
...🍀🍀🍀...
Liliana tidak sadarkan diri di dalam gendongan Max, putra mahkota kerajaan Istvan itu. Max melihat gelas plastik dibawah lantai dan mengendus baunya, dia yakin bahwa orang-orang yang menculik Liliana dan berniat melecehkannya, memakai afrosidak untuk melumpuhkan tubuhnya.
Mereka pasti sudah gila? Siapa yang merencanakan hal gila seperti ini?
Dalam keadaan tidak sadarkan diri, nafas gadis itu terengah-engah. Tubuhnya panas, wajahnya berkeringat. "Kenapa kau sangat berusaha keras untuk menghancurkan mereka? Kau punya dendam atau bagaimana? Aku sudah bilang kalau jangan terlalu kejam, jangan melakukannya sendirian." Kata Max pelan, sambil menatap Liliana dengan iba.
"Yang mulia, saya harus apakan semua orang ini?" tanya Eugene pada Max, tentang lima orang pria yang sudah menjadi mayat itu karena dihabisi oleh Max.
"Bereskan saja! Mau kau buang ke laut, ke hutan, dibakar, di kubur, terserahlah!" Seru Max tanpa perasaan. Dia menatap marah dan tajam pada kelima orang pria yang mencoba menyakiti Liliana. Max sendiri bingung kenapa dia sampai melakukan semua ini untuk Liliana, lagi-lagi dia merasa jantungnya bermasalah.
"Baik yang mulia." Jawab Eugene patuh. Dia berniat membereskan kelima mayat itu dengan membuangnya ke laut, supaya tidak meninggalkan jejak.
Saat Eugene akan memindahkan mayat terakhir untuk dibereskan, dia melihat tangan si mayat itu bergerak. "Yang mulia! Ada yang masih hidup!" Seru Eugene pada Max.
"Bawa dia, kita harus menjamunya dengan baik," ucap Max tanpa basa-basi, dia menggendong Liliana pergi dari sana.
"Baik yang mulia, tapi anda dan nona Liliana mah kemana?" tanya Eugene melihat Max berjalan pergi meninggalkan gubuk tua dan reyot itu.
"Bukan urusanmu," jawab Max ketus.
Ya pasti dia akan berduaan dengan nona itu. Eugene membatin.
"Aku bukan berduaan dengannya, aku akan membawanya ke tempat yang aman dan meminta seseorang mengobatinya," jelas Max pada Eugene kesal.
"Apa yang mulia mendengar kata hati saya?" tanya Eugene terpana mendengar ucapan Max yang begitu tiba-tiba, terasa seperti menjawab ucapannya di dalam hati.
"Bagaimana bisa aku melakukan itu? Wajahmu itu sudah menunjukkan segalanya," ucap Max dengan seringai dibibirnya.
Eugene langsung menghela napas, dia jadi takut kalau Max juga bisa membawa isi pikirannya. Tiba-tiba saja Max menutup matanya, dari tubuhnya mengeluarkan cahaya putih yang bersinar terang. Kemudian dia dan Liliana menghilang dari tempat itu dalam sekejap dihadapan Eugene. Ya, dia memakai sihir teleportasinya untuk berpindah tempat. Kekuatan langka yang hanya dimiliki oleh garis keturunan kerajaan Istvan.
"Yang mulia sangat jarang menunjukkan kekuatannya seperti itu, tapi demi menolong nona yang cantik itu... dia menggunakannya. Wow!" Kata seorang prajurit lain bawahan Eugene, dia tidak percaya bahwa Max akan menggunakan sihir teleportasi yang tidak pernah dia gunakan dalam keadaan apapun kecuali saat darurat di medan perang. Dan dia menggunakannya untuk Liliana.
"Jangan banyak bicara, cepat bantu aku bereskan semua ini!" Eugene memukul kepala prajurit bawahannya itu dengan wajah datar.
"Kapten sangat kejam, selalu saja memukul kepalaku!" keluh si prajurit itu sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
2 orang prajurit disana menggotong 4 mayat pria bertubuh besar itu dan membuang mayatnya ke laut seperti yang diperintahkan. Sementara itu Eugene menyeret seorang pria bertubuh kekar yang masih hidup, diantara kelima orang pria yang sudah tinggal mayatnya saja.
"Sa-saya mohon tuan, ampuni saya! Bi-biarkan saya hidup!" Pria itu berlutut dibawah kaki Eugene seraya memohon pengampunannya.
"Maaf, tapi bukan aku yang berhak menentukan hidup dan matimu! Kau memohon pada orang yang salah." Ucap Eugene dengan suara dingin seperti biasanya.
Pria itu gemetar ketakutan, dia tak bisa berjalan karena serangan Max sebelumnya yang membuat dia lumpuh. Belum lagi wajahnya babak belur dan tubuhnya penuh luka. Eugene membawa pria itu ke tempat yang aman.
****
Max membawa Liliana ke sebuah rumah sederhana yang berada tak jauh dari hutan. "Almoore!" Teriak Max pada seseorang yang berada di dalam rumah itu.
Seorang pria paruh baya membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu tua itu, dia melihat Max dengan keheranan. "Siapa kau?"
"Ini aku!"
"Aku siapa?" tanya Almoore sambil memperhatikan pria bertopeng di hadapannya itu.
Max menghela napas, dia pun membuka topengnya. Barulah Almoore menyadari bahwa pria di depannya itu adalah Maximilian Gallan Istvan, sang putra mahkota.
"Yang mulia putra mahkota, mohon maafkan atas ketidaksopanan saya!" Almoore langsung menundukkan kepala seraya meminta maaf pada pria itu.
Almoore mengikuti Max dari belakang. Dia keheranan melihat Max membawa seorang wanita, padahal Max itu terkenal sebagai anti wanita. Apalagi dengan wanita cantik seperti Liliana, dia benci dengan wanita cantik. Alasannya karena Raja Istvan, ayahnya menikah dengan Freya seorang wanita cantik dan muda yang menjadi istri Raja sekaligus ibu tiri Maximilian.
Max membaringkan Liliana diatas ranjang kayu tanpa alas apapun. Disaat seperti itu Max masih sempat marah-marah pada Almoore, "Heh, pria tua! Apa kau tidak punya ranjang bagus? Bukankah aku sudah memberikan uang untukmu? Kau kemana kan uang itu, hah?" Max gusar, Liliana terpaksa harus tidur diatas ranjang kayu yang keras karena tidak ada ranjang empuk disana.
"Hehe, saya pakai untuk membeli keperluan yang lain," Almoore tersenyum dengan tangan menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Jangan tersenyum konyol begitu! Cepat periksa dan sembuhkan dia!" Teriak Max pada pria paruh baya itu, memintanya segera memeriksa Liliana yang masih belum sadarkan diri.
Wajahnya sangat pucat.
"Baiklah yang mulia, tapi ngomong-ngomong siapakah wanita cantik ini?" tanya Almoore dengan mata penasaran menatap ke arah Max.
"Periksa dan sembuhkan saja dia!" Seru Max kesal, sambil menyilangkan kedua tangan kekar itu di dada dengan gaya angkuhnya.
Dasar pria ini.
__ADS_1
Almoore menggelengkan kepalanya, dia memegang pergelangan tangan Liliana. "Hey! Apa yang kau sentuh itu?" Max memegang tangan Almoore yang menyentuh pergelangan tangan Lily.
Pria paruh baya itu menoleh ke arah Max, "Yang mulia, saya sedang memeriksa kondisi nona ini," jawab Almoore pelan.
"Tapi kenapa harus menyentuh tangannya begitu! Kau mau cari kesempatan ya?"
Lagi-lagi Almoore menatap Max dengan penasaran dan jahil, dia menggoda Max dengan bertanya apa pria itu sedang cemburu. "Cemburu? Aku? Tidak mungkin! Aku hanya tidak mau pria tua sepertimu memanfaatkan situasi kepada gadis muda karena kau sudah lama kesepian hidup sendiri di dalam rumah tua ini!"
Max menyangkal dengan tegas, bahwa dia tak cemburu sama sekali. Tapi tetap saja dia tidak mau ada pria lain yang menyentuh Liliana. Bahkan tatapan mata membunuh itu masih diarahkan pada Almoore.
"Heh! Sentuh itu juga tidak boleh!" Max melarang tegas ketika tangan Almoore hampir menyentuh leher Liliana.
"Kalau saya tidak menyentuhnya bagaimana saya akan mengecek kondisi tubuhnya?" tanya Almoore mulai jengkel dengan semua larangan Max.
"Ta-tapi...ya baiklah," Max menundukkan kepala dan dia mengalah.
Pria paruh baya itu menggeleng, kemudian dia memeriksa kondisi tubuh Liliana. Almoore paham apa yang terjadi," Yang mulia saya tidak menyangka kalau anda akan melakukan semua ini,"
"A-Apa maksudmu? Melakukan apa?" tanya Max tidak paham apa yang dibicarakan pria itu.
"Saya mengerti anda membenci wanita, tapi ini tidak benar!" Almoore berpikiran yang bukan-bukan.
Lagi-lagi Max marah pada Almoore,"Apa yang otak kecilmu itu pikirkan dasar pria tua?!"
"Haahhh... haahhhhhh..." Liliana mendesah dalam keadaan tidak sadar.
"Hei pria tua, bagaimana keadaannya?"tanya Max sambil menghampiri Liliana dan duduk disudut ranjang itu.
"Saya akan membuat sesuatu agar nona ini merasa lebih baik, yang mulia putra mahkota tolong tunggu sebentar disini." Ucap Almoore pada Max.
Max mengangguk patuh, dia menatap Liliana dengan cemas. Liliana memegang tangan Max dan meletakkan tangan itu ke pipinya, "Dingin.. nyaman sekali,"
"A-Apa yang kau lakukan?" Max gugup ketika tangannya digenggam oleh Liliana.
"Jangan...tolong jangan bunuh aku.. jangan.. jangan...hiks," Liliana menangis sedih dengan mata yang tertutup.
Max bertanya-tanya apa yang terjadi pada gadis itu, sehingga dia terlihat sangat menderita dan sedih. Siapa yang menyakitinya dan apa yang menyakitinya?
__ADS_1
...---***---...
Hai Readers ku tersayang! Author mau up lagi tapi author mau minta komen, like, fav sama gift nya dong 😍😍😘 biar author makin semangat nih 👍❤️