
...🍀🍀🍀...
Asisten pribadi? Apa aku tidak salah dengar? Aiden menawarkan padaku untuk menjadi asisten pribadinya?
"Kenapa kau diam saja?"
"Maafkan saya, saya sepertinya tidak bisa. Saya akan mencari pekerjaan sendiri." Liliana menolak niat baik Aiden padanya.
Aiden mendesah kecewa, pikirnya mungkin Liliana masih membutuhkan waktu untuk mengenalnya. "Hem...aku paham, kau pasti curiga denganku kan?"
"Curiga? Mengapa saya harus curiga? Memangnya anda siapa?"
"Siapa tau kau mencurigaiku sebagai orang jahat? Ya kan?" Aiden mendekatkan wajahnya pada Liliana.
"Mana mungkin saya begitu! Kita bahkan belum saling mengenal, kenapa anda berpikir negatif pada pemahaman saya? Saya hanya merasa waspada, apa itu tidak boleh?"
Aiden hanya menanggapinya dengan terkekeh pelan.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"
Kenapa sekarang di sekitarku selalu ada pria aneh?
"Tidak ada, hanya saja...kau masih sama seperti du--" Aiden menghentikan ucapannya sampai disitu saja.
Hampir saja aku keceplosan. Tidak ada yang boleh tau kalau aku mempunyai ingatan masa lalu.
"Seperti--apa?"
"Tidak! Tidak jadi. Oh ya, kenapa kau pergi ke kerajaan Istvan?" Aiden mencoba mengubah topik agar mereka berdua tidak canggung lagi.
"Saya ingin mencari kehidupan baru disana." Liliana masih bicara formal dengan Aiden.
"Tapi kenapa di negeri Istvan? Bukankah masih banyak negeri yang lain?" Alisnya menaut ke atas, dia seolah curiga pada Liliana. Bukan curiga, mungkin dia takut Liliana akan mengingat masa lalunya.
Apa dia kesana ingin bertemu dengan Raja Istvan? Ah....tidak mungkin, jika memang tujuannya seperti itu. Artinya Liliana tidak hilang ingatan. Tapi dia kan tidak ingat aku, jadi dia hilang ingatan. Tidak Aiden, jangan panik! Liliana tidak tahu apa-apa.
Muncul beberapa spekulasi di dalam kepalanya tentang kenapa Liliana memilih Istvan sebagai tujuan berlayar.
"Saya juga tidak tahu kenapa, saya ingin saja ke sana. Entah kenapa saya ingin kesana dan merasa ada sesuatu begitu saya mendengar namanya, Istvan."
Liliana tersenyum tipis, seraya memegang dadanya. Aiden malah terlihat takut Liliana mengingat sesuatu tentang Istvan. Tidak ada respon dari Aiden, ia hanya terdiam seperti banyak pikiran.
"Lalu tuan, kenapa tuan pergi ke kerajaan Istvan?" Liliana balik bertanya pada Aiden.
"Aku kesana untuk pergi berlibur."
"Berlibur? Bukankah bagusnya berlibur itu ke negri Gallahan? Saya dengar negeri itu terkenal sebagai negeri wisata." Ungkap gadis itu setelah mendengar obrolan salah seorang penumpang kapal itu tentang negeri Gallahan.
"Um...aku sudah bosan kesana. Oh ya, kalau kau tak keberatan...kau bisa bicara informal padaku."
"Baiklah."
Tidak ada percakapan yang berarti diantara mereka, hanya interaksi tanya jawab saja. Bahkan setelah makan sup, Aiden kehilangan bahan obrolan dengan Liliana dan membuat gadis itu kembali ke kamarnya.
Aiden terdiam di balkon kapal, mualnya sudah mereda berkat sup yang diberikan oleh Liliana. Dorman menghampiri Aiden yang terlihat duduk termenung sendiri sambil menatap langit malam.
"Yang mulia, jika anda menginginkan wanita itu...yang mulia bisa membawanya ke istana Gallahan dan---"
"Dorman, kau terlalu berlebihan...kau tak tahu apa-apa." pungkas Aiden dengan senyum smirknya itu.
"Yang mulia, sepertinya anda lupa kalau saya sudah berada lama disisi anda. Dari kecil saya sudah mendampingi anda, menemani tumbuh kembang anda. Saya tau ketika yang mulia sedang marah, sedih, senang dan saya tau saat ini yang mulia sedang gelisah memikirkan gadis itu kan?"
"Kalau aku bilang iya, apa yang akan kau katakan? Apa kau akan menentangku seperti ibuku?" Aiden menoleh ke arah Dorman dengan tatapan menelisik.
Dorman tercekat mendengar ucapan Aiden, seperti tidak menyangka bahwa Aiden akan mengatakan itu. "Tidak! Saya tidak akan menentang yang mulia, Saya juga tidak punya hak untuk menentang yang mulia dan yang mulia ibu suri juga tidak akan menentangnya."
Jika yang mulia ibu suri tau bahwa yang mulia Raja menyukai seseorang apalagi orang itu adalah seorang wanita, pastilah beliau akan senang. Asalkan orangnya adalah wanita. Masalah tentang gadis itu yang berasal dari rakyat jelata mungkin akan dipermasalahkan nanti.
"Hah?" Aiden mendongak seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh orang kepercayaannya itu. "Mengapa ibuku akan setuju? Gadis itu kan berasal dari rakyat biasa."
Tidak mungkin bagi seorang keluarga kerajaan bahkan keluarga duke sekalipun bisa menerima Liliana sebagai keluarga, karena status Liliana yang sekarang adalah rakyat biasa, bukan bangsawan ataupun keluarga kerajaan yang pantas bersanding dengan seorang raja dari sebuah kerajaan besar.
"Ehem...saya yakin jika itu untuk kebahagiaan yang mulia raja, yang mulia Ibu suri pasti akan mempertimbangkannya lebih dulu." Ungkap Dorman sambil tersenyum.
"Begitu ya? Kalau aku melamarnya sekarang, jadi ibuku akan setuju kan?" Tanya Aiden sambil tersenyum pada Dorman.
__ADS_1
"Maaf yang mulia, tapi saya tidak bisa menjawab pertanyaannya mulia yang satu itu...hehe."
"Hahaha...baiklah, kau jangan terlalu serius begitu. Aku hanya bercanda saja." Aiden tertawa melihat raut wajah Dorman yang serius.
"Yang mulia, saya--"
"Pergilah, aku ingin sendiri disini." Titah Aiden pada Dorman.
"Yang mulia yakin... ingin saya pergi dari sini?"
"Jangan khawatir, aku sudah merasa lebih baik setelah minum sup buatannya. Kalau aku mabuk laut lagi, aku akan masuk ke dalam."
Dorman menatap Aiden dengan cemas."Tapi yang mulia saya--"
"Pergilah Dorman! Kau bisa beristirahat, besok kita akan tiba di Istvan. Lagipula di sini banyak penjaga yang bisa menjagaku."
Dorman benar-benar bingung dengan sikap Aiden ini, pasalnya dia tiba-tiba saja ingin pergi berlibur, kemudian dia ingin pergi ke negeri Istvan tanpa sebab yang jelas. Entah apa yang akan dilakukan oleh Aiden disana. Dorman pun patuh dan pergi dari sana meninggalkan Aiden sendirian bersama tuah orang penjaga yang ikut bersama mereka.
"Dalam satu minggu, aku harus bisa membawamu ke kerajaan Gallahan. Aku harus bisa mendekatinya lebih gencar lagi, jangan biarkan dia dan Raja Istvan bertemu." Aiden mengusap dadanya dengan galau. Ia harap dengan ingatan masa lalu yang ia punya, ia bisa mengubah perasaan Liliana dan alur cerita yang sengaja dia buat.
Menjadikan Max sebagai kambing yang dikurbankan dan dia yang memetik hasilnya tanpa berkorban apa-apa untuk Liliana. Apakah Aiden bisa mendapatkan Liliana seperti apa yang dia inginkan?
-----
Keesokan harinya, pagi itu semua orang sudah bangun dan sarapan bersama di restoran yang ada di kapal. Aiden yang tidak terbiasa makan ditempat ramai, merasa tidak nyaman disana.
"Dilihat dari manapun juga, tuan pasti seorang bangsawan." Liliana melihat Aiden yang tidak nyaman duduk disana dan berdesakan dengan semua orang hanya untuk makan.
"Ku bilang, panggil aku Aiden." Aiden meralat ucapan tuan dari Liliana.
Kalau dia tau kalau aku bukan sekedar bangsawan tapi adalah Raja...apa yang akan dia katakan? Ah...lebih baik aku jujur dari awal, aku takut kejadian masa lalu terulang lagi. Saat itu dia begitu marah saat tahu kalau aku adalah seorang raja.
"Hehe baiklah Aiden, bagaimana kalau kita cari tempat yang nyaman untuk makan?" Liliana bersimpati pada Aiden yang benar-benar tidak bisa berbaur dengan banyak orang.
"Ah ya..."
Liliana mengajak Aiden untuk pergi ke belakang dek kapal, di sana sangat sepi dan cocok untuk menenangkan diri. Mereka makan bersama disana berdua saja dan saat itulah Aiden ingin mengungkapkan jati dirinya kepada Liliana.
"Oh ya Liliana,"
"Sebenarnya aku bukan seorang bangsawan."
Liliana menelan air minumnya perlahan-lahan, sambil memperhatikan apa yang akan dikatakan oleh Aiden selanjutnya. "Lalu?"
Aiden menghela nafas lalu dia mengutarakan segalanya. "Aku seorang Raja."
"PFut...." Sontak saja gadis itu menahan tawa, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aiden.
"Aku benar-benar serius." Raut wajah Aiden saat itu sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sedang bercanda. Namun Liliana malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha...iya iya, aku tahu kau itu sangat lucu." Liliana memegang perut sembari menahan tawa.
"Astaga...aku serius. Aku adalah seorang raja!" Aiden menepuk-nepuk dadanya, berusaha meyakinkan Liliana bahwa identitasnya memang benar seorang raja. Tapi Liliana sepertinya tidak percaya begitu saja.
Aku pikir dia akan langsung percaya dengan ucapanku, tapi dia malah menganggap ucapanku ini adalah candaan. Aiden mendesah.
"Baiklah, kau orang raja dan aku adalah bidadari dari kayangan yang turun ke bumi. Hahahaha..." Liliana menganggap bahwa ucapan Aiden adalah candaan.
"Oh baiklah, terserah kau saja! Yang penting aku sudah mengatakan identitasku yang sebenarnya, kalau kau tidak percaya ya sudah." Aiden cemberut dan langsung memakan roti yang ada di piringnya dengan kesal.
"Kau marah?" Gadis itu melirik ke arah Aiden, perhatikan wajah pria itu yang memerah.
"Tidak, aku tidak marah!"
"Baiklah yang mulia anda adalah seorang Raja,"
"Kau mengejekku lagi?!" Aiden menatap tajam ke arah Liliana.
"Aku tidak mengejek!" Sangkalnya tanpa merasa bersalah. Dalam hati ia memang mengejek Aiden.
"Hey! Aku bukan pembohong ya, aku benar-benar seorang raja. Aku mengatakan semuanya padamu,"
"Baiklah baiklah..."
"Tuh kan? Kau tidak percaya padaku?"
__ADS_1
"Aku percaya! Aku percaya." Liliana tersenyum tipis.
Kemudian gadis itu berdiri sambil membawa piring kosongnya, "Mana piringnya yang mulia? Saya akan bantu yang mulia untuk menyimpannya."
"Haaahhh....senang sekali ya kau mengejekku seperti ini?" Aiden mendesah kesal, ia ikut berdiri dari tempat duduknya.
"Ish...aku tidak--"
Liliana berjalan mundur, tak sengaja dia menyandung paku yang ada di atas kapal. Tubuhnya oleng kebelakang dan dengan cepat Aiden menangkap tubuh Liliana. Hingga tubuh mereka berdekatan, begitu pula dengan wajah mereka yang dekat, membuat kedua mata itu berpandangan.
Debaran jantungku masih sama untukmu Liliana. Aiden merasakan debaran jantungnya yang masih berdegup kencang saat berada didekat Liliana.
"Kau...tidak apa-apa?" Tanya Aiden pada Liliana.
"Saya baik-baik saja yang mulia."
Mengapa aku seperti merasa berdosa ketika bersentuhan dengan pria lain? Tapi berdosa pada siapa? Dan juga... Kenapa pria bertopeng itu selalu terlintas di kepalaku. Liliana memikirkan Max didalam hatinya.
Aiden harus menelan kecewa ketika Liliana mendorong tubuhnya, seolah menjaga jarak. Aiden mengepalkan tangannya dengan kuat, berusaha untuk tenang.
Jangan panik Aiden, tenanglah...Liliana hanya perlu waktu untuk jatuh cinta padamu. Hanya perlu waktu!
Setelah itu Liliana mulai menjaga jarak dari Aiden, entah kenapa dan apa sebabnya. Aiden tidak bisa memahami isi hati Liliana, bahkan untuk mendekat saja rasanya sulit. Apalagi mengambil hatinya?
Namun Aiden bukanlah orang yang pantang menyerah begitu saja, dia sudah lakukan rencana licik bahkan menjadi manusia paling licik untuk mendapatkan Liliana dalam kehidupan ini. Jadi dia akan memastikan bahwa dia tidak akan gagal dan akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dia tak mau semua usahanya sia-sia untuk mendapatkan Liliana.
*****
Waktu pun berlalu, semua penumpang sampai di kerajaan Istvan pada waktu siang. Begitu pula dengan penghuni kapal lain yang juga transit bersamaan di dermaga kerajaan itu.
"Jadi ini adalah kerajaan Istvan! Mengapa rasanya familiar sekali? Aku sudah pernah ke tempat ini saja." Liliana menghela nafas panjang, dia melihat-lihat ke sekitar dermaga. Ada beberapa toko di sana.
Aiden mengekori Liliana dari belakang, ia begitu posesif kepada Liliana. Seperti takut Liana akan direbut oleh seseorang. Rupanya ketakutan itu terjadi, saat Liliana berada didalam kerumunan dan berbicara dengan seorang pria. "Siapa itu?" Aiden bergumam dan tidak bisa melihat dengan jelas sosok pria yang bersama Liliana.
"Aduh...kenapa kau jalan tidak lihat-lihat?" Keluh Liliana yang baru saja ditabrak oleh sosok pria bertubuh tegap didepannya.
Lily? Suara ini...kenapa dia bisa ada disini juga?
Pria itu awalnya mau acuh saja terhadap Liliana, namun saat mendengar suara yang selalu menggetarkan hatinya itu. Akhirnya ia mengulurkan tangannya untuk membantu Liliana berdiri. Setelah Liliana berdiri, pria itu melepaskan pegangan tangannya dan memalingkan wajah.
Aroma ini...itu dia...si pria bertopeng?.
"Tunggu! Kau mau kemana, tuan?" Liliana memanggil pria yang tampak tak asing baginya itu. Namun si pria tetap berjalan pergi bersama seorang pengawalnya, Adrian.
Liliana mengejar pria itu, dia bahkan sampai memegang tangannya. Namun Max menepis tangan Liliana dengan kasar. "Jangan ganggu aku!"
"Ah!!"
Tubuh Liliana oleng karena Max yang menepis tangannya terlalu keras. Dengan sigap, Max menarik kembali tangan Liliana dan akhirnya gadis itu jatuh ke pelukan Max.
Suara jantung siapa ini?. Liliana panik sendiri mendengar suara dag Dig dug saat berada di pelukan Max.
"Kenapa kau selalu kasar dan dingin padaku?" Keluh Liliana sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah Max.
Max mendorong Liliana. "Siapa kau?"
"Kau adalah pria bertopeng itu, aku tau." Liliana menatap Max yang kini wajahnya tanpa topeng.
Max memilih mengabaikan Liliana, dia melihat Adrian sudah menunggunya. "Tuan! Aku ingin--"
"Nona Liliana, apa kau baik-baik saja?"
Max tersentak kaget mendengar suara yang terdengar tak asing itu. "Suara pria?" Sontak dia menjadi diam di tempat, membeku dan berusaha menerka suara siapa?
"Yang mulia, ada apa?" Tanya Adrian sambil melihat ke arah Max yang wajahnya pucat.
Raja Istvan itu membalikkan badannya dan melihat siapa yang sedang bersama Liliana. Matanya melebar saat ia melihat Aiden yang bersamanya.
Mana mungkin? Raja Rayden? Kenapa dia bisa ada disini?
"Aku baik-baik saja," jawab Liliana sambil menatap ke arah Max dengan sedih.
Aiden melihat ke arah Max, matanya melebar sama seperti Max melihat kearahnya. Mata mereka bertemu dan saling melihat satu sama lain dengan tajam.
...*****...
__ADS_1