
Duke Geraldine sedang berjalan melewati lorong menuju ke kamar Liliana yang sudah dipindahkan ke kamar Adaire. Di dalam kamar itu, terlihat Liliana palsu sedang mondar-mandir kesana kemari.
"Ini sudah malam, kenapa yang mulia dan nona Liliana belum kembali juga? Apa mereka berniat membunuhku? Sihirnya sebentar lagi akan musnah, ini saja sudah mulai memudar.." Liliana palsu melihat di kaki mulusnya sudah ada bulu-bulu halus yang keluar dari tubuh aslinya.
Dia mulai resah, takut Duke Geraldine atau orang-orang lainnya didalam mansion akan tau tentang penyamarannya ini.
Tok,tok,tok
Liliana palsu alias Adrian tercekat mendengar suara pintu yang diketuk itu. Dia salah tingkah dan bergerak kesana-kemari.
"Astaga! Siapa itu?" Refleks Liliana berjiwa Adrian lompat ke atas ranjang dengan kaki telanjang. Dia mengangkat gaunnya, wajahnya panik.
"Liliana, apa kau didalam nak? Ini ayah..'' ucap Duke Geraldine dari balik pintu kamar anaknya.
"Ya Ayah.." Tanpa sadar suara Liliana palsu menggelegar.
"Lily, kenapa ada suara pria didalam kamarmu?" tanya Duke Geraldine dengan suara tajam.
Astaga! Tanpa aku sadari suara asliku sudah mulai keluar, artinya sihir ini akan semakin memudar dan aku akan ketahuan.
Liliana palsu panik, dia pun mencoba memakai suara Liliana yang asli. "Ya.. ayah...tidak ada si-siapapun disini," jawab Adrian dengan suara lembut.
Yang mulia.. nona Liliana cepatlah datang!
"Ayah akan masuk ya?" Duke Geraldine sudah memegang gagang pintu dan bersiap membuka pintu kamar itu.
"Tu-tunggu ayah.. aku sedang berpakaian!" Seru Liliana palsu pada Duke Geraldine. Liliana palsu panik, dia bingung dan takut berhadapan dengan master pedang itu.
Duke Geraldine terdiam, dia merasa ada yang aneh dengan Liliana. Tanpa bicara, dia membuka pintu kamar itu. Terlihat Liliana palsu sedang duduk di dekat jendela sambil memakai syal ditubuhnya.
"Ha-halo Ayah," ucap Liliana palsu terbata-bata dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya karena tegang.
Duke Geraldine menatap Liliana palsu dengan tatapan tajam dan kening berkerut.
Ya Tuhan, tekanan macam apa ini? Ternyata sesulit ini tugasku sebagai kstaria pengawal nona Liliana. Ya Tuhan.. aku ingin kembali saja ke kamp ku di istana daripada mati dalam ketegangan begini!
"Lily, ayah dengar dari Daisy bahwa kau sedang tidak enak badan. Kau sakit apa nak?" Duke Geraldine bertanya sambil memegang kening Liliana palsu. "Kau berkeringat..."
"Ah.. a-aku tidak apa-apa Ayah. A-aku hanya sedang dalam masa periode bulanan ku, hehe.." ucap Liliana palsu gugup.
"Benarkah? Sepertinya masa bulananmu cukup parah, aku akan panggilkan tabib keluarga kita!"
__ADS_1
"Ti-tidak perlu Ayah.. aku baik-baik saja." Liliana palsu terlihat tegang, dia sama sekali tidak bisa berakting didepan pria itu.
Tiba-tiba raut wajah Duke Geraldine berubah ketika melihat Liliana palsu itu. Dia menodongkan pedangnya pada Liliana palsu. "A-ayaah apa yang kau lakukan?" Adrian terperangah sampai merentangkan kedua tangannya ke atas.
Apa aku ketahuan?. Adrian panik.
"Tunjukkan wujudmu yang sebenarnya sebelum aku yang membongkarnya!" kata Duke Geraldine sambil menodongkan pedang ke leher Adrian yang masih berwujud Liliana.
Katanya aku tidak akan ketahuan, tapi aku ketahuan juga. Matilah aku!
Adrian tidak punya pilihan selain menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Sihir yang dipasangkan Max padanya juga sudah memudar.
Duke Geraldine menatap marah pada Adrian yang telah menyamar menjadi putrinya. "Kau! Dimana putra mahkota? Kemana dia membawa putriku?" tanya Duke Geraldine.
"I-itu saya.. tidak tahu.." ucap Adrian sambil menundukkan kepalanya. "Saya mohon maaf yang mulia Duke," ucap Adrian lagi seraya berlutut memohon maaf pada Duke Geraldine karena sudah membohonginya.
Lagi-lagi putra mahkota. Apa hubungan mereka sudah sangat dalam?
Duke Geraldine terdiam dengan wajah sinisnya. Dia pun menurunkan kembali pedangnya. Tak lama kemudian, Liliana dan Max muncul lewat jendela.
Mereka terkejut melihat Duke Geraldine dan Adrian berada didalam kamar itu secara bersamaan.
Deg!
"Kemarilah Liliana Eissa Geraldine!" Seru Duke Geraldine setengah membentak anaknya itu.
Liliana melangkahkan kakinya mendekati sang ayah dengan kepala menunduk. Dia melihat kemarahan juga kecemasan didalam wajah ayahnya itu.
"Duke, aku bisa jelaskan.." Max berusaha bicara pada pria yang sedang marah itu.
"Cukup yang mulia-" Duke Geraldine mengangkat satu tangannya. Dia meminta putra mahkota itu untuk diam.
"Ayah, aku bisa jelaskan-"
Plakkkk
Duke Geraldine menampar putrinya didepan Max dan Adrian. Kedua pria itu tercengang dengan perilaku duke Geraldine pada putrinya itu.
Liliana memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Duke Geraldine, ayahnya.
"Aku sudah memperingatkan mu Lily, ini demi kebaikanmu!" Seru Duke Geraldine sambil menatap anaknya dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Duke Geraldine! Kenapa kau menamparnya?" Max terlihat kesal ketika Duke Geraldine menampar wanita yang dia cintai.
"Yang mulia, ini bukan urusan yang mulia. Lebih baik anda segera pergi dari kediaman ini." Duke Geraldine secara terang-terangan mengusir Max dari sana. Tidak peduli dengan status Max sebagai putra mahkota.
Max sakit hati melihat wanita yang ia cintai ditampar oleh ayahnya sendiri. "Aku akan pergi, tapi kau tidak boleh menyakiti dia!" Max melihat Liliana dengan iba. Gadis itu seperti akan menangis, dia memalingkan wajahnya dari Max.
"Ini bukan urusan anda," ucap Duke Geraldine sambil menatap tajam ke arah Max.
"Duke, aku akan bicara dengan anda nanti."
"Bawa juga ksatria pengawal anda yang mulia. Disini banyak kstaria yang bisa menjaga anak saya!" Kata Duke Geraldine tegas.
Suasana disana terasa tegang namun tak terlihat. Dengan berat hati dan cemas, Max terpaksa meninggalkan Liliana dengan kondisi seperti itu.
Max dan Adrian kembali ke istana, hati Max sungguh tidak tenang karena Liliana menangis karena di marahi oleh Duke Geraldine, bahkan ditampar olehnya.
"Yang mulia..maafkan saya,"
"Sudahlah ini bukan salahmu, wajar saja jika sikap Duke Geraldine seperti itu. Dia marah karena aku sudah berbohong, aku bilang padanya akan datang melalui pintu tapi.. aku masih datang melalui jendela membawa putrinya pergi tanpa izin.." Max tersenyum pahit penuh penyesalan.
Max memikirkan Liliana yang saat ini sedang dimarahi oleh ayahnya. Padahal besok dia akan pergi ke kerajaan Lostier, tapi hatinya malah tidak tenang.
*****
Kamar Liliana...
"Maafkan ayah Adaire, ayah melakukan ini demi kebaikanmu."'
"Aku mengerti Ayah. Tapi apa harus sampai seperti ini? Kenapa Ayah sangat tidak setuju dengan hubungan kami?" tanya Liliana sambil menangis menatap ayahnya.
"Adaire, ayah dan ibu sudah pernah mengatakan padamu bahwa kau tidak akan bahagia hidup bersama dengan anggota keluarga kerajaan," ucap Duke Geraldine sambil mengobati luka di pipi anaknya dengan salep.
"Ayah.. aku mencintai yang mulia putra mahkota," ucap Liliana sambil tersenyum pahit didalam air matanya.
"Adaire anakku..."
"Ayah, aku mohon berikan kami restu... berikan kami kesempatan," ucap Liliana seraya memohon pada Duke Geraldine.
"Tidak Adaire," jawab Duke Geraldine tegas. Dia tetap tidak mau memberikan kesempatan apalagi restu pada hubungan Max dan Liliana.
Maafkan ayah, Adaire..ini semua demi kebaikanmu juga.
__ADS_1
...----****----...