
...🍁🍁🍁...
Laura dan Eugene menghampiri Max yang sedang duduk di atas tempat duduk di taman itu. "Kakak, apa kau benar-benar akan pergi ke pulau Jarvara? Apa kau yakin bahwa kakak iparku berada disana?" tanya Laura pada Max.
"Iya, aku yakin. Melihat dari reaksi Duke, dia sepertinya berada disana. Namun aku tak tahu jelasnya ada dimana atau dimana dia tinggal." Max yakin bahwa Liliana berada di pulau yang bernama Jarvara itu.
"Yang mulia, anda tenang saja. Jika benar nona Liliana berada disana, maka tidak akan sulit menemukannya karena pulau Jarvara di kerajaan Gallahan hanyalah wilayah kecil. Jumlah penduduknya saja bisa dihitung oleh jari," jelas Eugene yakin.
"Kau benar, aku pasti akan menemukannya jika benar dia berada disana." Max menatap langit, sambil memikirkan mantan istrinya itu.
Lily, apa kita akan bertemu?
"Oh ya Marquess Eugene, surat kabar tentang aku dan nona Julia...bantu aku menghapusnya dan menyingkirkannya dari peredaran." Kata Max dengan tegas.
Sebelum menikah dengan Laura, Eugene diberikan gelar oleh Max sebagai Marquess dan posisinya terangkat yang tadinya hanya kesatria biasa. Kini sudah menjadi Marquess agar dirinya bisa menikahi Laura.
"Ya yang mulia,"
"Kakak, jika kau bertemu dengan kakak ipar ku...tolong katakan padanya bahwa aku ingin bertemu dan aku sangat merindukannya." kata Laura berpesan padanya.
"Putri Laura, seandainya aku bertemu dengannya disana, pasti aku akan segera membawanya kemari. Kau bisa menyampaikan pesanmu sendiri kepadanya." kata Max dengan harapan ingin bertemu dengan Liliana.
Jika aku bertemu denganmu lagi, aku pasti akan membawamu kembali ke istana ini. Jika kau tidak mau ikut denganku, maka aku akan memaksamu. Jika kita sudah bersama, aku akan menggenggam erat-erat dirimu...kalau perlu aku akan mengurungmu agar kau tidak bisa kabur dariku.
"Baiklah kakak. Suamiku, aku ingin kembali ke kamar." Laura meminta pada suaminya agar mengantarkan nya kembali ke kamar.
"Ya sayang, mari kembali. Angin malam tidak baik untuk bayi kita." Eugene menatap istrinya dengan penuh cinta, dia memegang perut datar Laura. Kini kandungan Laura sudah menginjakkan usia 3 bulan, berbeda satu bulan dengan kandungan Liliana.
Max iri melihat kebahagiaan adiknya dan suaminya, iri bukan karena dengki. Dia itu karena menginginkan kebahagiaan yang sama dengan adiknya, bisa hidup dengan orang yang dicintai. Lalu mereka sedang menyambut anak pertama mereka.
"Betapa bahagianya, seandainya aku dan lili juga seperti itu. Kalau Lily sedang mengandung anakku, pasti aku akan membuat dia sangat bahagia...aku akan memberikan apapun yang dia inginkan, bahkan dunia ini sekalipun. Aku akan menjadi orang paling bahagia, tapi...semua itu belum terwujud karena kau tidak ada disini." Max mengepalkan tangannya dengan gemas. Dia tersiksa rindu memikirkan Liliana yang sudah menghilang dari pandangannya selama kurang lebih dua bulan.
Dia berharap dengan kepergiannya ke pulau Jarvara, dia akan menemukan mantan istrinya itu.
Setelah merenung lama di luar taman, Max memutuskan untuk masuk kembali ke kamar. Namun bukan kembali ke kamarnya, melainkan ke istana putri mahkota. Semenjak Liliana pergi dari istana dan dari hidupnya, Max hanya bisa tidur jika dia berada di kamar Liliana.
Klak!
__ADS_1
Max membuka pintu kamar putri mahkota. Alangkah kagetnya dia saat melihat ada seseorang sedang duduk diatas ranjang itu. Seorang wanita cantik dengan gaun tidurnya yang berwarna merah.
"Yang mulia, anda sudah datang?" sambut Julia pada Max.
Mata Max merah menyala menatap Julia penuh kemarahan. "Kau...kenapa kau ada disini?"
"Saya menunggu yang mulia di istana utama, tapi ternyata yang mulia tidak ada disana. Jadi, saya pergi kesini dan ternyata yang mulia benar ada disini." Julia beranjak dari ranjang butuh, dia berjalan mendekati Max.
Tidak mungkin yang mulia Raja akan tahan dengan pesonaku. Aku memakai parfum sihir yang bisa membuat siapapun tergoda.
Beraninya dia memakai parfum terlarang ini untuk menggodaku!. Max mencium wewangian yang sangat menyengat di ruangan itu, terutama di tubuh Julia.
"Kau! Pergilah kau dari sini sebelum aku mematahkan lehermu!" Ancam Max pada Julia.
Karena wanita ini aku kehilangan Liliana.
Bukannya pergi, gadis itu malah mendekati Max bahkan memegang tangannya. Lalu Max mencekik Julia dengan sedikit tenaganya.
"Kkeeeuuukkkkkk....yang-yang mu-lia.." Julia merintih kesakitan, lehernya dicekik oleh pria itu dengan kasarnya.
"Apa kau mau mati? Beraninya kau berada di kamar ini dan duduk diranjang itu! Dasar kau wanita kotor!" Tangan Max merengkuh Julia dengan erat.
"Aku sudah mengizinkanmu untuk tinggal di istana ini, tapi bukan berarti kau bisa pergi seenaknya!" Max melempar tubuh wanita itu ke bawah lantai.
Julia mengambil nafas, dia batuk-batuk dan memegang lehernya yang serasa mau putus itu. "Yang mulia...uhuk uhuk..."
Sama sekali tidak ada rasa kasihan atau Ina sedikitpun pada gadis itu. Dia malah mengusirnya dengan kasar tanpa perasaan. "Pengawal!!" Teriak Max pada para penjaga di luar.
Beberapa pengawal di istana putri mahkota datang ke kamar itu, mereka memberikan hormat pada Max.
"Siapa yang mengizinkan wanita ini masuk ke dalam kamar Ratuku?!!" Teriak Max membentak pada pengawalnya itu.
Ratuku? Barusan dia bilang Ratuku? Apa itu adalah anak pungut dari keluarga Geraldine?. Julia menengadah ke arah Max, dia kesal karena hanya Liliana saja yang menjadi ratunya.
"Yang mulia...sa-saya.." kata pengawal itu mengaku.
"Aku tidak suka orang yang berbasa-basi!" Max mengambil pedang dan membunuh seorang pengawal yang menjaga istana itu.
__ADS_1
Darah pengawal yang mati itu muncrat kemana-mana dan membuat semua orang yang melihatnya terperangah, termasuk Julia yang masih terduduk di lantai dengan wajah pucat.
"Inilah contoh dan akibat yang akan terima jika kalian tidak mengerjakan tugas kalian dengan baik!" Teriak Max sambil membersihkan darah di pedangnya.
Sejak Liliana meninggalkan istana dan meninggalkan Max, pria itu menjadi seorang Raja. Raja yang hebat tapi tegas dan kejam, taat pada hukum.
Julia yang syok dibawa oleh seorang pengawal kembali ke istananya sendiri, yaitu istana tempatnya menginap disana. Itupun karena ayahnya dan para menteri yang membuat dia tinggal disana. "Sial! Aku tidak bisa menerima penghinaan ini lagi. Daripada posisiku terombang-ambing seperti ini, lebih baik aku mengambil posisi selir yang ditawarkan oleh yang mulia ibu suri." gumam Julia yang masih berambisi menjadi wanita penguasa di kerajaan itu.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Maafkan saya karena-"
Plakkkk!
Julia menampar pelayannya dengan keras dan kasar, matanya menyala emosi. Pelayan setianya tidak ada disaat dia sedang kesulitan dan hampir mati ditangan Max.
"Darimana saja kau? Aku hampir mati dan kau pergi jalan-jalan di luar sana!"
Si pelayan bernama Risa itu memegang pipinya, "Maafkan saya nona, saya baru saja dari istana-"
"Aku tidak mau mendengar alasanmu!" Julia memotong ucapan Risa dengan cepat dan menyentaknya. "Papah aku sampai ke istanaku!"
"Baik nona," jawab Risa patuh.
Cih! Bahkan setelah wanita itu pergi, dia masih saja membayangi yang mulia Raja. Harus bagaimana lagi aku menyingkirkannya?.
Hati Julia dipenuhi kebencian mendalam terhadap sosok Liliana yang bahkan tidak ada disana tapi dia menempati tempat paling penting di hati Max. Pria yang ia cintai itu yang hatinya tidak pernah bisa dia dapatkan.
Beberapa menit kemudian setelah perjalanan yang cukup panjang ke istananya, Julia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia dibantu oleh Risa, mengoleskan salep di lehernya yang terluka.
"Risa, aku ingin susu hangat...cepat bawakan untukku!" ujar Julia memerintah pelayannya itu untuk memenuhi keinginannya.
"Saya akan bawakan nona, tunggu sebentar." kata Risa sambil menundukkan kepalanya didepan Julia.
Keesokan harinya, Max dan beberapa prajuritnya bersiap untuk pergi ke pulau Jarvara. Ketika mereka akan berangkat, Julia dan Duke Norton datang kesana untuk ikut dengan Max.
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Max sinis dan sarkas kepada ayah dan anak itu.
"Yang mulia, saya hanya mengantarkan putri saya untuk mendampingi yang mulia." ucap Duke Norton.
__ADS_1
"Apa? Kata siapa dia boleh ikut?!" Suara Max menggelegar sampai membuat ayah dan anak itu terkejut karenanya.
...----*****---...