
...🍁🍁🍁...
"Maafkan saya yang mulia putri, apakah anda memanggil saya?" tanya Eugene sambil menundukkan kepalanya.
Laura melihat ke arah dayangnya, "Annie, kembalilah duluan."
"Tapi yang mulia, Baginda Ratu-" Annie menunduk.
"Dia tidak akan tau kalau kau tidak bicara apa-apa pada ibuku," ucap Laura dengan tegas. Dia meminta Anie pergi dari sana.
"Baiklah yang mulia, saya mohon cepatlah kembali." ucap Annie patuh.
Annie berjalan meninggalkan Laura dan Eugene di lorong. Eugene masih menundukkan kepalanya didepan wanita itu.
"Angkatlah kepalamu Eugene," ucap Laura tanpa memanggil Eugene dengan awalan sir didepannya. Menggambarkan bahwa Laura cukup dekat untuk memanggil Eugene dengan namanya secara langsung.
"Anda tidak bisa memanggil saya seperti itu yang mulia," ucap Eugene sambil mengangkat sedikit kepalanya. Dia melihat wajah Laura yang sedih.
Aku harus bagaimana, aku tidak boleh seperti ini pada tuan putri.
"Eugene.. kumohon kau jangan begini juga padaku? Ketika semua orang terdekatku menjauhiku...aku harap kau tidak begitu!" Laura menangis, dia terlihat sensitif tidak seperti biasanya. Ini karena ibunya yang selalu menekannya.
"Memang saya seperti apa yang mulia?" tanya Eugene sopan dan formal.
"Kau menjauhiku akhir-akhir ini, padahal sebelumnya kita sangat dekat. Sekarang kau bahkan tidak mau menatapku," ucap Laura sedih karena Eugene yang cuek padanya.
Sebelumnya Laura dan Eugene memang sangat dekat, mereka dekat sedari kecil. Menjadi teman bermain, mengobrol dengan akrab. Eugene sebelumnya adalah kstaria pengawal Laura, namun Ratu memintanya menjadi kstaria Max. Dia merasa bahwa anaknya terlalu dekat dengan ksatria pengawalnya itu.
Ratu Freya bahkan mengirim Eugene ke Medan perang bersama Max selama bertahun-tahu. Dan benar saja, ketika keduanya mulai dewasa dan kembali bertemu setelah Eugene pulang dari perang Perasaan Laura dan Eugene tumbuh semakin kuat, menjadi perasaan yang lebih dari teman.
"Mana berani saya menatap mata yang mulia, saya hanya seorang bawahan rendahan saja," ucap Eugene menatap ke arah lain.
Aku tidak sanggup menatap matamu yang memandangiku seperti itu tuan putri. Aku takut hatiku akan melemah lagi.
Sikap Eugene yang dingin melukai hati Laura.
"Eugene, katakan padaku! Apakah ibuku melakukan sesuatu padamu?" tanya Laura menebak kalau mungkin sikap Eugene yang berubah padanya adalah karena Ratu Freya.
"Hamba tidak mengerti apa yang tuan putri bicarakan," ucap Eugene dengan suara datar.
"Sikapmu ini sekarang.. ada hubungannya dengan ibuku kan?"
"Tidak yang mulia," jawab Eugene singkat.
"Eugene, kau tau kan aku menyukaimu! Kenapa kau malah bersikap seperti ini? Kau menganggap ku seperti orang asing,"
__ADS_1
"Yang mulia, saya dan tuan putri memang orang asing. Dan saya tidak menyukai yang mulia, saya mohon maaf karena saya sudah menolak perasaan yang mulia," Eugene menundukkan kepalanya lagi, seraya memohon maaf. "Saya hanyalah seorang pengawal dan yang mulia adalah seorang putri, tolong jaga martabat anda yang mulia,"
Diantara kita tidak mungkin akan terjadi hubungan seperti itu yang mulia. Perasaan ku ini hanyalah pungguk yang merindukan rembulan. Batin Eugene sedih karena harus mengatakan kata-kata yang bertolak belakang dengan isi hatinya.
"Baik kalau kau memang mau bersikap seperti ini! Maka berdirilah disini sambil memberi hormat padaku!"
"Apa maksud yang mulia?" Eugene tercekat mendengar suara Laura yang tegas.
"Aku, putri kerjaan ini...menghukum mu karena sudah bersikap tidak sopan padaku!" Ujar Laura kesal.
"Kapan saya bersikap tidak sopan kepada yang mulia?" tanya Eugene terpana.
"Kau tidak ingat, dua hari yang lalu kau memelukku! Kau menyentuh tubuh seorang putri kerajaan, kau melanggar hukum!" Laura tersenyum sinis. Dengan air mata yang mengalir.
Eugene kenapa kau juga meninggalkan aku? Aku sekarang tidak punya siapapun di istana ini selain dirimu.
"Anda benar yang mulia, maka saya siap untuk menerima hukuman," ucap Eugene pasrah.
"Berdiri disini dengan posisi hormat, sebelum aku menerima hormatmu. Jangan pernah duduk ataupun bersandar ke tembok, berdiri disini sampai mati!" Teriak Laura kesal hatinya, karena Eugene terus menolak dirinya dan bersikap dingin padahal pria itu sudah tau bagaimana isi hatinya.
Eugene langsung berdiri tegap, dia meletakkan tangan kanannya dengan posisi hormat di sudut kening. Selayaknya seorang kstaria yang sedang memberikan hormat.
Laura pergi meninggalkan Eugene yang berdiri tegap disana.
Laura menghentikan langkahnya mendengar suara lembut Eugene. "Kau tidak usah peduli padaku, dasar kau lain di mulut lain di hati!" Seru Laura kesal, tanpa menoleh ke arah Eugene.
Eugene menatap wanita yang dicintainya dari belakang dengan tatapan penuh kasih sayang dan dilema.
"Kenapa ketua tidak katakan saja perasaan ketua pada tuan putri?" tanya Adrian yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Sir Adrian? Kenapa kau ada disini dan mau apa kau kesini?" tanya Eugene dengan mata melebar, ksatria yang harusnya menjaga Liliana berada di depannya.
"Yang mulia memerintahkan ku untuk datang kemari. Ngomong-ngomong, ketua suka pada tuan putri kan?" Adrian menatap Eugene dengan penasaran.
"Lebih baik kau cepat temui yang mulia," ucap Eugene mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya benar ya. Dari pembicaraan kalian yang dalam, sepertinya tuan putri menyukai ketua dan ketua juga menyukainya." Goda Adrian pada Eugene.
"Sir Adrian, cepatlah pergi!" Seru Eugene kesal dengan Adrian yang terus penasaran dengannya.
Adrian tertawa melihat wajah Eugene yang tersipu malu. "Oh ya ketua, katanya besok entah saat hari pesta..putra mahkota kerajaan Lostier akan datang kemari. Kau tau untuk apa putra mahkota itu kemari?"
"Oh, aku tidak ingin tau." ucap Eugene cuek.
"Yakin kau tidak mau tau? Ini ada hubungannya dengan putri," ucap Adrian memanasi.
__ADS_1
Eugene langsung menaruh menatap Adrian dengan penasaran. Adrian tersenyum lalu dia berbisik pad pria yang masih berdiri tegak itu, "Putra mahkota kerajaan itu akan melamar putri Laura saat pesta dan Ratu Freya sudah menyetujuinya lebih dulu,"
Eugene tersentak kaget mendengarnya, tangan yang tadinya sedang hormat langsung terkulai lemas ke bawah. Hatinya berdenyut sakit mendengar berita tidak menyenangkan itu.
"Bagaimana? Apa beritanya bagus?" Adrian menggoda lagi Eugene.
Eugene langsung memukul tubuhnya dengan kesal.
...*****...
2 hari telah berlalu..
Hari itu adalah hari dimana dilangsungkan pesta di istana. Pesta untuk merayakan keberhasilan Max dalam berperang dan menumpas perdagangan manusia. Liliana terlihat bingung apakah dia harus datang ke istana atau tidak karena dia sama sekali tidak kenal dengan putra mahkota.
"Nona, kenapa anda masih belum membersihkan diri? Saya sudah siapkan gaun untuk nona pergi ke pesta,"
"Daisy...sepertinya aku tidak pergi,"
"Kenapa nona? Anda sudah diundang oleh yang mulia putra mahkota, tentu anda harus datang!" kata Daisy heran.
"Aku bahkan tidak kenal dengannya,"jawab Liliana malas. Gadis itu malah memikirkan hal yang lain.
Kenapa Eugene tidak menghubungiku sejak kencan pertama kita? Apa dia tidak serius kepadaku? Ahhh.. seharusnya aku jangan pakai hati.
"Tapi kan nona Eve, menulis surat untuk nona.. agar nona menemaninya di pesta itu," ucap Daisy membujuk.
"Baiklah, kasihan juga dia. Aku harus menemani temanku satu-satunya," ucap Liliana sambil tersenyum.
Daisy membantu Liliana bersiap-siap pergi ke pesta, Duke Geraldine juga akan datang ke pesta itu sambil melihat hasil pemeriksaan jenazah Adaire.
Sementara itu di istana, Max juga sudah bersiap dengan baju kebesarannya. Wajahnya penuh tekad, bercampur dengan resah.
Hari ini dia akan tau siapa aku sebenarnya. Ya Tuhan, tolonglah aku.. agar dia tidak kecewa kepadaku.
Tok, tok, tok!
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, "Siapa?" tanya Max pada orang itu.
"Yang mulia, Baginda raja ingin bertemu yang mulia.."
"Sampaikan padanya aku segera datang," jawab Max memasang wajah serius seperti akan pergi berperang.
Hatinya berdebar-debar menantikan hari dimana dia akan mengatakan kebenaran dan dimana Liliana akan tau identitasnya yang sebenarnya.
...----****----...
__ADS_1