
...🍀🍀🍀...
Yang mulia, bukalah mata anda. Suara pendeta agung terdengar menggema.
"Kau bilang akan aku akan pergi ke dimensi lain atau apalah itu.. tapi.." Max membuka matanya, dia terkejut mendapati dirinya berada di sebuah tempat gelap. "Apa ini dunia lain? Lily, berada disini?" Gumam Max sambil melihat-lihat jalanan gelap yang berada didepannya.
Yang mulia, apa anda mendengar suara saya?
"Ya, aku mendengarmu."
Masuklah ke dalam rumah yang berada didepanmu itu.
"Rumah? Aku tidak melihat apapun disini, semuanya sangat gelap." Max tidak dapat melihat apapun disana, bahkan setitik cahaya.
Tutup matamu sekali lagi, kemudian bukalah kembali.
Max menutup dan membuka matanya kembali. Dia melihat sebuah rumah mewah didepannya dan rumah itu tampak familiar. Tentu saja karena itu adalah kediaman Duke Geraldine. Hanya saat ini di rumah itu diselimuti kabut hitam yang tebal.
"Kenapa..jadi begini,"
Yang mulia sudah melihatnya kan? Sekarang masuklah ke dalam rumah itu dan cari yang mulia putri mahkota disana.
Max masuk ke dalam rumah itu, dia melihat sosok wanita berbadan gemuk sedang bersama Liliana di ruang tengah. Keduanya sedang menangis bersama.
__ADS_1
"Kau harus ikut aku Liliana, kita adalah satu.. tidak ada yang mencintaimu...tidak akan ada yang menunggumu. Selama kau adalah itik buruk rupa yang jelek." Kata Adaire pada Liliana.
"Tidak! Aku harus kembali, ada yang menungguku.. aku yakin ada yang menungguku." ucap Liliana pada bayangan Adaire yang berdiri didepannya itu. Dia berurai air mata saat melihat dirinya yang dahulu.
"Bukan menunggumu, tapi menjemputmu." Ucap Max pada kedua wanita yang berada didepannya itu. "Lily.. ayo.." Max mengulurkan tangannya pada Liliana seraya mengajaknya pergi.
Liliana dan Adaire sama-sama menoleh. Liliana akan pergi menghampiri Max, "Maxim.."
Grep!
Adaire menahan tangan Liliana, "Jangan! Dia tidak tulus mencintaimu, dia hanya mencintai fisikmu saja! Jika kau jelek, dia tidak akan mau bersamamu. Buktinya dia pergi bersama wanita lain, tidak ada jaminan bahwa dia akan setia padamu Liliana. Kau sudah pernah mati, jangan jadi wanita bodoh yang melakukan kesalahan dua kali seperti percaya pada pria pengkhianat!" Seru Adaire pada Liliana.
Liliana berdiri ditengah-tengah antara kegelapan dan cahaya. Cahaya berada disisi Max dan kegelapan berada disisi dirinya yang di masa lalu.
"Dia tidak akan mau menerima dirimu jika kau berada didalam tubuhku,"
"Tapi kita adalah satu, Adaire...aku adalah kau dan kau adalah aku!" Ujar Liliana pada Adaire.
"Liliana, Adaire tidak akan mengatakan gak seperti itu. Dia itu baik dan rendah hati, tidak peduli siapa yang ada didalam dirimu aku tetap mencintaimu.. Adaire dan Liliana kalian sama." Max menarik Liliana dari sisi hitam.
Bayangan Adaire menghilang dari pandangan mereka. "Maxim.."
"Aku senang bertemu denganmu lagi, ayo kita pulang Liliana istriku.. ayo kita pulang.." Max memeluk Liliana, kemudian dia menggandeng tangannya.
__ADS_1
"Istriku? Pulang?" Liliana mendongakkan kepalanya dan menatap bingung pada pria itu.
Yang mulia, bawalah keluar putri mahkota darisana.
"Hem.. ayo kita pulang istriku sayang," ajak Max pada istrinya itu.
Liliana tersenyum sambil membalas genggaman tangan Max dengan erat.
Tak lama kemudian, Max kembali ke dalam tubuhnya. Dia membuka matanya, nafasnya terengah-engah. Wajahnya berkeringat, lalu dia langsung melihat ke arah wanita yang masih terbaring disampingnya.
"Pendeta agung?" Max menatap pendeta agung
"Sebentar lagi.."
Max terus memperhatikan istrinya, "Lily.."
Gadis cantik berambut merah itu membuka matanya, dia melihat ke sekelilingnya. Max tersenyum bahagia sampai dia menangis, tak percaya bahwa Liliana akan kembali membuka matanya.
"Ya Tuhan! Terimakasih.. terimakasih kau sudah kembali," ucap Max yang langsung memeluk gadis yang sudah resmi menjadi istrinya dengan penuh kelegaan didalam hatinya.
"Maaf, kau siapa?" Tanya Liliana dengan wajah bingung.
Max langsung melepaskan pelukannya dan wajahnya terlihat sangat syok!
__ADS_1
...---****----...