
POV Liliana, Maximilian
...🍀🍀🍀...
Aku seperti tenggelam di lautan yang tidak ku temui dimana dasarnya..
Sesak, aku tidak bisa bernapas! Siapa yang bisa menolongku? Siapa yang peduli padaku di dunia penuh tipu muslihat ini? Suami yang aku cintai sepenuh hati, adik yang sangat aku sayangi hingga aku rela memberikan segalanya untuknya...
Ketika aku terjatuh ke lautan, mereka berdua yang ku sayangi bukan menolongku, tapi mereka hanya melihatku dengan tertawa bahagia! Apa salahku? Selama ini aku mencintai mereka sepenuh hatiku, tapi apa balasannya? Pengkhianatan dan penipuan! Mereka menghancurkan segalanya!
Ku berikan hatiku dan mereka mematahkannya! Sakit ini tidak berdarah, sakit yang berada di dalam ini tidak bisa ku lupakan begitu saja!
Tuhan..
Apa masih ada cinta untukku di dunia ini? Apa masih ada cinta yang tulus? Tidak! Tidak ada yang namanya cinta tulus, cinta itu sendiri bahkan tidak ada di dunia ini.. tidak ada yang bisa membantuku keluar dari jurang ketidakberdayaan ini..
Tolong.. tolong aku....rasanya sesak sekali, tolong.. aku tidak mau mati lagi..aku tidak mau!
...***...
Dalam ketidaksadarannya, Liliana menggenggam erat tangan Max. Max membalas genggaman erat Liliana, dia melihat gadis itu dengan cemas dan penuh pertanyaan.
"Aku tidak mau mati.. aku tidak mau mati lagi," gumam gadis itu dalam keadaan tidak sadar.
"Kau tidak akan mati, aku ada disini dan kau akan baik-baik saja," ucap Max lembut
Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kau terlihat terluka seperti ini?
Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku melihat mata biru yang indah itu....
Aku melihat keberanian, kemarahan, ketangguhan di dalam matamu. Rambut merah mu yang panjang, sempat membuatku terpesona. Kemudian aku teringat ibu tiriku yang mengambil hati ayahku dengan kecantikannya dan menyingkirkan ibuku. Sejak saat itu, aku putuskan untuk tidak mempercayai wanita cantik yang bisa memperdaya perasaan seorang pria.. Karena aku pikir semua wanita sama saja. Hanya dengan uang dan perhiasan mereka bisa tunduk dibawah kakiku.
Namun, ketika melihatmu dan mengenalmu lebih dekat.. Aku jadi tau bahwa tidak semua wanita sama seperti ibu tiriku itu. Kau berbeda dari wanita-wanita di sekelilingku. Kau pemberani, kau cuek dan kau tidak seperti wanita lain yang memanfaatkan seorang pria untuk mendapatkan tujuanmu.
__ADS_1
Tapi, kenapa kau bersikeras kejam pada mereka berdua? Apa masalahmu dengan mereka? Mengapa kau sampai menyakiti dirimu sendiri untuk mereka? Kenapa aku melihat dibalik mata penuh keberanian itu, ada luka yang amat dalam? Karena siapa luka itu? Apa karena mereka berdua? Apa mereka yang sudah melukaimu?
Beberapa menit kemudian, tabib Almoore datang membawa baskom berisi air panas dan segelas air berwarna hijau yang entah apa itu. Almoore melihat Max sedang membelai pipi Liliana dan penuh kasih sayang. Kedatangan Almoore menghentikan aktivitasnya itu.
"Yang mulia, apa yang mulia bisa permisi sebentar?" tanya Almoore sopan.
"Kau mau apa?" Max kembali bicara dengan suara yang kesal.
"Saya mau mengobati nona," jawab Almoore yang sudah memegang handuk basah ditangannya.
Max menatap Almoore dengan curiga. "Yang mulia, apa anda mengira saya akan melakukan hal yang bukan-bukan?"
"Kenapa kau membawa handuk? Mau bagaimana kau mengobatinya?" tanya Max masih dengan tatapan curiganya pada pria paruh baya itu.
Astaga! Kenapa yang mulia menjadi begitu kekanakan karena wanita ini? Atau mungkin yang mulia putra mahkota benar-benar.
"Kenapa kau malah bengong? Aku sedang bertanya padamu pria tua!" Bentak Max pada Almoore.
"Saya akan mengompres beberapa bagian tubuhnya yang sensitif, lalu saya akan memberikan obat herbal ini untuk menetralisir cairan yang berada didalam tubuhnya," jelas Almoore pada Max.
"Saya harus melakukannya untuk mengobati nona," jawab Almoore dengan tatapan penasaran dan senyuman menggoda pada Max.
Max mengambil handuk basah itu dari tangan Almoore. "Biar aku saja yang melakukannya,"
"Eh, mana mungkin saya berani meminta yang mulia melakukan pekerjaan kasar ini. Biar saya saja yang melakukannya, saya harus mengusap tubuh nona secepatnya," Almoore tersenyum memandang ke arah Liliana.
"Kurang ajar sekali! Beraninya kau membantahku, aku bilang aku yang akan melakukannya! Beraninya kau menatap dia seperti seorang mesum, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!" Gerutu Max marah marah padanya.
Sudah kuduga, yang mulia putra mahkota cemburu haha..
Almoore tertawa di dalam hatinya dan yakin kalau Max sudah jatuh hati pada wanita berambut merah itu.
"Baiklah kalau itu permintaan yang mulia, saya tidak bisa membantahnya. Saya akan pergi ke dapur untuk membuatkan makanan untuk yang mulia dan nona," ucap Almoore sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Max tidak menjawab Almoore, dia hanya fokus pada wanita yang terbaring dalam kondisi lemah itu. "Almoore!" ucap Max pada Almoore yang baru saja sampai di depan pintu.
Almoore kembali menoleh ke arahnya."Ya yang mulia?"
"Aku harus mengusap bagian tubuhnya yang mana saja?" tanya Max bingung.
Pria paruh baya itu tersenyum, dia menjelaskan bahwa Max harus membersihkan bagian ketiak, tangan, telapak kaki dan keningnya. Max melakukan apa yang dikatakan oleh Almoore. Untuk pertama kalinya Max mengurus seorang wanita, memang banyak wanita yang dia sentuh untuk bersenang-senang. Tapi, dia tidak pernah mengurus wanita sampai seperti ini. Max terlihat sangat peduli padanya, dia ingin tau luka apa yang dialami oleh Liliana.
Selesai membersihkan tubuh Liliana, kini dia tinggal memberikan obat untuk Liliana. Namun, Max bingung bagaimana caranya memberikan obat pada orang yang tidak sadarkan diri? Max bertanya pada Almoore, bagaimana cara memasukkan minuman obat itu pada Liliana. Dan Almoore memberikan saran yang membuatnya tercengang, "Yang mulia tinggal memberikan obatnya dari mulut ke mulut,"
"A-Apa? Apa maksudmu? Jangan kurang ajar kau Almoore! Mana bisa aku melakukan itu!" Max menarik kerah baju Almoore.
Bukankah itu sama dengan ciuman tak sengaja?
"Hanya itu satu-satunya cara untuk membuat nona meminum obatnya. Kalau yang mulia tidak mau, ya sudah biar saya saja yang melakukannya." Kata Almoore sambil mengambil gelas berisi minuman obat itu.
Mata merah itu membulat menatap Almoore dengan marah. "Tidak boleh! Aku saja yang lakukan! Kau pergi saja!" Seru Max mengusir pria itu untuk keluar dari kamarnya sendiri. Max langsung mengambil gelas berisi obat itu dari tangan Almoore.
"Aihh.. apa yang mulia sedang malu-malu?" Godanya pada Max.
"Berisik," ucap Max dengan mata dinginnya.
Takut dengan aura dingin dan tajam dari Max, Almoore pun memutuskan untuk pergi dari sana secepat kilat. Max terlihat gugup dan bingung ketika berduaan saja dengan Liliana di dalam kamar itu.
"Apa aku harus melakukan ini?" Max bergumam sendiri. Dia menatap wanita yang terbaring lemah itu, "Maafkan aku, aku melakukannya agar kau cepat sembuh." Saliva pria itu naik turun, ketika dia menatap bibir cantik yang pucat itu.
Max membulatkan tekadnya, dia meraih tubuh Liliana dan mengangkatnya untuk duduk. Rambut gadis itu tergerai panjang menyentuh tangan kekarnya. Max meneguk air hijau didalam gelas itu, wajahnya terlihat aneh.
Astaga! Rasanya tidak enak sekali, Almoore..apa yang dia masukan ke dalam sini?
Max segera memberikan air obat itu pada Liliana dari mulut ke mulut. Liliana meneguk air yang diberikan Max padanya, perlahan tanpa dia sadari. Tanpa sengaja mereka sudah berciuman.
Kenapa rasanya manis? Kenapa aku tidak mau berhenti mengecap bibirnya?
__ADS_1
...---***---...