hadapan semua orang di negri ini, Max belum bisa melakukan itu. Bahkan dia belum mengungkapkan identitasnya didepan Liliana.
Aku akan akan melihat siapa wanita yang bernama Lily itu. ucap Ratu Freya dalam hatinya.
__ADS_1
Max hanya menjawab iya, setelah Max keluar dari ruangan Raja. Raja dan Ratu terlihat berbisik-bisik seperti merencanakan sesuatu. Sementara itu, Max terlihat resah dengan apa yang akan terjadi di pesta. Keresahan itu juga dirasakan Laura yang akan dilamar oleh pangeran mahkota dari kerajaan Lostier.
"Kakak? Kenapa kau ada disini?" tanya Laura pada kakaknya yang sedang duduk diatas tiang balkon. "Pestanya akan segera dimulai," sambungnya lagi.
"Kau juga, kenapa ada disini?" Max bertanya balik pada adiknya yang sedang menyendiri di balkon istana yang sepi.
"Kakak.. apa kau bisa membantuku?" Laura melihat ke arah kakaknya.
"Tidak mau," Max langsung menolak adiknya.
"Kakak, kau bahkan belum tau apa yang harus kau bantu. Kau sudah menolaknya, cih!" Laura mendengus kesal kepada sang kakak yang selalu cuek kepadanya.
"Kalau kau bisa memberiku solusi, akan aku pertimbangkan untuk membantumu. Kau ingin membunuh siapa dan ingin menyiksa siapa, aku akan bantu."
"Aku tidak minta kakak melakukan semua itu. Tapi, kakak butuh solusi apa?" tanya Laura sambil menatap cemas pada sang kakak.
"Liliana.. dia akan datang ke pesta dan dia akan tau semuanya. Menurutmu jika kau jadi dia, apa kau akan marah kepadaku yang sudah membohongimu?" tanya Max serius.
Kenapa hal ini lebih mendebarkan dibanding ketika aku pergi perang menumpas monster di Utara.
Laura berpikir sejenak, "Tentu saja.. awalnya aku akan marah. Tapi bukankah kakak pernah bilang kalau dia selalu cuek pada kakak? Jika dia marah, artinya dia mempunyai perasaan juga pada kakak. Hanya saja, yang jadi pertanyaan terbesar. Berapa lama dia akan marah, apakah dia akan menerima permintaan maaf kakak."
"Jadi intinya dia akan tetap marah?"tanya Max langsung pada intinya.
"Haahh.." Max menghela napas, Liliana sudah memenuhi pikirannya. Dia membayangkan bagaimana marahnya gadis itu, saat tau kebenarannya. Apalagi Liliana pernah mengatakan tentang kepercayaan dan kejujuran dalam sebuah hubungan.
Liliana baru mulai membuka hatinya untukku. Lalu aku akan mematahkannya. Ya Tuhan tolong selamatkan aku dari amarah Liliana.
"Aku sudah memberikan solusi, jadi kakak harus membantuku sekarang!"
"Baik, katakan apa maumu?"
Laura berbisik pada kakaknya itu, entah kenapa obrolan mereka yang terdengar seperti simbiosis mutualisme itu. Malah membuat Laura merasa dekat dengan Max.
"Hanya itu saja?" Max tersenyum, dia menganggap remeh apa yang diminta oleh Laura.
"Apa kakak bisa?"
"Tenang saja, kau akan dapatkan keinginanmu. Tapi, ini tidak sebanding dengan apa yang kau berikan padaku. Jadi, aku akan meminta satu bantuan lagi padamu nanti."
"Baiklah kakak, terimakasih sebelumnya!" Laura tersenyum lebar.
__ADS_1
...*****...
Di dalam kereta kuda yang mewah, Liliana, Arsen dan Duke Geraldine sedang menuju ke istana. Liliana terlihat resah karena ini pertama kalinya dia menghadiri pesta di istana. Dia juga masih takut dengan penghinaan yang terjadi dimasa lalu saat dia datang ke pesta.
Dimana saat itu semua orang mengejeknya karena fisik yang buruk. Walaupun dia sudah menjadi wanita cantik, tapi jiwanya masihlah Adaire yang sering terluka oleh masa lalunya.
"Nona Liliana, apa kau gugup?" tanya Arsen melihat Liliana yang daritadi memainkan jarinya.
"Iya, saya gugup karena ini pertama kalinya saya pergi ke istana."
"Jangan khawatir, aku akan menemanimu. Percaya dirilah, karena mulai sekarang dan seterusnya kau adalah bagian dari keluarga Geraldine." Duke Geraldine memegang tangan Liliana.
"Terimakasih yang mulia," ucap Liliana sambil tersenyum.
"Ayah, bukankah aku sudah bilang agar kau memanggilku ayah,"
"Ayah.." lirih gadis itu sambil memandang ke arah Liliana.
Duke Geraldine terlihat senang karena Liliana mau memanggil dirinya ayah. Tak lama kemudian mereka sampai di istana, beberapa bangsawan mulai berdatangan memasuki aula istana yang megah dan luas.
Kebanyakan dari mereka yang datang adalah kaum wanita. Ya, mereka datang untuk melihat wajah putra mahkota karena ini pertama kalinya putra mahkota kerajaan itu mengadakan pesta.
Duke Geraldine meminta agar Arsen pergi menemui Adara di penjara dan melihat bagaimana keadaannya. Arsen terpaksa menuruti ayah mertuanya, walaupun dia ingin berdansa dengan Liliana di pesta.
Liliana yang cantik di kerumuni oleh beberapa pria yang mengajaknya mengobrol. Ketika berada dalam kecanggungan, Laura datang dan menolong Liliana.
"Salam kami tuan putri," ucap beberapa pria bangsawan seraya memberi hormat pada Laura.
"Kalian pergilah! Jangan ganggu temanku," ucap Laura pada para pria bangsawan itu.
Pria-pria itu pun pergi meninggalkan Liliana dan Laura disana. Di dekat tempat mengambil makanan dan minuman.
"Tuan putri? Jadi nona Eve adalah..." Liliana terpana melihat Laura, terlebih lagi saat orang-orang memberikan hormat kepada Laura.
"Hahaha, akhirnya ketahuan juga. Nona Lily, sekarang aku akan memperkenalkan diriku secara benar.. aku adalah Laura Evania de Istvan, putri dari Baginda Raja Alberto dan ratu Freya." kata Laura sambil tersenyum.
Liliana tampak syok mengetahui bahwa Eve adalah putri kerajaan. Wajahnya langsung pucat pasi. Liliana tidak bisa berkata-kata.
Wah, dia sudah seperti ini saat tau aku seorang putri. Apalagi kalau dia tau tentang kakak? Apa dia akan pingsan?
"Baginda Raja, baginda ratu dan yang mulia putra mahkota telah tiba!!" teriak seorang pengawal kerajaan dengan suaranya yang lantang. Memberitahukan pada semua orang disana bahwa Raja, ratu dan putra mahkota kerajaan itu telah tiba di aula istana.
__ADS_1
...----***----...