Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 169. Jahatnya Aiden (Revisi)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Max terdiam, ia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Brieta. "Nenek tua aku--"


"Yang mulia, cepat kejar dia! Atau Anda tidak akan pernah mendapatkan kesempatan seperti ini lagi. Nanti kita bicara!" Ujar Brieta pada Max, meminta pria itu untuk mengejar Liliana.


Max menghela nafas, kemudian dia pergi keluar dari restoran kecil itu untuk mengejar Liliana. Sayangnya , Liliana sudah tidak berada di sana. Hingga Max akhirnya bertanya pada Adrian dan Eugene keberadaan Liliana. "Kalian! Apa kalian melihat wanita yang bersamaku tadi keluar dari sini?" Tanya Max pada dua orang kepercayaannya itu.


"Tidak yang mulia, kami--"


"Bagaimana bisa kalian tidak melihatnya? Kalian ada di sini sejak tadi kan?"


"Ehm...sebenarnya tadi kami pergi ke toko sebelah barusan." Adrian jawab sembari menggaruk belakang telinganya.


"Hah! Apa kerjaan kalian disini? Dasar... kalian benar-benar...cepat cari wanita itu, atau kalian tidak akan pernah ku ampuni!" Titah Max pada kedua orang kepercayaannya itu.


"Ba-baik yang mulia!"


Adrian dan Eugene buku kan badan mereka dengan hormat kepada Max. Mereka pun bergegas melaksanakan perintah Max dengan mencari Liliana di sekitar sana.


Max juga tidak diam saja, dia ikut mencari Liliana. "Lily, kau dimana? Kau pasti masih belum jauh dari sini...aku yakin." Ucap Max bergumam.


*****


Liliana memang belum jauh dari sana, ia pergi bersama Aiden dan menyetujui tawaran untuk menjadi asistennya. "Jadi, apa kau setuju untuk menjadi asisten pribadiku?"


Gadis itu mengangguk. "Ya, saya setuju."


"Baiklah, mari kita cari penginapan disekitar sini lalu kita pergi ke Gallahan besok." Aiden tersenyum senang karena pilihannya menyetujui untuk menjadi asisten pribadinya.


Aku tidak percaya, bahwa Liliana akan semakin dekat denganku setelah ini. Dasar raja Gallahan yang bodoh, kau sudah kehilangan kesempatan besar dengan janji bodohmu itu. Tapi, aku tidak peduli. Yang penting aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan, tidak peduli jika harus mengorbankan Raja Istvan itu.


"Baik, mari kita cari penginapan di sekitar sini. Eh...tapi, apakah tuan benar-benar seorang raja?" Tanya Liliana yang masih tidak percaya dengan ucapan Aiden.


"Kau masih meragukan identitasku?" tanya Aiden sambil menatap Liliana dengan hangat dan lembut seperti biasanya.


"Dilihat dari wajahmu, tuan memang cocok menjadi seorang raja, tapi--"


"Apa?"


"Tidak apa-apa, lupakan saja. Lebih baik kita cari tempat beristirahat." Kata Liliana sambil tersenyum lebar.


Ketika Liliana dan Aiden jalan berdampingan, seseorang menarik tangan Liliana dan membuat gadis itu membalikkan tubuhnya "Ahh! Siapa yang--" kedua mata Liliana melebar ketika melihat Max berada disana.


"Kau--ikut aku!"


Gadis itu menepis tangan Max yang memeganginya. Ia masih marah pada pria itu yang berkata tidak mau bertemu dengannya lagi. "Apa yang kau lakukan?!" Liliana berusaha melepaskan dirinya dari Max.


"Tidak! Kau harus ikut aku!"


"Kau bilang aku harus pergi dari hadapanmu! Aku tidak akan muncul lagi didepanmu!" Teriak Liliana marah.


"Lepaskan dia, tuan!" Aiden menepis tangan Max dari Liliana. Kedua pria itu bertemu pandang dengan tatapan tajam.


Oh...kenapa aku menangkap ada semacam kilat didalam tatapan yang mulia raja dan pria ini?. Dorman merasa ngeri, tatkala tatapan Max dan Aiden saling bertemu dengan tajamnya.


"Yang mulia, anda disini?" Tanya Eugene sambil menghampiri Max.

__ADS_1


Yang mulia? Apa jangan-jangan dia anggota keluarga kerajaan atau--. Liliana terperangah karena Max dipanggil yang mulia oleh Eugene.


Max tidak menjawab bahkan mengabaikan panggilan dari Eugene. Dia memegang lagi tangan Liliana untuk kedua kalinya. Dan lagi-lagi Aiden ikut campur. "Nona Liliana, ayo kita pergi!"


"Tidak, kau harus pergi denganku!" Max menatap Liliana dengan penuh harapan.


"Lepas--lepaskan aku! Kau sendiri yang bilang tidak mau melihatku lagi!" Liliana menepis tangan Max lagi, dia sakit hati dengan ucapan pria itu apalagi sikapnya yang berubah-ubah dan tidak dia pahami.


"Nona Liliana, ayo!" Aiden memegang tangan Liliana dan mereka berdua melangkah pergi dari sana. Namun tiba-tiba saja Max memukul Aiden dari belakang hingga pria itu terjengkang.


BRUGH!


Eugene, Dorman dan Liliana tercengang melihatnya. Max menarik baju Aiden hingga tubuhnya terangkat ke atas. "Kau! Jangan ikut campur!"


Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap Raja Aiden. Ada yang mengganjal didalam hatiku.


"Kau yang jangan ikut campur. Kau sudah dengar apa katanya kan? Dia tidak mau bertemu denganmu, apa kau paham?" Tanya Aiden yang lalu menampik tangan Max dari bajunya.


"Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" Tanya Dorman.


"Tuan, apa kau terluka?" Liliana ikut bertanya karena cemas pada Aiden yang jatuh cukup keras ke jalanan didekat pantai itu.


"Kau--ugghh..." Max tiba-tiba saja terdiam saat dia jelas-jelas akan memukul Aiden. Max memegang lehernya dan dia merasa kesakitan.


Sial! Kenapa aku merasakan panas ini lagi? Kenapa harus kambuh sekarang? Ini baru siang hari...


Max mengeluh didalam hatinya, rupanya segel iblis itu aktif disaat siang hari. Biasanya Max akan kambuh di malam hari, lalu mengapa segelnya aktif sekarang. Diam-diam Aiden tersenyum melihat Max yang sedang menahan sakit itu dan dia teringat sesuatu.


#FLASHBACK


Tak lama kemudian, sebuah lubang hitam disertai cahaya hitam muncul tepat di depan mata Aiden.


Wush~~


Muncullah sosok raja iblis Utara dengan tampilan badan setengah ular. "Ada apa kau memanggilku?" Tanya si Raja iblis Utara dengan suara bariton menggelegar.


"Aku ingin bertanya padamu, wahai raja iblis!" Aiden menatap raja iblis itu tanpa takut dan ragu.


"Apa?"


"Tentang Liliana"


Raja iblis Utara tercekat mendengar jawaban Aiden yang ingin tau tentang Liliana. "Apa yang mau kau ketahui tentangnya? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau mau?"


"Aku ingin bertanya, apakah mungkin jika suatu saat nanti Liliana akan kembali mengingat semua masa lalunya?"


"Tidak mungkin. Dia tidak akan bisa karena Raja Istvan sudah terikat janji denganku, selamanya dia tidak akan bisa mengingat masa lalu...itulah bayaran dari kehidupan yang kuberikan kepadanya."


Aiden tersenyum smirk, ia mengelus dada, menghela nafasnya dengan lega. Kalau begitu dia bisa tenang karena Liliana mungkin tidak akan bisa mengingat masa lalu lagi. "Lalu tentang segel itu bagaimana? Aku ingin tau, bagaimana ketika segel itu kamu dan bagaimana segel itu bisa meledak."


"Raja Gallahan, Kenapa kau menanyakan tentang raja Istvan? Bukankah yang terpenting bagimu adalah wanita itu?"


"Jawab saja!" Aiden berujar dengan menegaskan.


Aku tidak boleh melewatkan sedikit salah apapun yang bisa membuat Liana kembali kepada mantan suaminya.


Raja iblis Utara tersenyum, lalu dia menjelaskan tanda-tanda ketika segel yang ada di dalam tubuh Max kambuh. Max akan merasa kesakitan, tubuhnya panas terutama bagian kepala dan leher seolah terbakar, dan dalam waktu beberapa menit dia akan berubah menjadi sosok seperti dirinya. Manusia setengah ular yang haus akan darah dan tidak akan puas sebelum meminum darah manusia.

__ADS_1


"Lalu, apa yang membuat dia bisa kembali menjadi manusia seutuhnya atau lepas dari segel itu?" tanya Aiden penasaran.


"Darah dari wanita yang sangat dia cintai adalah obatnya,"


Aiden menatap raja iblis itu dengan tajam, terlihat kegelisahan di wajahnya. "Apa dia sudah--"


"Dia tidak tahu hal ini dan meskipun dia tahu, dia tidak akan pernah mengorbankan wanita yang dicintai untuk kesembuhannya. Kau tenang saja, kau hanya perlu bergerak maju dan jangan ragu."


"Tetap saja aku gelisah! Mengapa kau tidak membunuhnya saja?"


Ya, Aiden memanglah sangat egois. Dia tidak mau anak penghalang sedikit apapun dalam hubungannya dengan Liliana yang saat ini sedang ingin dia mulai. Jadi, mungkin kematian bagi pria yang dicintai Liana akan membuat jalannya semakin terbuka lebar.


"Dia tidak bisa di bunuh karena di dalam darahnya mengalir darah iblis!"


"APA? Ini tidak mungkin, setahuku di masa lalu hanya Lucifer saja yang--ahhh..." Aiden tak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Yang mulia Raja Gallahan yang terhormat, mungkin wanita itu kehilangan ingatan tapi dia bukan berarti dia kehilangan perasaan." Seringai terlihat dibibir Raja iblis Utara.


Setelah mengucapkan kata-kata itu kepada Aiden, si iblis menghilang begitu saja. Aiden tertegun dibuatnya, kata-kata kehilangan ingatan bukan berarti kehilangan perasaan sungguh mengganggu pikirannya.


#END FLASHBACK


Melihat Max kesakitan, Liliana yang tadinya marah berubah menjadi iba dan tidak tega melihat Max seperti itu. Ia menepis tangan Aiden yang semula memegang tangannya. Terlihat kekecewaan di wajah Aiden saat Liliana menepis tangannya dan menghampiri Max dengan cemas.


"Tuan...apa anda baik-baik saja?" Liliana menatap Max dengan cemas.


Dia persis seperti malam itu, apa dia sakit parah?


"Yang mulia...apa yang mulia baik-baik saja?" tangan Adrian dan Eugene cemas pada putra mahkota kerajaan mereka itu.


Max terus mendengus menahan sakit, ia ingin segera pergi dari sana saat itu juga. Akan tetapi, dia tidak mau kehilangan Liliana lagi. Sementara itu Aiden menatap Liliana dan Max dengan tatapan yang dipenuhi oleh api cemburu.


Kemudian, terbesit kata-kata raja iblis Utara kepadanya semalam. Bahwa, "Mungkin wanita itu kehilangan ingatan tapi bukan berarti dia kehilangan perasaan."


"Nona Liliana, ayo kita pergi!"


"Maaf tuan Aiden, aku tidak bisa pergi meninggalkannya seperti ini." Liliana nolak ajakan untuk pergi bersamanya, sudah jelas alasannya adalah Max.


Entah kenapa aku tidak bisa melihat pria ini kesakitan.


Hati Liliana berat pada Max yang saat ini sedang kesakitan. Max memegang tangan Liliana dan memeluk gadis itu. "Ughh....jangan per--gi...kumohon...jangan..."


"Baiklah, aku tidak akan pergi!" Ucap Liliana yang membalas pelukan Max. Liliana semakin kenal saat merasakan tubuh Max yang panas itu. "Maaf...kita harus membawa tuan Maximilian ke tempat yang aman dulu!"


"Kita cari penginapan di sekitar sini, aku akan menunjukkannya!" Kata Aiden menimpali. Dia tidak mau membiarkan Liliana dan Max berdua saja.


Setelah apa yang aku lakukan, aku tidak mungkin membiarkan kalian bersama kembali.


Tanpa banyak bicara, Liliana dan Aiden membawa Max yang sedang kesakitan itu ke sebuah penginapan. Tubuh Max seperti terbakar dan dia segera berubah menjadi wujudnya yang menyeramkan. "Tuan...aku akan ambilkan kompres dingin untukmu!"


"Biar aku saja, kau disini saja!" Aiden mengigit bibir bawahnya. Dia gemas melihat Liliana yang begitu peduli pada Max, padahal Liliana hilang ingatan.


Aiden pergi meninggalkan kamar itu dengan menahan kesal. Meski sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Max dan Liliana berduaan saja.


"Sialan! Sial!"


...****...

__ADS_1


__ADS_2