
...🍁🍁🍁...
Setelah menyelamatkan dua Duke yang terluka, pangeran William ditangkap dan mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang harus dia dapatkan karena dia sudah berbuat curang dann mencelakakan orang lain.
Setelah itu pemenang dalam kompetisi diumumkan, Max adalah juaranya dan semua orang mengakui itu. Max yang akan menjadi calon suami Liliana. Semua orang memberinya ucapan selamat dan setelah itu dia meminta izin kepada Ibu suri dan semua orang yang ada di sana untuk membawa Liliana.
"Yang mulia ibu suri, karena saya sudah memenangkan kompetisi ini. Saya ingin segera membawa Putri Liliana ke kerajaan Istvan." ucap pria itu seraya meminta izin kepada ibu suri.
"Maafkan saya yang mulia Raja, saya belum bisa menyerahkan putri saya untuk sekarang. Itu karena anda harus menyelesaikan prosedur sebagai Raja untuk melamar putri saya secara resmi, tentu saja anda harus mendapatkan dukungan dari para menteri di kerajaan anda." jelas Ibu suri seraya tersenyum.
Ah sial! Yang benar saja! Aku hampir saja melupakannya, persetujuan para menteri ku.
Kedua mata pria itu membulat, ya dia lupa bahwa ada satu gunung yang harus di lewati. Para menteri dan bangsawan tertinggi di kerajaannya, dia harus mendapatkan persetujuan dari mereka juga. "Baiklah yang mulia ibu suri, saya akan datang kembali untuk melamar Putri Liliana secara resmi."
Ya, lagipula aku harus menikahkan dulu Laura dan Eugene. Tidak apalah bila aku sabar sebentar lagi.
Ibu suri dan Liliana tersenyum dengan perkataan Max. Rasanya hari bahagia mereka tidak lama lagi akan datang hanya tinggal menunggu waktunya saja.
Tak terasa sudah 5 hari Max berada di kerajaan Gallahan. Kini dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, yaitu kemenangan terhadap Liliana. Sudah waktunya dia segera kembali ke kerajaannya sendiri.
"Lily, aku akan segera kembali."
"Ya, aku akan menunggumu yang mulia."
Max memegang tangan Liliana, ia tersenyum kemudian mengecup kening gadis itu dengan lembut penuh kasih sayang.
__ADS_1
~Chup~
"Nanti kau datang ya ke pernikahan Putri Laura dan Eugene." ucapnya kemudian setelah mengecup kening Liliana.
"Mereka akan menikah? Kapan?"
"Segera setelah aku kembali ke istana, aku akan menikahkan mereka berdua. Aku sudah berjanji."
Liliana tersenyum bahagia mendengar berita itu. "Baguslah, aku sangat menantikannya. Tapi bagaimana dengan ibu suri Freya?" Liliana menanyakan Freya, karena dia tau dan dia khawatir dengan sikap buruknya itu di masa lalu dan di masa sekarang sama saja. Tak pernah berubah dan takutnya Freya akan merencanakan sesuatu untuk memisahkan mereka berdua.
"Tentang dia... kalau dia berbuat sesuatu, tentulah aku akan bertindak. Kau tau kan seberapa kuat diriku? Seberapa besar kekuasaanku tanpa perlu aku mengatakannya lagi padamu?"
"Ya, aku tau yang mulia Raja sangatlah hebat!" Gadis itu memuji kekasihnya.
"Hati-hati," jawabnya sambil tersenyum.
Namun bukannya segera pergi, pria itu terus memegang tangan Liliana seolah tidak mau melepaskan tangannya. Ya, dia enggan untuk pergi dan berpisah lagi dari Liliana. Bukan hanya Max saja yang enggan berpisah, Liliana juga sama. Dia tidak mau berpisah lagi dari pria yang dicintainya itu. Akan tetapi, mereka harus bersabar sebentar lagi.
Setelahnya Max kembali ke kerajaan Istvan, sesampainya di sana. Max langsung menepati janjinya untuk menikahkan Laura dan Eugene karena Liliana juga berpesan, agar Laura dan Eugene menikah lebih dulu, lalu setelah itu itulah mereka yang menikah dan bahagia.
Tentu saja pernikahan itu mendapat penolakan mentah-mentah dari Freya. Namun penolakan itu tidak bisa dia lakukan karena semuanya sudah dekrit Raja.
"Maximilian! Dasar anak kurang AJAR!" Freya murka, dia tidak terima karena penolakannya terhadap pernikahan Laura dan Eugene ditolak. "Margareth! Panggilkan putri Laura dan juga Duke Rhodes kemari!" titah Freya pada dayang setianya untuk memanggil putrinya dan juga kekasihnya datang.
Tidak ada cara lain lagi, aku harus bicara dengan mereka sendiri untuk membatalkan pernikahan ini.
__ADS_1
"Baik yang mulia," jawab Margareth.
Dengan patuh dayang itu pergi dari istana ini ibu suri dan melaksanakan perintah ibu suri untuk memanggil Laura dan Eugene. Namun beberapa saat kemudian, yang datang hanya Laura saja sendiri.
"Salam ibu!" Laura membukukan setengah badannya seraya memberi hormat kepada ibunya.
Freya mendelik ke arah putrinya, dia menelisik ke sekitarnya. Tidak ada sosok satu lagi yang dia panggil kesana. "Dimana Duke Rhodes?" tanyanya sinis seperti biasa bila menyangkut Eugene.
"Eugene sedang tidak ada disini, dia sibuk dengan urusan lain."
"Dia sedang sibuk atau kau yang ingin melindunginya!" Freya menatap tajam pada putrinya.
"Ibu, dia benar-benar sibuk!" Laura menatap ibunya dengan kesal.
"Baiklah kalau memang begitu, kita bicara saja sekarang!"
Freya dan Laura duduk berhadapan, mereka bersitegang. Freya tetap menentang keputusan Laura untuk menikah dengan pria pujaan hatinya. Laura juga tetap keras kepala teguh dalam pendiriannya, dia tetap akan menikah dengan Eugene.
Pembicaraan antara ibu dan anak itu tak berlangsung lancar. Akhirnya Laura meninggalkan Freya dengan marah. Freya juga merasakan hal yang sama dengan Laura, dia marah dan murka.
"Dasar anak durhaka! Baiklah kalau kau maunya begitu, aku akan membuat kau tidak bisa melihat pria itu lagi." Freya murka.
Dia memanggil Kyle lalu mengatakan pada Kyle untuk melenyapkan Eugene. Entah rencana jahat apa lagi yang akan direncanakannya kali ini.
...****...
__ADS_1