
...🍀🍀🍀...
Matanya melebar sempurna, ketika ia berhadapan dengan pria itu. Pria yang mencuri ciuman pertamanya dengan panas. Kini mereka berhadapan, yang satunya terkejut yang satunya lagi malah tersenyum senang.
"Ka-kau...mengapa kau ada disini? Dasar mesum!" Pekik Liliana dengan bibirnya yang mengerucut dan mata tajamnya pada Max.
Apa dia benar-benar putra mahkota atau hanya berpura-pura saja?
Rupanya gadis itu masih menolak untuk percaya bahwa Max adalah seorang calon raja.
"Pertanyaan yang bodoh, tentu saja aku ada disini. Ini kan kamarku," Max menyentuh kening Liliana dengan satu jari telunjuknya.
Lily sangat menggemaskan, sumpah demi tuhan. Sudah lama aku tidak berdekatan dengannya seperti ini.
Bahagia, itulah yang menggambarkan perasaan Max saat ini. Ketika dia bisa berdekatan lagi dengan Liliana. Dia rindu dengan masa-masa saat mereka bersama dahulu. Dan dia ingin bersama dengan Liliana lagi seperti dahulu.
"Bohong! Ini bukan kamarmu, ini kamarnya putra mahkota! Beraninya kau yang seorang pengawal biasa, masuk ke dalam sini dan mandi di bak mandinya? Apa kau tidak takut mati??"
"PFut...." Max menutup mulutnya sambil menahan tawa. Padahal wajah Liliana sangat serius dan dia panik saat itu.
"Kenapa tertawa? Hey, aku serius! Nanti kau akan di hukum berat kalau ketahuan bersikap kurang ajar seperti ini, apa kau tidak takut?"
Entah polos atau bodoh, bagi Max sosok wanita bernama Liliana itu sangat menggemaskan. Dan terkadang dalam pikirannya, dia bertanya-tanya apakah dia akan hidup bahagia bersama Liliana dan anak mereka yang saat itu masih berada di dalam kandungannya? Pastilah tidak akan ada pengulangan waktu seperti ini. Namun pastinya juga, Max sudah bahagia bersama Liliana dan anak mereka nantinya.
"Iya benar, aku memang sangat takut! Jadi--"
"Kyaaakk!!" Liliana terkejut bukan main, saat Max menarik tangannya hingga tubuhnya masuk ke dalam bak mandi.
Dan basahlah semua baju dan tubuhnya itu karena ulah Max. "Hey! Apa yang kau lakukan? Aku jadi basah semua, kan!" Gerutunya kesal.
"Aku tidak mau dihukum sendiri oleh yang mulia putra mahkota, jadi kau juga harus mendapat hukuman yang sama denganku."
Liliana menatap tajam pada pria itu, dia menaikkan alisnya. 'Oh, jadi benar kalau dia bukan putra mahkota kerajaan ini? Aku kira sungguhan, benar-benar membuatku takut saja!'
Gadis itu memegang dadanya dan menghela nafas lega. Max semakin ingin menggoda Liliana, lalu dia pun melancarkan aksinya itu. Max mencipratkan air pada Liliana, dengan maksud mengajaknya main air.
"Hey! Apa yang kau lakukan? Cari mati, ya?!" Gadis itu tentu tak mau kalah, dia pun membalas Max dengan menciprat cipratkan air ke wajah tampannya itu.
"Hahaha..." Max tergelak tawa melihat Liliana jatuh dengan posisi terduduk dan pantat yang dibawah. Setengah tubuhnya sudah berada didalam air.
Wanita itu menatap Max dengan kesal, bibirnya memanyun ke bawah.
"Jangan tertawa, aku belum selesai denganmu!" Liliana kembali bangkit, ia membalas Max dengan berapi-api. Seakan lupa di berada dimana, dia bermain dengan Max sambil tertawa-tawa di dalam bak mandi itu.
Beruntungnya tidak ada yang mendengar mereka berdua karena ruangan yang kedap suara dan Max juga memerintahkan semua orang untuk pergi dari sana meninggalkan dia berdua dengan Liliana.
"Sudah...cukup, aku menyerah...sudah..." Liliana tidak tahan lagi, dia lelah karena Max terus menggelitiknya.
"Apa? Kenapa kau menyerah semudah ini? Tapi...kau selalu saja begitu!" Kata Max yang lalu duduk disamping Liliana diatas tiang bak mandi.
Sekujur tubuh mereka bahasa kuyup, bermandikan air dan keringat. Kemudian tanpa sadar Liliana menatap Max dengan tatapan yang aneh. "Liliana?"
"Kau selalu saja mengatakan hal-hal yang aneh, seolah kau sudah pernah bertemu denganku sebelumnya." Ucapnya begitu saja.
"Hem...kita pernah bertemu dalam mimpi." Max tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
"Ughhhh...." Tiba-tiba saja wanita itu memegang kepalanya.
Sontak saja Max dibuat panik olehnya. "Lily, kau tidak apa-apa? Liliana..."
Sakit sekali....sakit....
#FLASHBACK
"Lily, kemarilah!" ajak Max yang sudah masuk ke dalam bak mandi. Dia menatap wanita cantik yang mengenakan gaun tidur tipis dengan renda yang menunjukkan lekuk tubuhnya itu.
Wanita itu duduk di kursi tepat berada didekat kamar mandi sambil membaca buku.
"Yang mulia, kau mandilah sendiri. Aku tidak tertarik untuk saat ini. Besok aku harus datang ke acara amal dan sekarang aku sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen untuk besok. Jadi jangan ganggu aku!"
"Ish....katanya kau mau menemaniku, tapi kau malah berada disana?" Sungut pria itu sambil melangkah masuk ke dalam bak mandi yang sudah berisi air hangat.
"Yang mulia, aku kan sedang menemanimu. Buktinya aku berada disini," ucap Liliana, dengan mata yang fokus pada dokumen.
"Iya iya...ragamu memang disini, tapi hatimu tidak disini. Ah...sudahlah," gerutu Max sebal pada istrinya yang hanya fokus pada dokumen daripada dirinya.
Liliana terperanjat, dia pun meninggalkan semua dokumennya diatas meja. Lalu berjalan ke arah suaminya. "Sayang, apa kau marah?"
"Hemp!" Max memalingkan wajahnya, sangat gemas bagi yang melihatnya.
"Maxim...besok aku akan berikan pelayanan untukmu, tapi untuk sekarang tolong biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Tolong--"
Dengan tidak sabaran, Max menarik tubuh istrinya hingga di jatuh ke dalam kamar mandi. Max selalu kesal jika sudah mendengar istrinya mengomel masalah pekerjaannya.
Byur!!
"Yang mulia, kau ini ya..."
Akhirnya Liliana basah kuyup, gaun tidur yang dikenakan tembus menunjukkan lekuk tubuhnya.
"Sayang, tinggalkan dulu semua pekerjaanmu. Lalu kita akan mandi bersama," ucap Max sambil memeluk Liliana dengan mesra.
"Maximilian..." lirihnya dengan suara lembut yang selalu berhasil membuat hati Max berdebar.
~Chuu..
Dikecupnya bibir itu sekilas. "Maximilian..aku harus---hmmph!"
Max membungkam bibir Liliana dengan ciuman yang intens dan menuntut. Tangan Max mulai bergerilya kemana-mana. Libidonya mulai memuncak, menginginkan yang lebih dari ciuman.
__ADS_1
"Maxim, besok saja ya? Kumohon...sekarang aku--"
"Maaf sayang, tapi yang disini..." Max melirik ke bagian bawahnya, Liliana mengikuti tatapan Max ke arah sana. "Tidak bisa menunggu."
Ada rasa tidak tega di hari Liliana melihat suaminya mengeras, karena memang sudah kewajibannya sebagai seorang istri melayani suami. Kalau tidak, mungkin Max akan mencari wanita lain untuk melampiaskan hasratnya. Walau itu tidak mungkin. Jika Max adalah pria lain, mungkin dia akan memiliki banyak selir. Seperti ayahnya Raja Alberto yang sebenarnya mempunyai 3 istri.
Tapi Max hanya mempunyai Liliana dan dia berjanji akan seperti itu selamanya. Hanya Liliana satu-satunya wanita didalam hidupnya, ratu yang menguasai hatinya.
"Sayang..." lirih Max dengan suara bariton rendah miliknya.
"Jika aku berikan sekarang,apa kau akan setia kepadaku selamanya?" Tanya Liliana sambil menarik tali kimono handuk yang dipakai suaminya.
"Tanpa perlu melakukan semua ini, kau sudah jadi pemilik tubuh dan hatiku. Kau adalah Ratu ku dan aku hanya akan mencintaimu..meski ada kehidupan selanjutnya sekalipun, aku tidak akan berpaling." Telapak tangan besar Max, membelai pipi lembut Liliana, menatapnya penuh kasih, tak lepas dari senyuman bahagia.
"Aku juga...dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan selanjutnya, aku tidak akan pernah berpaling. Aku akan ingat semuanya,"
Kemudian mereka pun melakukan ritual malam sampai mencapai puncak surgawi di dalam bak mandi berukuran besar itu. Mereka memadu kasih, dengan penuh cinta.
#ENDFLASHBACK
Ingatan itu terngiang di kepala Liliana, membuat kepalanya sakit. "Ughhh...."
"Liliana!" Teriak Max panik.
"Aku baik-baik saja...aku tidak apa-apa..." ucap Liliana sambil beranjak dari bak mandi itu, namun dia terpeleset dan jatuh ke dalam dekapan Max.
Ingatan apa itu? Siapa pria yang begitu intim denganku?
Max menatap wanita itu dengan tatapan cemas, tangannya masih memegangi tubuh Liliana dengan erat. Takut kalau wanita itu akan kembali roboh. Liliana balas menatap Max, dia melihat rambutnya yang berwarna hitam kelam.
Pria yang ada didalam ingatanku juga berwarna hitam. Lalu kenapa saat bersamanya aku selalu terbayang dengan ingatan yang tidak pernah kumiliki.
Liliana mencoba menyadarkan dirinya, dia mendorong Max menjauh. Mempertahankan dirinya yang masih pusing. "Kau...kau mau kemana? Aku akan panggil tabib untukmu!"
"Aku baik-baik saja dan sebaiknya kau keluar dari sini, kalau kau tidak mau terkena masalah!"
"Astaga....gadis ini, kau masih mengira aku seorang pengawal?" Max menunjuk pada dirinya sendiri.
"Huh! Memangnya kau siapa?! Duh...bajuku basah semua, bagaimana bisa aku keluar dengan baju basah kuyup seperti ini? Apa yang akan dikatakan nyonya Daisy nanti?" Gumam gadis itu.
"Liliana, apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku akan mengganti bajuku dulu. Saat aku kembali, kau harus sudah pergi dari sini ya?"
Hah? Dia pikir dia siapa bisa memerintahku begini?. Max menengadah.
...*****...
Waktu pun berlalu, siang itu Max sudah bersiap dengan memakai bajunya yang rapi. Dia mendapatkan undangan makan siang bersama bersama Freya dan Laura.
"Kau sudah datang putra mahkota," sambut Freya yang sudah duduk di atas kursi.
Max tersenyum membalas sapaan Laura meski hanya senyuman yang dingin. Laura terbelalak melihatnya tak percaya, karena selama ini Max dan dirinya punya hubungan yang tidak baik. Tapi akhir-akhir ini Max terkesan ramah padanya.
Max duduk di kursinya, bergabung dengan ibu dan saudara tirinya. Freya memperhatikan Max yang akhir-akhir ini berubah sikapnya menjadi dewasa. Dia merasa terancam dengan sikap Max yang seperti ini.
Kenapa dia bersikap baik akhir-akhir ini? Apa dia ingin meraih hati para menteri dan kaum bangsawan?
"Aku senang kau mengosongkan jadwalmu untuk makan siang bersama kami." Kata Freya memecah keheningan di sana.
"Ya, kebetulan jadwal saya memang sedang kosong." Max selalu datar seperti biasanya.
Kemudian datanglah seorang pria muda yang usianya tak jauh berbeda dengan Max, datang menghampiri mereka. Lelaki gagah dan tampan itu memberi hormat pada tiga orang anggota keluarga kerajaan yang ada disana. Max tertegun sejenak melihat wajah pria yang asing baginya itu.
Dia merasa tak pernah melihat pria itu di masa lalu. Hatinya bertanya-tanya siapa pria ini. "Salam hormat saya, yang mulia ratu, yang mulia putra mahkota dan tuan putri Laura."
"Paman Alejandro!!" Laura langsung beranjak dari tempat duduknya, dia menghambur ke arah pria itu.
Alejandro? Apa dia...Max sedikit berpikir, mencoba mengingat-ingat nama Alejandro.
Laura memeluk pamannya dengan manja. "Paman kapan datang?"
"Ale, kau sudah datang?" Tanya Ratu Freya sambil tersenyum menyambut adiknya itu.
"Iya, baru saja Baginda Ratu. Oh ya, yang mulia putra mahkota, maaf saya datang begitu tiba-tiba."
Max menajamkan pandangannya, manakala pria itu membukukan badan kepadanya. Dia merasakan niat jahat dari Ratu, saat kedatangan pria itu.
Di masa lalu, dia tidak pernah datang ke istana kerajaan ini. Lalu kenapa sekarang dia datang kemari? Benar... masa depan dan masa lalu benar-benar berubah.
"Tidak apa-apa, silakan duduk dan nikmati makanannya." Max mempersilahkan pria yang tubuhnya gagah itu untuk duduk bersama mereka.
Alejandro tersenyum, kemudian dia menarik kursi dan duduk di samping Laura. Laura sangat senang dengan kehadiran pamannya, karena mereka sudah lama tidak bertemu dan sebelumnya mereka memang sangat dekat.
"Oh ya, Kalau boleh tahu ada urusan apa tuan oleh Alejandro datang kemari?" Tanya Max sambil memotong daging dengan pisau dan garpunya.
"Saya ada urusan di tengah pusat kota, yang mulia anda tahu kan? Kalau saya memiliki bisnis di bidang perdagangan." Jelas Alejandro sambil tersenyum hangat.
"Benar, aku hampir lupa bahwa kau adalah kepala serikat perdagangan di negeri ini yang sukses." Terlihat senyuman dingin di bibirnya saat mengatakan itu.
"Haaahh... terima kasih atas pujiannya yang mulia,"
"Putra mahkota, kedatangan adikku kemari untuk urusan bisnis perdagangannya. Dan dia akan menginap selama satu minggu di istana ini. Apa kau tidak keberatan putra mahkota?" Freya bertanya seraya melirik kepada Max.
"Lakukan sesuka hati anda, Baginda Ratu." Max memakan daging yang telah dia potong-potong ke dalam mulutnya. Dalam hati dia masih merasakan gerak-gerik yang tidak baik dari Alejandro. Ia curiga bahwa kedatangannya mungkin akan menimbulkan masalah.
"Terima kasih atas kebaikan hati yang mulia," Alejandro menundukkan kepalanya dengan penuh hormat di depan putra mahkota kerajaan itu.
"Ya,"
__ADS_1
Ketika keluarga kerajaan masih sibuk dengan makan siang mereka yang berada di taman. Liliana dan Daisy datang ke sana.
"Sebagai dayang istana khusus putra mahkota, kenapa kau sangat berleha-leha? Kau harus siap siaga berada di sisinya setiap waktu, apa kau paham?" Daisy mana gue Liliana yang baru saja selesai berganti baju.
"Maaf nyonya, tapi saya tidak melihat ada yang mulia putra mahkota di dalam kamar itu. Hanya ada pengawalnya saja,"
"Ckckck... dari tadi kau selalu saja bilang begitu. Yang mulia putra mahkota dari tadi berada di kamar bersamamu!" Daisy mendecak kesal dengan Liliana.
"Tapi... beneran tidak ada siapa-siapa." Liliana kebingungan sendiri.
"Lalu siapa pengawal yang kau maksud itu?" Daisy kenaikan alisnya seraya menatap Liliana dengan tajam.
"Itu dia si Maximilian..."
Daisy terbelalak begitu mendengar nama putra mahkota kerajaan itu dipanggil dengan begitu mudahnya oleh Liliana. "Astaga! Anak ini, apa yang kau lakukan hah?"
PUK!
"Aduh... sakit nyonya!" Liliana memegang tangannya yang baru saja dipukul oleh Daisy.
"Kau... beraninya kau mengatakan nama putra mahkota begitu! Apa kau mau dihukum mati?"
"Apa? Nama putra mahkota adalah Maximillian?" tanyanya polos.
Lagi-lagi Daisy memukulnya. "ASTAGA! Jaga mulutmu, ini istana! Dimana semua orang bisa mendengar ucapanmu!"
Astaga, anak ini benar-benar cari mati. Entah apa yang ada di pikirannya sampai dia berani menyebut nama putra mahkota?
"Ya sudah maaf, maaf... aku kan tidak tahu kalau Maxi--"
Daisy segera menutup mulut Liliana dengan tangannya. "Cukup! Sepertinya mulai hari ini kau harus belajar kelas tata krama denganku," ucap Daisy sembari mengelengkan kepala.
Apa yang sebenarnya dipikirkan yang mulia putra mahkota? Mengapa dia memilihnya sebagai pelayan pribadi?
Bagi Daisy, Liliana adalah gadis yang polos dan ceroboh. Dia belum bisa mengemban tanggung jawab yang besar sebagai dayang khusus putra mahkota. Namun Desi tidak berdaya di hadapan perintah dan titah dari calon raja tersebut.
"Ba-baiklah, tapi kita sekarang mau ke mana?" Tanyanya dengan bibir yang sedikit memanyun.
"Kita akan temui yang mulia putra mahkota," jawabnya ketus.
"Wah! Akhirnya aku akan melihat yang mulia putra mahkota," gumam Liliana yang rasa penasarannya terpicu karena teman-temannya yang selalu membicarakan tentang putra mahkota.
Tak lama kemudian, sampailah Liliana dan Daisy di tempat tiga orang anggota keluarga kerajaan itu dan juga Alejandro sedang makan siang di sana.
Saat sampai disana, Liliana terkejut melihat sosok Max yang berada di di antara anggota keluarga kerajaan yang lainnya. Di sana juga ada Eugene yang selalu setia mendampingi putra mahkota kerajaan itu.
Kenapa dia ada disana? Apa dia sudah gila?! Dia kan hanya pengawal.
Atensi dia itu teralihkan manakala dia melihat eksistensi seorang gadis cantik berambut merah yang berdiri tepat di samping Daisy.
"Hormat saya kepada yang mulia Ratu, yang mulia putra mahkota dan tuan putri." Daisy membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat dengan sopan. Dia juga meminta Liliana untuk segera memberi hormat sama seperti apa yang dia lakukan.
Putra mahkota? Apa Maximillian benar-benar putra mahkota?
Liliana yang tadinya tidak fokus langsung saja memberikan hormat kepada ketiga anggota keluarga kerajaan itu. Tak lupa kepada Alejandro yang juga berada di sana.
Kedua mata Alejandro menatap Liliana dengan nanar. Ia menunjukkan ketertarikannya saat melihat gadis cantik itu.
Cantik sekali, hanya seorang dayang istana. Bisa ku ajak untuk bermain-main.
Max melirik ke arah Alejandro dengan tajam, manakala pria itu menatap Liliana.
"Ada apa Daisy?" Tanya sang ratu dengan wajah yang dingin.
"Kalian ingin berbicara denganku, bukan? Baiklah, aku juga sudah selesai makan. Mari kita bicara!" Max sadar bahwa Daisy dan Liliana pergi ke sana bukan tanpa sebab.
"Iya yang mulia,"
Sekejap Liliana merasa gugup karena menyadari tatapan aneh Alejandro padanya. Dan juga tatapan dingin ratu padanya.
Max, Liliana dan Daisy pergi meninggalkan tempat itu. Laura juga pergi dari sana, Dia terlihat menghindari Eugene. Mungkin gadis itu masih marah dengan kejadian tempo hari.
"Kakak, siapa wanita itu?"
"Kau menanyakan tentang Daisy? Dia adalah kepala dayang di istana putra mahkota,"
"Bukan... sepertinya bukan dia yang aku tanyakan. Tapi wanita cantik berambut merah yang berdiri di sampingnya,"
"Ale, apa kau tertarik padanya?" Freya menatap adiknya itu. Dia tau bahwa Alejandro sangat mudah jatuh cinta, tapi bukan jatuh cinta yang seperti itu. Dia ibaratkan buaya darat yang memangsa wanita. Hanya ingin menidurinya. Dari luar Ale jangan terlalu terlihat seperti seorang pria yang berbudi luhur dan sayang keluarga. Tapi ketika pria itu berada di luar, maka julukannya adalah buaya darat.
"Iya kakak, aku bukan tertarik ingin menikahinya...tapi ingin menidurinya."
"Ah... sudah kuduga kau akan berkata begitu, Ale, dasar kau ini, mata keranjang!" Freya menepuk bahu adiknya itu.
"Kakak... boleh kan aku menyentuh wanita itu?" Pinta Alejandro kepada sang kakak.
"Ya sudah, lakukan saja apa yang kau mau seperti biasanya. Karena dia hanya pelayan biasa, tanpa dukungan keluarga dari bangsawan. Hanya rakyat jelata, kau bisa mempermainkannya sesuka hatimu.
"Hohoho, baiklah kak. Kalau begitu, biarkan aku bersenang-senang selama satu minggu ini bersama pelayan itu." Alejandro memiliki hasrat yang luar biasa terhadap seorang wanita. Entah kenapa satu wanita saja tak cukup untuknya. Semua wanita yang dia sebut cantik pasti akan menjadi mangsanya.
Dayang tanpa dukungan bangsawan. Ah....sial! Yang dibawah sini sudah tak sabar.
"Tapi ingatlah kau harus melakukannya dengan rapi, jangan sampai meninggalkan jejak." Freya tersenyum tipis, kemudian dia berjalan kembali ke istananya.
*****
Max, Liliana dan Daisy kini berada di depan ruang istana putra mahkota. Sungguh! Hati Liliana berdebar ketakutan, ternyata Max benar-benar seorang calon raja. Dia yang bodoh dan polos tidak mempercayainya.
...*****...
__ADS_1