
...🍁🍁🍁...
"Bukti sudah di depan mata, ibu suri. Meskipun dia adalah adikmu, tapi dia telah berbuat kesalahan yang besar untuk negeri ini.... bahkan jika dia memiliki kesalahan sekecil apapun, aku sebagai raja negeri ini tidak akan memaafkannya. Dia harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya." Ujar Raja Istvan itu dengan tegas.
"Yang mulia Raja--"
"Ibu suri, kau tidak akan bisa melakukan pembelaan. Jelas-jelas, semua bukti mengarah kepadanya. Aku... tidak akan mengatakan apa-apa lagi." Pungkas Max ketika Freya berusaha bicara membela adiknya.
Freya mencengkram rok yang dikenakannya dengan kesal, dia memang tidak bisa melakukan pembelaan lagi terhadap adiknya.
'Alejandro dia benar-benar sangat ceroboh, mana bisa dia meninggalkan jejak? Sekarang aku tidak bisa lagi melindungi dirinya, bahkan menyelamatkan diriku sendiri pun sangat sulit. Anak sombong ini, dia sudah menjadi raja dan dia juga adalah penyelamat, pahlawan bagi semua rakyatnya'
Freya menatap adiknya dengan sinis, sementara Alejandro menatap kakaknya dengan memelas. Berharap dirinya akan diselamatkan dari hukuman. "Kakak... kumohon, selamatkan aku!" pinta Alejandro seraya mengatupkan kedua tangannya sembari memohon.
Ibu suri kerajaan Istvan itu mencondongkan wajahnya ke arah Alejandro, kemudian dia berbisik. "Ale, dengarkan kakakmu ini! Kau harus tutup mulut atas keterlibatanku dalam rencana ini, kalau kau tidak tutup mulut maka kita berdua akan tamat. Apa kau paham?!"
"Kakak...apa kau ingin menjerumuskan adikmu sendiri? Kita ini saudara, bagaimana bisa kau meninggalkan diriku seperti ini kakak?" Alejandro tidak percaya bahwa kakaknya ingin selamat sendiri.
"Bukannya aku tidak sayang padamu, tapi kau sayang pada kakakmu ini kan? Kalau kau sayang padaku, maka kau harus tutup mulut! Jika aku terlibat dalam masalah ini dan mendapatkan hukuman, Apa kau tidak merasa kasihan dengan keponakan kesayanganmu itu? Keponakanmu satu-satunya..."
Alejandro langsung tertegun begitu mendengar nama Laura disebutkan, ya dia memang sayang kepada Laura. Menganggap Laura seperti anaknya sendiri.
"Kakak...." Mata Alejandro berembun menatap sang kakak. Dia lemah kalau Laura disebut.
"Alejandro, kalau kau masih ingin melihat keponakanmu bahagia....maka kau harus menyelamatkan diriku sebagai ibunya." Freya balik memelas di depan adiknya, intinya dia harus selamat agar Laura juga selamat.
Setelah itu, Freya pamitan kepada Max lalu ia pergi meninggalkan ruang aula itu dan membiarkan adiknya mendapatkan hukuman sendiri. Alejandro, tidak bisa berbuat apa-apa dan membuka mulutnya.
Kini hukuman sudah di depan mata, sekalian Max juga balas dendam kepada pria itu. Karena dia baru tahu beberapa saat yang lalu dari Eugene jika Alejandro pernah melecehkan Liliana.
#FLASHBACK
Usai kembali dari kerajaan Gallahan, Max dan para pengawal istana langsung menangkap siapa saja orang yang telah terlibat dengan iblis dan menyebabkan kekacauan di kerajaan itu.
Alejandro, dan para pengikutnya adalah tersangkanya. Saat penangkapan itu, Eugene mulai angkat bicara. Tentang Alejandro yang berapa kali hampir melecehkan Liliana.
"Apa? Kenapa kau baru bilang sekarang?!" Tanya Max berteriak kepada bawahan setianya itu. Sekaligus teman baiknya.
__ADS_1
"Maafkan saya yang mulia, nona Liliana yang melarang saya untuk tidak mengatakannya kepada anda." Eugene meminta maaf pada Max.
"Oh... Astaga, aku semakin ingin membunuhnya! Lalu, dia tidak berhasil melakukan pelecehan itu kan?!" Tanya Max lagi pada Eugene, dia mendesah kesal.
"Tidak yang mulia, karena setiap kali tuan Alejandro akan melakukan hal nista itu... ada saja yang menghalanginya.Tapi saat acara penobatan yang mulia, tuan count Alejandro hampir berhasil untuk menodainya..." ungkap Eugene pada Max karena dia pikir tidak ada masalah lagi yang harus ditutupi.
"Haaahhh...sialan!"
"Yang mulia, namun... semua tidak terjadi karena saya dan Putri Laura menyelamatkannya tepat waktu." Jelasnya lagi.
"Baiklah, kita beri pelajaran pada manusia bejat bernama Alejandro itu!" dengus pria itu kesal, mendengar Liliana hampir dilecehkan olehnya.
Kenapa dia bisa tidak tahu?
Padahal akhir-akhir ini dia melihat Liliana sering murung dan ketakutan tanpa sebab. Jadi, inilah penyebabnya. Alejandro! Tamat kau!.
#ENDFLASHBACK
Alejandro dan pengikutnya berakhir di dalam penjara menunggu hukumannya. "Tuan... bagaimana ini? Apa kita akan mati?!"
"Diam kalian! Kenapa kalian terus merengek kepadaku, hah?!" Alejandro marah dengan anak buahnya yang terus merengek kepadanya. Mereka ketakutan dengan hukuman yang akan di jatuhkan oleh Max pada mereka.
Tak lama kemudian, seorang pengawal dengan pangkat tinggi datang menemui Alejandro di dalam penjara.
"Kyle?"
Kyle adalah pengawal pribadi Freya, orang yang sangat Freya percayai. "Tuan count, saya diperintahkan oleh yang mulia ibu suri untuk menyampaikan pesan pada tuan." Kyle menyerahkan secarik kertas pada Alejandro secara sembunyi-sembunyi.
Pria itu langsung menerimanya, bahkan membacanya. Tak lama setelah membacanya terlihat senyuman dibibirnya.
"Haaahhh....hahaha..."
Tanpa bicara apa apa lagi, Kyle pergi meninggalkan tempat itu secara sembunyi-sembunyi.
"Tuan...apa ada kabar baik?" Tanya salah satu bawahan Alejandro, dia bertanya karena melihat raut wajah Alejandro yang baik.
"Kalian tenanglah, kita bisa bebas dari sini. Tunggu sampai waktunya tiba." Alejandro tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Malam itu, Max mendatangi Alejandro yang berada di penjara. Namun ia tak datang sendiri, ia datang bersama Adrian dan seekor buaya yang sering ia sebut sebagai peliharaannya.
"Ternyata, kau masih hidup ya?" Max menatap wajah Alejandro yang tampak lusuh setelah di siksa oleh algojo istana di sana.
Alejandro menatap marah pada Max, bahkan dia tak mau memberikan hormatnya lagi pada Max. Dia menatap Max dengan tatapan meremehkan.
Dasar pria bejat, awas saja kau! Berani menyentuh my Lily, kau akan rasakan akibatnya.
"Eugene, masukan Gardan ke dalam sana!"
"Baik yang mulia," jawab Adrian patuh. Dia langsung memasukkan Gardan, nama buaya itu ke dalam sel tempat Alejandro dan ke empat pengikutnya berada.
Mereka bergidik ngeri begitu melihat hewan buas berukuran besar itu masuk ke dalam sana.
"Ah!! Ah!!" mereka berempat tanpa senjata apa-apa, hanya dengan tangan kosong. Di hadapankan oleh buaya ganas. Namun buaya itu jinak dan patuh pada perintah Max.
"Serang mereka!" Titah Max pada Gardan.
Gardan dengan garangnya, berusaha menyerang 5 orang yang ada di dalam sel itu. "Roaaarrrr..." Gardan mengerang, seperti kelaparan.
"Tidak! Ampuni kami yang mulia! Ampuni kami!" Teriak salah seorang pria ketakutan.
Mereka berusaha berlindung dan menyelamatkan diri dengan naik ke atas tiang besi di sana. Termasuk Alejandro yang takutnya bukan main.
"Ayolah Gardan, bukankah kau lapar? Ada 5 orang disana, kau pasti akan sangat kenyang kalah memakan semuanya. Jadi kau harus berjuang mendapatkan mereka, jangan menyerah!" Max menyilangkan kedua tangannya di dada, dia tidak akan mengampuni dosa Alejandro yang sudah berusaha menodai Liliana.
Gardan semakin ganas menyerang orang-orang di dalam sel tersebut. Hingga salah satu dari mereka berhasil tertangkap karena Alejandro mendorongnya untuk menyelamatkan diri.
"Ahhhhh....tuan count, mengapa...." pria itu menjerit di saat terakhirnya, Gardan melahap pria itu dengan ganas. Membuat orang-orang yang melihatnya ngeri.
"Tuan count, mengapa kau tega?!" Tanya seorang bawahannya yang tak terima temannya mati.
"Hey! Kenapa kau bertanya begitu?! Memang sudah seharusnya kalian berkorban untukku!" Alejandro bergetar sambil memeluk besi, dengan kaki yang diangkat. Tubuhnya berkeringat.
Sialan kau Maximillian!
...****...
__ADS_1