Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 27. Dua wajah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Adrian melihat Duke Geraldine memeluk Liliana. Dia langsung memberikan hormat pada pria yang statusnya satu tingkat dibawah kaisar kerajaan Istvan dengan penuh rasa hormat.


Deg!


Hati Liliana berdebar mendapatkan pelukan penuh kasih sayang dari Duke Geraldine, ayahnya sendiri atau ayahnya saat dia hidup sebagai Adaire.


Ayah, kenapa kau menyayangi Liliana? Apa karena kau sayang padaku?


Liliana sedih karena pada kehidupan sebelumnya, Duke Geraldine terlihat cuek dan tidak peduli pada Adaire. Apa itu karena Duke Geraldine kurang bisa menunjukkan kasih sayangnya para Adaire?


Pria paruh baya itu terlihat mencemaskan Liliana seperti mencemaskan putrinya sendiri. "Apa kau baik-baik saja Lily?" Duke Geraldine melepaskan pelukannya, dia memegang kedua bahu gadis itu.


"Saya baik-baik saja yang mulia," jawab Lily sambil tersenyum pahit, dia menahan air yang berada dibawah matanya.


Duke Geraldine melihat ada luka dipergelangan tangan Liliana. Dia langsung membawa Liliana kembali ke rumah dan meminta tabib mengobatinya. Dalam satu hari, kedua anak di rumahnya mengalami kejadian buruk.


Adara di teror seseorang yang tidak dikenal dan Liliana diculik orang yang tidak dikenal. Meski Liliana sudah tau bahwa dalangnya adalah Adara, tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk membongkarnya.


Daisy sangat mencemaskan kondisi Liliana, gadis itu kini berbaring di ranjangnya yang empuk. "Nona, nona baik-baik saja kan? Orang-orang itu apakah mereka-"


"Daisy, aku baik-baik saja. Sir Adrian sudah menyelamatkan ku tepat waktu. Orang-orang itu memang ingin berbuat jahat padaku, tapi aku tidak apa-apa," jelas Lily seraya memenangkan Daisy yang sangat mencemaskannya.


"Nona.. saya benar-benar takut, saya takut sekali akan kehilangan nona. Sama seperti saya takut kehilangan nona Adaire," Daisy menyerahkan segelas air hangat untuk Liliana. Gadis itu mengambilnya.


"Terimakasih Daisy, kau tidak usah cemas," Liliana menyeruput air hangat itu perlahan-lahan. "Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana keadaan nona Adara? Apa benar dia diteror seseorang?" tanya Liliana ingin mengorek informasi dari Daisy tentang wanita yang hampir menghabisi nyawanya.


"Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya, tapi pelayan yang lain bilang kalau seseorang mengirimkan paket untuk nona Adara. Kemudian ketika nona Adara membuka paket itu, tiba-tiba saja..." Daisy berbisik pada Liliana dan menceritakan semua yang dia tau.


Liliana dibuat terpana dengan cerita Daisy. Dia tak percaya bahwa Max membantunya sampai sejauh ini. Namun, dia khawatir kalau Max akan ketahuan karena sudah menakut-nakuti orang dengan kepala dan organ manusia palsu.

__ADS_1


Saat Daisy mengatakan bahwa bagian tubuh manusia itu asli dan bukan bohongan. Liliana terkejut dan berfikir apa mungkin Max benar-benar membunuh orang?


Apapun itu, aku tidak peduli.. karena Eugene sudah membantuku, maka aku akan memanfaatkannya.


Sore itu Liliana pergi ke kamar Adara untuk menjenguk Adara. Dia melihat Adara sedang berpelukan mesra dengan Arsen, wanita itu terlihat manja dengan suaminya.


Saat Liliana akan membuat pintu, langkahnya malah terhenti disana dan melihat pasangan suami istri itu dari balik pintu. Liliana melihat cinta di mata Arsen untuk Adara, hatinya terhenyak melihat dua orang yang sangat dia percayai dimasa lalu hidup dengan baik bahkan bermesraan diatas kematiannya.


"Sayang, aku mau disuapi!" Adara merengek meminta sang suami untuk menyuapinya.


"Iya baiklah, kau bersandar lah dulu pada ujung ranjang. Duduk dengan benar.. jangan memelukku terus.. agar aku bisa menyuapi mu," Arsen tersenyum lembut pada istrinya yang sedang sakit itu.


"Baiklah," Adara tersenyum lebar, dia melepaskan pelukan itu dan menuruti apa kata-kata Arsen.


Deg!


Ya Tuhan mengapa hatiku masih saja sakit melihat mereka bermesraan? Tidak Liliana! Perasaanmu sudah mati, bersama dirimu yang mati! Kamu tidak mencintai mereka lagi, mereka tak pantas dicintai dan membuatmu meneteskan air mata.


Tok, tok, tok!


Adara dan Arsen yang sedang suap-suapan itu langsung melihat siapa yang mengetuk pintu kamar mereka. "Siapa?" tanya Arsen.


"Ini saya tuan Count," jawab Liliana dengan suara lembut.


Adara tersentak kaget mendengar suara Liliana dan kehadiran Liliana disana. Sontak kepalanya menunduk, matanya memutar kemana-mana.


Bagaimana bisa dia masih hidup? Bagaimana bisa.. apa dia sudah berhasil dilecehkan oleh orang-orang itu?


"Silahkan masuk nona Lily," Arsen mempersilakan Liliana untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Dengan senang hati Liliana masuk ke dalam kamar itu, dia menundukkan kepalanya seraya menyapa Arsen dan Adara. Arsen melihat pergelangan tangan kanan Liliana yang dibalut oleh kain kasa.

__ADS_1


"Nona Lily, apa yang terjadi dengan tanganmu? Lalu wajahmu... kenapa terlihat pucat?"tanya Arsen yang tidak tahu menahu tentang kejadian penculikan itu.


"Ahh.. apa kau baik-baik saja kak Lily? Aku dengar dari ayah kalau kau mengalami hal yang buruk hari ini. Apakah kau baik-baik saja? Tubuhmu tidak terluka kan?" Sindir Adara pada Liliana, dengan wajah memelas dan lirikan yang tajam.


Haha, Adara.. kau benar-benar bisa pintar berakting seolah kau simpati. Aku tau pertanyaan mu ini berniat untuk menjatuhkan ku.


"Nona Lily, apa kau baik-baik saja?" tanya Arsen sambil menatap Liliana dengan cemas.


"Saya sangat baik-baik saja, terimakasih kepada para penculik itu karena mereka masih terlambat untuk menyerang saya. Beruntunglah saya diselamatkan oleh seorang kstaria, jadi tubuh saya baik-baik saja. Sebaliknya, nona Adara.. sepertinya nona Adara yang terlihat tidak baik-baik saja? Saya dengar ada pengirim paket mencurigakan? Kira-kira isinya apa ya?" Liliana berpura-pura tidak tahu tentang apa yang terjadi pada Adara.


Deg!


Adara tersentak kaget mendengar pertanyaan Liliana, apalagi sorot matanya yang tajam menunjukkan kepuasan. Membuat Adara berfikiran negatif kalau Liliana adalah pelakunya.


Kurang ajar, dia pasti sengaja mengatakan ini. Memang benar sepertinya dia yang membunuh orang suruhan ku itu.


"A-aku.." Adara gemetar ketakutan mendengar ucapan Liliana.


"Nona Adara, pasti sangat menakutkan ya..sampai kau gemetar seperti ini?" tanya Liliana sambil memegang tangan Adara dengan wajah menunjukkan simpati.


Adara menepis tangan Liliana dan mendorong wanita itu sampai terjengkang. Arsen terkejut melihat sikap istrinya. "Adara apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersikap seperti ini pada seseorang yang perhatian padamu?" tanya Arsen heran, dia membantu Liliana berdiri.


"Terimakasih tuan Count," Liliana memegang tangan Arsen erat-erat dengan sengaja membuat Adara cemburu.


Adara memegang tangan suaminya, menarik Arsen menjauh dari Liliana, "Usir dia dari sini! Dia sedang menertawakan ku bukan peduli ataupun perhatian padaku!" Titah Adara mengusir Lily dari kamarnya.


Diam-diam Liliana tersenyum puas dan menunjukkan wajahnya yang lain di depan Adara. Adara sangat kesal dan merasa terancam dengan kehadirannya.


Arsen menghela napas, dia tidak bisa berdebat dengan orang sakit dan meminta dengan sopan agar Liliana keluar dulu dari kamar itu.


...----****---...

__ADS_1


__ADS_2