Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 217. Teringat kincir Ria


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Max sudah pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan lebih awal karena dia akan jalan-jalan bersama istrinya nanti sore.


Liliana senang karena demi mengajak dirinya ke taman, Max sampai bangun sangat pagi bahkan sebelum matahari terbit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Melihat suaminya tidak ada disampingnya, Liliana kembali tertidur karena ia masih mengantuk.


Sementara itu Max berada di ruang kerjanya bersama Gustaf. Gustaf terpaksa harus bangun pagi-pagi juga karena Max bangun pagi.


"Yang mulia, mohon maaf...apakah ada sesuatu yang membuat yang mulia bekerja sepagi ini?" tanya Gustaf sambil melirik ke arah jendela ruangan itu yang masih gelap, belum ada cahaya matahari bahkan sedikit pun tak ada.


"Aku akan pergi jalan-jalan bersama Ratu, nanti sore. Jadi aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ini." ucap Max dengan mata yang fokus melihat semua dokumen di atas mejanya.


Dokumen yang sudah menjadi sarapan, makan siang, makan malam dan cemilan sehari-sehari untuk dirinya. Dulu dia selalu mual melihat dokumen-dokumen yang bertumpuk itu. Tapi sekarang dia sudah terbiasa dengannya.


"Hem jadi begitu yang mulia.... memang benar ibu hamil harus dibawa jalan-jalan agar perasaan mereka lebih baik, maka janinnya juga akan berkembang." tutur Gustaf mengingat istrinya yang dulu pernah hamil.


"Benarkah kau juga berpikir begitu?" tanya sang Raja seraya melirik ke arah Gustaf yang juga berkutat di meja kerjanya.


"Ya, yang mulia. Saya ingat ketika istri saya hamil anak pertama saya, saya yang tidak mau terjadi sesuatu padanya dan calon anak kami, saya melarang dia pergi keluar rumah. Ternyata hal itu membuat istri saya stress dan dia jatuh sakit, akhirnya tabib menyarankan saya agar saya membawa istri saya pergi keluar rumah. Setelah itu perasaan istri saya jadi lebih baik, dia menjadi lebih lembut dan tidak sensitif seperti sebelumnya."


"Oh begitu ya? Jadi aku salah telah mengurung istriku di kamarnya?" pikir Max.


"Tidak salah juga yang mulia. Yang mulia melarang Baginda Ratu keluar dari kamar karena yang mulia ingin menjaga Baginda Ratu. Akan tetapi semuanya harus seimbang, yang mulia."


"Seimbang? Maksudmu?" tanya Max dengan kening berkerut.


"Antara perhatian, kasih sayang dan menjaga, yang mulia." jelasnya sambil tersenyum.


Seimbang ya?


******


Sore itu setelah menyelesaikan pekerjaannya, Max segera menemui Liliana di kamarnya. Wanita hamil itu telah bersiap dengan setelan gaun seperti rakyat biasa, agar penampilannya tidak terlalu mencolok.


"Suamiku, kau sudah tiba?" sambut Liliana dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Max memerhatikan raut wajah istrinya yang terlihat bahagia itu. Dia pun merasa bersalah karena sebelumnya telah melarang Lilliana dan mengukung kebebasannya.


"Kau sudah siap?"


"Iya. Kau cepatlah ganti baju, mari kita pergi keluar...aku sudah siapkan baju untukmu."


Mereka pun pergi jalan-jalan ke taman lalu ke pusat kota. Kebetulan hari itu ada pasar malam, Liliana merengek lagi ingin bermain sampai malam.


"Ratuku, kita sudah terlalu lama berada di luar. Angin malam tidak cocok untukmu," tegur Max khawatir pada sang istri.


"Sekali lagi saja, kumohon! Aku ingin naik kincir ria, setelah itu kita pulang. Aku ingin mengingat kenangan kita di masa lalu." pinta Liliana seraya memegang tangan suaminya, menunjukkan tatapan memelasnya yang tanpa dibuat-buat.


"Kenangan?" Max menatap ke arah kincir ria, kemudian dia teringat sesuatu saat melihat kincir Ria itu.


#FLASHBACK


"Kenapa tiba-tiba ada festival kembang api? Bukankah festival hanya diadakan saat acara ulang tahun berdirinya kerajaan atau acara penting lainnya?" tanya Liliana sambil menjilati permen lolipop yang dia beli dari warung pinggir jalan.


"Hem.. tidak harus begitu juga. Bisa saja ini untuk merayakan kencan pertama kita setelah kita menjadi pasangan kekasih," ucap Max sambil tersenyum manis.


"Hahahaha kau ini sangat suka bercanda ya," ucap Liliana sambil tertawa. Dia tak percaya pada ucapan Max kepadanya.


"Sepertinya kau akan tetap menganggapku bercanda meski aku bicara serius, haihhh.. sudahlah.." Max menghela nafas panjang, bibirnya mengerucut sebal pada kekasihnya itu.


Aku sengaja membuat pesta kembang api besar-besaran hanya untuknya, tapi dia menganggapku bercanda.


"Ah! Ada tempat bermain!" Ujar Liliana sambil berlari mendekati wahana bermain ditengah kota.


"Hey! Kucing galak! Tunggu aku!" Max mengikuti Liliana dari belakang.


Liliana melihat ada komedi putar dan kincir ria disana, banyak anak-anak bermain disana dan semua mainan itu gratis untuk dinaiki.


"Kenapa banyak orang disini? Aku membuat festival ini hanya untuk kekasihku.. kenapa mereka juga ikut menikmatinya?" gerutu Max kesal melihat banyak orang yang ikut menikmati festival yang dia buat untuk Liliana.


Gadis itu menatap orang-orang yang sedang naik wahana dengan mata berkaca-kaca. Max melihat mata berkaca-kaca kekasihnya itu, seperti akan menangis.


"Hey.. kau kenapa? Kau menangis?" tanya pria itu dengan tatapan cemasnya tertuju pada Liliana.


"Ah...tidak.." Liliana menyeka air matanya.


"Apa kau ingin aku menyingkirkan mereka?" tanya Max sambil menatap tajam pada orang-orang yang berada didekat wahana bermain.


"Kau ini bicara apa? Kenapa mereka harus disingkirkan?" tanya Liliana sambil menatap pria itu dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Karena kau menangis saat melihat mereka, jadi aku harus menyingkirkan mereka, itu logikanya kan?" tanya Max dengan wajah cemberutnya.


"Apa kau hanya tau menghancurkan dan menyingkirkan seseorang? Hentikan itu dan mari kita pergi," Liliana mengajak Max pergi disana.


"Mau pergi kemana?" tanya Max sambil memegang tangan Liliana. "Bukankah kau ingin pergi naik wahana itu?" tebak Max saat melihat Liliana yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari wahana bermain itu.


"Tidak!!" Seru Liliana sambil melihat wahana. bermain itu.


"Bohong.. kau mau kan? Bahkan kau sampai menangis seperti ini," ucap Max yang matanya tak luput memperhatikan raut wajah Liliana.


"Aku tidak mau...!!" Bibir gadis itu tertarik ke bawah, matanya masih menuju ke arah kincir ria.


Setiap melihat kincir ria, aku ingin sekali naik kesana.


"Jadi kau mau naik apa? Kincir ria? Komedi putar? Atau yang lainnya?" tanya Max menawarkan semua wahana yang ingin dinaiki oleh Max.


Liliana tidak menjawab, dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Max bergumam sendiri bahwa wanita sulit dimengerti.


Dia pun menggandeng tangan Liliana, Max mengajaknya naik kincir ria karena dari tadi Liliana melihat kincir ria sambil menangis. Tak lupa sebelum naik, Max membeli air minum untuk kekasihnya itu. Dia juga tau bahwa Liliana belum minum dari tadi.


"Yang mulia, apa kau-"


"Aku sudah bilang.. panggil namaku saja. Kalau kau memanggilku begitu terus, akan ada yang mengenali ku nanti." Max meralat ucapan Liliana yang selalu memanggilku yang mulia.


"Lalu aku harus panggil apa? Maximilian? Max.. Maxim?"


Max tercekat mendengar Liliana memanggilkan dengan nama. Hatinya berdebar bahagia, seperti ada taman bunga disana. "Panggil aku lagi," pintanya pada gadis yang duduk di depannya.


"Maximilian, Max...Maxim.. Ah sepertinya Max dan Maximilian terlalu umum, apa Maxim itu-"


Belum sempat Liliana menyelesaikan kata-katanya, sebuah kecupan lembut mendarat dibibirnya dari Max. Pria itu tersenyum puas karena berhasil mencuri bibir ranum nan cantik milik Liliana. "Maxim!" pekik wanita itu terkejut.


"Maxim, aku suka panggilan itu. Hanya kau saja yang memanggilku begitu." Max tersenyum lebar, hingga kedua lesung pipinya terlihat.


Deg!


Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku? Mengapa ini berdebar begitu kencang? Kenapa dia terlihat lebih tampan hari ini?


Liliana memegang dadanya dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.


Max mencondongkan wajahnya pada wajah gadis itu, "Lily sayang.." ucapnya mengalun dengan lembut.


Bahaya, ini sangat berbahaya. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung kalau terus begini.


"Ada apa Lily? Apa kau merasa kepanasan? Kau tidak mau buka bajumu?" tanya Max seraya menggodanya.


"Kau! Si mesum ini...hentikan itu! Aku tidak akan tergoda olehmu lagi."


"Jadi kau tergoda olehku? Sudah aku duga kalau aku tampan!" Max semakin percaya diri.


"Ya kau memang tampan, ta-tapi kau juga bukan yang tertampan di mataku." Kata gadis itu sambil memalingkan wajahnya dari Max.


"Apa? Yang benar? Memangnya siapa yang tampan selain diriku?" tanya Max sambil mendekati tubuh wanitanya. Tatapan matanya memburu dan tajam.


"Ka-kau terlalu dekat.. aku kan sudah bilang jangan sembarang mendekat," Liliana meletakkan tangannya pada dada bidang milik Max sambil mendorongnya. Kedua mata gadis itu memutar, kepalanya menunduk tak mau menatap Max.


Ya Tuhan, otot-otot dadanya terasa keras. Astaga Liliana, pikiran kotor macam apa yang kau...


Semakin Liliana mendorong Max, pria itu malah semakin mendekat padanya. Max mengunci tubuh Liliana dan saat itu mereka akan menunju ke puncak kincir ria.


"Katakan.. siapa yang tampan selain diriku?" Tanya Max sambil mengangkat dagu wanita itu.


Huhu, senang sekali melihat wajahnya yang seperti ini. Rasanya seperti menganggu kucing yang ingin makan ikan dan aku malah mengambil ikannya.


Liliana masih tidak mau menatap ke arah Max, walau wajahnya sudah terangkat oleh tangan Max yang kekar.


Uh.. sepertinya aku salah bicara dan malah memancing si mesum ini.


"Kau tidak mau jawab? Kalau begitu-"


Aku tak punya cara lain.


Liliana melingkarkan kedua tangannya ke kejar Max. Dia membenamkan benda kenyal itu pada bibir Max dengan lembut.


Hmphh!!


Lily menciumku duluan?


Ciuman romantis itu bersamaan dengan kincir ria mereka yang sudah sampai ke puncaknya. Dengan senang hati, Max menanggapi ciuman itu. Tangannya melingkar di tubuh mungil kekasihnya, mendekap dengan erat.

__ADS_1


Dasar, si tukang cari kesempatan. Baiklah aku akan membiarkanmu kali ini. Tangan Liliana bergerilya memeluk kekasihnya juga.


DUARR!!


DUARR!!!


Suara kembang api juga menyertai malam romantis mereka yang bersatu dalam cinta. Kedua bibir mereka menyatu bersama dengan suasana itu.


#END FLASHBACK


Max dan Liliana pun naik kincir Ria itu bersama dengan gembira. Setelah berjalan-jalan cukup lama, Max dan Liliana kembali ke istana dengan keadaan Liliana yang tertidur pulas.


"Yang mulia, apa perlu saya ambilkan makanan?" tawar Dorothy pada sang Raja.


"Tidak perlu, Ratuku sedang beristirahat. Kau pergilah, kalau Ratu ingin makan--akulah yang akan menyiapkannya. Kau bisa beristirahat." titah Max pada dayang setia istrinya itu.


"Ya, yang mulia." jawab Dorothy sambil tersenyum, lalu dia pergi meninggalkan kamar itu.


Max dan Liliana tertidur bersama dengan perasaan bahagia, tak sabar ingin segera melihat si jabang bayi.


******


8 bulan kemudian....


Perut Liliana sudah membuncit, hanya tinggal 1 bulan lagi Liliana akan melahirkan. Sekarang pergerakannya terbatas karena perut buncit itu. Brieta pernah mengatakan bahwa Lilliana akan melahirkan bayi kembar karena perutnya yang lebih besar dari perut ibu hamil 8 bulan pada umumnya.


Karena kandungannya yang telah membesar itu, Liliana tidak diperbolehkan keluar dari istana dan dia hanya boleh berjalan-jalan di sekitar taman, seperti biasanya dia ditemani dayang dan beberapa pengawal.


"Yang mulia! Biar saya yang melakukannya," seorang dayang merasa tidak enak ketika Liliana mengangkat alat penyiram tanaman, ya Ratu Istvan itu bermaksud menyiram tanaman di taman bunganya.


"Tidak perlu, biar aku saja. Ini tidak berat sama sekali." ucapnya sambil tersenyum dan menyiram tanaman itu.


Mereka pun tiga tega melihat senyuman di bibir Ratunya, akhirnya mereka tetap mengawasi ratunya itu meski mereka cemas.


"Ratuku! Apa yang sedang kau lakukan?"


Suara yang tegas itu membuat atensi semua orang tertuju pada asal suara. Ya, yang datang adalah Max dan beberapa pengikutnya di belakang. Ia menghampiri sang istri yang sedang menyiram tanaman.


"Yang mulia..." sambut sang istri dengan ramah.


"Apa tukang kebun tidak mau menyiram bunga sampai kau harus menyiram bunga sendiri?" tanya Max tajam pada seorang pria tua yang ada di sana, ya dia adalah si tukang kebun yang pegang di pecat karena insiden batu di taman.


Pria itu menelan ludahnya sendiri, tak berani menatap Max. 'Apa salahku? huhu'


"Tidak yang mulia, ini adalah keinginanku sendiri! Kau tenanglah, ini bukan salah tuan Ralph." ucapnya seraya menenangkan Max.


"Oh baguslah kalau begitu,"


"Yang mulia, bagaimana kalau kita duduk dulu sambil minum teh. Apa kau ada waktu sebelum pergi ke kota?" tanya Liliana pada suaminya.


"Iya ratuku," tangan Max menggandeng tangan sang istri dengan lembut.


Kini mereka sudah duduk di sebuah meja, di taman. Dengan dua cangkir tersedia di atas meja, satunya susu hangat dan satunya teh hangat.


Max duduk berlutut di depan istrinya, tangannya mengelus perut buncit itu. "Bagaimana keadaan anakku hari ini? Maafkan ayah ya, semalam ayah berada di ruang kerja."


"Anak kita baik-baik saja, dia tidak rewel."


"Syukurlah, biasanya kau selalu rewel kalau--"


Tiba-tiba saja Max tersentak kaget.


"Ada apa?"


"Anak kita merespon ucapanku, dia bergerak."


"Hem, dia selalu bergerak aktif kalau ada ayahnya. Tampaknya dia sangat menyukai anda, yang mulia." tuturnya sambil tersenyum.


Memang si bayi kembar yang ada di dalam perut Liliana itu selalu merespon aktif dan heboh bila Max berada disisinya.


"Tentu saja aku adalah ayahnya. Oh ya Lily, sebelumnya--aku ingin bicara sesuatu padamu."


"Ya, yang mulia." sahutnya.


"Lily, sepertinya aku akan pergi berperang."


Liliana tercengang mendengar ucapan suaminya. Max menatap istrinya dengan gelisah.


...*****...

__ADS_1


10 episode lagi menuju tamat, 🤧🤧😍 jangan lupa ya like, gift, komen dan vote nya 🥺


__ADS_2