Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 157. Kenapa familiar


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


...Anda harus ingat yang mulia, masa lalu bisa saja mengubah masa depan dan masa lalu juga bisa berubah....


Itulah kata-kata Abartia kepadanya sebelum dirinya memutar kembali waktu. Dan masa lalu juga telah berubah karenanya.


"Sial! Disini tidak ada Adaire, kenapa bisa? Sial! Sial!" Max gusar lalu merobek-robek kertas yang ada di tangannya.


Jika Adaire tidak ada, lalu dimana dia sebenarnya? Apa dia berada didalam tubuh Liliana? Apa Abartia dan Raja iblis Utara berbohong padaku?


Eugene menatap putra mahkota kerajaan Istvan itu dengan bingung, mengapa Max begitu gusar oleh nama Adaire yang bahkan tidak ada.


Max berpikir dengan keras, mencari-cari dimana keberadaan Liliana. Meski dia janji untuk tidak mendekatinya lagi di dalam kehidupan kali ini. Namun, dia hanya ingin memastikan bahwa Liliana hidup bahagia walau tidak ada dia di sisinya.


"Eugene!"


"Ya, yang mulia!" sahut Eugene cepat.


"Kita pergi ke pulau Gardian sekarang!"


"A-apa? Yang mulia mengapa tiba-tiba--" Eugene terheran-heran bingung mendengar keputusan putra mahkota itu.


Pulau Gardian? Mengapa yang mulia putra mahkota tiba-tiba mau kesana?


"Lakukan saja perintahku!" Max menatap Eugene dengan tajam dan tidak mau dibantah.


"Lalu bagaimana dengan sisa pasukan kita, yang mulia?" Tanya Eugene tentang satu pasukan yang masih berada di penginapan itu.


"Suruh mereka pergi ke istana lebih dulu. Hanya aku dan kau yang akan pergi ke pulau Gardian. Paham?" Tak mau bicara panjang lagi, dia mengutarakan niatnya.


"Baik yang mulia, saya akan sampaikan para pasukan lain untuk kembali ke istana lebih dahulu dan saya juga akan menyiapkan kapal tercepat untuk segera sampai disana." Kata Eugene sambil membungkukkan setengah badannya, ia selalu siap siaga ketika mendapat perintah dari Maximillian.


Eugene segera meninggalkan ruangan itu, Max berada didalam ruangan itu dan dia bersiap untuk pergi ke pulau Gardian. Ia bertaruh dalam hatinya, bahwa Liliana berada disana sebagai Liliana yang asli dan bukan Adaire. Karena sosok Adaire tidak ada di kerajaan Istvan.


Pria itu kesana hanya untuk memastikan apakah Liliana benar-benar hidup kembali dan dalam keadaan baik-baik saja. "Lily, aku sudah janji tidak akan mendekatimu lagi. Aku kesana hanya untuk memastikan bahwa kau benar-benar kembali dan dalam keadaan baik-baik saja. Setelah itu, aku akan kembali pada kehidupanku." Ucapnya sambil mengelus dada.


Sebenarnya hati Max sakit karena dia mengingat masa lalu mereka, apalagi saat kematian Liliana. Rasanya baru kemarin dia melihat jenazah Liliana didepannya. "Huuuh.... Maximillian, tenanglah...semuanya akan baik-baik saja."


Segera setelah semuanya siap, sebagian pasukan yang kembali ke istana lebih dulu. Max dan Eugene hanya berdua saja pergi ke pulau Gardian. Eugene tak tahu alasan Max pergi kesana dan dia bertanya pada Max saya mereka berada di kapal.


"Yang mulia?"


"Apa yang mau kau tanyakan kepadaku?" Max langsung paham melihat wajah Eugene yang menyimpan pertanyaan untuknya.


"Maafkan saya, saya penasaran kenapa yang mulia kembali ke pulau Gardian?" Eugene akhirnya mengutarakan rasa penasarannya dengan bertanya.


"Aku ingin ikut menumpas rumah bordil itu." Jawab Max sambil melihat ke arah Eugene yang nampaknya kurang puas dengan jawaban itu, atau mungkin tak percaya.


Eugene hanya menjawab ya mengerti dan dia tidak bertanya lagi. Max juga tidak bicara lagi meski ia tau kalau Eugene pasti merasa ada yang aneh dengannya.

__ADS_1


Perjalanan dari pusat kota Istvan ke pulau Gardian membutuhkan waktu dua hari dan Max berharap bisa cepat sampai kesana. Itu karena dia tidak bisa menggunakan sihir teleportasinya, kekuatan sihir didalam tubuhnya belum bangkit.


*****


Pagi itu seperti biasanya, Liliana menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuk ayahnya. Ya, walaupun hari ini ayahnya tidak bangun pagi lagi karena berjudi.


Ketika sedang menyiapkan makanan, tiba-tiba saja pintu rumah yang terbuat dari kayu yang rapih itu terbuka lebar seperti ditendang seseorang. "Robert! Keluar kau!" Teriak seorang pria dengan suara keras.


Liliana melihat ada 3 orang pria yang datang ke rumahnya. Pria bertubuh kekar berotot dan terlihat seperti preman. Mereka masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk dan belum izin pada tuan rumah, sungguh perilaku yang tidak sopan. Liliana pun tak ragu untuk menunjukkan ketidaksenangannya ketika melihat tamu tak diundang itu.


"Maaf, kalian siapa saja mau apa kalian kesini?" Pertanyaan ketus terlontar dari Liliana, tatapannya juga tajam pada ketiga orang pria itu.


"Wow...kau putrinya Robert? Cantik sekali--" Seorang pria tersenyum genit lalu menyentuh dagu Liliana dan mendongakkan kepalanya. Dengan cepat Liliana menepis tangan pria tersebut.


"Jangan sentuh saya!" Liliana tidak senang.


"Galak sekali kau. Hey cantik, dimana ayahmu?" Tanya seorang pria lainnya pada Liliana.


Seorang pria lainnya melihat tubuh Liliana yang terlihat menggoda baginya. Wajah cantik, rambut merah menyala, kulit putih, hidung mancung, bibir merah tipis. Siapa yang tidak akan tergoda. "Huh... juniorku sudah naik turun saat melihatnya, bagaimana kalau sudah dicicipi?" Seorang pria bertopi menjulurkan lidah saat melihat Liliana.


"Jangan kurang ajar ya!" Liliana marah mendengar ucapan kurang ajar itu.


"Banyak omong kau! Dimana ayahmu, hah?" Pria itu memegang-megang tangan Liliana dengan genitnya.


Pintu kamar terbuka, terlihat Robert sudah berdiri didepan sana. "Liliana, siapkan minum untukku!" Ujar Robert setengah tidak sadar karena habis mabuk semalaman.


"Hai Robert!" Seru seorang pria pada Robert sambil tersenyum menyeringai.


"Ka--kalian kenapa bisa ada disini?!" Kedua mata Robert melebar ketika dia melihat ketiga pria bertubuh dua kali lipat lebih besar darinya itu berada disana.


"Kau mau kemana? Ayo bayar hutangmu sekarang juga! Atau aku akan menjual putrimu ke rumah bordil yang terkenal itu."


"Benar, harganya pasti mahal karena dia cantik dan dia pasti masih perawan." Timpal seorang pria yang memegang erat tangan Liliana.


"Lepas--" Rasanya percuma saja Liliana meronta-ronta, dia tidak bisa melawan ketiga pria kekar yang memegang tubuhnya itu. "A-ayaah...kumohon..."


Robert menelan salivanya. Dia terlihat seperti sedang berpikir. Dia telah sering dipukuli oleh preman-preman suruhan rentenir itu dan dia tidak mau babak belur lagi atau mati karena mereka.


"Baiklah, kalian boleh bawa dia sebagai pelunasan hutangku. Tapi karena putriku berharga dan masih suci, kalian harus membayar ku juga--"


Liliana tercengang mendengar perkataan ayahnya yang dengan mudah menyerahkan dia pada preman-preman suruhan rentenir itu.


Ayah? Apa dia benar-benar ayahku? Hah! Aku tak percaya ini.


"APA? Kau dikasih hati malah minta jantung!"


"Tenang Paul, anak perempuan ini berharga dan kita bisa mendapatkan uang banyak dari madam Morena." bisik seorang pria pada temannya itu.


Paul membenarkan ucapan temanya itu. Akhirnya mereka bernegosiasi dengan Robert, pria itu menerima 500 koin emas dari menjual putrinya. Hutang lunas dan dia dapat uang, sungguh hal ini membuatnya bahagia tapi dia sama sekali tidak peduli dengan perasaan putrinya.

__ADS_1


"AYAH! Ayah tega menjual ku? Seharga 500 koin emas?!" Liliana kecewa pada Robert.


"Sudahlah Lily, kau jangan seperti itu. Kau akan senang dibawa oleh mereka, kau akan dapat banyak uang! Sudah kalian bawa dia saja." Robert malah sibuk dengan uang koin yang baru saja dia dapatkan. "Hihihi, aku kaya."


"Ayo nona, mari kita pergi!" Pria itu tersenyum pada Liliana dan menyeretnya pergi dari sana.


"Tidak mau! Aku tidak MAU pergi dari sini. Lepaskan aku!" Teriak Liliana panik, dia masih melihat ayahnya dengan harapan akan diselamatkan. Namun pria yang dipanggil ayah itu sama sekali tidak peduli padanya.


Karena tangan Liliana yang tak mau diam, akhirnya diikat oleh salah seorang preman dengan tali yang erat. "Eh! Tunggu dulu!" Seru Robert menghentikan Liliana dan ketiga preman itu.


"Ayah..." lirih Liliana.


Robert mendekati Liliana lalu mengambil kalung yang ada dilehernya. Kalung berbentuk hati berwarna merah yang entah darimana asalnya itu.


Kecewa!


Marah!


Sedih!


Itulah yang dirasakan Liliana saat ini karena ayahnya sama sekali tidak peduli padanya malah mengambil kalungnya. "Ayah, kembalikan kalungku!!"


Walaupun aku tak tahu darimana asalnya kalung itu, tapi aku merasa sedih karenanya.


"Ini sepertinya bukan kalungmu, kau pasti mencuri kan? Sudah sana pergi sana!" Robert fokus pada kalung merah yang terlihat terbuat dari berlian itu. "Pasti kalau dijual harganya mahal." Gumam pelan Robert sambil memasukkan kalungnya.


Akhirnya Liliana dibawa ketiga preman itu dengan paksa. Ada beberapa nelayan yang baru pulang disana dan melihat Liliana dibawa orang mereka, namun tak ada satupun dari mereka yang berani menolong Liliana karena takut. Jadi rasanya percuma saja meski gadis itu berteriak sekencang apapun, mereka hanya bisa melihatnya.


Di pulau Gardian tidak ada hukum yang benar-benar berlaku, disana semuanya bebas. Bahkan angka kriminalitas disana cukup tinggi, terutama menimpa kaum perempuan. Maka dari itu, pasukan kerajaan Istvan ditugaskan untuk menumpasnya, terutama rumah bordil madam Morena.


Dalam keadaan takut, Liliana pura-pura pingsan setelah dia di pukul oleh salah satu preman itu. Dia telah dibaringkan disebuah ranjang yang cukup empuk. Disana tercium bau wewangian seperti parfum, obat, alkohol dan lain sebagainya.


"Bagaimana madam? Barangnya bagus kan?"


"Ya, yang ini di poles sedikit... sepertinya cantik." Madam Morena memerhatikan wajah Liliana yang sedang tertidur itu.


"Bukan sepertinya, tapi ini benar-benar cantik." Kata pria itu pada pemilik rumah bordil.


"Apa dia masih perawan?" Tanya Madam Morena sambil menyesap rokoknya.


"Iya bos, dia dijual ayahnya yang suka berjudi!"


"Hem...baiklah aku percaya kalian, 500 koin emas ya?" kata Madam Morena menentukan harga untuk membeli Liliana.


Ketika madam Morena sedang bertransaksi dengan ketiga preman itu. Liliana mendengarkan mereka, ia merasa familiar dengan situasi itu.


Kenapa aku merasa familiar dengan situasi ini? Aku seperti pernah mengalaminya? Tempat itu dan juga ranjang ini sepertinya tidak asing.


...****...

__ADS_1


__ADS_2