
Max marah dengan tuntutan bangsawan yang kebanyakan berasal dari fraksi ratu. Tuntutan itu mengatakan tentang pelengseran posisi Liliana sebagai putri mahkota.
Beberapa dari mereka bahkan sudah memohon agar Max memilih putri mahkota baru. Lantaran status Liliana di mata orang-orang itu hanya anak angkat Duke.
Hal itu terdengar ke telinga Liliana dari Bianca. Tentu saja hal itu membuat Liliana sedih. Namun dia tidak menunjukkan kesedihannya.
"Jadi, semua orang sudah ingin melengserkan aku?" tanya Liliana pada Bianca.
"Benar yang mulia." jawab Bianca sambil menundukkan kepalanya.
"Ya aku sudah tau ini akan terjadi karena setelah bercerai dan pasti posisiku sebagai putri mahkota juga akan dicabut." Liliana meminum teh nya dengan wajah tenang.
"Saya tau itu yang mulia...tapi yang saya tidak mengerti, bagaimana bisa mereka memberikan calon putri mahkota yang baru padahal yang mulia putri mahkota masih berada disini. Benar-benar keterlaluan," Bianca ikut kesal dengan orang-orang yang ingin naik ke posisi putri mahkota.
"Tidak apa-apa, aku sudah menduganya akan seperti ini. Kau jangan marah." Liliana tersenyum lembut, berusaha setenang mungkin untuk menghadapi bahaya yang ada
Maxim, apa yang akan kau lakukan?
"Yang mulia, anda tidak boleh membiarkan ini semua terjadi."
"Apa yang harus aku lakukan Bianca? Ini semua tergantung pada keputusan putra mahkota," ucap Liliana pasrah.
"Tidak, ini semua tergantung keputusanmu juga." ucap Max yang tiba-tiba saja datang kesana.
Bianca, Daisy dan dayang Liliana memberi hormat pada putra mahkota kerajaan Istvan itu. Liliana juga melakukan hal yang sama. "Kalian semua pergilah," titah Max pada semua orang disana, kecuali Liliana.
Mereka semua pergi dengan patuh meninggalkan Liliana dan Max berdua di taman. "Kau terlihat santai saja ya putri mahkota. Kau masih bisa minum teh disini?" sindir Max pada wanita yang duduk berhadapan dengannya itu.
Sedangkan aku sibuk mempertahankan posisimu.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya meminta pada semua orang untuk mempertahankan posisi saya?" tanya Liliana sambil menatap pada Max.
Jika ini berat untukmu, kenapa kau tidak melepaskan aku saja? Mungkin perpisahan ini memang yang terbaik.
"Bagaimana bisa aku melakukan itu? Tentu saja aku akan berjuang untuk hubungan kita dan posisimu sebagai putri mahkota," ucap Max sambil menyerahkan bunga mawar merah pada wanita itu.
"Saya kan sudah bilang, saya tidak mau. Ini juga berat untuk yang mulia, lebih baik anda melepaskan saya saja agar kita sama-sama tenang. Apa anda tau..sekarang hubungan kita ibaratkan menahan akan lebih sakit, ketimbang melepaskan. Seperti yang mulia sedang menarik tali tambang yang berat, jika terus ditahan maka akan terluka. Jika dilepaskan maka rasa sakitnya akan hilang." Liliana menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Bohong, semua yang aku katakan ini bohong dan berlainan dengan hatiku. Walau sudah dilepaskan, pasti rasa sakitnya akan tetap ada
Di istana itu, kIni posisi Liliana sudah tidak penting karena dia sudah diceraikan oleh suaminya. Hanya status putri mahkota yang belum diturunkan secara resmi. Dia tidak tahan dengan orang-orang yang membicarakannya dan meremehkannya.
Saat itulah Liliana mulai berfikir, bahwa ayahnya memang benar. Hidup sebagai keluarga kerajaan memang tidak mudah, malah sangat berat. Sama seperti Maximilian yang menceraikannya demi semua orang. Cinta saja tidak bisa bertahan sepenuhnya dalam hubungan pasangan kerajaan. Pikirnya, semua ini memang harus diakhiri.
"Lily, aku tau aku salah. Aku akan menarik kembali perceraian itu agar semua orang tidak membicarakannya lagi dan semua akan selesai. Jadi tolong jangan katakan hal-hal tentang perceraian." ucap Max sambil memegang tangan Liliana.
"Yang mulia.. anda bicara seolah-olah saya yang ingin bercerai dari anda. Padahal andalah yang menceraikan saya dengan paksa." ucap Liliana sambil tersenyum pahit.
"Lily, berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memulai hubungan kita. Kumohon, jika kali ini tidak berjalan lancar.. aku akan-"
Mengapa kata perpisahan sulit keluar dari mulutku?.
"Baiklah, saya akan berikan hubungan kita kesempatan." ucap Liliana sambil menghela nafas.
Bagaimana pun juga aku masih sangat mencintaimu? Aku tidak yakin bahwa aku bisa melepaskanmu. Dibalik tekanan para bangsawan, perasaanku padamu sangat dalam.
Max terlihat senang. Dia pun tersenyum lebar, karena pada akhirnya Liliana sudah setuju untuk memulai semuanya dari awal. Memberikannya kesempatan.
Keesokan harinya, Max dan Liliana janji untuk berkencan di luar istana. Liliana sudah berdandan cantik saat itu, dia menunggu Max di tempat mereka selalu berkencan dulu. Taman yang ada didekat danau.
__ADS_1
Liliana memakai pakaian sederhana dan terlihat sangat cantik dengan dandanan naturalnya. Dia pergi tanpa seorang dayang disampingnya, hanya ada Adrian yang mengawasinya dari kejauhan.
"Kenapa yang mulia lama sekali? Ini sudah lewat waktunya," ucap Liliana sambil menatap langit yang mulai mendung. "Apa hari ini akan turun hujan?"
Adrian menatap Liliana dengan tatapan iba, dia merasa kasihan melihat Liliana yang sudah menunggu Max selama hampir dua jam disana. "Dimana yang mulia? Kenapa dia membiarkan yang mulia putri mahkota menunggu selama ini?" gumam pria itu dengan suara pelan.
Setalah menunggu hampir empat jam, Max tidak kunjung datang ke tempat pertemuannya dengan Liliana. Hujan pun akhirnya turun dengan deras, tubuh Liliana basah kuyup karena hujan yang besar itu.
Adrian menghampiri Liliana sambil membawakan payung yang dia beli secara mendadak. Dia memayungi Liliana. "Yang mulia, mari kita kembali ke istana. Yang mulia anda tidak boleh kehujanan." ucap Adrian cemas.
"Apa dia tidak akan datang? Apa kau tau dia dimana? Dia bukan orang yang mengingkari janjinya. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?" tanya Liliana mulai berpikir macam-macam tentang Max.
Liliana dan Adrian kembali malam itu dengan kondisi basah kuyup. Liliana langsung pergi ke istana putra mahkota, dia terlihat cemas takut terjadi sesuatu pada Max. Liliana pergi ke kamar khusus putra mahkota, beberapa pengawal menghalanginya.
"Maaf yang mulia, anda tidak boleh masuk." pengawal itu menghalangi Liliana untuk masuk ke dalam kamar Max.
"Beraninya kau menghalangiku! Aku masih putri mahkota di negeri ini!" Liliana kesal dengan tatapan pengawal yang meremehkannya itu. Bahkan beberapa dari mereka berani menertawakan Liliana secara terang-terangan.
"Turunkan tombakmu! Beraninya kau bersikap tidak sopan pada yang mulia putri mahkota!" Eugene memelototi pengawal itu. Hingga dua pengawal itu menyingkir dan memberikan jalan pada Liliana.
Liliana sedih, karena para pengawal itu lebih patuh pada Eugene ketimbang dirinya. "Terimakasih sir Eugene," ucapnya dengan senyuman pahit.
"Silahkan masuk yang mulia," Eugene membukakan pintu untuk Liliana.
Liliana melangkah masuk ke dalam kamar itu dan alangkah kagetnya dia begitu melihat sang suami tengah tidur satu ranjang bersama seorang wanita.
Dia tercengang, mulutnya menganga dan harus ditutup dengan tangannya. "Ini tidak mungkin...":
...-----*****----...
__ADS_1