Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 50. Berikan kesempatan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Lily, jawab aku? Apa kau akan menghindar lagi? Buktinya sudah jelas, bahwa tubuhmu bahkan merespon diriku. Kau tidak menolak bahkan ketika aku mencium bibirmu," ucap Max sambil tersenyum menyeringai.


"Hey mesum! Apa yang kau katakan?" tanya Liliana salah tingkah.


"Jadi bagaimana? Kau menyukaiku dan aku menyukaimu, harusnya kita bagaimana?"tanya Max yang terus mendesak Liliana untuk mengatakan cinta padanya.


"Aku tidak bilang kalau aku menyukaimu!" Sangkal Liliana para perasaannya sendiri.


Aku suka pada Eugene? Sejak kapan? Aku pikir aku tidak akan bisa menyukai siapapun lagi, tapi kenapa hatiku tidak bisa menolak pesona pria ini. Apa benar aku telah jatuh hati?


Gadis itu tertegun dalam dilema cinta, pasalnya dia tidak mau jatuh cinta lagi. Takutnya ketika dia mencintai seseorang, dia akan bernasib sama dengan dirinya di masa lalu. Mati mengenaskan.


Liliana beranjak turun dari ranjang itu, dia melangkah pergi tanpa menoleh ke arah pria yang baru saja berciuman dengan dirinya. "Apa kau akan kabur terus seperti ini? Kau akan terus menghindar dan memungkiri perasaan mu Liliana?" tanya Max sambil menyusul wanita yang akan membuka pintu ruangan itu.


"Hentikan ini Eugene," pinta Liliana pada pria itu.


"Setidaknya berikan aku kesempatan untuk bicara! Berikan aku kesempatan untuk membuatmu percaya," Max memegang tangan Liliana. Dia tidak mau mundur lagi, dia akan menangkap gadis itu ke dalam pelukannya dan menjadikan Liliana sebagai kekasihnya.


"Aku sudah bilang aku tidak bisa Eugene, jatuh cinta hanya bisa membuatku sakit. Aku.. pernah mencintai tapi aku dikhianati," Liliana terlihat sedih mengingat masa lalunya yang menyakitkan sebagai Adaire.


Oh jadi ini penyebab dia tidak mau membuka hatinya untuk pria lain. Jadi, pria bajingan itu berselingkuh darinya dengan si cabe kuning?


Max memegang kedua pipi Liliana dengan lembut, dia mengarahkan wajah cantik itu dan menatapnya. "Aku tidak akan seperti itu. Aku tidak akan mengkhianatimu, aku berjanji atas nama ibuku, aku tidak akan pernah menyakiti wanita yang aku sayangi. Aku tidak akan menyakiti dirimu, jika kau menjadi kekasihku nanti. Aku akan menjadi orang kepercayaan dan menjadi tempatmu untuk bersandar, tidak akan ada pengkhianatan.. aku bersumpah," Mac meletakkan tangan Liliana kepalanya seolah dia bersumpah atas nyawanya sendiri.


Liliana menatap pria itu dengan bingung, masih ada keraguan didalam hatinya. Antara memberi kesempatan atau menutup jalan akan semua itu. "Eugene,"


"Baiklah... aku tau untuk sekarang kau tidak akan percaya padaku begitu saja dengan kata-kata. Jadi begini saja, bagaimana jika kau memberikan ku kesempatan untuk jalan denganmu? Hanya untuk 3 kali pertemuan saja, jika kau yakin padaku dan ketulusanku.. maka kau harus menjawab terima pada pertemuan ketiga kita. Dan begitu juga sebaliknya, jika kau tidak suka aku. Kau bisa menolakku pada pertemuan ketiga kita, bagaimana? Ayolah, kau tidak akan rugi dengan saranku ini!" jelas Max panjang lebar, seraya memohon pada gadis itu. Berharap hatinya sedikit mencair.


Liliana tampak berfikir, tak lama kemudian dia menjawab. "Baik,"


"A-Apa?" Max ternganga.


"Baiklah, kita coba hubungan percobaan ini seperti apa yang kau katakan." ucap Liliana setuju.

__ADS_1


Max tersenyum bahagia, "Kau serius?"


"Kenapa kau bertanya lagi? Apakah kau tidak mau?" Liliana mengernyitkan dahi keheranan.


"Tentu saja aku mau! Kau tidak boleh berubah pikiran ya," ucap Max senang.


"Asal jangan ada kebohongan, aku tidak akan berubah pikiran." Liliana tersenyum tipis.


Baiklah Liliana, mari lah kau coba hal baru dengan membuka hati.


Deg


Max tersentak kaget mendengar kata kebohongan yang diucapkan Liliana. Wajahnya langsung pucat pasi.


Sial! Aku baru ingat kalau aku berbohong padanya soal identitas ku yang sebenarnya. Kalau aku mengatakannya sekarang, pasti dia akan kabur lagi. Lebih baik aku katakan saat pesta nanti.


...****...


Sementara itu Adara sedang berada di penjara, ada dua orang wanita tahanan lain yang disatukan dalam satu sel dengannya. Adara menatap jijik pada orang-orang yang bersamanya itu.


"Kenapa kau melihat kami seperti itu?" tanya seorang wanita berambut keriting dengan baju yang sobek-sobek. Gayanya tampak menyeramkan bak seorang preman.


"Sepertinya kau seorang bangsawan ya? Kenapa kau bisa ada disini?" tanya seorang wanita yang memiliki rambut pendek.


"Ah, bukankah kau si peri itu! Dari keluarga Duke Geraldine kan?" tanya si wanita rambut keriting padanya, dia yakin bahwa Adara adalah putri keluarga Geraldine yang sering dijuluki sebagai peri atau malaikat.


Adara mengacuhkan dua wanita yang berada di dalam selnya. "Penjaga! Penjaga!" Teriak Adara memanggil penjaga.


Seorang sipir penjara datang menghampiri Adara dengan wajah garangnya. "Ada apa?" tanya sipir itu sinis.


"Kenapa bisa ada mereka berdua didalam sel ku? Aku ini seorang bangsawan, harusnya aku mendapatkan sel sendiri dan tidak bersama dengan mereka!" Seru Adara protes. Dia menatap kedua wanita dibelakangnya dengan sinis.


Wanita berambut keriting menghampiri Adara dengan kesal,"Apa maksudmu, kau tidak mau satu sel dengan kami?"


"Kakak, apa kau tidak paham? Dia sedang menghina kita karena dia seorang bangsawan!" kata si rambut pendek yakin.

__ADS_1


"Maaf, sesuai dengan perintah putra mahkota dan hukum istana. Mau anda berasal dari keluarga bangsawan sekalipun, anda tidak bisa berbuat seenaknya sendiri. Nona akan tetap bersama tahanan lain disini," jelas sipir penjara itu dengan tegas.


Kasihan juga gadis secantik ini harus menerima kebencian dari orang tinggi seperti putra mahkota dan tuan putri. Sungguh sial! batin sipir penjara.


"Ta-tapi.. aku tidak mau, kumohon pindahkan saja aku dari sini!" Adara memegang besi penjara sambil memelas dihadapan sipir penjara, berusaha meraih simpati dengan menangis.


Namun tangisannya sama sekali tidak mempan pada pria itu. Dia kembali ke tempatnya tanpa mempedulikan Adara yang memohon kepadanya untuk dipindahkan ke sel sendiri.


Sial! Kenapa dia mengabaikan ku? Tidak pernah ada yang menolakku selama ini.


"Hahahaha, walaupun kau bangsawan. Kriminal tetaplah kriminal," wanita berambut keriting itu menertawakan Adara yang diabaikan disana.


"Benar kakak, kriminal tetaplah kriminal. Ya, setidaknya hukum negara ini cukup adil dan tidak membedakan. Mereka tidak pandang bulu," ucap si rambut pendek menambahkan.


"Diam kalian! Dasar pengemis rendahan! Beraninya kalian mengejek ku? Apa kalian tidak tau aku siapa?" tanya Adara mulai kesal dengan ocehan yang menyakiti telinganya.


"Hoho, rupanya begini ya sikap asli gadis yang sering disebut Malaikat ini?" wanita berambut keriting berjalan menghampiri Adara dan memainkan rambut Adara.


Adara menepis tangan wanita itu dengan jijik,


"Jangan menyentuhku sembarangan dengan tangan kotor mu itu! Cuih!" Adara meludah pada wanita keriting itu.


Wanita berambut keriting itu menjambak rambut Adara dengan kasar, "He-hey lepaskan aku! Beraninya kalian melakukan ini padaku!"


"Wah, lihat gadis ini? Dia masih saja angkuh," wanita berambut pendek itu menggelengkan kepala, sambil tersenyum sinis.


"Sepertinya kita harus memberikan pelajaran pada bibir kotornya ini," ucap wanita berambut keriting dengan semangat.


"Iya kau benar kakak! Mari kita beri dia pelajaran berharga," ucap wanita rambut pendek dengan senyuman menyeringai.


"Kalian mau apa? He-hey!" Adara mulai ketakutan ketika salah satu dari wanita itu mengepalkan tangan seolah ingin memukul dirinya.


Keangkuhan Adara, akhirnya kalah saat itu juga oleh dua wanita yang berada didalam penjara. Adara di pukuli dan ditindas oleh mereka berdua. Dia tidak berdaya dan hanya bisa menahan tangisnya. Tidak ada yang menolongnya disana.


...----*****---...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen nya ya 😍😍🥰


__ADS_2