
Untuk Chapter ini disarankannya bacanya saat buka puasa ya!
...🍀🍀🍀...
Eugene patuh, dia mengikuti kemana wanita cantik berambut perak itu pergi. Mereka sampai disebuah taman, taman favorit Laura. Disana selalu sepi karena Laura selalu menyuruh penjaga pergi pada malam hari.
Bagian taman itu juga adalah tempat yang jarang dikunjungi orang banyak. Hanya Laura saja pemiliknya.
Laura menatap tajam ke arah Eugene, sementara pria itu hanya menunduk dengan sopan sesuai dengan statusnya.
"Eugene... aku akan segera bertunangan dan mungkin aku akan segera menikah , Raja dan Ratu sudah menentukannya."
Deg!
Eugene masih dalam posisi menunduk, dia mengepalkan tangannya. Berusaha menahan emosi didalam hatinya. Terlihat tangannya sedikit gemetar, tapi dia tetap tenang diluar padahal hatinya sedang berdebar, jantungnya seperti berhenti disana saat mendengar Laura akan bertunangan dan segera menikah.
"Eugene, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak akan mengatakan sesuatu?" ucap Laura bertanya pada Eugene yang hanya diam saja.
"A...apa hubungannya dengan saya? Kenapa yang mulia mengatakan ini pada saya?" Eugene bertanya tanpa melihat ke arah Laura.
"Kau serius bertanya seperti ini? Kau mempertanyakan hubungan diantara kita? Bukankah perasaan kita sudah jelas satu sama lain?" Laura melihat ke arah Eugene dengan mata berkaca-kaca.
Lagi-lagi dia harus menelan kecewa karena sikap Eugene yang selalu dingin kepadanya. Seolah membatasi perasaan Laura padanya.
"Hubungan saya dan yang mulia, hanya bawahan dan atasan saja. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu, tuan putri." Ucap Eugene dengan suara sedikit gemetar, dia tak berani menatap ke arah Laura.
Kenapa dia selalu saja seperti ini? Apa harus selalu aku yang bertanya padamu seperti ini Eugene?
"Benarkah? Kemudian, bicara padaku dan tatap mataku! Apa kau benar-benar tidak peduli kalau aku menikah dengan pria lain? Apa kau tidak masalah kalau aku jatuh cinta pada pria lain suatu hari nanti?" Laura meminta pada pria itu agar dia mau menatapnya.
Eugene berani mendongakkan kepalanya, namun kedua matanya melihat ke arah yang lain. "Saya tidak peduli," jawab Eugene dengan suara dingin.
Laura memegang, lalu menarik kerah baju Eugene. Hingga membuat wajah mereka saling berdekatan. "Yang mulia.."
"Katakan padaku dengan tegas! Jangan berpaling! Katakan kalau kau tidak mencintaiku, katakan kalau kau siap menyerahkanku para pria lain!" Seru Laura sambil menatap tajam pada pria itu, kakinya sedikit berjinjit ke atas untuk menyamai tinggi badan Eugene.
__ADS_1
Lagi-lagi Eugene terdiam. Laura tak kunjung mendapatkan jawaban darinya, dia selalu menelan kekecewaan karena sikap Eugene yang dingin ini.
"Baiklah.. kalau kau tetap tidak mau bicara, aku akan pergi saja dan menikah dengannya! Lalu aku akan berpisah denganmu, itu kan yang kau inginkan? Ah...sudahlah, aku seperti bicara sendiri disini!" Laura mendesah kesal, air matanya mulai mengalir. Dia kecewa pada Eugene karena dia diam saja. "Eugene mulai saat ini aku membencimu, aku sangat benci! Kau jangan pernah mendekati aku lagi!" kata Laura tegas penuh kekecewaan.
Saat Laura melangkah pergi meninggalkan Eugene. Eugene tampak berpikir keras, dia menatap punggung Laura dengan perasaan yang berkecamuk didalam hatinya.
Jika kau biarkan dia pergi, mungkin dia akan pergi selamanya. Eugene.. kau sudah pernah kehilangan dia, kau tidak boleh kehilangan dia! Kau tidak boleh berpisah lagi dengannya.
Eugene menarik tangan Laura, hingga gadis itu berada didalam pelukannya. Tanpa aba-aba apapun, Eugene membenamkan bibirnya pada bibir ranum milik Laura dengan berani.
Ya Tuhan, meski aku akan dihukum berat untuk semua ini. Aku tidak akan menyesal, karena aku tidak bisa melepaskannya untuk kedua kalinya.
Dia mencium Laura penuh kelembutan dan perasaan. Kedua mata Laura melebar, dia terkejut. Tak percaya bahwa Eugene yang selalu cuek padanya akan melakukan hal seberani ini.
Eugene.. dia..ciuman pertamaku..
Air mata bahagia mengalir jatuh membasahi pipi Laura. Wanita itu membalas ciuman Eugene, kedua tangannya memeluk tubuh Eugene. Kakinya berjinjit, agar Eugene tidak terlalu jongkok karena tinggi tubuh mereka yang lumayan jauh berbeda.
Beberapa detik kemudian, Eugene melepaskan pagutan bibirnya. Sedikit lipstik merah muda milik Laura menempel di bibirnya. "Eugene.. kau..apa artinya semua ini?"
Laura menatap Eugene dengan penuh harapan dan cinta. Dia terlihat menantikan apa yang akan Eugene katakan.
Eugene menarik napasnya dalam-dalam, "Saya...," ucap Eugene langsung pandangan matanya kesana kemari.
Laura sudah gereget menantikan pernyataan cinta dari Eugene. Tapi pria itu malah melihat kesana kemari seperti mencari sesuatu. "Eugene, teruskan! Kau mau bilang apa? Kau sedang cari apa?" tanya Laura bingung setengah menggerutu.
Eugene berjalan menuju ke arah taman bunga mawar berwarna ungu. Bunga kesukaan gadis itu. Eugene mengetik bunga itu, dia langsung duduk berlutut layaknya Ksatria yang sedang menyatakan sumpah ksatria.
"Saya mencintai yang mulia," ucap Eugene sambil memberikan bunga yang baru saja dipetiknya untuk Laura. Dia mengutarakan isi hatinya setelah sekian lama memendam rasa.
Laura tersenyum dan langsung memeluk Eugene penuh perasaan. "Aku juga sangat mencintaimu Eugene," Laura amat bahagia, hatinya seakan melompat kesana kemari. Dia menangis haru mendengar Eugene mengatakan cinta padanya.
"Meskipun saya akan dihukum oleh dunia, saya tidak akan melepaskan anda yang mulia.. saya tidak mau berpisah dengan anda lagi.." ucap Eugene dengan penuh ketulusan hatinya.
"Jangan pernah lepaskan aku Eugene..." ucap Laura pada Eugene.
__ADS_1
Eugene dan Laura pergi ke tempat sepi di istana itu, mereka tiba di sebuah ruangan. Disana, Laura tak dapat menahan hasratnya lagi. Dia ingin bersama Eugene untuk selamanya tidak peduli apapun yang akan terjadi ke depannya dalam hubungan mereka yang baru dimulai itu.
"Yang mulia, kita tidak boleh melakukan ini..." ucap Eugene kebingungan karena Laura menggodanya.
Laura memeluk Eugene, dia membuka baju kstaria pengawal itu. "Eugene, aku ingin memilikimu...miliki aku Eugene," lirih gadis itu sambil tersenyum.
Eugene maafkan aku, kita harus melakukan ini demi masa depan kita.
"Yang mulia," ucap Eugene dengan napas yang terengah-engah begitu Laura menyentuh titik sensitif di tubuhnya.
Tidak tahan dengan godaan dan sentuhan gadis cantik itu, Eugene akhirnya membuka semua miliknya untuk Laura. Termasuk hatinya, dia dan Laura memadu kasih di dalam ruangan kosong itu.
"Eugene.." lirih Laura sambil memeluk Eugene dengan erat. Tubuhnya berkeringat, jari jemari dan kuku cantik milik Laura menggores punggung Eugene.
"Aku mencintaimu Laura," ucap Eugene yang kemudian mengecup kening wanita itu penuh cinta. Laura tersenyum begitu mendengar namanya dipanggil oleh Eugene.
Malam itu, mereka melakukan penyatuan tubuh.
Dan tidak ada siapapun yang tak apa yang mereka lakukan disana!
*****
Di malam yang sama..
Di kediaman Duke Geraldine.
Duke Geraldine mengajak Liliana masuk ke dalam kamar Adaire. Dimana masih ada barang-barang Adaire disana. Kamar itu selalu dijaga oleh duke Geraldine dengan baik, setelah pemiliknya menghilang.
"Liliana.. kemarilah.."
"Ada apa ayah?" tanya Liliana sambil menghampiri Duke Geraldine dengan tatapan penuh pertanyaan.
Duke Geraldine tiba-tiba memeluk Liliana. "Apa kau benar-benar anakku...Adaire? Benarkah kau Adaire??" tanya pria paruh baya itu pada Liliana.
...---****---...
__ADS_1