
Eugene memperjelas semua laporannya. Di mengatakan bahwa mayat Adaire sudah ditemukan.
Max tercekat mendengarnya. Dia langsung meminta Eugene untuk mengantarkannya ke tempat penemuan mayat Adaire. Namun Eugene mengatakan bahwa mayat Adaire sudah berada di kediaman Geraldine, "Yang mulia, mayat nona Adaire sudah berada di kediaman Duke Geraldine,"
"APA?"
Sial! Awalnya aku tidak ingin membiarkan Liliana melihat mayatnya sendiri. Tapi... ah sial!
Max tadinya ingin melihat mayat itu lebih dulu dan tidak akan membiarkan Liliana melihat mayatnya. Tapi mayat itu sudah berada di kediaman Geraldine, dia tidak bisa datang kesana dan mengagetkan Liliana bahwa dia a dialah putra mahkota.
"Yang mulia, anda kenapa?" tanya Eugene keheranan melihat Max yang tiba-tiba terlihat kesal.
"Eugene, kau kirim Pierre kesana! Beritahu padanya untuk menyampaikan pada Duke Geraldine, bahwa dia harus membawa mayat nona Adaire ke ruang perawatan istana sebelum di kremasi! Buat surat perintah dari putra mahkota!" ujar Max memerintah.
Aku harus membantu Liliana menyelidiki kematiannya. Itu adalah cara terbaik untuk membantunya balas dendam, aku tidak mau dia terlibat dengan balas dendam lagi. Lily, biar aku yang menyelesaikannya.
"Baik yang mulia," jawab Eugene patuh.
Entah apa yang akan yang mulia lakukan dengan mayat itu.
Eugene langsung pergi melakukan tugasnya menemui Pierre. Ketika Max sedang sendirian resah di kamarnya, Laura datang untuk menemui saudara tirinya itu. "Kenapa kau kemari? Kau tau kan aku tidak suka orang asing datang ke kamarku?" Max menghalangi jalan Laura untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Tapi kakak, aku bukan orang asing. Aku adikmu!" kata Laura kesal.
"Bukan," sergah Max dengan ketus.
Lagi-lagi Laura dibuat sedih dan kesal, kakaknya selalu menolak mengakui dirinya. Hanya karena dia lahir dari Ratu Freya, ibu tirinya Max.
"Baiklah, aku adalah sekutumu! Orang yang menjaga rahasiamu, apa aku tidak boleh masuk ke dalam?" tanya Laura tidak pantang menyerah.
"Tidak boleh," jawab Max tetap pada pendiriannya.
"Kenapa? Apa jangan-jangan hanya boleh nona Lily saja yang masuk ke dalam kamar ini?" tanya Laura menggerutu.
"Siapa itu nona Lily?"
Suara yang dingin dan bertanya siapa Liliana, membuat Laura dan Max tercengang. Apalagi setelah melihat orang itu berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"I-ibunda," sapa Laura sambil menundukkan kepalanya pada Ratu Freya. Laura terlihat ketakutan pada ibunya.
Gadis berambut perak itu menyapa ibunya sambil menundukkan kepalanya.
Max menatap tajam ibu tirinya tanpa takut, Ratu Freya merremas rok panjang bersulam sutra itu dengan erat. Dia geram dengan sikap Max yang tidak sopan padanya.
Jika saja aku bisa melahirkan anak laki-laki. Sudah pasti anak sialan ini tidak akan bersikap tidak sopan padaku. Dia pasti akan ketakutan.
"Salam yang mulia Ratu," ucap Max dengan senyuman sinisnya, tanpa membungkukkan badan seperti apa yang dilakukan Laura.
"Kau harus mencontoh saudarimu yang mulia putra mahkota, lihat bagaimana cara dia menyapa ibunya?" sindir ratu Freya dengan sedikit senyuman di bibirnya.
"Hahaha, apa saya tidak salah dengar? Apa putri Laura sedang menyapa ibunya? Apa anda yakin baginda Ratu?" Max malah tertawa sinis.
Ratu Freya mendelik sinis pada Max, "Apa maksudmu putra mahkota?"
"Saya pikir kalau putri Laura tidak sedang menyapa ibunya, tapi dia sedang menyapa Ratu negeri ini. Lihat saja sendiri, bagaimana Baginda ratu membuat tubuhnya gemetar ketakutan? Karisma Baginda Ratu sungguh luar biasa," Max bertepuk tangan, dia senang melihat Ratu Freya terpojok dan marah.
"A-Apa? Putra mahkota, sikapmu ini sungguh keterlaluan!" Ujar Ratu Freya emosi.
Beraninya dia mengejekku!
Seorang dayang dibelakang Ratu, akhirnya angkat bicara."Yang mulia putra mahkota, tolong jaga sikap anda didepan Baginda Ratu!"
"Diam! Siapa kau berani menyela pembicaraan kami?" ucap Max seraya menunjukkan jarinya pada dayang itu. "Statusmu hanya dayang istana, beraninya kau membentak ku! Apa Baginda Ratu kurang mendidik mu? Atau hanya pendidikan merampas suami orang saja yang dia ajarkan?"
"PUTRA MAHKOTA!!" teriak Freya murka dan tersulut emosi.
Laura diam saja, dia tidak membela ibunya sama sekali. Karena dia tau bahwa ibunya memang selir istana yang merayu Raja untuk menjadi Ratu di negeri itu.
"Kenapa? Apa saya salah yang mulia Ratu?" Max menatap tajam pada ibu tirinya itu.
__ADS_1
Pasti rasanya sangat malu dihina di depan bawahannya sendiri.
"Aku akan memberikan guru etika terbaik di kerajaan ini untuk mengajarimu etika lebih baik lagi, putra mahkota!" ujar Ratu Freya emosi.
"Maaf, tapi saya sudah lulus kelas etika. Bukankah itu harusnya untuk Baginda? Perbaiki etika anda, sayang sekali anda memiliki putri yang berbakti. Jangan biarkan dia menjadi orang ketiga sama seperti anda," ucapnya sarkas sampai menusuk hati Freya dan Laura.
Freya langsung menampar Max dengan marah, hingga pipi Max berdarah tergores oleh kuku sang ratu yang panjang. "Kau benar-benar.. aku tidak akan mengampuni mu putra mahkota," ucap Freya murka.
"Ibunda, ibu tolong...hentikan semua ini. Sudahlah ibu," Laura mencoba menghentikan perdebatan itu sebelum meluas kemana-mana. "Ibu, aku ingin menunjukkan sesuatu pada ibu! Ayo ibu!" Laura mencoba membawa ibunya ke tempat lain.
Akhirnya perhatian ibunya teralihkan, namun dia berjanji akan membuat Max membayar penghinaan yang dia dapatkan. Max hanya memutar-mutar jari ditelinganya dengan santai.
"Nenek sihir itu sangat menyebalkan. Daripada aku berdiam diri disini, lebih baik aku melihat tahanan yang ada di penjara sambil bersenang-senang," Max tersenyum menyeringai.
"Blackey!"
Max memanggil Blackey yang bersemayam di belatinya. Blackey langsung muncul dalam sekali panggil, "Ya yang mulia?"
"Pergi dan susul Eugene ke tempat Duke Geraldine, awasi keadaan disana. Jangan sampai terlihat, kau harus fokus pada Lily,"
Dia pasti menangis melihat mayatnya sendiri. Sayangnya aku tidak bisa membongkar rahasiaku sekarang.
"Baik yang mulia,"
"Ah ya...dan satu lagi. Kalau kau melihat ada yang menganggu dia. Kau harus beri pelajaran pada orang yang mengganggunya," pesan Max pada Blackey.
"Siap yang mulia," jawab Blackey patuh.
Blackey langsung menghilang dalam sekejap mata. Sementara itu Max pergi ke penjara untuk menyiksa Adara.
...****...
Mayat Adaire tertutup kain putih, berada di rumah duka keluarga Geraldine. Anehnya, walau mayat itu sudah terombang-ambing di lautan lepas selama beberapa bulan dan tergeletak dipinggir pantai. Mayat Adaire masih utuh dan tidak busuk.
Semua orang yang melihat mayat itu, membicarakan keadaan yang terjadi. "Nona Adaire adalah nona yang baik, mungkin ini keajaiban dari Tuhan bahwa mayatnya tidak membusuk dan masih segar," ucap seorang pelayan dapur pada temannya.
"Iya kau benar, nona Adaire sebenarnya sangat baik. Dia hanya sedikit pendiam, dia bahkan pernah membantuku untuk mengobati luka saat aku terjatuh. Tapi aku malah menjauhinya," ucap seorang pelayan dapur lainnya.
Benar saja, apa yang diduga oleh Max. Liliana terlihat sedih, melihat mayat sendiri di depan matanya.
Ternyata kau sudah benar-benar mati Adaire, kau sudah mati.
Gadis berambut merah itu tak bisa menahan air mata kesedihannya. Kemudian sepasang tangan memegang bahunya. "Jangan bersedih, Adaire tidak akan senang melihat sahabatnya menangis seperti ini." kata Arsen sambil menyeka air mata Liliana.
Sontak saja dia menghindar dari Arsen dan menatapnya dengan jijik. "Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin menghiburmu,"
Ada apa dengan wanita ini? Sebelumnya dia memberikan sinyal agar aku mendekatinya. Lalu kenapa dia menghindar seperti ini? Apa dia sedang bermain jual mahal?
"Tidak apa-apa. Tapi tuan Arsen, kenapa aku merasa sepertinya kau tidak sedih atas kepergian istri pertamamu?" tanya Liliana sambil menyeka air mata dengan tangannya sendiri.
"Kenapa kau bicara begitu? Tentu saja aku sedih, istriku ditemukan dalam keadaan seperti ini. Hati siapa yang tidak akan terluka? Apalagi pernah ada cinta diantara kami," ucap Arsen memelas.
Cih! Dia membual lagi! Arsen kau adalah orang yang sangat buruk. Kau lebih buruk dari Adara
Liliana semakin jijik dengan pria bermuka dua didepannya itu. Pria yang pandai berpura-pura didepan ayahnya. Tujuan Arsen masuk ke dalam keluarganya, sudah terbaca. Dia ingin mewarisi gelar Duke.
"Oh begitu ya? Saya bertanya, karena saya tidak melihat anda menangis," ucap Liliana sambil tersenyum tipis.
Brengsek kau Arsen, aku tidak akan membiarkan kau mewarisi semua kekayaan ayahku. Karena sebelum itu terjadi, kau dan Adara akan berakhir di balik jeruji atau tiang gantungan.
Liliana memaki pria itu didalam hatinya.
"Aku tidak menangis bukan berarti aku tidak sedih, aku hanya tidak mau ayah mertuaku ikut sedih karena diriku menangis," ucap Arsen sambil duduk semakin mendekat ke arah Liliana.
"Oh begitu ya?" sahut Liliana cuek.
Jika aku berada didalam tubuh ini dan tubuh asliku sudah tiada. Lalu apakah aku akan akan tetap tinggal dalam tubuh ini selamanya?
Semakin Liliana cuek pada Arsen, semakin membuat Arsen semakin tertarik pada Liliana. Apalagi sebelumnya Liliana sempat bersikap ramah pada Arsen seolah menggoda dirinya, Arsen menganggap sikap Liliana adalah jual mahal.
__ADS_1
Semua orang disana berdatangan dan pergi untuk melayat Adaire. Jasad yang masih utuh yang akan di kremasi itu.
Duke Geraldine masih tidak percaya bahwa putrinya ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Pria paruh baya itu berdiri mematung dengan pandangan kosong, sambil melihat orang yang berlalu lalang memberikan penghormatan terakhir pada Adaire.
Liliana mendekati Duke Geraldine dan memegang tangannya, seraya memberikan semangat pada sang ayah. "Yang mulia Duke," tanya Liliana pada Duke Geraldine yang sedang duduk didepan peti mati putrinya itu
"Liliana, tolong katakan padaku! Jika Adaire masih ada disini, apakah dia akan memaafkan aku?" Duke Geraldine menangis, sambil menatap gadis cantik didepannya itu.
"Dia.."
"Apakah dia akan memaafkan semua kesalahanku yang sudah mengabaikannya selama ini? Sungguh.. aku mengabaikannya bukan karena aku membencinya! Bukan, bukan begitu...semuanya sudah terlambat, Adaire membenciku sampai dia tiada!" Duke Geraldine menangis terisak-isak, sakit hatinya melihat Adaire terbujur kaku tak bernyawa.
Liliana melihat penyesalan dimata ayahnya, didalam setiap ucapan pria itu. Liliana memegang tangan Duke Geraldine, dia ingin berusaha menenangkan ayahnya itu.
Kenapa baru sekarang ayah? Kenapa baru sekarang ayah menyadarinya ketika aku sudah tiada?
"Dia pasti membenciku kan?" tanya Duke Geraldine pada Liliana.
"Nona Adaire pasti akan memaafkan yang mulai, nona Adaire kan sangat baik. Dia tidak pernah membenci yang mulia Duke," ucap Daisy yang tiba-tiba sudah berada disamping Liliana.
"Iya itu benar, nona Adaire tidak membenci yang mulia. Dia pasti memaafkan yang mulia," ucap Liliana.
Aku sudah memaafkan ayah.
"Memaafkan ku? Lalu bagaimana dia bisa memaafkan ku? Dia bahkan belum mendengarku mengucapkan kata maaf," Duke Geraldine masih berada dalam penyesalannya.
Saat dalam suasana berduka, surat dari Max datang untuk Duke Geraldine. Dia segera membaca suratnya.
Permintaan pemeriksaan jenazah?
Duke Geraldine setuju dengan permintaan pemeriksaan jenazah putrinya sebelum di kremasi. Dia juga ingin tau apakah putrinya benar-benar mati karena tenggelam atau karena ada hal yang lain.
Walah sebenarnya dia tidak tega kremasi anaknya harus ditunda dulu, tapi ini demi menegakkan keadilan dan memecahkan keraguan Duke Geraldine pada putrinya Adara. Dia mencurigai Adara sebagai pelakunya.
Liliana terheran-heran karena putra mahkota yang bahkan tidak dia kenal ini, selalu ikut campur dalam urusan Adaire. Liliana mulai berfikir apakah putra mahkota ini pernah bertemu dengannya dimasa lalu saat dirinya masih menjadi Adaire yang dulu?
Akhirnya jenazah Adaire dibawa ke istana atas perintah Max untuk dilakukan pemeriksaan selama dua hari. Memastikan apa penyebab pasti Adaire meninggal. Hal itu membuat Arsen takut, karena dia ikut terlibat bersama Adara.
"Sial! Apa yang harus aku lakukan? Jika Adara ketahuan, maka aku juga akan terseret ke dalamnya. Aku harus melakukan sesuatu agar pihak istana tidak bisa melakukan pemeriksaan pada mayat si jelek itu!" gumam Arsen ketakutan dan resah.
...*****...
Di istana Ratu..
Freya dan Laura berada di ruangan santai Ratu. Sang ratu menatap putrinya dengan tajam.
"Putri Laura, duduk!" ujarnya tegas.
"Baik ibunda," jawab Laura patuh langsung duduk dihadapan ibunya.
"Besok, putra mahkota dari kerajaan Lostier akan datang kemari."
"Mau apa putra mahkota itu datang kemari, ibu?" tanya Laura tidak mengerti.
"Tentu saja untuk melamarmu. Jadi, kau harus berdandan yang cantik besok. Tidurlah, kau tidak boleh kurang tidur," ucap Ratu Freya sambil tersenyum.
"Ibu, tidak bisakah aku memilih jodohku sendiri?" tanya Laura pada ibunya.
Freya menjelaskan kepada anaknya, bahwa dia harus menikah dengan putra mahkota kerajaan Lostier agar dia bisa menjadi ratu. Freya tidak mengizinkan anaknya untuk menentang. Dia meminta Anie, membawa pergi Laura kembali ke kamarnya.
Laura tampak tertekan karena ibunya hanya menggunakannya sebagai alat politik dan tidak menyayangi dia setulus hatinya. Laura menangis sedih.
Saat Laura sedang berjalan di lorong menuju ke istananya, dia berpapasan dengan Eugene yang akan pergi ke istana Max. Eugene menatap Laura sekilas lalu dia menundukkan kepalanya seraya memberi hormat.
Kenapa yang mulia putri menangis? Aku ingin menanyakan itu, tapi siapa aku?
"Sir Eugene.." lirih Laura memanggil Eugene
Eugene menoleh ke arah Laura. Tak sengaja dia menatap Laura dengan tatapan penuh perasaan.
__ADS_1
...----*****----...
Hai Readers, jangan lupa komen, like, gift dan vote nya ya biar author semangat up ❤️❤️😍