Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 64. Duke Geraldine murka


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah melewati proses interogasi selama kurang lebih 24 jam, sore itu Arsen keluar dari ruang interogasi istana bersama para kstaria lainnya yang dulu ikut dalam acara bulan madu.


Arsen masih terlihat tenang dan dia bisa menjaga ketenangannya. Mata Arsen memerah dan sembab. Dia berharap bahwa air mata yang dia keluarkan semalaman tidak sia-sia.


Arsen dan Nicholas bersiap kembali ke kediaman Duke Geraldine. Sementara Duke Geraldine masih berada di istana, dia berencana untuk menemui Adara.


"Tuan Count," ucap Nicholas pada Arsen.


"Bagus Nicholas, sekarang tuduhan itu semua mengarah kepadanya." Arsen tersenyum tipis.


"Lalu bagaimana dengan nona Adara?"


"Mau bagaimana lagi? Tentu saja dia harus berkorban untuk suaminya," jawab Arsen santai.


"Tapi yang mulia, nona Adara adalah istri anda. Bagaimana bisa anda-" Nicholas merasa kasihan pada Adara.


SRET!


Arsen melempar belatinya ke arah Nicholas, dengan cepat Nicholas menghindar. Akan tetapi pipinya tersabet oleh belati itu dan berdarah. Nicholas terkejut dan baru menyadari betapa berbahayanya Arsen.


"Kau terlalu banyak omong! Lebih baik kau bantu aku berfikir, bagaimana caranya menyingkirkan ayah mertuaku. Jika aku menjadi duke, aku bisa membantu Adara sedikit terbebas dari hukumannya," ucap Arsen dengan mata yang tajam menusuk.


Nicholas terdiam dengan tangan yang terkepal, dia sedih karena Adara nonanya masih berada di dalam penjara.


🍁🍁 Duke Geraldine menemui Adara di penjara. Gadis itu terlihat lesu dan lusuh, dia tidak bersemangat, wajahnya juga sangat pucat.


"A-ayah?" Adara tercekat melihat sang ayah berada disana. Dia langsung berdiri dan menatap Duke Geraldine.


"Adara maafkan ayah karena ayah baru datang." Duke Geraldine terlihat sedih melihat kondisi anaknya yang terluka dan tampak menyedihkan.


"Tidak usah meminta maaf ayah, ayah kan sibuk untuk memenjarakanku." Sindir Adara pada ayahnya dengan sarkas.


"Adara, ayah pikir kau sudah sadar setelah berada didalam sini. Tapi ternyata kau masih tetap seperti ini. Adara.. jawab pertanyaan ini dengan jujur, apa benar kau yang sudah membunuh kakakmu?"


"A-ayah!" Pekik Adara.


Ternyata apa yang Arsen katakan memang benar, karena jenazah yang sudah ditemukan itu. Semuanya jadi seperti ini.


"Adara jawab! Apakah benar kau melakukan itu?" tanya Duke Geraldine dengan tegas.


Semua bukti sudah mengarah kepada Adara, aku harus mendapatkan jawabannya.


"Jika aku bilang bukan, apa ayah akan tetap percaya kepadaku?" tanya Adara. "AKU bisa sampai berada disini karena ayah tidak percaya padaku. Jadi untuk apa aku katakan, ayah juga tak pernah percaya padaku!"


"Adara, jawab saja! Benar atau tidak, kalau kau yang membunuh kakakmu?" bentak Duke Geraldine pada anaknya. Dia sangat penasaran dengan jawaban konfirmasi dari anaknya.


Jika kau bilang kau tidak melakukannya, maka ayah akan membelamu. Jadi kumohon, semoga itu semua tidak benar. Duke Geraldine berharap didalam hatinya.


Adara menarik napas dalam-dalam lalu dia hembuskan, "Benar, aku yang sudah melakukannya." Adara mengakui semuanya, dia tak berani menatap mata sang ayah.


Duke Geraldine syok, wajahnya langsung pucat pasi. Kakinya lemas, tubuhnya menjadi kaku. Tangannya memegang besi penjara. "Kau.. apa kau benar-benar melakukan itu, Adara?"


"Benar, aku yang meracuni dan menusuk kakak. Lalu aku mendorongnya ke lautan lepas," jawab Adara sambil tersenyum pahit.

__ADS_1


Duke Geraldine menarik napas, dia masih tidak percaya bahwa anaknya akan membunuh anaknya yang lain dengan keji. "Ke-kenapa kau melakukan ini Adara?" tanya Duke Geraldine dengan suara yang pelan.


Aku tidak pernah berharap pertanyaan seperti ini akan terucap dari bibirku. Ini terlalu kejam, Adaire.. dibunuh oleh Adara. Anakku yang lain, anak yang aku sayangi?


"Karena aku mencintai suaminya dan aku ingin semua yang dia miliki menjadi milikku! Aku ingin kasih sayang ayah jadi milikku saja!" Teriak Adara tanpa menyesal.


"Bagaimana bisa kau melakukan hal sekejam ini? Bagaimana bisa? Adara kau sudah..." Duke Geraldine memegang dadanya, dia menangis terisak-isak. Tak percaya bahwa putrinya tega membunuh orang karena iri.


"Bagus.. karena nona Adara Brisia Geraldine sudah mengakui semuanya, jadi sudah waktunya untuk menentukan hukuman yang pantas," ucap Max yang tiba-tiba sudah berada disana bersama Eugene dan pengawalnya yang lain.


Aku akan langsung memberikan hukuman mati padanya setelah ini, tapi aku harus bertanya dulu padamu Lily.


Adara terpana melihat pengawal istana dan Max disana, dia merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Harapan satu-satunya Adara, kini adalah Arsen yang bisa menyelamatkannya.


"A-ayah, tega sekali ayah kepadaku!" Adara menangis kecewa pada sang ayah yang tidak membelanya sama sekali.


Selama ini aku bersikap tidak adil pada Adaire, aku sudah kehilangan Adaire, jadi aku tidak bisa kehilangan Adara juga.


"Yang mulia putra mahkota, saya mohon agar-"


Uwekk.. uweekk..


Kenapa kepalaku sangat pusing?


Tiba-tiba saja Adara muntah-muntah, tubuhnya ambruk. Dia jatuh tak sadarkan diri. Duke Geraldine panik melihat anaknya seperti itu, walaupun Adara berbuat jahat. Tapi Adara tetaplah anaknya, ayah mana yang tidak sayang dengan anaknya.


"Adara! Adara!" teriak Duke Geraldine panik.


"Penjaga! Buka sel nya!" Ujar Max pada penjaga penjara.


"Baik yang mulia!" jawab sipir penjara patuh.


Beberapa saat kemudian setelah penjara dibuka, Adara dibawa oleh Duke Geraldine ke tempat pengobatan istana. Disana Adara yang tidak sadarkan diri di periksa oleh seorang tabib.


Tabib itu mengecek denyut nadinya. Duke Geraldine dan Max berada disana. "Bagaimana hasilnya? Putriku baik-baik saja kan?" tanya Duke Geraldine sambil memegang tangan Adara, dia terlihat cemas melihat gadis itu terbaring tak sadarkan diri dengan wajah pucatnya.


"Nona Adara baik-baik saja, dia hanya..."


"Hanya apa?" tanya Max pada tabib itu.


Duke Geraldine menatap sang tabib dengan cemas. "Hanya apa? Anakku tidak apa-apa kan?"


"Hanya saja nona Adara sedang hamil," jawab tabib menjelaskan.


Duke Geraldine dan Max tercengang mendengar penjelasan tabib. Max langsung mengacungkan pedangnya ke leher tabib itu, "Apa kau tidak berbohong? Sumpah demi kepalamu! Apa dia benar-benar hamil? Apa kau tidak salah diagnosa?" tanya Max seraya mengancam si tabib itu.


"Sa-saya bersungguh-sungguh yang mulia. Nona Adara benar-benar hamil, dari yang saya periksa usia kandungannya mung-mungkin lebih dari 3 bulan," jelas tabib itu dengan tubuh gemetar.


Max kembali meletakkan pedangnya. Dia tertawa sinis. "3 bulan ya? Bukankah artinya saat itu nona Adaire masih hidup dan berada dalam status pernikahan bersama count Wales?"


Mereka sudah menorehkan luka begitu dalam padamu Adaire, kau pantas marah kau pantas dendam. Namun.. sial! Wanita hamil tidak bisa dihukum mati.


Duke Geraldine tercengang mengetahui fakta mungkin anaknya sudah hamil sebelum menikah dengan Arsen dan bisa jadi Arsen berselingkuh dengan Adara saat dia masih menikah dengan Adaire.


Arsen dan Adara, kalian benar-benar.. kalian...

__ADS_1


Pria paruh baya itu menangis, matanya terlihat marah. Dia mengepalkan tangan dengan gemas. Max juga terlihat kesal, dia yang ingin menjatuhkan hukuman mati untuk Adara tidak akan bisa melakukannya. Karena Adara sedang hamil. Wanita yang sedang hamil tidak bisa dihukum mati, itu adalah peraturan hukum di kerajaan itu.


...****...


Berita kehamilan Adara sampai dengan cepat ke telinga Arsen. Antara senang dan bingung, dia menerima kabar itu. Kabar bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah.


Saat menerima kabar itu, Duke Geraldine datang dengan murka dan membawa pedangnya. Dia menyerang Arsen dengan membabi buta seolah telah kehilangan akal sehat.


"Brengsek kau! Brengsek!"


"Ayah! Apa yang ayah lakukan? Kenapa ayah menyerang ku seperti ini?" Arsen terus menghindar dari serangan Duke Geraldine. Dia tidak tau apa yang terjadi pada ayah mertuanya itu.


Semua pengawal disana berusaha melerai mereka. Namun Duke Geraldine terus menyerang Arsen bahkan sampai mengeluarkan energi pedang auranya. Cahaya dari pedang itu seolah akan membunuh Arsen.


Mata Arsen melebar, dia tidak bisa menandingi master pedang terhebat di kekaisaran itu. Dan pria itu adalah Duke Geraldine.


"A-ayah!" Arsen terpaksa mengambil pedangnya untuk menangkis serangan dari ayah mertuanya. Dia berusaha untuk tidak melawan, wajah dan tangannya sudah terluka oleh serangan pedang itu.


Apa si tua bangka ini ingin membunuhku?


"Kau.. kau orang yang sudah menghancurkan kedua putriku! Masa depan kedua putriku hancur karena dirimu, aku akan membunuhmu! Aku bersumpah akan membunuhmu!" Teriak Duke Geraldine murka.


"Ayah.. tenang dulu! Bicaralah baik-baik ,ada apa ini?" tanya Arsen tidak paham.


Liliana yang sedang membaca buku, mendengar keributan itu dan dia keluar dari perpustakaan. Dia melihat ayahnya sedang menyerang Arsen.


"Yang mulia Duke, tolong tenang dulu!" kata Jackson berusaha melerai kemarahan Duke Geraldine.


"Ayah.." lirih Liliana melihat ayahnya.


Namun Duke Geraldine tidak mengindahkan semua orang yang memanggilnya. Dia terus menghajar Arsen, hingga Arsen pun mulai melawan. Tapi kekuatan Arsen tetap tidak sebanding dengan kekuatan Duke Geraldine.


"Kau mengkhianati Adaire, lalu kau berselingkuh dengan Adara! Sekarang Adara hamil, usia kandungannya lebih dari 3 bulan! Apa kau sudah gila? Brengsek kau! Bajingan!"


Liliana terpana mendengar kata-kata Duke Geraldine bahwa Adara sedang hamil. Walau masih dalam keadaan syok, Liliana mengambil pedangnya dan melerai keduanya. Dia berada ditengah-tengah mereka. Hingga keduanya tidak berani saling menyerang satu sama lain.


"Hentikan! Kumohon HENTIKAN!" teriak Liliana.


Pertempuran yang hampir menimbulkan tumpah darah itu akhirnya berhenti karena Liliana.


Arsen dan Duke Geraldine dipisahkan oleh pengawal disana. Liliana juga berusaha menenangkan Duke Geraldine yang masih berada dalam kemarahan. "Aku tidak percaya bahwa anakku akan membunuh anakku yang lain dan dia..."


"Ayah tenanglah, tenangkan diri ayah lebih dulu,"


Ayah jangan seperti ini, aku tidak tau bagaimana caranya menenangkan ayah karena hatiku sendiri sedang terluka.


"Adara akan terbebas dari hukuman berat karena dia sedang hamil. Jika Adaire ada disini, apa dia akan memaafkannya? Hiks.." Duke Geraldine menangis terisak-isak, dia berada dalam dilema.


Liliana tak bisa berbuat apa-apa, dia membiarkan Duke Geraldine sendirian di dalam kamarnya. Liliana juga sedih karena dia baru tau fakta lainnya, bahwa selain berselingkuh Adara dan Arsen melakukan hubungan badan sampai punya anak. Itu artinya sudah lama Adara dan Arsen memiliki hubungan.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana.."


Sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang, "Lily, maafkan aku.."


...----****----...

__ADS_1


__ADS_2