
Hal yang disinggung oleh Duke Geraldine tentang masa lalu adalah tentang kakaknya yang dulu sempat menjadi Ratu kerajaan Istvan selama beberapa hari, dia menikah dengan kakak Raja Alberto, raja kerajaan Istvan yang sekarang.
Raja Alberto menyingkirkan Raja dan Ratu terdahulu untuk mendapat tahta kerajaan Istvan. Keduanya mati di racun di dalam kamar mereka sendiri. Namun ketika Raja Alberto naik menjadi Raja, tidak ada yang menentangnya karena takut akan otoritas dan kekuatannya.
Sejak saat itulah Duke Geraldine tidak mau memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan. Meski dia tidak memiliki dendam pada keluarga kerajaan, tapi dia tidak mau mengulang masa lalu. Jika Liliana masuk ke dalam keluarga kerajaan, dia takut gadis itu akan dicelakai sama seperti kakak perempuannya yang dulu sempat menjadi ratu.
"Tolong jangan mengungkit masa lalu disini!" Raja Alberto mengepalkan tangan dengan gemas, dia ingin memukul pria yang ada didepannya itu.
"Saya akan menuntut keluarga kerajaan! Saya tidak akan tutup mata seperti masa lalu!" Seru Duke Geraldine penuh kemarahan.
Tabib Chris yang berada disana dan mendengar percakapan itu, ikut menjadi tegang karenanya.
"Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan Duke Geraldine? Perkataanmu itu bisa memicu perang internal di kerajaan ini!" Seru Ratu tegas. "Beraninya... seorang Duke menuntut keluarga kerajaan?! Kau tidak takut mati?" Ratu mendelik sinis ke arah Duke Geraldine.
"Duke Geraldine, kita bisa bicarakan baik-baik. Kau tidak usah melakukan semua ini. Aku akan mengusut kasus kematian putrimu dengan tuntas dan adil! Aku janji atas tahta kerajaan ini bahkan atas hidupku.." ucap Raja bersungguh-sungguh ingin membantu Duke Geraldine.
"Maafkan saya baginda, tapi saya tidak bisa percaya pada baginda Raja.." kata pria yang baru kehilangan putrinya itu dengan
"Beraninya kau.." Ratu menaikkan bahunya, dia menatap tajam ke arah Duke Geraldine.
"Ratu, hentikan! Jangan menambahkan minyak ke dalam api. Kau diam saja!" seru Raja pada Ratunya yang sedari tadi ikut bicara.
"Tapi yang mulia Raja, dia sudah-"
Raja mengangkat tangannya pada Ratu,"Aku kan sudah bilang untuk diam!"
Ratu terdiam dengan menahan kesal, dia meras akhir-akhir ini sikap Raja mulai berubah padanya. Tidak lembut seperti dulu, apa kasih sayangnya sudah berkurang atau ada wanita lain yang masuk ke dalam hatinya?
Ratu Freya cemburu tanpa alasan yang jelas dan entah pada siapa, dia merasa Raja sudah tidak cinta lagi padanya. Dia negatif thinking sendiri tentang sikap Raja saat ini.
"Vlad, kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa harus ada pertumpahan darah."
"Bicara baik-baik?" Duke Geraldine menengadah ke arah sang Raja.
"Aku akan mencoba menolong putrimu. Pendeta agung, kami sedang mencari keberadaannya." Kata Raja Alberto sambil menatap pria itu.
__ADS_1
Duke Geraldine terdiam dengan wajah frustasi. Dia sudah pernah kehilangan Adaire, sekarang dia juga kehilangannya lagi sebagai Liliana. Pria itu terus menghela napas sambil menangisi putrinya.
"Sambil menunggu pendeta agung, biarkan putrimu berada disini.." ucap Raja tegas.
"Baiklah, saya akan memberikan anda kesempatan terakhir untuk menyelamatkan putri saya!" Seru Duke Geraldine.
Raja dan Ratu keluar dari ruangan itu menuju kembali ke istana mereka. Di dalam perjalanan menuju ke istana Raja dan Ratu.
"Yang mulia, apa yang mulia yakin akan memanggil pendeta agung hanya untuk putri Duke itu?" Tanya Ratu sambil memegang tangan sang Raja.
"Kenapa Ratuku? Apa menurutmu keputusanku ini salah?" Tanya Raja sambil melihat ke arah Ratunya.
"Yang mulia, saya tidak bicara begitu. Saya hanya ingin mengatakan, apakah masuk akal memanggil pendeta agung demi putri dari keluarga Duke yang statusnya jauh dari kita?" tanya Ratu yang sebenarnya tidak suka jika Liliana selamat.
"Tentu saja itu masuk akal. Keluarga Geraldine adalah penyokong besar kerajaan ini, satu satunya master pedang berasal dari keluarga itu. Dan Ratu, kau jangan lupa kalau aku dan keluarga Geraldine pernah memiliki hubungan keluarga!" Seru Raja tegas.
Raja pergi meninggalkan Ratu sendirian disana. Sang Ratu terlihat kesal karena sekarang dia kesulitan mempengaruhi Raja.
"Heh! Benar-benar mengesalkan, kenapa sekarang pria tua itu sulit di pengaruhi? Kalau dia memanggil pendeta agung untuk menyembuhkan gadis itu... ah tidak, gadis itu sudah mati, yang sudah mati tidak akan kembali..." Ratu menggeleng-geleng.
Lebih baik aku temui dayang itu sebelum dia ditemukan oleh orangnya si anak sombong itu.
"Hormat saya yang mulia Ratu," ucap dayang berambut hitam itu sambil membungkukkan badannya.
"Aku suruh kau mencelakainya tapi kau malah membunuhnya," Ratu menggelengkan kepalanya, sambil menyilangkan kedua tangan didada.
"A-Apa? Yang mulia Ratu, apa gadis itu mati?" tanya Dayang itu yang tidak tahu kalau gadis yang dia dorong ke danau itu sudah tiada.
"Benar, dia sudah mati.."
"Apa saya tetap mendapatkan imbalan saya yang mulia?" Tanya Dayang itu meminta uang.
"Tentu saja kau dapat," ucap Ratu Freya sambil tersenyum, dia mengambil sekantong emas. Kemudian memberikannya pada dayang itu.
"Terimakasih yang mulia, sungguh.. kebaikan yang mulia-"
__ADS_1
Belum selesai menyempurnakan ucapannya, sebuah pedang menancap ditubuhnya. Dia ditusuk dari belakang oleh pengawal pribadi Ratu.
Darah bercucuran dari mulut dan tubuhnya. "Ohok... Ohok..."
"Kau dalam imbalan, ya inilah imbalanmu.." ucap Ratu sambil tersenyum menyeringai melihat dayang itu di ujung hidupnya.
Di belakang Ratu, ada Kyle yang juga menunjukkan senyum yang sama. "Ka-kalian kenapa...yang mulia Ratu..ohok...Ohok.."
"Tidak ada gunanya lagi kau hidup, lebih baik kau mati saja." Ratu Freya tidak mau membiarkan resiko kejahatannya yang terbongkar. Dia menghilangkan jejak dengan membunuh dayang itu.
"Yang mulia...Ohok...Ohok.."
Dayang yang tidak diketahui identitasnya itu, ditinggalkan begitu saja setelah Kyle mematikan bahwa dia sudah mati. Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang dengan tudung hitam menghampiri dayang yang tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah itu.
"Dia masih hidup," gumam seseorang bertudung hitam itu sambil mengecek aliran darah di dalam tubuh si dayang dengan sihirnya.
...****...
Setelah mendengarkan kesaksian Keira, Shopia dan Arina, Max segera mengerahkan orang untuk mencari dayang yang disebutkan oleh ketiga nona bangsawan itu sebagai pelaku yang sudah menyebabkan Liliana meninggal.
Kondisi Max menjadi drop, dia tidak tahu harus bagaimana. Hari ini adalah mimpi buruknya, Max masih tidak percaya bahwa Liliana sudah tiada.
Malam itu dia pergi ke ruangan tempat Liliana berbaring. Disana ada penjaga dari kediaman Duke Geraldine yang tidak memperbolehkannya masuk.
"Beraninya kalian melarang putra mahkota masuk ke dalam ruangan ini, apa kalian cari mati?" Tanya Adrian pada para ksatria Duke Geraldine yang berjaga didepan pintu.
"Maafkan kami yang mulia, kami hanya menjalankan tugas!" Kata seorang kstaria sambil menundukkan kepalanya.
"Tapi kalian sudah menantang putra mahkota!" Seru Adrian marah pada mereka yang sedang berjaga itu.
"Adrian, sudahlah...mereka hanya menjalankan tugas," ucap Max dengan wajah pucat dan datarnya. "Aku mohon pada kalian, izinkan aku masuk ke dalam ruangan ini. Aku janji, Duke tidak akan tau.. asalkan kalian jangan memberitahu ini padanya," Max sampai memohon pada mereka yang statusnya lebih rendah darinya. Max mengatupkan kedua tangannya, dengan mata sedih dia memohon.
"Yang mulia..anda tidak perlu memohon seperti ini.." ucap kstaria itu merasa tak enak.
Akhirnya mereka membukakan jalan untuk Max masuk ke dalam ruangan itu. Dia mendekati Liliana dengan sedih.
__ADS_1
"Aku datang Lily.." Max memegang tangan wanita itu.
...---****----...