
Gadis itu merasakan tangan lembut dan kekar memeluknya. Bahu lebar dan dada bidang terasa ditubuhnya. Memanggil namanya seraya meminta maaf dengan suara lembutnya. Siapa lagi kalau bukan Maximilian?
"Yang mulia.." lirih Liliana sambil memegangi tangan yang memeluknya.
"Maafkan aku Lily, aku tidak bisa membuat Adara mendapatkan hukuman mati..."
"Kenapa anda meminta maaf untuk itu? Kenapa meminta maaf padaku?" tanya Liliana pura-pura tidak tahu.
Rasanya sangat aneh, mengapa dia meminta maaf padaku karena Adara. Apa dia tau kalau aku adalah Adaire yang asli?
"Karena, Adara adalah orang yang sudah melenyapkan sahabatmu Adaire. Maafkan aku karena belum bisa membuat dia mendapatkan hukuman yang pantas," jelasnya merasa bersalah.
Aku tidak bisa bilang kalau aku sudah tau kau adalah Adaire. Aku akan menunggumu sampai kau mengakuinya sendiri padaku. Sampai kau cukup percaya padaku untuk jujur.
Liliana melepaskan tangan yang melingkar di tubuhnya. Max pindah posisi ke depan Liliana, dia menatap gadis itu dengan mata penuh rasa bersalah.
Dia ingin membantu Liliana menyelesaikan segalanya, agar gadis itu tidak perlu mengotori tangannya untuk balas dendam. Bahkan jika gadis itu meminta dunia, Max akan membawakan dunia untuknya. Dunia yang dia inginkan, jika Liliana meminta bahagia. Max akan sebisa mungkin mengabulkan permintaannya. Asalkan Liliana meminta padanya.
"Iya saya sedih karena sahabat saya dibunuh dengan tidak adil oleh adiknya sendiri. Tapi, yang mulia tidak perlu minta maaf ataupun merasa bersalah pada saya," ucap Liliana sambil menyeka air matanya.
"Tapi kau menangis, itu karena kau sedih kan dengan apa yang terjadi? Tidak bisakah kau hidup bahagia tanpa membalas dendam?"
"Kenapa anda bicara seperti ini? Anda tidak tahu apa yang saya.. apa yang nona Adaire rasakan? Anda tidak tahu itu yang mulia!" Pernyataan Liliana mengartikan bahwa dia tidak akan berhenti balas dendam.
"Aku paham! Aku paham sakit hatinya Adaire, dia diselingkuhi oleh suaminya, dibunuh oleh adiknya, aku tau betapa tidak adil hidup ini untuknya! Tapi, jika kau adalah Adaire.. apa kau akan terus menyimpan dendam ini seumur hidup? Dendam itu seperti api yang akan terus menyambar tiada habisnya, jika tidak dipadamkan!" ucap Max berusaha mengubah pemikiran Liliana tentang dendam didalam hatinya.
"Sa-saya tidak bisa melepaskannya yang mulia, dendam ini harus tuntas..nona Adaire tidak akan tenang jika belum membalas orang-orang yang sudah mencelakainya," ucap Liliana emosional. Hatinya belum berdamai dengan api bernama dendam, terlebih lagi Adara dan Arsen masih belum mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Max menghela napas panjang, "Baik.. kalau kau tidak mau melepaskan dendam ini. Maka berikan bebanmu itu padaku, biar aku yang membantumu dan nona Adaire untuk membalas dendam, jadi kau-"
Liliana menyela dengan marah,"Siapa anda? Kenapa yang mulia ikut campur dalam urusan saya?"
"Karena aku mencintaimu, maka dari itu urusanmu adalah urusanku juga! Dan aku tidak mau kau terluka! Kumohon, jangan lakukan hal yang berbahaya," ucap Max seraya memohon pada Liliana untuk tidak melakukan hal yang berbahaya.
__ADS_1
Aku tidak tau jelas bagaimana isi pikiranmu saat ini, tapi aku tau kalau kau sangat marah dan ketika kau marah kau akan melakukan hal diluar batas..
Tangan Max memegang tangan cantik Liliana yang gemetar karena marah. "Kumohon.. biarkan aku terlibat, jadikan aku kaki tanganmu dan bergantunglah sesekali padaku," bibir Max mengecup punggung tangan Liliana dengan lembut. Dia berharap dapat menenangkan wanita itu.
"Lalu.. apa yang mulia mau membantu saya?" tanya Liliana pada akhirnya.
Max tercekat dia menengadah ke arah Liliana, menatapnya dalam-dalam. Apa wanita itu sudah memercayainya?
"Aku akan membantumu," jawab Max sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.
"Walaupun saya belum menerima perasaanku yang mulia? Apa yang mulia rela saya manfaatkan? Maafkan saya, tapi saya bukan wanita baik-baik."
"Aku juga bukan pria baik-baik. Kau tenang saja dan percaya padaku, aku akan membantumu dan nona Adaire untuk mendapatkan keadilan.." Max membelai lembut pipi Liliana.
"Terimakasih yang mulia," jawab Liliana sambil tersenyum.
"Jadi, tenanglah dan jangan banyak pikiran. Atau kau akan sakit," ucap Max perhatian.
Setelah pembicaraan itu, Max jarang menemui Liliana. Dia sibuk dengan berbagai urusan, namun dia menepati janjinya untuk menghukum Arsen dan Adara. Keduanya berada di dalam penjara dan Duke sama sekali tidak membela Arsen ataupun Adara.
Duke Geraldine sudah terlanjur sakit hati dengan apa yang dilakukan anak dan menantunya itu pada anak sulungnya yang sudah tiada. Keadaan sudah mulai membaik di rumah Geraldine, Liliana berusaha untuk menghibur Duke Geraldine dengan baik.
Duke Geraldine kembali bekerja seperti biasanya di gedung pemerintahan kerajaan Istvan. Sementara Liliana selalu sendirian di dalam mansion yang megah dan mewah itu, dia menghabiskan waktunya dengan berlatih pedang, berkuda dan lainnya yang berkaitan dengan bela diri.
"Kenapa dia tidak pernah datang lagi setelah itu? Dia bahkan tidak mengirimkan surat. Apa jangan-jangan dia menang ingin bertunangan dengan nona Julia?" Liliana mulai berpikir yang macam-macam karena tidak ada tentang Max.
"Tenanglah nona, yang mulia pasti sedang sibuk. Yang mulia tidak akan bertunangan dengan nona dari keluarga Norton," ucap Adrian yang tiba-tiba saja sudah muncul dibelakang Liliana.
"Pruttttt.. Ohok...Ohok..." Liliana menyemburkan teh yang baru saja dia minum. "Sir Adrian kau muncul darimana?" tanya Liliana sambil mengusap basah dibibirnya.
"Ma-maafkan saya nona. Tapi saya selalu ada disekitar nona, daritadi saya berada disini," ucap Adrian seraya memohon maaf pada Liliana karena telah mengagetkannya.
"Tidak apa-apa. Sir Adrian, kau tidak boleh bicara apapun tentang yang aku katakan barusan pada yang mulia putra mahkota. Tidak boleh!" kata Liliana melarang pria itu melaporkan ucapan Liliana pada Max.
__ADS_1
"Baiklah nona," jawab Adrian sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Daisy datang menghampiri Liliana sambil membawa sebuah undangan dari istana untuk nonanya yang jarang ikut bergabung dalam perkumpulan sosial.
"Kau yakin ini dari istana?" tanya Liliana tak yakin.
Apa ini dari Maximilian?
"Benar nona, kanselir Baginda Ratu sendi yang mengantarkannya," jawab Daisy menjelaskan.
"Baginda Ratu?" Liliana terperangah mendengar kata Ratu.
Adrian yang berdiri dibelakang Liliana juga terkejut mendengarnya. Dia ikut tegang, karena dia tau Ratu pasti tidak memiliki niat baik pada Liliana.
Jika ini benar dari Ratu, kenapa dia mengirimkan surat padaku? Dia dan aku kan tidak saling kenal? Liliana berfikir keras.
Dia melihat ada cap istana dan cap dari istana Ratu. Kemudian dia membawa surat itu ke kamarnya dan membaca suratnya sendirian.
"APA? Undangan pemilihan putri mahkota?!" Pekik Liliana ternganga melihat isi surat itu secara keseluruhan.
...*****...
Di istana Ratu..
"Kyle, apa dia sudah menerima suratnya?" tanya Ratu Freya sambil meneguk teh didalam cangkirnya.
"Sudah yang mulia Ratu," jawab Kyle sambil membungkukkan badannya.
"Bagus, setelah ini akan banyak hiburan yang menarik di istana. Bagi seorang anak pungut tidak tahu diri, aku akan menunjukkan dimana tempatnya berada," ratu Freya tersenyum sinis.
Akan kutunjukkan bahwa istana tidak semudah yang dia pikirkan.
...----*****----...
__ADS_1