Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 225. 3 bintang Istvan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah melihat istrinya siuman, Max segera memanggil Brieta dan tabib memeriksa kondisi istrinya. Tabib itu mengatakan bahwa kondisi Liliana sudah mulai lebih baik dari sebelumnya dan mereka sudah bisa kembali ke kerajaan Istvan esok hari.


Lalu Max meminta Blackey untuk mengantarkan surat kepada Eugene Laura di istana. Menyampaikan pada mereka untuk segera mengatur pesta kedatangan Liliana, dirinya dan bayi kembar mereka.


Pesta itu harus diadakan secara besar-besaran dan mewah, Max ingin semua orang tahu bahwa tiga bintang dari kerajaan Istvan telah lahir untuk membawa kemakmuran pada kerajaan tersebut. Liliana juga menitipkan pesan kepada Blackey untuk disampaikan kepada ibu suri Gallahan, bahwa dia sudah melahirkan anak-anaknya dengan selamat.


Surat itu sampai dalam kurun waktu beberapa jam saja, ibu suri Gallahan langsung membuka surat itu dengan hati gembira, lantaran sudah lama dia tidak menerima surat dari anaknya.


Dear ibuku tersayang...


Apa kabarmu ibu? Aku harap ibu dalam keadaan baik-baik saja, maafkan aku ibu.. karena aku baru mengirimkan kabar kepada Ibu setelah sekian lama aku tidak mengirim surat. Ibu tidak marah kepadaku kan?


Ibu suri Gallahan terlihat mencibirkan bibirnya, "Huh! Ibu marah, sangat marah padamu..." gerutunya. Kemudian dia membaca lagi surat dari putrinya.


Ibu, selama satu bulan ini aku disibukan dengan pekerjaanku di istana, sehingga aku sempat lupa mengirimkan surat kepada ibu. Tapi, Ibu jangan khawatir karena aku baik-baik saja dan pastinya Ibu juga baik-baik saja, bukan?


Ibu... aku ingin mengabarkan berita bahagia, putrimu ini sudah melahirkan. Ibu sedang resmi menjadi seorang nenek.


Terlihat senyuman yang mengembang indah di bibir ibu suri. Hatinya berbunga-bunga membaca surat dari putrinya, yang mengabarkan bahwa dia telah resmi menjadi seorang nenek. "Oh! Tuhan! aku sudah menjadi seorang nenek!" pekik wanita paruh baya itu dengan senyuman bahagia dan wajah berseri-seri.


Matanya kembali membaca akhir surat dari Liliana.


Ibu, aku dan yang mulia Raja berharap agar Ibu segera datang kemari, karena kami akan merayakan pesta syukuran untuk si kembar satu minggu lagi. Kami akan sangat senang dengan kehadiran ibu, nanti beberapa orang dari kerajaan Istvan akan datang untuk menjemput ibu.


Salam hangat dari Liliana dan Maximillian..kami sayang ibu...


Dengan semangat, ibu suri langsung memerintahkan kepada prajurit dan dayangnya untuk menemaninya memberi hadiah yang terbaik, teruntuk si kembar.


*****


Dua hari setelah menjalani perawatan di rumah sakit desa, Liliana, Max dan ketiga anak kembar mereka kembali ke istana. Mereka di sambut oleh rakyat di sepanjang perjalanan.


"Hidup yang mulia Raja! Hidup yang mulia Ratu!"

__ADS_1


"Hidup kerajaan Istvan!"


"Selamat untuk yang mulia ratu dan yang mulia Raja!"


Semua rakyat bersorak-sorai gembira menyambut kehadiran raja dan ratu mereka bersama ketiga bayi kembarnya yang akan menjadi pewaris kerajaan Istvan.


"Kau lihat itu ratuku? Semua orang bahagia sama seperti kita,"


"Benar, tapi tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan kita, Rajaku." ucap Liliana seraya menatap ketiga bayinya yang tengah tertidur di atas ranjang bayi, ranjang yang tidak terlalu besar.


Ketiga bayinya itu terlihat sangat lucu dan imut, ada yang mirip Max dan Liliana.


"Sayang, aku sudah cukup dengan mereka bertiga..."


"Apa maksudmu?" tanya Liliana heran.


"Kita jangan punya anak lagi,"


"A-apa?!" Mata Liliana membulat, atensinya begitu tajam pada Max.


Liliana tersenyum sendu, kemudian kedua tangannya membelai pipi Max. "Suamiku, rasa sakit seperti itu wajar dialami oleh setiap wanita dan itu sudah kodrat dari Tuhan Yang maha kuasa.Dan bukankah kau ingin mempunyai 10 anak?"


Max memegang tangan Liliana, dia menggelengkan kepala dan memberikan reaksi penolakan. "Ti-tidak sayang! Tidak jadi 10 anak, bagiku 3 anak saja sudah cukup!"


"Mau 10 anak juga tidak masalah,"


"TIDAK! Kehamilan dan kelahiranmu ini, adalah yang pertama dan terakhir. Istriku, Aku tidak mau kau berada dalam situasi menyakitkan seperti itu lagi, karena hatiku akan sakit dan jiwaku akan mati bila aku melihatmu seperti kemarin."


"Kau serius?" Liliana tak percaya.


"Aku sangat serius dengan ucapanku, aku bahkan berani bersumpah!" Max mengacungkan dua jarinya, ditatapnya wanita itu dengan penuh kesungguhan.


"Lalu apa kau berjanji tidak akan menggempurku di ranjang habis-habisan seperti sebelumnya?"


Wajah pria itu langsung pucat mendengar pertanyaan istrinya. Sungguh pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab, bagi pria yang memiliki gairah besar seperti Max. Dia tidak bisa menahan diri, seminggu 6 kali, selalu menggempur istrinya. Ada juga seminggu 3 kali, tapi bisa sampai seharian. Lalu apakah Max bisa menahan dirinya?

__ADS_1


"Kenapa? Berat ya, itu untukmu?" goda Liliana pada suaminya. Ya, dia sudah tau bahwa Max tidak akan tahan meski hanya sebentar, apalagi menahan berhubungan untuk waktu lama.


"Aku akan mencoba dan aku akan memakai pengaman, maksudku...aku akan mencari cara agar kau tidak hamil lagi." ucap pria itu dengan polosnya.


"Baiklah, aku paham."


"Aku serius istriku, bagiku...kau dan si kembar sudah cukup." ucap pria itu selalu mengecup kening Liliana dengan penuh kasih sayang.


Kemudian mereka pun sampai di istana, sesampainya disana. Liliana dan ketika anak kembarnya langsung beristirahat di dalam kamar.


Mereka dikunjungi oleh Laura dan Eugene dan putri mereka Rose, pasangan suami-istri itu mengagumi ketampanan dan kecantikan si kembar.


Berbeda dengan kedua kakaknya yang kalem, bayi perempuan Liliana dan Max lebih rewel dan sering menangis. "Kakak ipar, bayi perempuanmu ini sangat menggemaskan.... dia terlihat sangat berekspresi dibandingkan kakak-kakaknya," celetuk Laura sambil menggendong bayi perempuan itu.


"Kau benar putri Laura, memang anak perempuanku satu-satunya ini... lebih rewel dari kedua kakaknya yang kalem. Bahkan saat Liliana melahirkannya, proses kelahirannya begitu lama dan juga sangat menyakitkan. Ya tapi itu semua telah berlalu, jadi tidak apa-apa." tutur Max menjelaskan secara singkat tentang kelahiran putrinya.


"Benarkah? Pantas saja dia terlihat berbeda ,wajahnya cantik dan bercahaya...dia tidak sama seperti yang mulia Raja." celetuk Laura seraya tersenyum.


"A-apa katamu?!" Max meninggikan suaranya kemudian meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Suamiku, tolong jangan emosi seperti itu." Tangan Liliana menepuk pelan pundak suaminya seraya menenangkan.


"Huh!" Ketusnya kesal.


Max terlihat kesal, dia cemberut mendengar celetukan Laura. Sementara Laura, Eugene dan Liliana tertawa-tawa melihat Max marah.


"Oh ya, yang mulia Raja...yang mulia Ratu, apa kalian sudah memberikan nama untuk si kembar?"


"Nama?" Liliana dan Max saling melihat satu sama lain.


Ya, tentang nama. Tampaknya Max dan Liliana masih belum memikirkannya.


Akhirnya mereka berunding dengan Brieta dan menanyakan ramalan ketiga bayi kembar itu. Brieta menyarankan nama 3 bintang, matahari untuk anak pertama, bintang untuk anak kedua dan bulan untuk anak ketiga.


Mereka adalah ketiga bintang Istvan...

__ADS_1


...*****...


__ADS_2