Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 181. Tingkah Alejandro


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Mati aku! Bagaimana kalau aku benar-benar dihukum karena sudah kurang ajar pada anggota keluarga kerajaan? Huh aku harap, dia bukan orang yang pendendam.


Sedari tadi atensi sang putra mahkota terus tertuju pada Liliana yang menundukkan kepalanya. Dia tak berani mengangkat kepalanya dan terlihat ketakutan.


Wah...kenapa yang mulia putra mahkota menatap Liliana seperti itu? Apa jangan-jangan dia berbuat kesalahan pada putra mahkota?


"Yang mulia, kedatangan saya kemari adalah untuk meminta maaf kepada yang mulia." Kata Daisy yang tiba-tiba saja berdiri di depan Liliana, seolah melindunginya.


"Meminta maaf? Untuk apa? Apa untuk kekurangajaran gadis ini?" Sindir Max seraya melirik ke arah Liliana yang bersembunyi dibelakang punggung Daisy.


"Saya mohon maaf yang mulia, Liliana masihlah baru dan dalam tahap pelatihan. Jadi, kalau bisa...yang mulia maafkan saja dia kali ini ya? Dan alangkah lebih baik, kalau saya memilih dayang lain yang jauh lebih profesional dari Liliana."


"Ckckck..." Max bertolak pinggang seraya menatap tajam ke arah Liliana dan Daisy. "Daisy, aku tidak bisa memaafkan gadis ini begitu saja...dan kau jangan minta maaf atas nama dirinya. Dia harus mendapatkan hukuman dan tidak boleh pergi begitu saja."


Kau tidak akan bisa lepas dariku Liliana.


"Ma-maaf yang mulia, sebenarnya kesalahan Apa yang dilakukan oleh Liliana?"


"Kesalahannya sangat banyak padaku dan sepertinya hukuman gantung saja tak cukup." Max bicara tajam pada Liliana.


"A-APA??!" Daisy dan Liliana sama-sama tersentak kaget mendengarnya.


Mereka berdua terlihat kebingungan, Daisy melihat wajah Liliana yang memang menunjukkan bahwa dia bersalah. "Yang mulia, saya mohon ampun...tolong jangan libatkan nyonya Daisy. Saya yang salah!"


Liliana jatuh duduk berlutut di lantai, seraya memohon ampun pada Max. 'Huh, jangan libatkan nyonya Daisy, biarkan aku yang dihukum,'


"Liliana bangunlah!" Daisy meminta Liliana untuk beranjak dari lantai. Namun Liliana menolak dan menepis tangan Daisy.


Kasihan sekali Liliana, dia pasti melakukan kesalahan yang tidak disengaja di hari pertamanya bekerja sebagai dayang pribadi. Aku harus menolongnya.


"Yang mulia, saya mohon maafkan--"


"Tidak, aku tidak akan mentolerir kesalahannya. Dia sudah banyak melakukan sikap tidak sopan padaku," ucap Max tegas.


Hihihi, lihatlah wajah paniknya itu. Astaga, sangat menggemaskan sekali dan membuatku ingin menggodanya.


Max berpura-pura garang diluar padahal dia senang dan gemas melihat Liliana dan Daisy panik karena ketakutan. Rasanya senang mengganggunya.


"Yang mulia..."


"Kau dengarkan aku! Dia harus menjadi dayang pribadiku seumur hidupnya, itu adalah hukuman untuknya!"


Liliana tersentak kaget, kepalanya mendongak sekilas ke arah Max dengan mata yang terbelalak. Kemudian dia kembali menundukkan kepalanya, dia takut bahkan tubuhnya sampai gemetar.


Daisy juga merasakan ketegangan yang sama, dia merasa kasihan pada Liliana. Disaat kedua wanita itu panik, Max malah semakin ingin menggodanya.


"Yang mulia, saya mohon sekali lagi ampuni Liliana."


"Tidak ada gunanya memohon ampun. Tapi Kalau kau ingin menggantikannya untuk dihukum, aku tidak masalah."


Mendengar ancaman itu sontak membuat Liliana tercengang. Sudah jelas dia tidak mau kalau sampai Daisy terlibat masalah karena dirinya. "Tidak yang mulia! Jangan, saya mohon hukum nyonya Daisy, biarkan saya saja yang menjadi daya yang pribadi yang mulia.."


"Seumur hidup?" Max tersenyum menyeringai, atensinya tertuju sepenuhnya kepada Liliana. Dia amat penasaran dengan raut wajahnya saat ini, takut, panik, sungguh menggemaskan menggodanya.


"I-iya, saya akan menjadi dayang pribadi yang mulia seumur hidup saya!"


"Coba, katakan yang tegas sekali lagi karena aku tidak mendengarnya." Sengaja, Max semakin menggoda Liliana.


Uhhh..dasar putra mahkota sialan. Maki wanita itu kepada Sang putra mahkota di dalam hatinya.


"Saya berjanji, saya akan menjadi dayang pribadi yang mulia untuk seumur hidup saya!" Ucapnya dengan lantang dalam sekali tarikan nafas.


"Bagus, kalau begini kan terdengar. Nah, sekarang mulailah tugas pertamamu untuk melayaniku!"


Apa? Lagi-lagi kata-kata yang terdengar mesum itu keluar dari bibirnya. Sialan! Melayani apa maksudnya?


Daisy tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika perintah dari putra mahkota itu sudah mutlak, terpaksa pilihan harus menjalani hukumannya sebagai dayang pribadi istana putra mahkota, meski sebenarnya dia enggan. Tapi, di lain waktu Daisy akan mencoba membujuk lagi Max untuk membatalkan niatnya.


"Hey! Apa kau tetap berdiri di situ atau mengikutiku?!"


Suara yang membentak itu membuat Liliana terlonjak kaget, dengan tatapan tak rela dia meninggalkan Daisy di sana. Daisy juga menatapnya dengan cemas. Dia melihat punggung sang putra mahkota dan Liliana sudah pergi jauh meninggalkannya. "Semoga kau selamat Liliana, tenang saja aku pasti akan membantumu!" Ucapnya bergumam.


Akhirnya, tipu daya dan godaan Max berhasil membuat Liliana pergi mengikutinya. Liliana sebenarnya masih bingung dan tak menyangka bahwa pria yang dia temui selama beberapa kali di luar istana, seorang putra mahkota calon raja dari negeri itu.


Max pergi ke kamarnya, diikuti oleh Liliana dibelakangnya. "Heh! Ayo masuk! Kenapa kau berdiri di sana?" Tanya Max seraya menatap Liliana yang berdiri mematung di depan pintu kamar.


"Baik yang mulia," jawab gadis itu.


Aihhh...sabar...sabar. Aku yang salah disini, ya aku harus sadar diri.


Liliana mengekori putra mahkota kerajaan itu masuk ke dalam kamar. Sebelumnya, ada beberapa dayang istana yang melihatnya dengan tatapan iri. Ya, mereka iri karena Liliana bisa keluar masuk kamar Putra mahkota sesuka hatinya, dan melihat putra mahkota dari dekat.


Padahal sebenarnya Liliana tidak menginginkan ini, mereka tidak tahu saja bahwa Liliana dihukum olehnya.


Tiba-tiba saja, Max melorotkan bajunya. "Kyakk!!"


Kenapa pria ini membuka bajunya di depanku?


"Kenapa kau berteriak begitu?!"


"Yang mulia, kenapa anda suka membuka baju anda sembarangan? Saya ini seorang wanita!"


"Ya... kau memang wanita dan aku pria." Candanya sambil tersenyum.


"Hah?"


Aku tidak percaya ini, dia malah bercanda denganku.


"Kalau kau terus mengurutkan keningmu seperti itu, nanti kau bertambah tua."


"APA?!" Liliana terbelalak mendengar ucapan Max. Suaranya meninggi.

__ADS_1


"Ah maafkan saya yang mulia, saya minta maaf..." Liliana kembali menurunkan nada suaranya menjadi rendah, sesaat dia lupa posisinya. Siapa dia dan siapa pria yang ada di depannya itu.


"Siapkan bajuku, lalu siapkan cemilan untukku."


"Ah...baiklah, yang mulia. Mohon tunggu sebentar," ucap Liliana dengan menunjukkan senyuman yang canggung dan terpaksa.


Dengan terpaksa, Liliana lemari baju yang mewah dengan berhiaskan emas itu. Lemari baju besar, mungkin bisa cukup untuk bermain di sana. Ia melihat baju-baju Max didalam sana, bajunya tidak terlalu mewah dan terkesan sederhana. Tiba-tiba dia tersenyum dan atensinya tertuju pada baju berwarna merah.


"Sepertinya baju ini cocok untuknya, tapi kenapa ya baju ini terlihat familiar?" Gumam Liliana pelan.


Dia telah memantapkan hatinya untuk memilih baju berwarna merah itu, kemudi dia meletakkan bajunya di atas ranjang. "Yang mulia, tolong lihat dulu... apakah bajunya sudah benar?" Tanya Liliana kepada pria yang sedang duduk di sofa memakai kimono handuknya.


Max beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan ke arah ranjangnya di mana baju yang Liliana siapkan ada di sana. Max tercekat, matanya membulat melihat baju itu di sana.


"Kenapa yang mulia? Apa yang mulia tidak menyukai baju yang saya pilihkan? Bukankah, yang mulia akan pergi ke...keluar? Ja-jadi saya siapkan baju ini untuk yang mulia,"


Sungguh tak tenang hati Liliana begitu melihat raut wajah Max yang pucat pasi. Apa jangan-jangan ia sudah membuat kesalahan lagi secara tak sengaja? Liliana takut bahwa perlakuan ini akan berimbas kepada Daisy dayang lainnya.


Namun Max bukan marah pada Liliana, tapi dia memikirkan hal yang lain.


#FLASHBACK


Di kehidupan pernikahan Liliana dan Max berikutnya. Hari itu adalah hari yang penting untuk pertemuan yayasan amal di pusat kota. Liliana sibuk menyiapkan pakaian untuk suaminya yang baru saja selesai mandi.


"Sayang, mau pakaian yang seperti apa?" Tanya Liliana yang masih sibuk memilah milah baju.


"Apapun yang kau pilihkan untukku, pasti aku akan suka!" Max tersenyum pada istrinya, dia masih bertelanjang dada.


"Baiklah! Kalau begitu terserah ku saja ya?"


"Iya istriku." lirihnya dengan lembut.


Tak berselang lama kemudian, Liliana mengambil salah satu baju yang ada di dalam lemari besar itu. Dipilihnya baju berwarna merah, dengan strip hitam. Baju itu terlihat sederhana namun menampakkan kemewahan tersendiri.


Liliana membayangkan bagaimana jadinya bila pria itu memakai baju ini. Pastinya sangat tampan, elegan dan juga mencerminkan kesederhanaan. "Kenapa kau memilih baju yang ini? Baju ini kan sudah lama tidak kupakai?"


"Kau akan cocok memakainya, acara ini kan acara amal. Jadi jangan terlalu menonjolkan kemewahan."


"Istriku, memang pandai memilih pakaian."


Cup!


Dikecupnya pipi itu sekilas. "Maxim, Apa kau suka dengan baju pilihannya? Kalau kau tidak suka, kau bisa mengambil baju yang lain."


"Tidak... pilihanmu ini sudah bagus," Max memeluk Liliana dari belakang dengan mesra.


"Kau berbohong padaku kan?"


"Tidak, memang baju ini bagus." Max tersenyum, dia menciumi wajah Liliana.


#ENDFLASHBACK


"Yang mulia, apa anda--"


Ah, ya Tuhan sepertinya aku salah lagi.


"Saya mohon maaf yang mulia, saya akan memilihkan baju yang lainnya kalau yang mulia tidak menyukai baju ini." Liliana segera melangkah kembali menuju lemari besar itu.


Namun tangan besar menarik tubuhnya, hingga gadis itu saling berhimpitan dan berdekatan dengan Max. "Yang mulia...saya minta maaf," lirihnya seraya memohon maaf.


"Tidak, jangan meminta maaf! Aku bertanya padamu kenapa kau memilih baju itu?!" Max bertanya dengan suara meninggi.


"Saya...saya...entah kenapa saya memilih baju itu, saya rasa itu cocok untuk yang mulia."


Max masih memegang pergelangan tangan Liliana. Matanya menatap gadis itu dengan berkaca-kaca. Liliana merasa sedih melihat tatapan mata yang tertuju padanya itu.


Ternyata benar ada kemungkinan Lily, mengingat kembali masa lalu. Aku harus mencoba membuatnya ingat. Ya, selama dia berada disisiku mungkin itu tidak akan sulit.


"Yang mulia....saya minta maaf," mata gadis itu mengeluarkan butiran kristal hangat membasahi tangan Max.


Sadar akan Liliana yang menangis dan tangannya yang masih memegang gadis itu. Max buru-buru melepaskan pegangan tangannya. "Jangan menangis, kumohon..."


Kenapa aku cara membuatnya menangis?


"Tidak....saya yang harusnya meminta maaf pada yang mulia, saya sudah salah memilih baju...hiks...hiks..." Tubuh gadis itu gemetar, ketakutan. Dia tak kuasa menahan tangisnya.


Bodoh! Kenapa aku malah menangis? Kenapa air mata ini tak mau berhenti?


"Ini bukan salahmu, aku yang salah. Aku yang sudah membuatmu menangis.."


"Yang mulia, anda seharusnya tidak meminta maaf pada saya. Saya yang salah..."


"Keluarlah!"


Sepertinya aku tidak bisa bicara dengannya sekarang.


"Yang mulia..."


"Tidak, kau jangan salah paham. Aku mau minta mau keluar bukan karena marah padamu, tapi karena aku ingin mengganti bajuku. Kau ambilkan lah makanan di dapur istana!" titahnya pada Liliana.


Gadis itu menyeka air matanya, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan dan jalan ke arah dapur istana untuk melaksanakan perintah Max.


Didalam perjalanan menuju ke dapur istana, Liliana berpapasan dengan Alejandro. Sebagai bawahan, tentunya Liliana sadar diri. Dia langsung membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat. Kemudian dia berlalu pergi, namun langkahnya terhenti ketika tangannya dipegang oleh Alejandro.


"Ah!"


Kenapa dia memegang tanganku dengan erat seperti ini?


Liliana terkejut manakala tangan Alejandro memegangnya begitu erat.


"Nona, bolehkah aku meminta tolong padamu?" Tanya Alejandro dengan sorot matanya yang menunjukkan ketertarikan.


Memang kalau jodoh tidak akan kemana.

__ADS_1


"I-iya tuan," risih, Liliana melepaskan tangannya secara perlahan dari genggaman tangan Alejandro.


"Bisakah kau mengantarku ke istana Ratu? Aku tidak tau jalan kesana..."


Curiga dan waspada itulah yang Liliana saat ini rasakan ketika Alejandro berada di sekitarnya. Padahal pria itu bisa meminta bantuan pengawal yang lebih tahu tentang seluk beluk istana, tapi mengapa dia meminta bantuannya yang notabenenya masih baru di sana.


"Tuan, saya mohon maaf... bukannya saya menolak. Tapi saya juga masih baru berada di istana ini, saya tidak tahu istana selain istana putra mahkota dan juga tempat tinggal saya."


Penolakan sopan dilakukan oleh Liliana, dengan menundukkan kepalanya.


Sial! Rupanya wanita ini tidak mudah dibodohi. Baiklah, Jangan panggil aku pecinta wanita jika aku tidak bisa menaklukkannya.


"Aduhh...."


"Tuan, tuan kenapa?" Gadis itu terkejut manakala dia mendapati, Alejandro memegang perutnya sembari meringis kesakitan.


"Aku...minta tolong, antarkan aku ke kamarku."


"Tuan....lebih baik tuan diantar oleh--"


Kenapa pria ini terus saja menempel padaku? Ini benar-benar meresahkan. Dia bukannya tidak peka dengan sikap oleh Alejandro yang aneh, namun dia sadar diri bahwa dia adalah seorang dayang istana.


"Tolong...aku tidak tahan lagi." Alejandro dengan sengaja merangkul tubuh Liliana. Dengan alasan sakit perut.


"Baiklah, Saya akan mengantar tuan ke kamar tuan. Tuan tunjukkan saja jalannya."


"Iya... ughhhh..."


Dasar wanita bodoh. Diam-diam Alejandro tersenyum menyeringai, ia merasa bahwa rencananya akan berhasil.


Beberapa pengawal disana, juga menawarkan bantuan kepada Alejandro. Namun pria itu dengan sengaja terus menempel kepada Liliana, mulai tercium bau bau busuk dari niatnya.


Akhirnya Lilliana sampai di depan sebuah kamar yang mewah. Dia memapah Alejandro sampai masuk ke dalam kamar itu. "Tolong...tolong baringkan aku di ranjang itu," ucap Alejandro dengan suara parau yang dibuat-buat.


"Baik tuan!"


Ya Tuhan, semoga pria ini tidak memiliki niat jahat padaku. Doanya dalam hati.


"Iya tuan,"


Liliana pun memberikan tubuh pria yang kekar itu di atas ranjang. Tangan Alejandro menarik Liliana dan memeluknya, salah satu tangannya yang lain menyentuh bokong Liliana dan meremassnya.


"Ahh!" Dengan cepat Liliana menghindar. Ia amat terkejut ketika dirinya disentuh sentuh seperti itu.


Kurang ajar sekali pria ini, jika dia bukan adik dari Baginda Ratu. Aku pasti sudah menendang anunya!


Alejandro semakin tergoda ketika dia mendengar suara Liliana yang mendesah.


"Maaf, aku tidak sengaja.." ucapnya tanpa ada rasa bersalah.


"Mohon maaf tuan, saya pamit undur diri." Liliana mencengkram rok yang dipakainya dengan geram. Dia menahan amarah karena Alejandro yang memegang-megang tubuhnya.


Kali ini Alejandro membiarkan Liliana pergi, setidaknya fantasinya menyentuh Liliana sudah terpenuhi. "Aahhh...sial! Suaranya begitu seksi. Lihat aja, aku akan menerkamu nanti. Kali ini aku akan membiarkanmu bebas untuk sementara waktu."


Usai mengambil makanan di dapur istana, Liliana kembali ke kamar Sang putra mahkota. Tentu saja dengan membawa makanan itu. Makanan yang katanya selalu menjadi cemilan Max dikala dirinya sedang ingin makan.


"Kenapa kau lama sekali? Apa kau habis dari planet Mars?!" Tanya Max dengan suara yang meninggi. Namun tiba-tiba pandangan marahnya berubah menjadi luluh, manakala ia melihat gadis itu menundukkan kepalanya.


"Maaf yang mulia, saya tadi habis dari toilet dulu." Alibinya berbohong.


"Dari toilet?" Tanyanya tak percaya.


"....." Liliana tidak menjawab lagi, dia hanya menyimpan nampan yang berisi makanan itu.


"Maaf ya," ucap Max menyesal.


"Kenapa yang mulia minta maaf kepada saya?"


"Karena aku sudah membentakmu tadi, Tapi kau jangan salah paham. Aku tidak marah padamu!" Max menjelaskan yang terjadi.


"Tidak, saya tidak apa-apa yang mulia. Ini bukan karena yang mulia,"


Sejak saat itu, Liliana selalu menghindar ketika ada Alejandro. Dia selalu didekati oleh Alejandro, apalagi saat Max sedang tidak berada di istana.


Ketika Max berada di luar istana, Liliana kadang mengobrol bersama teman-temannya atau mengerjakan pekerjaan yang lain di dapur. Saat dia tidak ada kerjaan, Alejandro selalu berusaha mendekatinya. Dan itulah yang terjadi saat ini.


"Aaahhhhh..."


Liliana sedang menjemur pakaian, alangkah kagetnya dia ketika sepasang tangan melingkar di tubuhnya. Memeluknya dengan erat.


"Suaramu yang mendesah ini sangat manis, nona Liliana..."


"Tolong.... lepaskan saya tuan Alejandro!" Liliana marah, sudah beberapa hari ini dia menahannya. Liliana menepis kedua tangan kekar itu, dan lagi-lagi Alejandro memeluknya dengan erat.Tak hanya itu, Alejandro juga menciumi leher Liliana.


"Hei manis, aku akan melepaskanmu kalau kau menemaniku selama satu malam." Bisiknya pada Liliana.


"Ughh...kumohon, lepaskan saya tuan!" Liliana mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur ke rerumputan.


"Dasar wanita kurang ajar! Apa kau ingin bermain kucing tikus denganku?" Alejandro kembali berdiri, atensinya menatap tajam pada wanita itu.


Diiringi dengan hawa n*fsu, pria itu menarik tangan Liliana dengan cukup keras. "Lepaskan saya tuan!" Teriak Liliana, mencoba mengundang perhatian orang-orang yang ada di sana.


Tapi sayang di sana tak ada siapa-siapa. Bahkan pengawal istana yang biasanya menjaga tempat itu, entah ke mana.


"Ayolah, hanya satu ronde saja...manis."


"Tidak! Saya tidak mau!"


Ketika Alejandro menyeret Liliana tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat ke arahnya.


BUK!


BUK!

__ADS_1


...*****...


__ADS_2