
...🍁🍁🍁...
Setelah lamaran itu dan mematikan perasaan satu sama lain. Pernikahan antara Max dan Liliana akan segera di gelar. Kali ini berbeda dengan pernikahan Laura dan Eugene yang sederhana, pernikahan Max dan Liliana digelar dengan mewah.
Pasalnya, mereka berasal dari dua kerajaan besar. Tentulah pesta mereka akan digelar mewah, mau tidak mau. Apalagi ibu suri Gallahan, dia sangat menginginkan acara pernikahan ini digelar dengan mewah.
Hari itu Liliana sedang fiting baju pengantin. Ibu suri memesan gaun dari desainer ternama di seluruh benua untuk membuatkan gaun untuknya.
"Lily, gaunmu sudah selesai...cobalah gaunnya ya? Supaya kita bisa tau bagaimana gaunnya, apakah terlalu kecil atau kebesaran!" Ibu suri terlihat bersemangat.
"Haaah...ya baiklah ibu." Gadis itu menghela nafas.
"Lily, kau harus semangat sayang...ini adalah pernikahanmu sekali dalam seumur hidup! Kau harus tampil sempurna dan menjadi pengantin wanita tercantik di seluruh benua ini," ucap ibu suri.
Ya...ibu tidak tahu saja kalau dulu aku pernah menikah sebelumnya dan upacara pernikahan itu melelahkan. Ucapnya dalam hati.
"Ya baiklah ibu, aku akan mencoba gaunnya." Liliana tersenyum lebar.
Gadis itu dan ibunya pergi ke ruang ganti di istana. Kemudian Liliana memakai gaun yang sudah di siapkan oleh desainer ternama itu.
"Yang mulia, gaunnya terlihat sangat cantik dan pas sekali! Yang mulia putri pasti akan menjadi pengantin wanita tercantik di seluruh benua ini." ucap wanita paruh baya, seorang desainer memuji kecantikan Liliana.
Dia menggunakan gaun putih, dengan belahan dada yang sedikit terlihat. Ada pita di tengah gaunnya, membuat tubuh Liliana terlihat sangat proporsional.
"Benarkah aku sangat cantik, ibu?" tanya Liliana seraya tersenyum pada ibunya.
Ibu suri mengangguk, dia mengakui kecantikan Liliana. "Ya, kau sangat cantik...ibu jadi rela kau menikah dengan raja Istvan."
Liliana memeluk ibunya, "Ibu...kenapa ibu bicara begitu? Memangnya kenapa dengan raja Istvan? Dia tampan, dia kaya, dia adalah pria paling berkuasa dan paling hebat." gadis itu memuji-muji Max setinggi langit didepan ibunya.
Huh! Kalau dia berada disini, pasti dia akan merasa terbang di puji-puji olehku.
"Tapi kau bisa mendapatkan yang lebih baik,"
"Ibu...tidak ada yang lebih baik untukku selain raja Maximillian. Dan aku sangat mencintainya." ucap wanita itu sambil tersenyum penuh kesungguhan.
"Hem...baiklah. Kalau dia menyakitimu, kau beritahu pada ibu ya?" ibu suri memegang tangan Liliana.
"Iya Bu,"
Ibu dan anak itu berpelukan. Sebenarnya rasa tidak ikhlas di dalam hati ketika Ibu suri harus merelakan putrinya untuk menikah dengan cepat, padahal dia masih ingin menikmati kebersamaan bersama anaknya itu. Namun dia yakin bahwa ini adalah pilihan terbaik, apalagi Aiden sangat ingin Max dan Liliana bersatu.
__ADS_1
*****
Akhirnya hari itu pun tiba juga, dimana iring-iringan Raja Istvan datang ke kerajaan Gallahan untuk melangsungkan pernikahan sekaligus menjalin hubungan kekerabatan dengan keluarga kerajaan itu.
Semua orang di dua kerajaan itu menyambut baik kedatangan Max ke kerajaan Istvan. Max menyapa semua orang dengan senyuman bahagia.
"Selamat atas pernikahannya yang mulia Raja! Selamat!" Seru rakyat kerajaan Gallahan memberi selamat dengan bahagia.
"Semoga bahagia, panjang umur, sehat selalu, hidup kerajaan Istvan dan kerajaan Gallahan!"
Max membalas ucapan selamat mereka dengan kata Terima kasih yang paling dalam dari hatinya. Dia bahagia karena semua orang juga ikut bahagia dengan pernikahannya. Dulu pernikahan Max dan Liliana tidak semewah ini, hanya diadakan di kerajaan dengan prosesi sederhana. Akan tetapi kali ini, pernikahan itu menjadi kebahagiaan bagi dua kerajaan dan digelar mewah seperti pesta rakyat.
Pada hari itu semua makanan gratis dan jalanan bebas hambatan dan pada hari itu tidak ada yang namanya bangsawan juga Rakyat jelata. Semuanya merayakan hari pernikahan itu tanpa kecuali.
Ya Tuhan, semoga pernikahanku dan Liliana berlangsung lancar dan semoga kami hidup bersama sampai tua. Jangan sampai seperti yang lalu lalu.
Pria itu berdoa dalam hatinya, dia berharap agar pernikahannya bertahan lama, cinta mereka abadi sampai mati dan umur mereka mencapai usia tua.
🍀🍀 Di depan pintu gerbang kerajaan Gallahan...
Max dan rombongannya disambut baik oleh ibu suri dan para menteri di istana Gallahan. "Selamat datang calon menantuku, yang mulia Raja Maximillian." sambut ibu suri ramah.
"Hem...baiklah. Yang mulia Raja---maksudku Maximillian, ketika kau memasuki pintu gerbang ini kau akan menikahi putriku, putri kerajaan ini dan kau akan membawa putriku pergi. Sebelum itu aku akan mengingatkanmu beberapa hal, jangan--pernah mengecewakanku. Apa kau paham?"
Max menatap ibu suri, dia memegang tangan sang ibu suri dengan lembut. "Aku tidak akan banyak bicara, tapi aku akan buktikan bahwa aku tidak akan mengecewakanmu, yang mulia ibu suri."
Dikecupnya punggung tangan ibu suri dengan lembut. "Aku akan melihat pembuktianmu itu, menantuku." Ibu suri memeluk Max, seraya menyambut pria itu dengan ramah.
Tak lupa ibu suri bertegur sapa juga dengan Laura, Eugene dan Freya. Freya terus saja menampakkan wajah kesal, dia tidak bisa menahan rasa tidak senangnya itu. Apalagi ketika Kyle ajudan setianya ditahan di penjara.
Kemudian, Max dan anggota keluarga kerajaan Istvan memasuki gereja besar yang letaknya masih berada di kerajaan Gallahan. Ditatapnya ruangan di sekelilingnya itu dengan bahagia, disinilah Max dan Liliana akan segara melangsungkan pernikahan mereka. Kini tinggal menunggu pengantin wanita datang.
Dorothy dan beberapa dayang menjemput Liliana di kamarnya. Gadis itu sedang bersama seseorang di dalam kamar. Mereka tampak mengobrol.
"Terima kasih sudah datang Brieta, kau harus menjadi saksi pernikahanku dan Maximillian." ucap Liliana sambil memegang tangan Brieta. Wanita yang sudah banyak berjasa dalam hubungannya dan Max.
"Tentu saja, karena itulah saya datang yang mulia." Brieta tersenyum di wajah keriputnya itu.
"Kalau begitu, ayo kita pergi! Sudah waktunya aku menikah."
Brieta menganggukkan kepalanya dengan senang. Dia memang ingin melihat pasangan itu bersatu dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
Liliana bersama Brieta dan para dayang itu memasuki gereja. Karena Liliana tidak mempunyai ayah dalam kehidupan kali ini, dia memilih Duke Geraldine sebagai pria yang menuntunnya. Walau dalam kehidupan kali ini Duke Geraldine bukanlah ayahnya, tapi Liliana tetap menganggap duke Geraldine adalah kakaknya.
Duke Geraldine menuntun Liliana sampai pada depan altar, dimana calon suaminya berada. Keduanya tampak serasi dengan menggunakan setelan senada berwarna putih. Hanya saja ada perbedaan di dalam baju yang dikenakan Max, ada lambang raja di sana.
Atensinya tertuju pada sosok Liliana yang cantik, wajahnya masih ditutupi oleh kain tile. Rambutnya di hiasi mahkota bunga, bibir merahnya menyunggingkan senyuman.
Akan tetapi, kedua mata Max langsung membulat begitu melihat gaun Liliana yang ternyata menunjukkan belahan dadanya. Senyuman manis itu berubah menjadi masam. Dalam hati, setelah upacara ini dia akan membawa Liliana pergi dari sana.
Semua tamu yang hadir sudah menempati posisi masing-masing. Bersiap mendengar dan menyaksikan janji suci Max dan Liliana. Akan tetapi si pendeta membacakan khutbahnya lebih dulu dan membuat Max geram.
"Astaga! Apa bisa di percepat saja?!" kata Max tak sabar.
Liliana dan semua orang terkena mendengar ucapan Max itu. "Maxim, apa yang kau lakukan?" bisiknya pada Max.
"Pendeta, percepat saja sampai bagian akhir! Jangan lama-lama." keluhnya menggerutu.
Dasar tidak sabaran. Batin di pendeta.
Pendeta itu pun mengangguk setelah mengerutkan keningnya. "Raja Maximillian Gallan Istvan, bersediakah anda menerima Liliana Charise Gallahan sebagai istri anda? Mencintainya seumur hidup, setia, menjaganya, sampai maut memisahkan."
"Aku bersedia, aku berjanji akan selalu menjaga cintaku seumur hidup bersama dalam suka dan duka." jawabnya cepat
Pendeta itu melontarkan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya kepada Liliana. "Saya bersedia, menemani Maximillian Gallan Istvan sebagai suami. Setia padanya, selalu mencintainya, menemaninya sampai maut memisahkan." ucap Liliana sambil tersenyum memandangi pria itu penuh cinta.
Pendeta itu terlihat tegang, manakala dia menangkap mata elang dari Max yang mengisyaratkan padanya untuk mempercepat proses pernikahan itu.
"Dengan ini saya nyatakan kalian sah sebagai suami istri."
Semua orang bersorak gembira dengan sahnya hubungan Max Liliana. Lalu kejadian mengejutkan terjadi, ketika Max tiba-tiba saja menyambar bibir Liliana. Padahal si pendeta baru saja ingin mengatakan ciuman sumpah dan Max sudah mendahuluinya. Semua orang dibuat tercengang dengan sikap tidak sabaran Max.
"PFut...." Adrian menahan tawa melihat rajanya yang tidak sabaran itu.
Liliana mendorong tubuh pria yang sudah menjadi suaminya itu. Matanya terbelalak menatap Max tak percaya. "Maximilian...kau... kyaaakk!!"
Gadis itu dibuat terkejut, ketika Max menggendongnya ala bridal didepan semua orang. "Apa yang kau lakukan?!"
"Maaf, aku harus pergi sekarang...silahkan nikmati pestanya tanpa aku dan istriku." ucap Max yang berjalan turun dari altar dan membawa Liliana pergi dari sana. Liliana menyembunyikan wajahnya karena malu dilihat oleh semua orang.
Sontak saja semua orang tertawa melihat semua itu. Terutama sikap Max yang tak sabaran.
"Haha...semoga kalian bahagia," ucap Brieta tulus mendoakan kebahagiaan Max dan Liliana.
__ADS_1