Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 72. Hubungan berakhir


__ADS_3

Pertahanan hati Liliana mulai goyah, begitu melihat bulir air mata yang jatuh dari mata Adara. Padahal gadis itu sudah banyak membuatnya menderita, bahkan sampai akhir hayat. Tapi kenapa hati Liliana masih saja pilih melihat sosok adik tirinya yang licik itu?


Apa karena dia punya hati? Atau dia mempunyai rasa sayang untuk adik tirinya itu? Benar, Liliana alias Adaire selalu menyayangi adik tirinya dengan tulus. Kasih sayang yang dibalut kebodohan dan penipuan oleh Adara.


Darah tidak bisa menipu, darah lebih kental dari air. Begitulah perasaan Liliana pada Adara saat ini, makanya dia merasa iba melihat Adara bersedih.


Tidak Liliana! Kau tidak boleh goyah, tidak boleh...Adara dan Arsen harus mendapatkan hukuman yang setimpal agar mereka jera.


Liliana melangkah pergi, namun Adara masih terus menggenggam rok Liliana dengan erat seraya berlutut padanya. Adara menangis hingga tersaruk-saruk di tanah kotor penjara itu.


"Hiks.. kakak, aku mohon.. selamatkan suamiku, suamiku tidak boleh mati.. bagaimana dengan anakku nantinya? Apa anakku akan hidup tanpa ayah?" tanya Adara dengan memelas menatap Liliana.


Arsen tidak boleh mati, Arsen harus baik-baik saja.


Gadis berambut merah itu menoleh ke arah Adara, dia melihat Adara masih berlutut padanya. Harga diri yang tinggi itu seakan musnah dan semuanya demi Arsen. Karena Adara sangat mencintai Arsen.


"Kasih sayangmu pada suamimu, sungguh membuatku iri," Liliana tersenyum sinis, dengan tatapan mata perih dia menatap sang adik.


"Apa kakak cemburu padaku? Kalau kakak ingin Arsen kembali pada kakak, aku baik-baik saja. Silahkan kakak bersamanya, tapi tolong selamatkan nyawa ayah dari bayiku kak!" pinta Adara seraya mengatupkan kedua tangannya, diiringi air mata tulus untuk sang suami yang akan di eksekusi.


"Hahahaha.. Adara, adikku...kau benar-benar lucu. Siapa juga yang masih mengharapkan si bajingan itu? Rasaku padanya sudah mati sejak dia berselingkuh dariku dengan dirimu. Aku tidak mencintai sampah itu lagi! Sebaliknya aku cemburu pada kasih sayangmu kepadanya!" Liliana tertawa getir, dia mengutarakan isi hatinya.


Adara terpana, dia menatap Liliana dengan kening berkerut dan alis yang menurun ke bawah. "Apa maksud kakak? Kakak cemburu pada kasih sayangku untuknya?" tanya Adara tidak mengerti apa maksud Liliana.


"Ya, aku cemburu karena kau lebih mencintai suamimu dari pada aku kakakmu sendiri.." ucap Liliana dengan hati yang kecewa, dia tersenyum pahit.


"Kakak..." Adara menatap Liliana dengan mata berkaca-kaca.


"Adara, apa kau pernah menyayangiku? Menyayangi kakakmu, Adaire Charise Geraldine yang sangat tulus menyayangimu? Apa kau pernah?!" suara Liliana membentak ketika mengutarakan kekesalan dihatinya. Dia mengepalkan tangan dengan geram.


Adara sangat mencintai Arsen melebihi hidupnya sendiri, tapi kenapa dia kejam padaku kakaknya sendiri? Padahal aku menyayanginya setulus hati, aku berikan semua milik ku untuknya. Tapi dia berikan semua hidupnya pada orang asing yang hanya terikat dengan pernikahan!

__ADS_1


Adara tidak bisa menjawabnya, bibirnya kaku saat mendengar pertanyaan itu dari Liliana/Adaire.


"Kenapa kau diam saja? Jawablah Adara! Apa kau tidak pernah menyayangiku? Orang yang jelas-jelas memiliki hubungan darah denganmu, apa kau tidak sayang?" tanya Liliana. Akhirnya air mata gadis itu mengalir membasahi pipinya. Entah kenapa dia menjadi begitu emosional.


Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka dibalik tembok didekat tangga. Wajah prang itu tertutup oleh gelapnya ruangan penjara bawah tanah.


"Aku tidak...aku tidak menyayangimu kak Adaire!" teriak Adara sambil menangis tanpa suara.


"Baiklah, aku juga tidak mengharapkan jawaban yang bagus darimu. Adara, mulai hari ini dan seterusnya.. aku tidak ingin mempunyai hubungan lagi denganmu! Aku Adaire Charise Geraldine, bukanlah kakakmu lagi! Hubungan kita sudah berakhir...!" Liliana menegaskan hubungannya dan Adara sudah berakhir.


"Kakak.."


Liliana menepis tangan Adara yang memegang rok bajunya. "Selamat tinggal Adara..." ucap Liliana dengan nada sarkas.


Dia meninggalkan Adara yang sedang menangis sendirian disana. Kemudian Liliana melangkah pergi menuju ke penjara tempat Arsen ditahan.


Adara, kenapa sampai akhir pun kau tetap seperti ini?


Tak lama setelah Liliana pergi meninggalkan Adara. Duke Geraldine muncul dan menghampiri Adara, dibawah matanya berlinang air mata.


"Aa..ayah..." lirih gadis itu sambil menyeka air matanya.


Apa ayah mendengar semuanya?


"Adara, apa benar Liliana adalah Adaire, kakakmu?" tanya Duke Geraldine dengan mata berkaca-kaca, dia menelan salivanya sendiri.


Dia menanyakan hal yang tidak masuk akal tentang putrinya yang jenazahnya susah di makamkan. Itu karena dia mendengar obrolan Adara dan Liliana.


Adara tercekat mendengar pertanyaan dari Duke Geraldine, bibirnya gemetar. "Baiklah Adara, kalau kau tidak bisa menjawabnya. Ayah akan katakan sesuatu padamu.." Duke Geraldine menatap tajam ke arah putrinya.


Adara menatap sang ayah dengan memelas, dia sedih memikirkan suaminya yang akan dihukum pancung.

__ADS_1


...*****...


Kini giliran Liliana menemui Arsen, dia melihat keadaan mantan suaminya di masa lalu, jauh lebih mengenaskan daripada Adara. Arsen diikat oleh rantai, tubuhnya berdarah-darah. Bibirnya juga terlihat bengkak melepuh. Di dalam penjara itu dia disiksa tanpa henti sampai dia mengaku. Bahkan beberapa lukanya ada yang sudah busuk, bernanah dan tampak menjijikan.


Salah satu pria tertampan di kerajaan itu, kini sudah menjadi pria yang paling buruk.


Bahkan setelah disiksa, Arsen tidak dibiarkan duduk. Dia dibiarkan berdiri sepanjang waktu dengan tubuh yang di rantai erat.


"Liliana, apa kau kesini untuk melihat keadaanku? Kau cemas padaku?" tanya Arsen sambil mendongakkan kepalanya ke arah Liliana. Dia menatap gadis itu seolah ada cahaya dihadapannya.


Dia pasti ingin menyelamatkanku.. dia pasti cemas padaku.


Liliana menatap Arsen dengan pandangan sinis, terlihat seringai di bibirnya. Dia mendelik tajam, "Hahaha.. kau berpikir apa Arsen? Apa kau sedang bermimpi? Bangunlah! Kau masih berkhayal saja.. ini sudah siang," ucap Liliana dengan suara ketusnya.


"Liliana, kenapa bicaramu seperti itu?" tanya Arsen bingung. Bibirnya yang bengkak itu bicara dengan susah payah.


"Kenapa? Lalu harus aku harus bicara apa? Aku senang karena akhirnya kau berada didalam penjara dan kau akan di eksekusi besok. Jadi aku kemari untuk mengucapkan selamat!" Liliana tersenyum sambil bertepuk tangan.


Arsen terperangah karena Liliana mengejeknya, "A-apa? Kenapa kau berubah seperti ini? Bukankah kau menyukaiku? Kenapa kau malah begini..."


"Menyukaimu? Ya aku memang pernah menyukaimu saat aku menjadi bodoh dulu," Liliana tersenyum getir.


"Dulu?" Arsen mengerutkan keningnya.


"Benar, dulu.. aku pernah sangat mencintaimu sehingga aku memberikan semuanya untukmu Arsen."


"Apa maksudmu?" Arsen tidak paham apa yang dikatakan oleh Liliana.


Liliana tersenyum sinis, dia melempar dua buah gelang rajutan pada wajah Arsen. "Tampaknya kau belum mencerna dengan baik apa yang aku katakan! Lihat saja gelang itu, lalu kau akan paham.." ucap Liliana sambil mendelik sinis.


Arsen menatap gelang yang terjatuh dibawah kakinya, dia tak bisa mengambil gelang itu karena tangan dan kakinya terikat rantai. Dia memandangi gelang itu, kemudian termenung.

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2