
"Maafkan saya yang mulia, tapi tugas kami adalah melindungi yang mulia." ucap Eugene sambil membungkukkan setengah badannya.
"Kau mau membantah perintahku?" Max menoleh ke arah Eugene dengan wajah sinis nya.
"Hamba tidak berani yang mulia," jawab Eugene dengan kepala tertunduk.
"Bagus, aku tidak suka bicara dua kali. Pergilah kalian untuk mengerjakan tugas masing-masing!" titah Max pada kedua bawahan setianya itu.
"Baik yang mulia!" jawab Blackey dan Eugene patuh.
Perintah dari putra mahkota tidak bisa mereka bantah. Pembangkangan terhadap anggota keluarga kerajaan sama saja dengan hukuman mati atau kesengsaraan dalam hidup. Maka dari itu setiap perintah harus dilaksanakan oleh kstaria pengawal dan bawahannya.
Max senyum-senyum sendiri setelah dia memarahi kedua bawahannya. "Lily, aku datang." gumamnya senang.
Sementara itu orang yang akan berkencan dengan Max masih bersiap-siap di kamarnya. Rambut panjangnya di kepang satu ke depan dan diikat dengan ikat rambut berbentuk bunga Lily berwarna putih. Dia memakai gaun sederhana berwarna biru tua yang tampak anggun dikenakannya. Daisy membantu Liliana untuk menghias rambut gadis itu dengan jepitan.
"Nona, anda sangat cantik. Sebenarnya nona mau bertemu dengan siapa sampai nona ingin berdandan?" tanya Daisy sambil memakaikan jepit bunga pada rambut merah milik wanita itu. Daisy jarang melihat Liliana berdandan, ini pertama kalinya Liliana minta didandani.
"Ehm, aku hanya ingin berdandan saja." jawab Liliana dengan mata memutar kesana-kemari.
Iya juga ya. Kenapa ku berdandan hanya karena bertemu dengannya? Namun entah kenapa aku ingin berdandan, apa itu karena saat dulu aku tidak percaya diri untuk berdandan, makanya aku ingin berdandan sekarang? Yang jelas, ini bukan karena Eugene.
"Hem ya sudah nona. Mau saja cat kukunya juga?" tanya Daisy sambil mengambil cat kuku berwarna merah di atas meja.
"A-aku kan hanya jalan-jalan saja, jadi tidak usah memakai cat kuku segala!" Seru Liliana menolak memakai cat kuku yang ditawarkan Daisy.
Benar, terlalu berlebihan memakai cat kuku. Nanti dia merasa kalau aku berdandan untuknya.
"Baiklah nona," jawab Daisy sambil tersenyum ramah.
Setelah beberapa kali bercermin, Liliana masih tidak percaya bahwa sekarang dirinya adalah seorang gadis cantik, tanpa tompel di wajah dan tubuh gemuk seperti sebelumnya. Namun didalam hatinya, dia merasa bersalah karena sudah mengambil tubuh Liliana. "Liliana maafkan aku karena sudah berada didalam tubuhmu. Tapi aku janji, aku akan membalas dendam pada ayahmu dan orang-orang yang sudah membuatmu menderita. Lalu kita berdua akan bahagia, aku juga janji tidak akan melukai tubuhmu lagi."
Liliana tersenyum melihat dirinya di cermin, dia memutuskan untuk mencoba membuka hatinya pada seorang pria.
Setelah selesai berdandan, Liliana keluar dari kamarnya. Saat akan berpamitan, Liliana bingung karena di rumah itu tidak ada Arsen atau Duke Geraldine. "Bagaimana aku bisa pergi jika tidak ada orang di rumah?" tanya Liliana bingung.
Sebagai bentuk tata krama yang baik, Liliana harus meminta izin pada orang rumah ketika akan bepergian keluar walau hanya untuk sekedar jalan-jalan di halaman atau pergi kemanapun juga.
__ADS_1
Kebetulan saat dia sedang berjalan di lorong bersama Daisy, dia melihat Nicholas dan Jackson sedang lewat disana. Mereka langsung membungkukkan setengah badan mereka di depan Liliana.
"Salam hormat saya, nona." ucap Nicholas dan Jackson.
"Ya," jawab Liliana dengan tatapan heran pada Nicholas. Sebelumnya pria itu tidak pernah menunjukkan rasa hormat seperti ini kepadanya, sekarang pria yang bekerja di bawah Adara itu sampai membungkukkan badannya di depan Liliana.
Nicholas dan Jackson mendongak, mereka melihat Liliana. Gadis yang sudah terlihat cantik itu kini terlihat semakin cantik saja.
"Nona, maafkan saya.. tapi, nona mau kemana dengan dandanan seperti ini? Nona kan masih sakit?" tanya Jackson khawatir pada Liliana yang sebelumnya terluka karena dicambuk.
"Tuan Jackson, saya sudah baik-baik saja. Saya berencana untuk pergi jalan-jalan keluar. Saya bosan berada di rumah terus," jelas Liliana dengan senyuman ramah dibibirnya. "Jadi, saya boleh pergi kan?" tanya Liliana pada Jackson yang memiliki posisi sebagai kepala rumah tangga di rumah itu.
"Tuan Duke dan tuan count, telah memberikan perintah pada saya agar melarang nona untuk pergi keluar. Tapi... tuan Duke berpesan jika nona memang sangat ini pergi keluar, maka nona harus membawa sir Nicholas bersama nona." ucap Jackson menyampaikan amanat yang diberikan oleh Duke Geraldine kepadanya selama Duke tidak ada di rumah itu.
Rasanya malas sekali jika bepergian dengan bawahannya Adara. Kenapa juga ayah masih percaya kepadanya?
Liliana menatap tajam ke arah Nicholas, dia tidak suka jika harus dikawal oleh Nicholas, bawahan Adara.
Akhirnya Liliana setuju untuk Nicholas pergi bersamanya. Untuk menjaga keamanan dirinya selama berada di luar. Liliana dan Nicholas tiba di tamat Sakesfir, tempat janjiannya dan Max.
"Kalau kau mau pergi, pergi saja. Kau pasti sibuk dan memiliki urusan lain! Jangan menghabiskan waktumu untuk mengawal orang rendahan sepertiku," ucap Liliana sinis.
Apa dia mendengar pembicaraan ku dengan nona Adara saat itu? Atau dia tau kalau aku pernah berniat mencelakainya.
"Aku sudah tau semuanya. Aku tidak mau menyimpan seseorang yang tidak menyukaiku disisiku. Pergilah, aku bisa sendiri!" titah Liliana dengan suara tegasnya.
"Tapi nona.."
Aku tidak bisa pergi meninggalkan nona Liliana, aku harus mengikuti perintah tuan Arsen dan mengawasi nona Liliana. Itulah tugasku sekarang.
"Aku bilang aku bisa sendiri!" Seru Liliana ketus dan menatap tajam ke arah Nicholas. Dia teringat bagaimana dulu Nicholas pernah menindas dirinya saat dia masih menjadi Adaire.
"Dia sudah bilang dia bisa sendiri dan ada aku juga yang menjaganya. Lebih baik pergi, kau tidak dibutuhkan disini," ucap Max sambil merengkuh tubuh mungil Liliana dengan satu tangan kekarnya. Max menatap sinis ke arah Nicholas.
"Eugene?" Liliana melihat ke arah pria bertubuh tinggi besar dan bertopeng hitam itu.
Kenapa dia memakai topeng?. Liliana heran karena Max menggunakan topengnya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Nicholas merasa dingin di sekujur tubuhnya, terlebih lagi saat mata merah Max menatapnya dengan tajam. Kakinya menjadi lemas, tubuhnya gemetar, dia ketakutan.
Mengapa aura pria ini terasa sangat berbahaya? Setahuku satu orang yang memiliki aura seperti ini adalah putra mahkota. Tapi dia bukan putra mahkota.. dia mungkin hanya orang biasa.
Nicholas memperhatikan penampilan Max yang terlihat seperti orang biasa. Tapi memiliki aura yang menyeramkan.
Max membuat tatapan mematikan pada Nicholas agar dia pergi dari sana. "Sa-saya akan tetap berada disini,"
"Coba saja!" Max mendekati Nicholas dengan senyuman menyeringai dibibirnya.
"Sa-saya akan berada sedikit jauh dari nona dan tuan, tapi jangan suruh saya pergi dari sini!" kata Nicholas bersikeras. Dia tidak bisa meninggalkan Liliana berduaan bersama seorang pria karena dia mendapat perintah dari Arsen.
Beraninya dia mengganggu misi penting untuk masa depanku! Kesabaran ku sudah habis!
"Lily, apa kau bisa tutup mata sebentar?" ucap Max seraya menoleh ke arah Liliana.
"A-Apa?" disuruh menutup mata, tapi wanita itu malah semakin melebarkan matanya.
"Balikan tubuhmu sebentar," ucap Max sambil membalikkan tubuh Liliana hingga membelakanginya.
Tak lama kemudian Nicholas menjerit kesakitan. "ACKK!! Tu-tuan!!" Pekiknya.
"Eugene apa yang kau lakukan?" Tanya Liliana cemas, dia hendak berbalik.
"Kau diam saja, jangan berbalik sampai aku suruh! Kau masih dibawah umur, tidak boleh melihat adegan seperti ini." Max tersenyum jahil, dia menunjukkan mata gilanya.
"A-Apa kau bilang? Eugene.." Liliana kebingungan, dia ingin tau apa yang dilakukan oleh Max pada Nicholas.
Sial! Dia siapa? Kenapa dia melakukan ini kepadaku?
Nicholas berlari dan pergi begitu saja sambil memegang tangan kanannya.
"Hah, dasar kstaria yang tidak loyal pada tuannya! Tidak setia, pecundang!" Max tersenyum sambil meletakkan kedua lengan di pinggang. Dia menertawakan Nicholas yang kabur.
...---****---...
Hai Readers, maaf kemarin tidak up.. author sedang kurang sehat nih🤧 ini pun memaksakan up dulu..
__ADS_1
terimakasih untuk dukungan kalian ya😉😘 jangan lupa komen, like, vote dan giftnya..