
...🍀🍀🍀...
"Tuan Count, apa yang terjadi?" tanya seorang kstaria diluar tenda, dia heran melihat Arsen keluar dari tenda dengan memakai jubahnya. Sepertinya Arsen berniat untuk pergi dari tempat tugasnya.
"Sampaikan pada Marquis Xevare, aku akan pergi!" Seru Arsen pada kstaria itu.
"Ta-tapi tuan count, tugas anda-"
"Sampaikan juga padanya aku akan kembali, ada masalah darurat di mansion Geraldine!" ujar Arsen menitipkan pesan pada kstaria itu untuk Marquis Xevare.
Arsen menunggang kudanya dengan terburu-buru, dia pergi sendiri tanpa seorang pun pengawal disisinya. Arsen berharap kalau Liliana akan baik-baik saja dan Adara tidak melakukan hal gila.
Dia jadi teringat pada sosok Adaire, wanita yang di racun dan ditusuk oleh Adara dengan kejam. Meskipun memang dia yang merencanakan pembunuhan itu, tapi yang melakukan semuanya adalah Adara. Dan dia tidak mau hal yang sama terjadi pada Liliana.
"Kau harus baik-baik saja Liliana!" gumam Arsen cemas. Dia menunggang kuda berwarna hitam itu dengan cepat, ditengah kegelapan malam. Napasnya juga mulai terengah-engah karena lelah.
...🍁🍁🍁...
Di kamar Max, istana putra mahkota. Max terlihat sedang duduk di dekat jendela, dia memandang langit malam tanpa bintang. Sambil melamun, dia menghela napas panjang.
"Ternyata gadis bertompel yang kutemui waktu kecil itu adalah dia. Dan dia berada didalam tubuh si kucing galak, hal tidak masuk akal macam apa ini? Kenapa dia bisa memasuki tubuh si kucing galak? Benar-benar tidak masuk akal, rasanya sulit untuk aku mempercayainya."
Tok, tok, tok
Seseorang mengetuk pintu itu dengan sopan.
"Yang mulia!" panggil Pierre dari balik pintu kamar.
"Masuk," jawabnya tegas.
Pierre membuka pintu kamar Max, kemudian dia menghampiri Max yang sedang duduk di jendela. Pria muda dan tampan itu membungkuk hormat didepan sang putra mahkota, dia membawa sebuah gulungan kertas ditangannya, "Selamat malam yang mulia,"
"Ada apa?" tanya Max dengan suara malas tidak menyambut pria itu.
"Yang mulia, saya datang untuk menyampaikan pesan dari Baginda Raja," ucap Pierre sambil membuka gulungan kertas di tangannya.
Pasti yang mulia tidak mau mendengarkan ini, dia sudah memilih nona Liliana. Tapi, aku harus tetap menyampaikannya.
"Apa lagi yang dia lakukan?" tanya Max malas diatur-atur oleh ayahnya yang selalu berada dibawah kendali ibu tirinya, Ratu Freya.
Pierre menghela napas, kemudian dia mulai bicara, "Disini ada 5 calon kandidat putri mahkota, diantara mereka ada seorang putri dari kerajaan tetangga, putri Duke yang berkuasa, juga-"
"Hentikan Pierre!" Max memangkas perkataan Pierre. Dia menatap marah pada Pierre, kemudian mengambil gulungan kertas itu dari tangannya. Max membakar gulungan kertas itu dengan api yang keluar dari jarinya.
Woshhh~~
__ADS_1
"Apa mereka tuli? Aku sudah mengatakan bahwa aku akan memilih putri mahkota ku sendiri!" gerutu Max emosi pada Raja dan Ratu.
"Ya-yang mulia!" Pierre panik melihat surat dari Raja yang dibakar begitu saja oleh Max tanpa melihat isinya. "Yang mulia, anda seharusnya membaca surat itu lebih dulu," Pierre menggelengkan kepala.
"Kau tidak perlu memikirkannya lagi Pierre, aku sudah mengurangi beban mu," ucap Max sambil menyeringai. Max kembali duduk di dekat jendela dan menatap langit.
"Yang mulia, apa yang harus saya katakan pada utusan Baginda Raja kalau yang mulia membakar suratnya?" Pierre takut terkena marah oleh Raja karena suratnya dibakar.
"Katakan saja aku yang bakar surat itu, apa susahnya? Kalau tidak ada urusan lain, lebih baik kau pergi dari sini!" titahnya meminta pria itu keluar dari kamar, karena dia sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik.
"Baiklah yang mulia, saya mohon jangan marah. Saya ada satu berita lagi,"
"Jika ini tentang Raja atau Ratu, aku tak mau dengar!" Max berkata dengan ketus.
"Bukan yang mulia, ini informasi tentang nona Adaire Charise Geraldine,"
Max langsung turun dari jendela, dia tertarik dan mendekati Pierre. Matanya menunjukkan rasa penasaran yang tinggi. "Katakan!"
Saat Pierre akan mengatakan informasi tentang Adaire. Seseorang datang dan mengetuk pintu kamar Max.
Tok, tok, tok
"Siapa?"
"Ini saya yang mulia," jawab Eugene dari balik pintu.
Eugene masuk ke dalam kamar itu, dia memberikan hormat pada Max. Dia berbisik-bisik pada Max. "Apa? Dia dipenjara di ruang bawah tanah?" Max terperanjat kaget mendengar bisikan dari Eugeme.
...*******...
Sementara itu Liliana dan Miley masih berada dipenjara bawah tanah. Liliana terus memprovokasi Miley untuk membenci Adara dan membalas perlakuan Adara yang sudah mengkhianatinya. Miley mulai termakan provokasi dari Liliana, dia mengatakan akan balas dendam jika dia bisa keluar dari penjara.
"Saya akan balas dendam dan saya juga akan membalas budi baik nona," ucap Miley sedih.
Bagus sekali, tidak sia-sia aku bicara panjang lebar untuk meraih simpatinya.
"Aku ingin sekali mengeluarkan mu dari sini, tapi apalah dayaku. Aku tidak bisa melakukannya, karena aku sendiri berada didalam penjara yang sama denganmu." Liliana terlihat memelas.
"Apa mungkin ada yang bisa saya bantu?" tanya Miley bingung.
"Kalau kau mau keluar dari sini, mungkin aku bisa memberikanmu sedikit saran. Aku juga akan membantumu untuk balas dendam," ucap Liliana membujuk.
"A-Apa yang harus saya lakukan nona?" tanya Miley penasaran.
Liliana berbisik-bisik pada Miley. Wanita itu mengangguk-angguk mengerti apa yang dikatakan Liliana.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Adara datang bersama beberapa kstaria penjaga penjara ruang bawah tanah. Mereka melakukan sesi interogasi pada Liliana, Miley hanya diam dan melihatnya saja.
Nona Liliana terlalu berani, dia pasti akan terluka. Batin Miley cemas.
Liliana di ikat oleh rantai dengan posisi berdiri. Adara berada disana dan membawa cambuk, dia ingin menyiksa Liliana. "Apa kau akan mengakui semuanya? Kau kan yang mencuri kalung kakakku?" tanya Adara.
"Tidak, aku tidak mencuri," jawab Liliana sambil tersenyum menyeringai.
"Didalam keadaan seperti ini, kau masih bisa bersikap sombong. Ayah dan suamiku.. juga orang-orang yang ada di rumah ini, tidak akan ada yang menyelamatkan mu. Apa kau tidak masalah untuk mati disini?" Adara menyeringai menatap Liliana.
"Kau tidak mungkin membunuhku, karena itu akan menjadi masalah untukmu. Yang mulia Duke akan menghukum mu," ucap Liliana dengan senyuman menantang.
"Kau sangat percaya diri!" Adara mengangkat dagu gadis itu dengan penuh kebencian. "Baik, kalau kau tidak mau mengaku.. aku akan membuatmu buka mulut,"
"Aku tidak bersalah, jadi aku tidak akan mengakuinya!" Liliana bersikap keras kepala, dia sengaja menantang Adara.
Arsen, ayah.. kalian ada dimana?
Adara mencambuk punggung Liliana dengan keras tanpa ampun. Adara main hakim sendiri mentang-mentang tidak ada ayahnya ataupun suaminya disana.
Sudah 9 kali Adara mencambuk Liliana dan membuat punggungnya basah oleh darah, namun gadis itu tetap menahan diri agar dia tidak berteriak ataupun menangis. "Hem! Ump!!"
Tahan Liliana, tahan!
"Kenapa kau menahan suaramu? Ayo menangis lah?" Adara mencambuk lagi wanita itu, dia tidak sabar mendengar Liliana menangis dan memohon kepadanya.
Aku tidak akan menangis, menangis hanya akan membuat dia merasa menang.
Tubuh Liliana berkeringat, wajahnya pucat, dia menantikan Duke Geraldine atau Arsen agar segera datang. "Ayo menangis!!" Teriak Adara mulai kesal dengan Liliana yang diam saja seperti batu, padahal gadis itu sudah menerima cambukan keras dari dirinya.
Saat akan melayangkan cambukannya yang ke 10, seseorang menahan tangannya dan membuang cambuk itu. "Adara!" Teriak Duke Geraldine yang sudah berdiri di belakangnya dan menatap Adara dengan marah.
"A.. ayah!" Adara tercengang.
Arsen membuka rantai itu dan menolong Liliana yang sudah tidak berdaya. Dia merasa kasihan melihat punggung Liliana yang basah oleh darah. "Tu...tuan..."
Kenapa mereka sangat terlambat? Aku sudah tidak kuat.
Liliana jatuh ke dalam pelukan Arsen, dia tidak berdaya dan kakinya sangat lemas. "Lily, apa kau baik-baik saja?" tanya Arsen sambil mendekap wanita itu dan menatapnya dengan cemas. "Tuan Count.. terimakasih," Liliana tersenyum lega melihat Arsen.
Deg!
Dari kejauhan terlihat seorang pria yang menatap Arsen dan Liliana dengan marah. Apalagi saat Liliana memegang tangan Arsen.
...----****----...
__ADS_1
Hai Readers! Selalu berikan like, komen kalian ya untuk author ❤️❤️😘 beribu-ribu terimakasih untuk kalian yang sudah kasih vote dan juga giftnya..
Mohon maaf didalam cerita ini terdapat beberapa adegan kekerasan, karena berlatar belakang zaman dulu. Mohon pengertiannya untuk selalu memberikan komentar yang tidak mencerca, memaki karya author..🙏😊 makasih