
...🍀🍀🍀...
Ruangan itu, adalah sebuah kamar bergaya minimalis dan sederhana. Kamar itu diperkenalkan ibu suri sebagai kamar mendiang Aiden.
"Ini, adalah kamar putraku..." ucapnya dengan nafas yang berat dan mata yang terluka ketika ia melihat ke sekeliling ruangan itu.
Teringat kenangan tentang Aiden di sana, putra satu-satunya yang sangat dia cintai. Kini dia kesepian tanpa ada putranya di sisinya.
Liliana terlihat iba kepada seorang ibu yang ditinggal anaknya itu, walaupun juga Aiden kehilangan nyawanya karena menyelamatkan dirinya dan Max. Tentu, Liliana merasa bersalah dan juga sedih. Baginya Aiden adalah sahabat yang baik.
"Nona Liliana, sebenarnya aku juga mengingat masa lalu." Akui ibu suri.
"Apa?" Liliana tercengang mendengar pengakuan ibu suri.
Ibu suri? Mengingat semua masa lalu?
"Aku tau bahwa Aiden yang melakukan semua ini, dia ikut menambahkan bensin ke dalam api. Ketika kau tiada, Aiden sangat tersiksa dan frustasi. Dia sangat mencintaimu melebihi dirinya sendiri, meskipun jalannya itu salah dengan memisahkan dirimu dan orang yang kau cinta."
Ibu suri bercerita dengan kondisi terisak. Kemudian dia meminta Liliana untuk duduk di sofa yang ada di sana. Ibu suri pun menyerahkan secarik kertas kepada Liliana, kertas itu dibungkus oleh amplop putih dengan label kerajaan Gallahan.
"Apa ini yang mulia?" Liliana melihat amplop itu di tangannya.
"Aiden...surat itu dari Aiden untukmu," ucap ibu suri dengan mata yang masih mengeluarkan kristal bening yang membasahi wajahnya. "Aiden, memintaku untuk memberikannya kepadamu, kalau terjadi sesuatu padanya..."
Sejenak Liliana terdiam memandangi surat yang ada di tangannya itu. "Bukalah," ucap ibu suri sambil menyeka air matanya sendiri.
Gadis itu menganggukan kepala, kemudian dia membuka amplop yang berisi surat itu. Surat yang diberikan Aiden untuknya, mungkin macam wasiat. Liliana mulai fokus membaca apa yang tertulis di sana. Tulisan tangan yang indah, tulisan Aiden.
...Teruntuk Liliana......
...Wanita yang kucintai......
Jika kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku ingin membuat sebuah pengakuan kepadamu, pengakuan yang tidak bisa aku ungkapkan secara langsung.
Aku adalah dalang dibalik semua penderitaanmu dan raja Istvan. Aku melakukan perjanjian dengan iblis Utara, untuk mengorbankan Raja Istvan untuk memutar kembali waktu dan mengutuknya menjadi budak iblis. Aku juga yang telah membuatmu kehilangan ingatan tentang masa lalu kalian. Aku tau apa yang aku lakukan ini adalah sebuah kejahatan, dengan memisahkan cinta kalian berdua. Tapi sama sekali aku tidak merasa menyesal, melakukan semua ini demi cinta. Rasa iri dan dengki telah menguasai jiwaku, hingga aku gelap mata memisahkan Cinta Suci kalian berdua. Ya, itu aku sadari ketika aku merasakan bahwa kalian berdua memang terlahir untuk bersama.
Dan hari ini, rencananya aku akan pergi ke kerajaan Istvan....akan menemuimu untuk menceritakan segalanya. Meminta maaf padamu, bahwa aku bersalah. Mungkin cara ini memang terlampau licik, tapi itu semua kulakukan karena aku mencintaimu. Aku hanya ingin kau bahagia dalam kehidupan ini.
Namun aku sadar, ternyata aku sudah berbuat terlalu jauh. Ingatanmu hilang tapi tidak dengan perasaanmu. Liliana...aku minta maaf, maafkan aku....aku sudah membuatmu berpisah dengan orang yang kau cintai. Aku akan belajar untuk melupakanmu dan melupakan perasaan ini. Karena cintamu bukan untukku....
Liliana...jika suatu saat nanti terjadi sesuatu kepadaku. Aku ingin kau menjaga ibuku, menjadi bagian dari keluargaku, tidak masalah bila kau tidak menjadi pasangan hidupku. Tapi aku ingin kau menjadi adikku, tidak apa-apa kan aku meminta hal ini padamu? Tolong jaga ibuku, hiduplah sebagai anggota keluarga kerajaan Gallahan. Dengan begitu statusmu bisa naik dan kau bisa bersama dengan Raja Istvan. Liliana...ini adalah permintaan terakhirku, kumohon jadilah bagian dari anggota keluargaku. Jangan biarkan ibuku kesepian, karena kehilangan diriku.
Liliana...aku...
Perlahan-lahan air mata jatuh membasahi wajah Liliana, gadis itu tak sanggup lagi membaca kelanjutan suratnya. "Hiks....Aiden...Aiden...."
Gadis itu terisak. Terlepas semua cara licik yang dilakukannya untuk memisahkan Liliana dan Max. Aiden sangat tulus mencintai dirinya, bahkan sampai akhir hayatnya. Aiden masih memikirkan kebahagiaan dirinya. Dia ingin Liliana bahagia, meski cintanya tak kunjung mendapatkan balasan.
__ADS_1
"Kenapa...kenapa cintamu begitu dalam kepadaku? Kenapa Aiden? Hiks...hiks..." Liliana menangis tersedu-sedu sambil memeluk surat itu di dalam dadanya.
Ibu suri juga ikut menangis, lalu mereka pun berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain. Kehilangan Aiden adalah pukulan yang terberat untuk mereka berdua.
"Liliana, apa kau mau mewujudkan pesan terakhir dari putraku?" Tanya ibu suri pada Liliana sambil tersenyum tipis, diiringi isak tangis yang masih ada.
"Saya...saya akan mewujudkan semua keinginan Aiden. Saya janji..."
GREP!
Ibu suri memeluk Liliana lagi. Dia sama sekali tidak memiliki kebencian terhadap Liliana, ataupun menyalahkannya karena Aiden tiada demi menyelamatkan Max dan Liliana. Sama sekali tidak ada perasaan seperti itu, karena bagi ibu suri. Semua yang dilakukan Aiden adalah keputusannya sendiri.
"Yang mulia ibu suri, saya mohon maafkan saya! Saya....saya sudah menyakiti hati Aiden dengan sangat dalam, karena saya Aiden tiada...hiks..." Liliana meminta maaf pada ibu suri.
"Tidak nak, ini bukan kesalahanmu. Ini semua sudah menjadi pilihan Aiden dan sudah menjadi takdirnya. Tidak apa-apa, tidak perlu merasa bersalah karena aku tidak menyalahkanmu."
Setelah itu ibu suri, Liliana dan Erasmus penasehat kerajaan. Membicarakan masalah pesan terakhir Aiden untuk menjadikan Liliana sebagai adiknya. Hari itu juga, melalui berkas-berkas yang telah disetujui. Liliana kini menjadi seorang putri kerajaan dan kelak anaknya nanti akan menjadi penerus kerajaan Gallahan.
CEKLET!
"Putriku, ibu akan menunggumu di istanaku." ucap ibu suri sambil menepuk bahu Liliana.
"Iya yang mulia,"
"Haah....baiklah, kau bicara dulu dengan raja Istvan." Ibu suri dan pelayan setianya pergi ke istana tempat tinggalnya.
"Lily, apa kau baik-baik saja? Apa yang ibu suri katakan padamu? Kau...menangis?" Max melontarkan banyak pertanyaan kepada gadis itu, manakala dia melihat mata merah dan sembab Liliana. Ia takut bahwa Liliana disalahkan atas meninggalnya Raja Aiden.
Wajar bila dia berpikir begitu, tapi Ibu suri tidak melakukan itu. Malah Liliana mendapatkan berkah yang tidak terduga.
"Tenanglah... aku baik-baik saja. Ibu suri juga tidak menyalahkanku, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan yang mulia." Gadis itu tersenyum, tangannya membelai wajah pria itu.
"Lalu kenapa kau menangis? Benarkah dia tidak menyalahkanmu?" Tanya Max cemas.
"Tidak,"
"Mari kita bicara di dalam perjalanan pulang saja!" Max memegang tangan Liliana dengan buru-buru, ia ingin segera kembali ke istananya.
"Maxim, aku tidak bisa kembali..."
"Apa?!" Mata Max terbelalak menatap wanita itu.
"Aku sudah menjadi putri di kerajaan ini," ucap Liliana pada Max.
"Hah? Apa maksudnya? Putri Raja? Lily, Apa kau sedang bercanda?" Tanya Max terheran-heran dengan apa yang diucapkan oleh Liliana.
Akhirnya Liliana menceritakan pada Max tentang surat wasiat Aiden, surat itu mengatakan bahwa dirinya harus menjadi anggota keluarga kerajaan Gallahan. Intinya adalah untuk menjaga Ibu suri dan juga bisa bersama dengan Max.
__ADS_1
Max ternganga, dia tidak percaya bahwa Aiden akan melakukan semua itu. Ternyata cinta Aiden juga sama besarnya sama seperti cintanya kepada Liliana. Max menyesal karena sebelumnya dia sempat mengatakan bahwa cinta Aiden hanyalah sebuah obsesi dan tidak tulus.
Namun kenyataannya terbongkar saat pria itu tiada, bahwa cintanya kepada Liliana memang begitu besar sampai membuat Max iri.
"Kenapa? Kenapa kau sedih?"
"Aku tidak sedih, hanya saja aku tidak menyangka bahwa dia sangat mencintaimu dan sampai membuatku iri."
"Hah? Memangnya kau tidak mencintaiku?"
"Tentu saja aku cinta! Tapi dia sampai mengorbankan nyawanya untuk kita berdua, untuk dirimu. Sungguh, pengorbanan yang membuatku iri." Max menatap wanita itu dengan penuh cinta.
"Bukankah kau mengorbankan dirimu untukku, demi cintamu padaku.... kau bahkan rela memutar ulang waktu, menderita karena segel iblis itu, meski nyawamu adalah taruhannya. Kau juga telah berkorban banyak untukku yang mungkin aku tak bisa melakukannya sebesar dirimu."
Max dan Liliana berpelukan, setelah cinta mereka akan segera bersatu tanpa ada halangan lain lagi. Mereka sepakat untuk berpisah lebih dulu dan setelahnya Max akan melamar Liliana.
"Aku akan kembali ke kerajaan ini dan istana ini, untuk melamarmu menjadi ratuku. Tunggu aku..." ucap Max yang lalu mengecup kening Liliana penuh kasih.
"Aku akan menunggumu," Liliana balas memeluk dan mencium bibir Max sekilas. "Aku mencintaimu," lirihnya lembut.
"Aku lebih mencintaimu," terakhir kali, Max memberikan pelukan kepada Liliana.
Max kembali bersama rombongannya ke kerajaan Istvan. Disana Max langsung mengadili Alejandro yang ternyata adalah dalang dibalik munculnya iblis yang menyerang kerajaan Istvan.
"Yang mulia, saya tidak bersalah!!" Teriak Alejandro yang kini sudah berada di hadapan Max, dalam keadaan duduk berlutut dan tangan yang terikat.
Dia bersama para pengikutnya, kini seperti tahanan. Ya, memang mereka adalah tahanan.
"Kau... masih berani berkelit? Nyawa manusia berjatuhan karena ulahmu ini! Nyawa rakyatku, di hari penobatanku sebagai seorang raja, beraninya kau mengacaukannya!" Teriak Max penuh amarah.
"Yang mulia ibu suri, memasuki aula!" Ucap seorang pengawal dengan suara yang lantang, mengumumkan kedatangan Ratu Freya.
Alejandro melirik ke arah kakaknya itu, terlihat wajahnya sedikit lega. 'Kakak, dia pasti akan menolongku'
Ratu sempat lirik ke arah Alejandro dengan sinis. 'Dasar tidak berguna,'
"Hormat saya pada Baginda Raja."
"Ibu suri, ada apa kau kemari? Apa kau tidak lihat apa yang sedang aku lakukan di sini?" Tanya Max yang jelas-jelas tak senang dengan kehadirannya. Karena ia tau bahwa ibu tirinya itu adalah dalang dibalik semuanya.
"Yang mulia, mohon yang mulia bersikap lebih bijaksana. Adik saya tidak bersalah, malah dia membantu yang mulia untuk mengadakan acara penobatan ini." Freya masih membela Alejandro.
Max menatap Freya dengan sinis.
...*****...
__ADS_1