Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 122. Kembali ke kota


__ADS_3

Max merasakan ada hal yang buruk sedang terjadi di istana. Dia bisa melihat bahwa Lucifer dan pasukan iblisnya sedang menghancurkan negerinya.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang. Tapi orang-orang bagaimana?" Tanya Liliana bingung.


"Aku melihat keadaan di pusat kota sedang kacau. Kita tidak bisa membawa mereka dan membiarkan mereka berada dalam bahaya. Jika persediaan makanan disini cukup untuk mereka, maka biarkan mereka tinggal sementara disini. Keadaan kota tidak aman, Lily.. sangat tidak aman." Kata Max dengan kening berkerut dan alis terangkat. Dia melihat keadaan di kota lewat penglihatannya.


Max bertanya-tanya dalam hatinya. Mengapa dia bisa mendapatkan penglihatan itu. Entah kenapa dirinya merasa terhubung dengan Lucifer.


"Baiklah, aku akan beritahu mereka dan sekalian mengecek persediaan makanan. Kau tunggulah disini," ucap Liliana paham apa maksud suaminya.


"Lily, tunggu! Apa kau percaya padaku? Apa kau percaya aku bisa melihat itu semua? Kau percaya bahwa aku bisa melihat apa yang dilihat raja iblis itu?" Max memegang tangan istrinya dengan gelisah.


"Yang mulia, aku akan selalu percaya padamu. Masalah Lucifer.. dia pernah mengatakan sesuatu yang aneh padaku."


"Apa itu?"


"Dia memanggilmu saudara," jawab Liliana sambil menatap tajam ke arah suaminya.


Max tercekat mendengarnya, dia terdiam. Kemudian Liliana pergi meninggalkan suaminya di ruangan itu. Dia memberitahu semua orang untuk bersembunyi dulu sementara waktu di dalam gereja.


"Yang mulia, jika kami bersembunyi disini. Lalu bagaimana dengan yang mulia dan yang mulia putra mahkota?"


"Aku dan suamiku akan kembali ke pusat kota, kerajaan berada dalam bahaya." Jelas Liliana singkat.


"Jika kerajaan berada dalam bahaya, lalu kenapa yang mulia putri mahkota tidak mengizinkan kami untuk ikut bersama kalian?" Tanya seorang wanita paruh baya pada Liliana.


"Justru karena itulah, aku dan suamiku tidak bisa membawa kalian pergi untuk sekarang. Bukankah keadaan disana sedang gawat? Sedangkan disini lebih aman? Jika kalian ikut bersama kami.. kami takut keselamatan kalian menjadi taruhannya."


Setelah mendengar penjelasan dari Liliana, akhirnya warga didesa itu paham apa maksudnya. Bahwa Liliana dan Max melarang mereka pergi untuk keselamatan mereka juga.


"Sir Farbas, sir Theron, apa kalian sudah mengecek persediaan makanan disini cukup untuk satu Minggu?" tanya Liliana pada Keuda petugas desa itu.


"Izin menjawab yang mulia, cukup." jawab Farbas sambil menundukkan kepalanya.


Liliana menghela nafas lega, "Syukurlah... aku dan yang mulia putra mahkota akan menjemput kalian satu Minggu kemudian atau secepatnya setelah badai ini berakhir."


"Baik yang mulia,"

__ADS_1


"Selama itu, tolong kalian jaga diri kalian baik-baik. Jaga juga warga desa yang lainnya, aku percaya bahwa kalian bisa melakukannya." Liliana tersenyum ramah dan memiliki keyakinan pada kedua petugas itu.


Setelah memastikan semua keadaan sudah baik-baik saja disana. Max dan Liliana berencana pergi ke kerajaan Istvan dini hari itu dan saat itu juga. "Apa kau yakin...sudah bisa menggunakan teleportasimu, yang mulia?" tanya Liliana sambil memegang tangan suaminya.


"Aku sudah bisa. Lily, pegang tanganku erat-erat." Kata Max yakin.


"Ya, suamiku." Sahutnya.


Lily dan Max saling berpegangan tangan, tak lama kemudian sinar putih membuat mereka berdua menghilang dalam sekejap mata. Para warga desa melihat secara langsung kekuatan Max.


Mereka sangat bangga dan kagum pada Max yang memiliki kekuatan sihir dan ketampanan yang luar biasa. Dia sangat cocok menjadi calon Raja negeri ini, Raja yang kuat dan memliki jiwa kepemimpinan.


Beberapa menit kemudian, Max dan Liliana sampai di tengah kota kerajaan Istvan. Disana mereka melihat iblis dengan bentuk yang berbeda-beda tampan menyeramkan itu sedang mengarang warga dan prajurit kerajaan.


Max dan Liliana berada ditengah peperangan itu. Manusia melawan iblis!


"Arrghhhhhhhhhh...roaahhhh.."


"Yang mulia, dibelakangmu!" Ucap Liliana pada suaminya, saat dia melihat sesosok iblis berwujud harimau berada dibelakangnya.


Hanya dengan sekali tebas, Max melumpuhkan iblis itu. Darahnya terciprat kemana-mana. Dengan sihir ditangannya, dia membakar habis iblis itu dengan api.


Suara pria memanggil nama Liliana dengan jelas dan itu adalah tuan Duke. "Ayah!" Wanita itu melihat ke arah sang ayah dengan perasaan lega.


Duke Geraldine menghampiri Liliana, dia meminta agar Liliana pergi ke tempat yang aman bersamanya. "Lily, ikut ayah.. mari kita pergi ke tempat yang aman."


"Maafkan aku ayah, sudah tugasku berada disamping yang mulia. Aku akan berada disini , bersama dengannya." Liliana enggan meninggalkan suaminya.


Mana bisa aku membiarkanmu bertarung seorang diri.


"Lily.. tapi.." Duke Geraldine tidak bisa membantah Liliana karena dia bingung dengan posisi Max sebagai suami anaknya.


"Putri mahkota, pergilah dari sini!"


"Yang mulia, aku tidak-"


Max memotong ucapan istrinya, "Liliana Eissa Istvan, aku bicara padamu sebagai putra mahkota kerajaan ini. Aku perintahkan padamu untuk pergi dari sini dan mencari tempat yang aman."

__ADS_1


"Hah? Apa kau sedang menyuruhku untuk lari dan bersembunyi?" Liliana kesal karena Max selalu menyuruhnya untuk pergi setiap ada masalah.


"Lily, aku mohon.. apa ini waktunya kita untuk berdebat?"


Max benar, saat ini bukan waktu mereka untuk berdebat karena bahaya berada didepan mata. Akhirnya dengan terpaksa, Liliana menurut pada perintah sang suami.


"Aku akan pergi, tapi kau harus harus berjanji padaku. Kau akan baik-baik saja!" Liliana menarik baju suaminya sambil mengancamnya.


"Kau tau aku tidak bisa mati sampai kau yang memintaku untuk mati! Kau lah hidupku!" Max tersenyum pada istrinya. "Kalau aku mati, maka kau juga..kita sudah terhubung satu sama lain."


Apa yang dikatakan Max benar, kami sudah terhubung oleh janji darah dan janji suci pernikahan. Jika salah satu dari kami terluka, maka yang satunya lagi juga akan merasakan hal yang sama.


"Itu benar dan kau harus menepati janjimu! Aku akan menunggumu! Always..." Liliana mengecup pipi suaminya sebelum pergi.


Aku akan kembali Lily. batin Max menjawab ucapan Liliana.


"Yang mulia jangan khawatir, saya akan segera kembali." ucap Duke Geraldine pada menantunya.


"Baik, ayah mertua." ucap Max sambil tersenyum.


Duke Geraldine membawa anaknya pergi ke tempat yang aman, jauh dari iblis itu. Sementara Max sibuk bertarung dengan pegang dan sihirnya. Hanya dalam satu atau dua kali serangan, iblis itu berhasil musnah ditangan Max.


Berbeda jika prajurit atau manusia biasa yang melakukannya. Mereka tidak bisa membunuh iblis itu, hanya bisa menyerang dan melumpuhkan saja. Bahkan banyak beberapa dari mereka yang terbunuh oleh iblis.


Max menghabisi iblis itu dengan membabi buta, bersama Duke Geraldine dan Adrian. Eugene tidak ikut bertarung karena dia masih belum sadarkan diri karena panah beracun.


"Tebas leher dan bakar! Kalian paham?" ucap Adrian pada para prajurit disana.


"Baik sir!" jawab para prajurit itu patuh.


Ketika Max sedang sibuk menyerang iblis, tiba-tiba saja Lucifer datang kehadapannya dengan membawa Raja. Lucifer melempar Raja ke tanah dengan keras.


"Manusia memang tidak berguna...walau sudah tau akan kalah, tapi masih saja sombong ingin melawan yang kuat. Ckckck.." dia tersenyum menyeringai, meremehkan raja negri itu yang terlihat lemah didepannya.


"Kau...jadi kau benar-benar Raja iblis?" Max mendongakkan kepalanya pada Lucifer.


"Ya, ini aku. Adikku..."

__ADS_1


Adik??!


...----****----...


__ADS_2