Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 192. Bertemu kekasih


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Tanpa mempedulikan keadaan sekitar dan anggapan orang-orang di sana. Laura pergi menghampiri Eugene dan menanyakan keadaannya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Laura pada kekasihnya itu, seraya menatap Eugene dengan lembut.


"Saya baik-baik saya yang mulia," jawab Eugene yang membuat hati Laura menjadi sejuk.


"Haaahhh.... syukurlah." Laura bernafas lega.


Kemudian Max datang menghampiri mereka berdua, dia meminta semuanya untuk bubar dan tetap melanjutkan seleksi ksatria Dangan Adrian sebagai pimpinannya. "Apa kalian percaya padaku sekarang?" Tanya Max seraya menatap Laura dan Eugene.


Kedua orang itu mengangguk. "Ya, yang mulia...kami percaya."


"Hem...aku tau pelakunya dan aku tau cara menangkapnya, kau ingin aku bagaimana? Kita tangkap saja dia, atau--"


"Tidak kakak, urusan ini biar aku yang menyelesaikannya dengan ibuku. Aku akan bicara padanya secara baik-baik dulu." Laura mencengkram rok panjang yang di kenakannya itu.


Ibu, kau telah melakukan hal ini terlalu jauh.


"Oh, baiklah...jika itu yang kau mau."


"Putri Laura..."lirih Eugene seraya menatap Laura.


"Eugene, kau tenang saja. Aku akan bicara dengan ibuku, agar dia tidak melakukan ini lagi padamu." Laura tersenyum.


Setelah itu, Laura langsung bertemu ibunya di istana Ratu. Dan benar saja seperti apa dugaan Max, Ratu alias Freya sedang bicara dengan Kyle ksatria kepercayaannya.


"Putri Laura, bukankah tidak sopan kau datang kemari tanpa mengetuk pintu lebih dulu? Kau seperti orang yang tidak memiliki etika!"


Freya menatap tajam dan sinis kepada putrinya yang masuk ke dalam kamarnya tanpa pemberitahuan dan langsung menerobos begitu saja. Laura balas menatap tajam pada ibunya.


"Ibu!"


"Kyle pergilah!" titah Freya pada pria bertubuh tegap dan tinggi itu.


Kyle menundukkan kepalanya di depan sang ibu suri. Namun ketika dia hendak melangkah pergi, Laura memanggilnya. "Berhenti di sana! Kau juga tidak boleh pergi kemanapun!"


"Laura, apa-apaan ini?" Tanya Freya tak paham dengan apa yang dikatakan oleh putrinya itu.


"Kau juga harus mendengarkan apa yang kukatakan!" Teriak Laura lalu melirik ke arah Kyle. "Jangan pernah menganggu calon suamiku, tuan Kyle!"


Kyle terperangah mendengar ucapan Laura. Calon suami yang di maksud Laura adalah siapa?


"Laura, siapa maksudmu calon suami?!" Freya membentak putrinya itu.

__ADS_1


Apa anak ini bermaksud menikah dengan pria itu? Astaga!


"Tentu saja Duke Rhodes, dia calon suamiku, ibu." Jawab Laura dengan penuh percaya diri.


"Hah? Kau pasti sudah gila, Laura!" Desis Freya.


"Ibu, aku tidak gila. Aku harus menikah dengan Duke Rhodes karena ini adalah dekrit dari yang mulia Raja sendiri. Dia telah menganugerahkanku kepada Duke Rhodes,"


Freya yang tidak tahu menahu soal ini, tentu saja kaget saat mendengarnya. Dia langsung memarahi Laura dan mengatakan bahwa Laura tidak bisa bersama Eugene, dia harus berjodoh dengan pangeran atau Raja dari negeri lain.


Ya, tentu saja Laura harus begitu. Karena bila suatu hari nanti kejayaannya mulai runtuh, dia bisa menumpang hidup pada Laura yang menjadi Ratu kerajaan lain.


"Kau tidak akan pernah menikah dengannya!"


"Ibu...aku akan menikah dengannya dan ini adalah dekrit Raja!" Tegas Laura merasa senang atas keputusan yang diberikan kakaknya untuk menikahkan dirinya dan Eugene.


Kakak, terimakasih...kau sudah membuat dekrit ini untukku. Jadi aku akan mudah menikah dengan Eugene.


"Ibu akan bicara pada Raja!" Tegas Freya marah.


Anak sialan itu, kenapa dia seenaknya memutuskan keputusan seperti ini untuk putriku?


"Silahkan saja bicara! Tapi aku akan tetap menikah dengan orang yang aku cintai! Mau ibu setuju atau tidak!" Kata Laura keras kepala.


Kakak pasti akan membantuku.


Rupanya sang Raja tengah pergi keluar istana tanpa pengawalan. Dia pergi ke dekat pantai, dia telah memiliki janji pertemuan dengan seseorang di sana.


Terlihat seorang gadis berambut merah, mengenakan gaun biru, berdiri di dekat pantai. Dia sedang berjalan tanpa alas kaki, menikmati terbenamnya matahari.


"Lily!"


"Oh? Kau sudah datang, Maxim..." Liliana menoleh ke arah Max yang sudah berdiri tak jauh darinya.


Pria itu tersenyum lebar begitu melihat cintanya di sana. Max berlari dengan tidak sabaran, lalu dia menggendong wanita itu sampai ke atas. Kedua tangannya merengkuh erat bawah bokongnya. "Kyaaakk!!! Apa yang kau lakukan?"


"Aku merindukanmu, sayang." Max mendongakkan kepalanya, lalu dia mencium bibir Liliana sekilas.


~Chup!


"Haihh... sudahlah turunkan aku, nanti ada yang lihat!" Pinta Liliana yang malu terus menerus di gendong olehnya. Malu kalau ada yang melihatnya di sana.


"Santai saja, lagi pula sudah ada yang melihat!" Kata Max yang masih betah menggendong gadis itu.


"Hihi...ibu ibu, lihat.. itu ada yang pacaran." Celetuk seorang anak laki-laki di sana seraya menunjuk pada Max dan Liliana.

__ADS_1


"Iya, mereke tium....tium.." celetuk lagi seorang anak perempuan sambil cengengesan melihat pasangan romantis itu.


"Ya sudah, kita pergi saja dari sini ya nak. Biarkan paman dan bibi, itu melanjutkannya." Kata si wanita sambil tersenyum, lalu di menggandeng kedua tangan anaknya. Membawa mereka pergi dari sana.


Liliana langsung memukul kepala Max dan membuatnya terlepas dari pelukan pria itu.


"Aduh sakit!" Max merintih kesakitan, dia memegang keningnya yang di pukul oleh Liliana.


"Rasakan! Siapa suruh kau genit?!" Keluh gadis itu sebal.


"Cepat kau usap aku, ini sakit sekali..."


"Jangan berlebihan!"


GREP!


Tanpa tahu malu lagi, Max memeluk Liliana dan membuat tubuh mereka berhimpitan. "Apa lagi yang mau kau lakukan?!"


"Tidak, aku hanya ingin memelukmu saja!" Max masih betah memeluk gadis itu.


"Maxim, aku tidak kesini untuk memelukmu. Aku kesini untuk memberitahu padamu tentang prosedur pernikahan di kerajaan Gallahan itu!"


"Hem baiklah, tapi kita bicara sambil jalan-jalan ya?" Tawar pria itu pada Liliana.


Gadis itu mengangguk. Dia tak punya waktu lama disana karena dia harus segera pergi ke istananya. Jarak tempuh dari Gallahan ke Istvan adalah satu hari.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, dengan kaki telanjang menikmati pasir dan desiran ombak pantai. Sudah lama mereka tidak bisa merasakan seperti ini. Kebersamaan mereka. "Oh ya, bagaimana dengan prosedur itu?"


"Ya, pertama-tama kau harus mengirim surat lamaran. Lalu, kau harus melalui seleksi dan kalau kau lolos kau bisa menikahiku."


"Astaga....ada seleksi juga? Aku pikir aku bis menikahimu saat ini juga!"


"Haha...sabarlah Maxim, sayangnya tak semudah itu. Oh ya, sudah ada beberapa surat lamaran yang datang padaku. Kau kalah cepat!"


"Astaga! Apa aku akan kalah?" Max mengerutkan keningnya dengan panik.


"Kau tidak akan kalah, kau selalu menang di dalam hatiku." Liliana tersenyum, lalu dia mengecup pipi pria itu dengan lembut.


"Kau..." Max tersipu malu dengan serangan kecupan itu.


"Maka dari itu, kau juga harus menang dari mereka. Aku akan menunggumu, menunggu hari pernikahan kita yang kedua. Pernikahan yang terakhir kalinya. Anggap saja ini adalah ujian cinta kita yang terakhir menuju pernikahan."


Max menatap wanita itu penuh cinta dan begitu pula sebaliknya. "Baiklah, setelah kita menikah...kita akan punya sepasang anak laki-laki dan perempuan, seperti anak-anak yang barusan itu?"


"Hahahaha....menikah saja belum, kau sudah memikirkan anak?"

__ADS_1


"Ya rencana saja, anak yang mirip denganmu... tentunya akan lebih manis." Max memeluk Liliana dengan lembut.


...****...


__ADS_2