Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 137. Teringat masa lalu


__ADS_3

Pria itu menolak tegas Julia untuk ikut bersamanya ke pulau Jarvara. Siapa dia dan kenapa dia harus ikut dengannya dalam perjalanan kunjungan Raja.


"Siapa kau dan kenapa kau harus ikut denganku?!"


Duke Norton menyerahkan segulung kertas pada Max. Max membukanya, disana tertulis cap Ratu yang mengharuskan Julia ikut bersama Max ke pulau Jarvara sebagai pendamping.


"Heh! Apa ini?" gumam pria itu mendengus kesal.


"Yang mulia, ini adalah mandat dari yang mulia ibu suri. Anda harus membawa Julia karena Julia adalah selir yang mulia. Selir yang sudah disetujui oleh Baginda ibu suri sebagai pasangan yang mulia Raja."


Berani sekali si nenek sihir itu mengatur diriku seperti ini.


Demi menghindari masalah, Max akhirnya setuju agar Julia ikut dengannya. Dia bersumpah pada dirinya bahwa dia akan menyingkirkan Julia selamanya setelah kunjungannya ke kerajaan Gallahan itu.


"Baik, kau boleh ikut. Namun dengan syarat, kau tidak boleh mengacaukanku juga tetap diam dengan patuh." Ucap pria itu sambil menatap tajam ke arah Julia.


Julia terlihat bahagia karena pada akhirnya dia akan ikut bersama Max ke pulau itu. Julia naik ke dalam kereta, sementara Max tidak mau naik kereta karena di dalam sana ada Julia. Dia lebih memilih menunggangi kuda sendirian.


Max dan rombongannya akhirnya pergi menuju ke pulau Jarvara. Duke Geraldine juga ikut dalam perjalanan itu untuk mengawal sang Raja. Duke Geraldine tampak resah, entah apa yang dia pikirkan saat itu.


Semoga saja Lily sudah membaca suratnya.


*****


Sementara itu di pulau Jarvara, rumah Liliana.


Andreas membawakan sepucuk surat untuk Liliana yang datang dari kerajaan Istvan, surat itu dari ayahnya.


"Ini dari ayahku? Apa benar?" tanya Liliana sambil mendongakkan kepalanya, dia memegang surat itu.


"Iya nona," jawab Andreas membenarkan.


"Ya sudah, kau pergilah dan bereskan beberapa dokumen di mejaku. Kita ada rapat siang ini dengan perwakilan serikat dagang dari Lostier."


"Ya, nona."


Andreas pergi ke ruangan lain di rumah itu, sementara itu Liliana mulai membuka suratnya. Dia membaca surat itu baik-baik, surat itu mengatakan bahwa Max dan rombongannya akan tiba di pulau Jarvara pada esok harinya. Tangan Liliana gemetar hebat saat membaca surat itu, dia tidak menyangka bahwa Max akan benar-benar datang ke pulau itu.


"Bagaimana ini? Bagaimana kalau kita bertemu?" Liliana terlihat gelisah. Dia sudah memikirkan dimana dia akan bersembunyi dari Max. Dia belum siap bertemu dengan ayah dari bayinya itu. "Aku tidak mau bertemu dengannya! Apalagi ayah mengatakan dalam surat ini kalau nona Julia ada bersamanya. Aku tidak mau melihatnya dengan wanita lain, hatiku masih belum kuat untuk menahannya."


Siang itu Liliana pergi ke luar dari Rumahnya yang berada tidak jauh dari pantai itu. Dia menitipkan pesan pada Andreas dan seorang pelayan yang bekerja untuknya, agar mereka menjaga rumah.


Andreas heran kenapa dia tidak boleh ikut dengannya. "Nona, mengapa saya tidak boleh ikut dengan nona? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada nona didalam perjalanan?"


"Tuan Andreas, kau tenang saja...aku tidak pergi sendirian. Tuan Aiden juga bersamaku."


"Mengapa nona pergi bersama pria yang tidak diketahui jelas apa asal usulnya itu?" Andreas merasa cemas karena sosok Aiden dan Dorman masih misterius untuknya.


"Kita kan sudah tau kalau dia adalah seorang bangsawan yang diturunkan posisinya karena kasus penggelapan uang." Liliana pernah mendengar Aiden berbicara tentang dirinya. Bahwa dia adalah seorang bangsawan yang diturunkan dari posisinya karena penggelapan uang dan sekarang dia adalah pengangguran.


"Maafkan saya nona, tapi saya merasa identitas tuan Aiden ini tidak sederhana. Saya merasa kalau dia bukan orang biasa!" Kata Andreas yakin bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dari identitas Aiden.


Terkadang sangat naif.


Dia tidak tahu saja bahwa Aiden adalah raja kerajaan yang mereka tempati saat ini.


"Tentu saja dia bukan orang biasa, dia kan berasal dari kaum bangsawan." Liliana tersenyum menanggapinya.


Tak lama kemudian, Aiden datang sendirian ke rumah Liliana. Dia mengajak Liliana untuk berburu, entah berburu apa yang dimaksudnya. Ternyata Aiden mengajaknya dalam sebuah misi yang menarik, yaitu menangkap seorang penjahat.

__ADS_1


"Menangkap penjahat ini adalah urusanku, wanita hamil hanya perlu menontonnya saja." kata Aiden sambil tersenyum memandangi Liliana.


Akhirnya aku bisa bertemu dengan Bella, meski aku harus berbohong dengan dalih menangkap penjahat. Untung saja kau menerima pertemanan ini, jadi aku bisa lebih dekat denganmu.


"Apa benar kita akan menangkap penjahat? Kenapa kita datang ke tempat seperti ini?" Liliana terheran-heran karena Aiden membawanya ke tempat romantis seperti tempat kencan. Dimana ada banyak pasangan yang sedang bercinta disana.


Aiden langsung menjawab, "Tentu saja karena penjahatnya ada disini! Dia adalah seorang pencuri!"


"Pencuri? Benarkah? Kalau begitu aku harus duluan menangkapnya." Liliana memicingkan matanya. Dengan semangat dia mengatakan bahwa dia akan menangkap penjahat itu lebih dulu.


Ya...benar. Disini memang ada pencuri, pencuri hati dan kau adalah orangnya.


"Ya baiklah, aku akan serahkan pencuri itu kepadamu." Aiden tersenyum, dia terlihat sama sekali tidak keberatan.


Kau tidak akan pernah bisa menangkapnya, karena pencuri itu adalah dirimu sendiri.


"Oh ya, sambil menunggu pencuri itu datang... bagaimana kalau kita makan es krim dulu? Apa kau suka eskrim?" tanya Aiden menawarkan.


Dorman bilang kalau disini ada pedagang eskrim yang enak.


"Eskrim?" Liliana melihat ke arah Aiden, sepertinya dia tertarik dengan tawaran Aiden.


Aiden tersenyum. "Ya, disini ada pedagang yang menjual eskrim yang enak."


"Boleh," jawab Liliana sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa ibu hamil boleh makan eskrim?"


"Boleh, asal jangan banyak-banyak." jawab Liliana sambil tersenyum tipis.


Astaga.. lihatlah senyuman itu. Ini pertama kalinya dia tersenyum padaku. Semenjak bertemu dengannya, ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum. Dia memiliki sisi imut juga walau dia orang yang jutek.


"Ya."


"Oh ya, kau suka rasa apa?"


"Coklat."


Hem, jadi dia suka coklat. Aiden tersenyum tipis.


Tanpa banyak bertanya lagi, Aiden pergi mencari pedagang eskrim yang dia sendiri tak tahu dimana. Dia hanya mendengarnya dari Dorman tentang eskrim yang enak.


Sementara itu, Liliana berada di dekat taman sambil duduk disana. Dia memperhatikan orang-orang disekitarnya, pasangan yang sedang bercinta dan menghabiskan waktu liburan mereka di tempat yang indah itu.


Suasana taman, tiupan angin yang semilir, hari yang cerah. Mendukung pasangan untuk berkencan. Melihat pasangan yang berkencan itu, dia teringat dengan masa-masa indahnya bersama Max. Kenangan tentang Max masih berada disana, takdir yang dia pikir tidak akan berjalan baik jika diteruskan. Bagaimana pun juga hubungan mereka terlalu banyak penghalang.


.


.


.


Aiden masih sibuk mencari tukang eskrim sampai ke ujung taman dan dia belum menemukannya juga. "Dimana tukang eskrim yang dimaksud Dorman itu? Sial! Bagaimana bisa aku melakukan ini, bahkan aku tak pernah keluar dari istana sebelumnya apalagi mencari eskrim."


Ya, memang benar Raja itu tidak pernah keluar dari istananya sejak dia memimpin kerajaan Gallahan. Dia selalu fokus pada pekerjaan dan ibunya yang selalu mencari seseorang untuk menjadi pendampingnya. Alasan dia keluar dari istana dan berkeliaran bebas seperti ini, adalah karena pekerjaan. Padahal dia hanya ingin bermain-main saja, menganggap keluarnya dia dari istana sementara waktu sebagai liburan.


Besok dia sudah harus kembali ke istana dan menyambut kedatangan raja Istvan, yaitu Maximillian Gallan Istvan.


"Jika Dorman ada disini, dia pasti akan mengomeliku lagi dan dia akan berkata. Yang mulia, masih banyak wanita diluar sana yang menginginkan yang mulia...wanita cantik, sempurna, memiliki derajat yang sama dengan anda. Tapi kenapa anda memilih wanita yang tidak jelas dan sedang hamil?. Ya, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tertarik kepadanya. Aku rasa aku gila karena menyukai wanita yg sedang hamil. Apa mungkin karena dia adalah satu-satunya wanita yang bersentuhan denganku?"

__ADS_1


Setelah mencari si tukang eskrim selama hampir setengah jam, Aiden kembali membawa dua wadah eskrim ditangannya. Dia memberikan satu eskrim untuk Liliana. Pada akhirnya mereka berdua tidak menangkap penjahat ataupun pencuri seperti apa yang dikatakan Aiden. Mereka malah jalan-jalan berdua di taman itu.


Ketika dalam perjalanan pulang, Liliana melihat satu keluarga sedang menikmati matahari terbenam bersama-sama. Disana juga ada seorang ibu hamil.


"Ayah...ibu, aku sangat bahagia karena aku memiliki ayah dan ibu yang sangat baik."


"Iya nak, kami juga sangat bangga memiliki putra seperti mu." kata ayah itu sambil memeluk anak laki-lakinya.


"Oh ya ayah,ibu...kapan adikku akan melihat dunia?" anak laki-laki itu mengelus perut buncit ibunya dengan penuh kasih sayang. "Dia pasti sudah tidak sabar untuk melihat dunia ini. Dia juga pasti akan senang karena ayah dan ibu akan menyambutnya."


"Benar, ayah dan ibu akan menyambut adikmu bersamamu juga. Dia pasti akan bahagia karena memiliki keluarga yang lengkap."


Liliana jadi terbawa perasaan saat mendengar percakapan keluarga yang harmonis itu. Terutama melihat si ibu hamil yang perutnya membuncit.


Apakah ayahmu juga akan menyambutmu nak? Apa ayah dan ibu bisa menyambutmu bersama? Ibu bisa saja memberitahukan keadaanmu pada ayahmu, tapi ibu takut tidak bisa melindungimu dari politik istana yang kejam.


Liliana mengelus perutnya yang masih datar itu. Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja, mengalir tanpa suara. Aiden langsung berdiri dihadapannya, dia terlihat cemas pada Liliana yang tiba-tiba menangis itu.


"Bella...apa kau baik-baik saja?" Aiden memberanikan dirinya menyeka air mata Liliana dengan kedua tangannya.


Apa dia sedih memikirkan suaminya? Ayah dari bayinya? Pria seperti apa yang tega meninggalkanmu, Bella?


Wanita itu menepis tangan Aiden yang menyeka air matanya. "Aku baik-baik saja..."


Kenapa air mataku tidak mau berhenti? Aku tidak ingin menunjukkan sisi lemahku kepada siapapun juga!


"Apa kau memikirkan suamimu? Apa kau ingin kembali bersamanya? Pria seperti apa dia?" Aiden tidak dapat menahan lagi rasa penasarannya terhadap pria yang berada didalam hati Liliana.


"Aku tidak punya suami."


"Lalu?"


"Kami bercerai,"


"Kenapa kalian bercerai?"


"Karena kami tidak ditakdirkan bersama, langit saja tidak mau menyatukan kami." ucapnya perih hati.


Apa dia jatuh cinta pada seorang bangsawan lalu diceraikan?. Pikir Aiden dalam hatinya. Dia membuat spekulasi sendiri bahwa Liliana dicampakkan oleh seorang bangsawan dan cintanya tidak direstui.


Aiden memeluk Liliana untuk menenangkannya. "Kalau kau mau menangis, menangis saja. Kau harus menumpahkan kesedihanmu, jangan dipendam sendirian."


"Hiks...hiks..." Tanpa membalas pelukan Aiden, Liliana menangis terisak-isak, mengingat semua kepedihan hatinya tentang masa lalu dan cinta.


🍁🍁🍁


Di istana kerajaan Gallahan.


Seorang wanita paruh baya, terlihat duduk bersama para wanita bangsawan. Mereka memakai gaun yang mewah dan perhiasan mahal serta berkilau. Wanita paruh baya itu dipanggil sebagai ibu suri, wanita yang murah senyum dan baik hati.


"Yang mulia ibu suri, bagaimana pendapat yang mulia tentang putri saya?"


"Haha...putri anda? Dia sangat cantik, cerdas dan tentu saja dia sangat berbudi luhur." kata ibu suri Gallahan sambil tersenyum ramah.


"Lalu apakah ada kesempatan untuk putri saya juga?" tanya seorang wanita lainnya pada ibu suri.


Setiap hari aku mendengarkan ocehan mereka tentang anakku dan gadis-gadis yang sudah mengantri ini. Tapi aku sendiri ragu, apakah putraku menyukai wanita dan apakah dia akan menikah?


...****...

__ADS_1


__ADS_2