Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 207. Masakan cinta


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Rencananya membuat makan malam romantis untuk istrinya itu berakhir dengan membakar dapur. Ya, Max memang ahli dalam menggunakan pedang dan senjata tajam lainnya, tapi tidak untuk bekerja di dapur. Karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, inilah kekurangan Max.



"Yang mulia, biarkan saya saja yang memasak untuk tuan putri!" Ujar seorang dayang mencoba membantu Max untuk memasak.



"Tidak! Kau tidak boleh menyentuh masakan untuk istriku, hanya aku saja yang boleh menyentuhnya!" titah Max pada dayang itu. "Hey, singkirkan tanganmu dari masakan itu, atau ku potong tanganmu saat ini juga!" ancam Max ketika salah satu dayang istana dapur mencoba menyentuh makanan yang telah disediakan olehnya. Makanan yang gosong tidak memiliki wujud yang jauh dari kata estetika.


Dayang dayang istana itu terlihat panik, manakala Max benar-benar dengan tujuannya untuk menyajikan makanan itu kepada Liliana.


"Hey! Kenapa kalian menatapku seperti itu? Makanan ini adalah makanan yang disediakan oleh cinta, dibuat dengan cinta, tentu saja rasanya akan enak. Hanya saja... tampilannya memang kurang indah." Max sendiri merasa tampilan makanan yang dimasaknya itu memang kurang indah. Warnanya hitam dan wujudnya tidak berbentuk. Alisnya menaut keatas, dalam hati dia memang kurang yakin dengan masakannya itu. Terlebih lagi ketika melihat tembok dapur tersebut menghitam akibat ulahnya.


Namun, dengan percaya diri Max membawa makanan yang berada di atas nampan itu ke kamar pengantinnya. Dia yakin bahwa apapun makanan yang dimasakkan olehnya akan diterima Liliana.


Kini Max sudah sampai di depan kamar, dengan pintu bercat putih itu. Pintu yang besar dan mewah menunjukkan keindahan bak istana putri. Pria itu maulah nafas dan membuangnya kasar, berdoa dalam hati bahwa istrinya akan menyukai masakannya.


CEKLET!


Pintu kamar itu pun terbuka lebar, manakala eksistensi Max berada di ambang pintu. Ia pun menutup pintu kamar itu. "Sayang, dimana kau?" tanya Max karena dia tidak melihat istrinya yang berada di ranjang.


Padahal hampir seharian dia menggempur istrinya itu di atas ranjang. Lalu ke mana istrinya saat ini? Mungkinkah dia sedang berada di kamar mandi?


Tak berselang lama kemudian, Liliana terlihat berjalan dengan tertatih-tatih mengenakan kimono handuknya. Rambutnya basah, bibirnya bengkak, dia seperti kesakitan dan kesulitan untuk berjalan. Tangannya memegang pinggul. "Ughh....suamiku, kau dari mana saja?"


"Sayang, ternyata kau di sana." kedua mata hitam kelam itu menatap istrinya dengan mata melebar. Tersirat senyuman indah penuh kepuasan di bibirnya. Dia pun meletakkan makanan yang sudah dia masak di atas meja.


Max menghampiri istrinya, karena dia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Liliana saat ini. Dia menggendong istrinya, lalu menurunkannya di atas ranjang.


"Masih sakit, sayang?"tanyanya khawatir.


"Sudah tau kenapa masih tanya?" Keluh Liliana sambil memegang pinggulnya, merasakan seluruh badannya seperti remuk dilindas oleh sesuatu.


Dia hampir membunuhku kalau saat itu aku tidak memintanya. Kenapa staminanya selalu kuat?


"Maafkan aku, lain kali kita lakukan di ranjang saja jangan di meja. Tapi seharusnya kau menungguku dulu, nanti aku bisa membantumu mandi." ucap Max sambil duduk di samping Liliana.

__ADS_1


"Hey! Apa yang kau pikirkan dengan kepala mesummu?!" Liliana memukul kepala Max dengan kesal.


"Awww....kenapa aku di pukul? Aku cuma mau bantu mandi saja!"


"Mandi dalam otakmu berbeda dengan mandi didalam otakku," ucap Liliana kesal.


"Hem...benaran hanya memandikan saja. Aku juga masih punya hati, tidak mungkin aku menggempurmu terus-terusan. Meski aku memang ingin melakukannya, karena aku ingin kita segera mempunyai anak."


Di masa lalu Max dan Liliana belum sempat melihat anak mereka lahir ke dunia, sebelum melihat dunia. Anak itu telah tiada bersama Liliana dan hal itu membuat Max sangat sakit hati.


"Ya, jika Tuhan sudah memberikan kita amanah untuk menjaga seorang anak...pastilah anak itu akan segera hadir di dalam hidup kita. Jangan khawatir dan kita berjalan pelan-pelan saja." Liliana tersenyum memandang ke arah suaminya.


"Baiklah, aku minta maaf untuk yang tadi siang sampai beberapa saat yang lalu. Aku terlalu keras menyerangmu, jadi... aku sudah membuatkan makanan untukmu. Karena kau belum makan dari tadi siang." ucap pria itu seraya menyodorkan makanan yang berada di atas nampan.


Wanita itu mendelik tidak percaya dengan makanan yang tersaji di hadapannya. Makanan yang tidak berbentuk, warnanya hitam, terlihat sangat tidak indah. "A-apa kau yakin ini adalah makanan?" tanya Liliana ragu.


"Kenapa kau bertanya begitu? Apa ini bukan MAKANAN?" suaranya mengeras, wajahnya memerah bak kepiting rebus.


Ya, bukan Maximillian bila dia tidak bisa membalik pertanyaan. Liliana tau itu adalah sifat Max, suka membalikkan pertanyaan dengan pertanyaan.


"Ehem...baiklah aku ganti pertanyaannya. Ini makanan apa?" tanya Liliana.


"Omorice?" pangkas Liliana sambil tersenyum.


"Nah iya.. benar itu! Namanya omorice, aku buatkan ini untukmu." ucap Max sambil tersenyum.


"Baiklah, aku akan mencobanya." Liliana tersenyum, dia mengambil piring berisi omorice yang katanya dibuatkan oleh Max. Meski wujud makanan itu tidak indah, Liliana tetap menghargai seperti apapun masakan suaminya.


Dia mencoba makanan itu walau dia tidak yakin dengan rasanya. Dan benar saja, bukan rasa makanan yang dia rasakan tapi rasa dari gosong. Definisi dari hancurnya sebuah makanan yang diberi nama 'Omorice' itu.


Astaga! Rasa macam apa ini? Apa dia ingin membunuhku? Apa ini makanan? Huh...pahit sekali.


Liliana berusaha menahan rasa pahit di lidahnya dan mengondisikan raut wajahnya saat ini. Dia tidak mau membuat Max yang sudah memasak susah payah menjadi kecewa karena masakannya dibilang tidak enak.


"Bagaimana sayang? Apa rasanya enak? Enak kan?" tanya pria itu bersemangat.


"Ini enak--enak sekali...hehe."


"Benarkah? Apa aku boleh mencobanya?"

__ADS_1


"Tidak boleh! Makanan ini kan untukku, jadi kau tidak boleh mencobanya." ucap Liliana yang buru-buru menghabiskan makanan itu walau tak enak. Sebisa mungkin ia berusaha mengkondisikan raut wajahnya di depan suaminya.


Setelah menghabiskan makanan itu, Liliana meminta kepada Max untuk memanggil kan dayang istana. Dia ingin meminum minuman yang dingin. Max langsung mengambil minuman itu sendiri dari dapur dan dengan kasih sayang dia memberikan minuman itu pada Liliana.


"Terima kasih suamiku, ini sangat menyegarkan."


"Tidurlah lagi, kau pasti lelah. Besok kita akan pergi bulan madu."


"Hah? Bulan madu? Bukankah kita akan langsung pergi ke istana Istvan, kau juga kan sibuk?" tanya Lilliana.


"Kita akan berbulan madu, tapi singkat saja. Tak apa kan? Aku tidak mau kita melewatkan bulan madu kita pada pernikahan kita kali ini."


"Terserah kau saja, aku menurut saja padamu." Liliana tersenyum, dia kembali merupakan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian Max memasangkan selimut ke tubuh istrinya.


"Oke, sekarang tidurlah." Max mencium kening Liliana, dia ikut berbaring juga di samping istrinya.


****


Setelah itu keesokan harinya, Max dan Liliana langsung pergi berbulan madu. Akan tetapi, bulan madu mereka tidak jauh dari kerajaan Gallahan. Pasalnya, Gallahan adalah sebuah negeri dengan keindahan wisatanya yang terkenal indah. Maka dari itu, Max mengajak istrinya untuk berbulan baru di sana saja.


Mereka pergi ke sebuah penginapan di dekat pantai, dengan pemandangan indah dan juga suasana yang sejuk. Cocok untuk melakukan bulan baru mereka. Dan mereka tidak pergi bersama pengawal, hanya berdua saja.


"Nah ini kamar kita, bagaimana? Apa kau suka? Kamar ini adalah kamar yang memiliki pemandangan paling indah dan akan kita tempati selama dua hari ke depan." pria itu memeluk Liliana dari belakang, deru nafasnya memburu di leher Liliana.


"Indah, aku suka dengan kamar ini." balas Liliana yang merasa senang dengan kamar itu. Tatapannya tertuju pada views lautan didepan mata dan pasir putih yang indah.


"Ya, aku juga akan suka. Apalagi..." tangan pria itu memegang dagu Liliana hingga wajah mereka bertemu. Max memagut bibir istrinya dengan lembut.


Tangannya menjelajah pada dua buah gunung milik istrinya. "Maximilian..."


"Sayang, inilah tujuan kita kemari dan berdua saja. Kita harus bekerja keras untuk bercocok tanam dan melupakan masalah pekerjaan yang akan menunggu kita nantinya."


"Baiklah! Tapi kali ini biarkan aku yang memimpin." Liliana mendorong tubuh suaminya, sampai terjatuh ke ranjang.


"Oh...Lily sayang..." lirih Max terkejut dengan sikap binal istrinya.


"Aku diatas!" kata Liliana seraya tersenyum lalu memagut bibir suaminya dengan mesra. Kali ini dialah yang menyerang lebih dulu, dan dia berada di posisi atas.


...****...

__ADS_1


__ADS_2