
...🍁🍁🍁...
"Adara! Kau benar-benar keterlaluan!" Duke Geraldine berteriak murka, suaranya menggelegar membuat semua pengawal yang berada disana ketakutan.
Ya Tuhan! Selama ini aku sudah buta, aku salah menilai tentang Adara dan Adaire. Kalau saja tidak ada berita tentang kejahatan Adara, aku pasti aku akan buta selamanya.
Tidak pernah mereka mendengar suara Duke Geraldine yang selalu lembut pada anaknya, kini dia membentak Adara dengan murka. Adara menunduk ketakutan, dia syok melihat ayahnya yang selalu memanjakannya dengan kasih sayang. Sedang menatap murka dan batu saja membentak dirinya. Adara sudah tertangkap basah, perbuatan jahatnya pada Liliana tidak bisa di tolerir lagi.
"A-ayah...mengapa ayah sudah pul-"
Plakkkk
Duke Geraldine menampar Adara untuk mendidik putrinya itu. Dia tidak percaya bahwa dirinya harus memukul anaknya sendiri, hal yang tak pernah dia lakukan seumur hidupnya.
"Ayah! Ayah menamparku?" Adara sakit hati, tangannya memegang pipi yang baru saja ditampar sang ayah. Adara melihat suaminya, tapi pria itu malah diam saja tidak membela dia.
Kali ini Adara sudah sangat kelewatan, bagaimana bisa aku menikahi wanita yang memiliki tempramen buruk seperti ini? Arsen terlihat kecewa, menyesal, telah menikah dengan Adara. Meskipun Adara adalah wanita tercantik di kekaisaran Istvan, tapi hatinya buruk tidak secantik wajahnya dan malah berbanding terbalik.
"Diam kau Adara!" Duke Geraldine menunjuk ke wajah putrinya dengan jari telunjuk, tajam dan sarkas. Adara terpana dan terpaku karena sikap ayahnya itu. "Arsen, bawa Liliana untuk diobati! Bawakan tabib terbaik, agar lukanya tidak meninggalkan bekas!" titah Duke Geraldine pada menantunya.
"Baik ayah," jawab Arsen patuh. Arsen menangkup tubuh Liliana dengan kedua tangan kekarnya, "Kau baik-baik saja kan?"
"Tuan Count, aku..aku sangat.."Liliana bicara dengan suara terbata-bata. Sekujur tubuhnya memang terasa sakit karena cambukan dari Adara. Dia sudah melakukan pengorbanan besar untuk menarik simpati semua orang. Liliana melihat Adara dengan senyuman puas.
Adara, kau salah karena telah menantang diriku. Sekarang maka celakalah dirimu!
"Kau jangan bicara lagi, aku akan membawamu kembali untuk segera diobati. Bertahanlah," Arsen menggendong Liliana yang terluka parah dengan wajah khawatir.
"Terimakasih...tuan count," Liliana masih mencuri kesempatan untuk membuat wanita itu cemburu, dia melingkarkan tangannya pada leher Arsen dan memeluk pria itu.
Adara semakin gemas melihatnya, lagi-lagi Adara kalah dari Liliana. Duke Geraldine pun mulai menghakimi semua dosa-dosa anaknya saat itu juga.
Arsen segera membawa Liliana yang terluka kembali ke mansion utama.
__ADS_1
Tak jauh dari sana...
Sakit hati pria bermata merah itu melihat wanita yang dia sukai berada di pelukan pria lain. Apalagi setelah dia tau bahwa Liliana alias Adaire pernah menjadi istri Arsen di masa lalu.
Apa dia masih mencintai mantan suaminya? Dia bahkan memeluk erat pria itu. Tidak, harusnya aku berfikir kenapa kau sampai melakukan semua ini hanya untuk balas dendam? Sebenarnya kenapa?
"Yang mulia, mari kita temui nona Liliana!" Adrian mengajak Max untuk menemui Liliana.
"Tidak perlu, sudah ada seseorang yang menjaganya," ucap Max dengan suara rendah bercampur amarah.
"Ta-tapi yang mulia-" Adrian melihat kekecewaan dan kesedihan di wajah Max yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
"Panggilkan tabib terbaik untuk mengobatinya," titah Max pada pengawal setianya itu.
"Baik yang mulia," jawab Adrian patuh. Walau dalam hatinya dia ingin bertanya apa yang terjadi pada Max.
Max menghilang pergi dari sana seolah dia tak pernah ada. Max kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih dan galau. Sementara itu Arsen sedang membaringkan Liliana di ranjang empuk, dia memanggil tabib untuk mengobati luka Liliana. Kini gadis itu tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh keringat.
"Astaga! Adara! Apa yang kau lakukan?" gumam Arsen sambil mendesah melihat Liliana sedang mendapatkan perawatan dari tabib. "Tabib! Tolong obati nona Liliana, lakukan segala cara agar dia merasa lebih baik!" ujar Arsen pada tabib itu.
Tak lama kemudian, Adrian datang membawa Almoore. Tabib terbaik yang dia kenal untuk mengobati Liliana. "Tuan Count mohon maaf atas kelancangan saya, tapi saya membawa tabib untuk mengobati luka nona Liliana," ucap Adrian.
"Tidak apa, semakin banyak orang yang mengobatinya.. maka itu semakin baik." Arsen tidak keberatan dengan Adrian yang membawa Almoore kesana.
"Salam tuan count, saya Almoore Del Piero.." Almoore membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat pada Arsen.
"Ya, mohon bantuannya. Dia harus sembuh," ucap Arsen sambil melihat Liliana yang masih belum sadarkan diri dengan tubuh gemetar kesakitan.
Liliana pasti sangat kesakitan. Arsen melihat Liliana dengan cemas.
...*****...
Disebuah rumah yang kecil, mirip seperti gubuk. Terlihat Liliana dan seorang pria paruh baya berada di rumah itu. Barang-barang di rumahnya terlihat kosong melompong, hanya ada ranjang, kursi dan meja. Tidak ada yang lainnya.
__ADS_1
"Ayah, ini makanannya.." Liliana menyerahkan piring berisi makanan yang sederhana pada pria paruh baya yang dia panggil sebagai ayah.
Prang!
Pria itu melempar piring dengan penuh amarah, hingga piring itu pecah dan jatuh ke lantai. "Kau ini dasar anak tidak berguna! Apa kau bekerja disana hanya untuk mendapatkan makanan seperti ini?" pria paruh baya itu membentak Liliana, sambil menjambak rambut putrinya itu.
"Ack! Ayah, sa-sakit! Aku mohon lepaskan aku ayah.." Liliana merintih kesakitan, namun sang ayah tidak mau melepaskan tangannya yang menarik rambut gadis itu.
"Lebih baik kau bekerja di tempat pelacuran saja biar gaji mu besar! Untung untung kau bisa mengganti uang yang sudah aku keluarkan untuk mengurus dirimu selama ini!" Pria paruh baya itu menarik rambut Liliana semakin keras. Dia menatap putrinya tanpa rasa iba sedikitpun, walaupun putrinya merintih kesakitan.
"Tidak ayah! Aku tidak akan melakukan itu! Aku tidak mau menjual harga diriku demi uang," ucap Liliana sambil meronta-ronta memohon sang ayah untuk melepaskan dia.
Plakkkk!
Buk!
Pria yang dipanggil ayah oleh sosok wanita cantik berambut merah itu, menampar, memukul, bahkan menendang dirinya dengan kasar. Gadis itu tersungkur ke tanah dengan wajah babak belur.
"Ah.. sayang sekali, wajah cantikmu jadi babak belur. Cepat obati lukamu itu dan berdandan lah yang cantik, orang-orang akan datang menemui mu." Sang ayah mendesah kesal melihat sudut bibir Liliana yang terluka.
"Orang-orang siapa ayah?"tanya Liliana sambil bangkit berdiri tegap.
"Ti-tidak ada, lebih baik kau obati lukamu dan berdandan yang cantik. Aku akan membawamu jalan-jalan," ucap pria itu sambil tersenyum. Seakan sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya.
"Jalan-jalan?" Liliana menatap ayahnya dengan bingung.
"Oh ya, ayah juga sudah membelikan gaun untukmu. Gaunnya ada di kamarmu, lebih baik kau memakainya.. kalau kau tidak memakainya, aku tidak akan memaafkan mu. Kau anak yang berbakti kan?" Pria itu memegang tangan Liliana, matanya menatap tajam ke arah anaknya.
"I-iya ayah," jawab Liliana dengan suara yang gemetar. Dia menatap ayahnya curiga.
"Anak baik, cepatlah pergi ke kamarmu.." ucap sang ayah dengan senyuman palsu yang lembut.
Liliana masuk ke dalam kamar dengan langkah yang bingung. Tangannya mengepal gemas, dia menutup pintu kamar. Dia melihat ada gaun indah yang tampak terbuka diatas ranjang kayunya.
__ADS_1
"Kenapa ayah menyuruhku memakai gaun ini?" tanya Liliana bingung.
...----***----...