
...🍀🍀🍀...
"Tuan? Mengapa kau tidak jawab pertanyaanku? Apakah tuan mengalami sebuah penyakit yang membuat tuan seperti ini?" Liliana tidak marah sama sekali, malah dia mencemaskan keadaan pria itu. Walau dirinya sendiri terluka karena Max yang menyerangnya.
Max terdiam, memandangi gadis itu dengan perasaan bersalah. "Kenapa kau..."
"Kenapa apa tuan?" Liliana keheranan sebab Max tiba-tiba saja menghentikan perkataannya.
"Padahal keadaanmu seperti ini tapi kenapa kau tidak marah kepadaku?" Max menatap Liliana dengan cemas.
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena diriku, kau terluka seperti ini. Padahal kau bisa saja mati jika aku tidak berhenti, tapi kenapa kau tenang-tenang saja seperti ini dan malah menanyakan keadaanku? Kau... normalnya harus marah padaku!"
Liliana sedikit menaikkan alisnya, kemudian dia tersenyum tipis dibibir pucatnya itu. "Kenapa aku harus marah pada tuan? Tuan kan tidak sengaja melakukan itu, aku paham...tubuh tuan sedang dikuasai oleh sesuatu yang lain saat itu." Ucap Liliana memahami keadaan Max.
Tanpa sadar air mata pria itu jatuh, mengalir deras membasahi wajahnya, bahkan sampai jatuh ke tangan Liliana. "Tuan...mengapa anda menangis?"
Bagaimana ini? Semakin kau bersikap begini, semakin aku tidak bisa melepaskanmu yang artinya aku harus melanggar janjiku. Oh Tuhan, kenapa Engkau harus membuat kisah kami seperti ini?. Max membatin perih didalam hatinya.
"Siapa yang menangis? Aku tidak menangis!" Sangkalnya, lalu bergegas menyeka air mata yang membasahi pipinya itu.
Kau harus kuat Max, setelah ini kau harus melepaskannya.
"Tuan...kau belum menjawab semua pertanyaanku?"
"Siapa kau? Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Tanya Max ketus.
"Lagi-lagi kau bersikap ketus padaku!" Gerutu gadis itu kesal dibuatnya. Sikap Max yang berubah-ubah seperti cambuk untuknya. "Kenapa kau berpura-pura seperti ini? Kalau aku ada salah, harusnya kau katakan saja. Jangan menutupi dengan sikapmu itu."
__ADS_1
Max berada diambang keraguan, dia masih tidak mau mengingkari janjinya untuk menjauh dari Liliana karena dia takut akan membuat Liliana terluka karena dirinya lagi. Jadi dia memutuskan untuk menjauh dan tidak mendengarkan perkataan Brieta yang memintanya bersama Liliana kembali.
Menjauh memang menjadi pilihan terbaik. Begitulah pikirnya.
Setelah insiden itu, Max meninggalkan Liliana di penginapan dengan sejumlah uang koin sebagai bentuk kompensasi. Tak lupa Max juga meninggalkan sepucuk surat untuk gadis itu. Liliana tampak sakit hati saat membacanya dan setelah keadaan Liliana membaik.
Dia memutuskan untuk pergi bersama Aiden ke Gallahan. Padahal tadinya dia ingin berada di kerajaan Istvan, dengan Max sebagai alasannya. Tentu saja Aiden yang paling diuntungkan di sini karena Liliana telah beberapa langkah dekat dengannya.
Disisi lain Brieta sangat menyayangkan Max melepaskan Liliana untuk ke sekian kalinya. Bahkan Brieta menyebutnya sebagai orang bodoh.
"Yang mulia, anda benar-benar bodohnya tidak tertolong lagi!" Umpat Brieta kepada pria yang memiliki posisi tertinggi, terhormat di kerajaan itu. Yaitu putra mahkota kerajaan Istvan yang sebentar lagi akan dilantik menjadi Raja sepulang dari medan perang.
"Seenaknya saja kau menghinaku seperti ini? Apa kau lupa siapa aku dan siapa kau? Apa kau mau kepalamu berakhir di tiang pancungan?!!" Ancam Max marah karena Brieta selalu saja menegur dirinya sebagai orang bodoh. Lama-lama ia tak tahan dihina terus menerus oleh Brieta.
"Silahkan saja, kalau yang mulia memang ingin memenggal kepala saya! Tapi, jika yang mulia melakukan itu, maka yang mulia tidak akan pernah tau tentang ramalan masa depan yang saya lihat!"
"Kalau yang mulia tidak mau tau, ya sudah...saya tidak akan memaksa. Silahkan penggal saja kepala saya sekarang!" Brieta menyodorkan kepalanya seraya meminta untuk dipenggal.
Aku tau, kau tidak akan pernah melakukan itu yang mulia. Brieta yakin, Max tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan ia sesali nantinya.
"Ramalan...masa depan apa itu?" Max menatap Brieta dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Kalau kau ingin tau ramalan apa itu, tolong bawa nona Liliana kesini dulu. Lalu saya akan beritahu."
"Itu tidak mungkin..."
"Yang mulia, kenapa anda membuat semua ini menjadi rumit? Dengan janji dan prinsip anda itu hanya akan membuat anda dan nona Liliana menderita!" Brieta terlihat kesal, dia tidak tahan dengan sikap Max yang selalu memegang janjinya yang bodoh.
"Tapi aku tidak bisa membahayakan nyawanya lagi saatnya berada di dekatku. Kau tau sendiri kan? Apa yang terjadi terakhir kali padanya? Dia terluka dan hampir saja mati karenaku!" Max menyesali semua perbuatannya saat dia menggigit gadis itu, bahkan menghisap darahnya juga. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama jika dia berada di dekat pilihan hanya akan membuatnya menderita.
__ADS_1
"Tidak! Percayalah pada saya yang mulia, nona Liliana tidak akan pernah menderita lagi jika berada di dekat anda. Malah, jauh dari anda... kalian berdua akan semakin melemah. Kalian ditakdirkan untuk bersama."
Tiba-tiba saja Max terkekeh, tawanya sinis. "Ditakdirkan untuk bersama, katamu? Apa kau yakin? Kenapa di dalam kehidupan kami selama ini, selalu saja banyak masalah? Kami selalu saja berpisah dan tuhan sekali tidak mengijinkan kami untuk bersama!"
"Yang mulia pemikiran anda ini benar-benar salah. Apa anda paham arti ujian cinta? Ujian adalah suatu hal yang harus dilewati agar bisa membuat tingkatan seseorang menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Sama seperti apa yang anda dan nona Liliana alami saat ini! Yang mulia, dalam ramalan saya...yang mulia dan nona Liliana akan hidup bahagia dalam kehidupan kali ini dan kalian tidak akan pernah terpisahkan lagi selamanya."
Pria ini...dia benar-benar sangat keras kepala. Apa dia ingin kehilangan cintanya lagi?
Max tidak percaya, dia masih tetap pada statementnya sendiri dan tidak mau berharap kepada ramalan yang belum tentu bisa menjadi nyata. "Yang mulia, saya tau anda tidak akan percaya pada saya. Jadi izinkan saya bertaruh!"
"Apa?"
"Pergilah ke jalan Flora, tepat di gang sebelah kiri...nona Liliana akan berada disana dan dia diganggu oleh beberapa orang pria. Jika dia tidak ada di sana, maka anda bisa meninggal kepala saya." Brieta bertaruh dengan nyawanya agar Max bisa sedikit peka dan sadar bahwa yang ia lakukan ini adalah sebuah kesalahan dengan melewatkan kesempatan.
Max menerima tantangan dari Brieta. Max benar-benar datang ke jalan flora yang disebutkan itu. Benar saja, Liliana berada disana dan dia sedang diganggu oleh beberapa pria. Saat Max akan mendekat untuk menolongnya, Aiden sudah lebih dulu mendahuluinya.
"Bagaimana? Apa yang mulia percaya kepada saya sekarang?"
"Kau...ramalanmu benar." Max mengakui, yang dikatakan Brieta itu benar.
"Dan apa anda percaya dengan apa yang akan saya katakan kali ini?" Brieta tersenyum menyeringai, kata-katanya sungguh penuh dengan teka-teki yang membuat Max penasaran.
Pria itu menoleh ke arah Brieta dengan tatapan penuh pertanyaan. "Raja Gallahan, dia...yang merencanakan semua ini..."
Deg!
Sontak saja jantung Max berdegup sangat kencang saat mendengarnya. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Brieta.
...****...
__ADS_1