Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 101. Tidak mau memaafkan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Putri mahkota kerajaan Istvan itu kaget bukan main ketika tabib Chris mengatakan soal kehamilan. "Apa maksudnya? Hamil muda? Siapa yang..." Liliana terperangah.


"Yang mulia, putri Laura kini tengah mengandung." Ucap Chris menjelaskan dengan singkat.


"Astaga. Apa ini benar? Apa kau tidak salah memeriksanya?" Liliana tak percaya dengan apa yang dia dengar, dia tak percaya bahwa Laura yang belum menikah itu sudah hamil.


"Saya yakin yang mulia, dari gejala yang disebutkan oleh dayang itu dan juga hasil pemeriksaan. Saya yakin bahwa putri Laura sedang mengandung, usia kandungannya berkisar 2 atau menginjak 3 minggu.." Chris mengatakannya dengan yakin.


Aku tidak menyangka bahwa putri Laura yang polos, bisa melakukan hal ini. Apa j**adinya bila Baginda Ratu tau?. Chris membatin.


Liliana jatuh terduduk di sofa nya, wajahnya tampak syok. "Astaga...oh Tuhan..."


Putri Laura hamil? Siapakah ayah bayinya? Apa dia..


Liliana teringat bahwa dia pernah memergoki Laura dan Eugene bermesraan. Dia juga tau dari suaminya bahwa Eugene dan Laura menjalin hubungan. Apakah bayi itu adalah bayinya dan Eugene?


"Tuan Chris, aku mohon padamu agar-"


"Tuan Chris, apa aku benar-benar hamil?" Tanya Laura yang otomatis memotong ucapan Liliana.


Chris dan Liliana melihat ke arah Laura yang sudah beranjak duduk diatas ranjang itu. "Putri Laura, apa kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" Tanya Liliana sambil mendekati Laura. Dia menatap adik iparnya dengan cemas.


"Syukurlah, ternyata aku benar-benar hamil." Laura tersenyum bahagia sambil memegang perutnya.


Chris dan Liliana tersentak kaget melihat Laura yang tidak kaget sama sekali saat mengetahui kehamilannya. Dia malah terlihat bahagia dan tenang.


"Putri Laura... kenapa kau.." Liliana bingung harus bertanya apa. Kemudian dia melihat ke arah Chris, "Tuan Chris, kau tau apa yang harus kau lakukan? Jaga mulutmu, maka nyawamu juga akan aman!" Seru Liliana tegas pada Chris.


Sikap Liliana setelah menjadi putri mahkota menjadi tegas dan tidak pandang bulu. Walaupun begitu dia tetap memiliki hati yang baik.


"Saya mengerti yang mulia, saya akan menjaga rahasia ini." Chris patuh dan menundukkan kepalanya.


"Kalau ada yang bertanya padamu tentang kondisi putri Laura, kau tidak perlu menjawabnya atau jawab saja begini.. putri Laura hanya sakit biasa, dia masuk angin. Sekarang, pergilah! Aku ingin bicara dengan putri Laura berdua," ucap Liliana meminta pria tua itu untuk pergi dari kamarnya.

__ADS_1


"Saya mengerti yang mulia, saya pamit undur diri. Salam yang mulia putri mahkota, yang mulia putri Laura.." ucapnya seraya memberikan hormat pada kedua wanita itu.


Chris keluar dari kamar itu lalu menutup pintunya. Dia melihat Eugene dan Annie masih berada di sana, mereka menatap Chris dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Tuan tabib, bagaimana keadaan tuan putri? Apa tuan putri baik-baik saja?" Tanya Annie cemas.


Eugene juga menatap Chris dengan cemas, menantikan jawaban apa yang akan diberikan oleh Chris.


"Kalian tidak usah cemas, tuan putri baik-baik saja. Dia hanya mengalami masuk angin biasa," jelas Chris.


"Benarkah tidak ada yang serius? Syukurlah.." Annie bersyukur karena Laura baik-baik saja.


Ketika Annie langsung percaya pada ucapan Chris, Eugene tidak langsung percaya. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh Chris.


Kenapa aku merasa ada yang aneh? Kalau Laura hanya sakit masuk angin biasa, tidak mungkin tabib Chris terlihat serius dan tidak akan meminta kami keluar dari kamar putri mahkota. Apa Laura mengalami penyakit yang serius?


****


Didalam kamar Liliana. Laura dan Liliana bicara berdua tentang kehamilan Laura. Berita mencengangkan untuk Liliana. Laura sendiri tak terlihat kaget, dia malah merasa bahagia dengan kehamilannya ini.


"Putri Laura, apa kau tau ini akan terjadi? Kau tidak kaget sama sekali dan juga siapa ayah bayi ini?" Pertanyaan Liliana bertubi-tubi pada Laura.


"Iya, aku sudah tau tentang semua ini dan aku senang karena aku sedang hamil. Tapi, kakak ipar.. tolong jangan beritahukan dulu pada siapa siapa kalau aku sedang mengandung," ucap Laura pada Liliana.


"Tentu saja aku akan menjaga rahasia ini, tapi.. apakah benar ayahnya adalah sir.."


Laura langsung memotong ucapan Liliana, "Benar.. kakak ipar, ayah bayi ini adalah Eugene."


"Putri Laura! Apa Eugene memperkosamu?" Tuduh Liliana pada Eugene bahwa pria utuh sudah menodai Laura.


"Kau salah paham kakak ipar, dia tidak menodaiku. Aku dan Eugene melakukannya atas dasar cinta, kami saling mencintai!" Laura memperjelas semuanya pada Liliana.


Liliana memegang jidatnya, dia terlihat bingung. "Putri Laura, kenapa kau melakukan ini? Bagaimana jika semua orang tau tentang semua ini? Raja dan Ratu..apa yang akan terjadi nanti?"


"Kakak ipar, aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku tau jalan untuk hubungan kami tidak akan mudah, maka dari itu aku memberanikan diriku untuk melakukan ini. Jika aku mengandung anaknya Eugene, ibu dan ayah tidak ada pilihan lain selain setuju denganku."

__ADS_1


"Putri Laura, ini tidak akan semudah itu!" Liliana menegaskan pada Laura bahwa apa yang dia lakukan tidak akan mempermudah jalannya untuk bersama Eugene.


"Kakak, tolong jangan bahas ini dulu! Aku datang kemari untuk meminta tolong pada kakak ipar untuk memaafkan ibuku, setidaknya tolong bebaskan ibuku dari hukuman penjara! Aku mohon.." ucap Laura seraya memohon pada Liliana.


"Putri Laura.. aku-"


"Ratu tidak akan bebas, aku tidak mengizinkannya." Ucap Max yang sudah berada didepan pintu.


Laura beranjak dari ranjang itu, dia berlari menghampiri Max, "Kakak! Aku mohon kak, bebaskan ibu...berikan ibu satu kesempatan lagi."


Liliana cemas melihat Laura yang sedang hamil itu berlari-lari. Dia jadi kasihan pada Laura.


Dia sudah sering bebas dari hukuman karena kasih sayang Raja, aku tidak akan membiarkan dia bebas.


"Tidak, aku akan biarkan ibumu dihukum sesuai dengan yang harus dia dapatkan!" Kata Max tegas.


"Kakak...kakak ipar, kumohon.." Laura memelas pada kakak dan kakak iparnya itu.


Max tetap tegas dan teguh dengan keputusannya. Liliana mencoba membujuk Max untuk memberikan kesempatan sekali lagi pada ratu. Tapi Max tetap menolak, dia tak mau membebaskan Ratu. Laura pun pergi dari sana dengan hati sedih bercampur kecewa karena permintaannya ditolak.


"Yang mulia, mari kita berikan kesempatan satu lagi untuk yang mulia Ratu."


"Kenapa? Kau mau membiarkan orang yang hampir membuatmu mati hidup bahagia? Bebas dari hukuman?" Max tidak mau memaafkan orang yang sudah membuat istrinya sempat mati suri itu.


"Bukan begitu yang mulia, maksudku... mungkinkah ada kesempatan kedua untuknya."


Aku tidak mungkin bilang kalau aku melakukan ini karena aku kasihan pada putri Laura.


"Berbicara mengenai kesempatan kedua.. karena kesempatan pertama gagal, bagaimana kalau kita mencoba lagi?" Max mendekati Liliana kemudian dia mendorong pelan istrinya ke atas ranjang.


"Yang mulia, apa maksudmu?" Mata Liliana terbuka lebar. Dia berada dibawah tubuh suaminya.


Max menatap gadis itu dengan tatapan nanar, "Sudah dua Minggu, bukankah harusnya periode mu sudah selesai, putri mahkota?" bisik Max pada Liliana.


Wajah Liliana memerah seketika saat mendengarnya.

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2