
...🍀🍀🍀...
"Kita sudah tidak ada hutang lagi, jadi...kita tidak usah saling meminta maaf." Liliana membungkukkan setengah badannya dengan sopan didepan Aiden seraya berpamitan padanya.
"Tunggu dulu Bella, ehm...maksudku nona Liliana."
"Ada apa yang mulia?" sahut Liliana pada Raja Gallahan itu.
"Masih ada yang ingin aku bicarakan. Aku masih ada pertanyaan untukmu, bolehkah aku bertanya?" tanya Aiden pada Liliana, meminta izin untuk bertanya padanya.
Didalam pikiran dan hatinya masih ada pertanyaan tentang Liliana, termasuk masa lalunya bersama Maximillian. "Baiklah, silahkan bertanya."
"Apa benar kau adalah mantan putri mahkota kerajaan Istvan?" Aiden bertanya dengan sedikit resah. Entah apa yang membuatnya resah.
"Hem, ya." jawab Liliana sambil tersenyum pahit.
"Lalu...apa anak yang ada didalam kandunganmu, adalah anak dari raja Istvan?" tanya Aiden sambil melihat perut datar Liliana.
"Benar." Liliana menjawab dengan tegas dan tidak berbohong. Dia sudah menduga bahwa Aiden akan menanyakannya, karena Aiden mendengar percakapan antara dia dan ayahnya. "Yang mulia, Baginda Raja Istvan belum tau tentang keberadaan bayi ini...saya harap anda merahasiakannya. Tidak boleh ada satupun orang yang tau."
"Ya, jika kau memintaku menjaga rahasia maka akan aku jaga." Aiden tersenyum pahit. Dia terlihat resah dan terus menghela nafas.
Apa dia memintaku merahasiakan tentang bayinya karena dia tidak mau kembali pada raja Istvan atau karena hal lain? Sial! Aku sangat penasaran.
"Terimakasih...kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya mohon undur diri yang mulia." Liliana memohon undur diri.
"Nona Liliana, tunggu! Apa kau tidak marah padaku? Aku sudah membohongimu perihal identitasku!"
"Marah? Mungkin sedikit...saya hanya kecewa karena saya pikir kita sudah berteman dekat. Tapi, tidak apa-apa...kita sama-sama menyembunyikan identitas masing-masing, jadi impas kan?"
"Oh begitu ya." bibir Aiden membulat. Aiden terlihat gugup dan tidak banyak bicara seperti biasanya saat dia bersama Liliana.
Aiden, ayo beranilah...ayo bertanya, kenapa kau malah diam saja? Bukankah kau ingin tau bagaimana perasaannya?
"Nona Liliana, maaf...mungkin aku terkesan kurang ajar menanyakan ini. Tapi sesungguhnya ini mengganjal hatiku."
Liliana menatap pria didepannya itu dengan tatapan mata yang tajam. Mengisyaratkan bahwa dia mempersilakan Aiden untuk bertanya padanya. "A-apa mungkin kau akan kembali pada Raja Istvan?"
Mata Liliana melebar. "Yang mulia, apa maksud anda dengan kembali?"
__ADS_1
"Kau...memiliki anak dengannya, bukankah itu artinya kalian akan kembali bersama." ucap Aiden berpendapat.
Liliana menaikkan bahunya, alisnya juga ikut terangkat. Wanita itu mendesah, menghela nafas panjang. "Yang mulia, mengapa anda menanyakan hal pribadi saya seperti ini?" suara Liliana terdengar seperti sedang marah.
"Maafkan aku jika aku menyinggungmu, aku hanya penasaran...karena Raja Istvan bersama seorang wanita disampingnya." Aiden merasakan kemarahan dan emosi Liliana kepadanya.
"Itu bukan urusan saya lagi, saya dan yang mulia Raja Istvan sudah bercerai." ucap Liliana sambil tersenyum sinis. Dia emosi begitu mendengar Max bersama wanita lain disampingnya.
"Sekali lagi maafkan aku karena sudah menyinggungmu." Aiden memohon maaf sekali lagi pada Liliana.
Tak tahan dengan air mata yang sudah menggenang itu, akhirnya air mata itu kembali keluar.
Kenapa harus keluar lagi? Apalagi didepan orang lain?
"Maaf, sepertinya saya harus segera pergi." Liliana menyeka air matanya dengan tangan kosong.
Aiden menyodorkan sapu tangan di saku jubahnya pada Liliana. "Wanita hamil tidak boleh bersedih, nanti bayinya juga ikut sedih. Dia merasakan emosi ibunya." Aiden tersenyum lembut.
Liliana mengambil sapu tangan itu, dia mengusap air matanya.
Jika yang berdiri didepanku adalah dia, dia pasti akan menyeka air mataku dengan tangannya sendiri. Kenapa kau masih memikirkan hubungan yang tidak mungkin, Liliana?
"Ibuku yang bilang, katanya waktu ibuku sedang mengandungku. Dia bilang bahwa dia sering mendapatkan saran dari tabib, kalau emosi seorang ibu hamil bisa mempengaruhi anak yang ada di dalam kandungannya. Sejak saat itu, ibuku selalu tersenyum dan bahagia."
"Yah, sepertinya itu benar. Bahkan anda terlihat bahagia dan ceria yang mulia. Terimakasih sarannya, sekaligus ceritanya. Saya akan berusaha untuk tidak sedih."
"Iya, aku harap kau tidak bersedih...kasihan bayimu."
Lebih baik aku bicarakan tentang perasaanku nanti saja, dia pasti butuh waktu untuk menata perasaannya setelah bertemu dengan raja Istvan. Aiden yang tadinya akan menyatakan cinta pada Liliana dan memperkenalkan wanita itu kepada ibunya, mengurungkan niatnya untuk sementara waktu.
Liliana pamit pergi dari pesta itu, dia diantar oleh Duke Geraldine. Suasana pesta, pertemuannya dengan Max dan Julia membuatnya sakit kepala.
Pada pembicaraan mereka tidak berlangsung lancar seperti apa yang diharapkan. Bahkan keberadaan bayi didalam kandungannya belum diketahui oleh Max.
Duke Geraldine dan Liliana bicara di rumah sederhana tempat Liliana tinggal selama dua bulan ini. Doris menyeduhkan dua cangkir teh untuk Duke Geraldine dan Liliana.
"Terimakasih Doris,"
"Sama-sama nona." Doris membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat pada Liliana Duke Geraldine. Kemudian gadis itu pergi dari rumah tengah.
__ADS_1
Ayah dan anak itu mengobrol disana. Tentang kerajaan Istvan, Max, juga masa depan Liliana dan anaknya kelak. "Lily, keberadaan anakmu...tidak seharusnya disembunyikan."
"Tadinya aku berniat memberitahu dia, tapi dia membuatku kecewa. Apa ayah tau apa yang aku rasakan saat aku melihat dia bersama dengan wanita itu? Sakit hatiku...ayah. Jika aku memberitahu dia bahwa aku mengandung anaknya disaat seperti ini, bagaimana hubungan yang sudah rumit ini akan selesai? Dia saja masih menjalin hubungan dengan wanita itu!"
"Lily, yang mulia Raja akan segera menyingkirkan nona Julia. Yang mulia, membawa nona Julia kemari karena yang mulia sudah merencanakan sesuatu yang besar. Kau harus percaya padanya, dia masih mencintaimu."
Rencana? Rencana apa? Aku tidak peduli!
Liliana terheran-heran. "Ayah, mengapa ayah jadi berubah pikiran? Sebelumnya ayah menentangku untuk kembali dengan yang mulia Raja, sekarang kenapa ayah mendukungku kembali untuk kembali padanya?"
"Itu karena kalian akan memiliki seorang anak. Seorang anak membutuhkan kedua orang tuanya untuk merawatnya bersama. Ayah rasa, yang mulia masih sangat mencintaimu...buktinya dia memintamu kembali bersamanya, kan?" Ucap Duke Geraldine lembut.
"Ayah benar, memang seorang anak membutuhkan kedua orang tua untuk merawat dan memberikan kasih sayang. Tapi, selama masih ada wanita itu di sekitar yang mulia Raja, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tidak tahu hati manusia, ayah...jika dia atau orang-orangnya tau bahwa aku sedang hamil. Entah apa yang akan dia lakukan untuk mencelakaiku, aku sudah tau setengah kejamnya politik istana. Sejujurnya, aku tidak mau tidak mau terlibat dengan istana ataupun kerajaan dan orang-orangnya."
Liliana menjelaskan perasannya panjang lebar kepada Duke Geraldine, bahwa dia tidak bisa kembali pada Max selagi ada Julia dan orang-orang yang bisa membahayakan dia dan anaknya.
Usai bicara dengan ayahnya tentang hubungannya dan Max. Ayahnya bertanya lagi tentang bagaimana Liliana mengenal sosok Aiden. Liliana menjawab bahwa Aiden adalah teman baiknya dan sebelumnya dia tidak tahu bahwa Aiden adalah seorang raja.
"Lily, apa mungkin yang mulia Raja Gallahan itu memiliki perasaan padamu?" Duke Geraldine menebak perasaan Raja Gallahan itu pada putrinya.
"Itu tidak mungkin ayah, aku seorang wanita yang sedang mengandung anak orang lain. Dia tau itu dan dia tidak mungkin menyukai wanita yang sedang hamil seperti aku. Kami hanya berteman saja dan juga setelah ini aku akan menjauhinya." ucap Liliana tegas.
"Baiklah nak, ayah akan mendukung semua keputusanmu. Jika kau memang ingin begitu, ayah hanya ingin kau nyaman dan bahagia Lily."
"Terimakasih ayah, maafkan aku karena selama ini aku sudah membuat ayah malu." Liliana menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah.
Duke Geraldine memeluk putrinya seraya menenangkan hati Liliana yang sedang tercabik-cabik dan tercampur aduk itu. "Tidak, aku sama sekali tidak merasa malu...kau adalah putri yang baik dan kau kebangganku."
"Terimakasih ayah... terimakasih..." Liliana melepas pelukan ayahnya lalu dia tersenyum. "Oh ya ayah, bagaimana keadaan Adara dan kandungannya?" tanya Liliana cemas.
"Oh ya.. Ayah hampir lupa, ada surat untukmu darinya." Duke Geraldine merogoh saku di jas bagian atas bajunya. Dia mengambil secarik amplop disana. Liliana tersenyum haru melihat surat itu.
"Ternyata dia masih ingat padaku. Ayah, aku akan membacanya di kamar."
"Baiklah nak."
Liliana pamit untuk kembali ke kamarnya karena dia lelah dan ingin beristirahat. Saat dia akan kembali ke kamar, terdengar suara ketukan pintu di luar rumahnya.
Tok, tok, tok!
__ADS_1
...****...