Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 41. Kehidupan Liliana (2)


__ADS_3

Liliana memandangi gaun berwarna merah itu, dia terlihat bingung dan linglung. "Ayah.. apa yang ayah rencanakan?" tanya Liliana resah.


Tok, tok, tok!


Sutt.. sutt..


Liliana celingukan kesana kemari, mencari suara bisikan dan suara ketukan di kamarnya. Dia melihat ke arah jendela kamarnya, "Nancy? Sedang apa kau disana? Maksudku mau apa kau kemari?" tanya Liliana pada gadis berkuncir dua yang sedang berada didekat jendela kamarnya dengan wajah panik. Dia adalah Nancy, sahabat baik Liliana.


"Lily, kau harus lari! Cepat!" Nancy naik ke jendela itu, dia menghampiri Liliana kemudian menarik tangannya.


"Ada apa Nancy? Kenapa kau menyuruhku lari?" tanya Liliana dengan wajah yang polos.


"A-aku melihat beberapa penagih hutang sedang datang kemari, kali ini mereka tidak hanya satu atau dua orang saja!" Jelas Nancy langsung pada intinya.


"A-Apa?" Liliana mendongak terkejut mendengar penjelasan temannya.


"Dan i-itu, mereka bersama dengan salah satu pegawai di tempat madam Morena!" Nancy menjelaskan dengan suara yang terengah-engah.


Madam Morena, nama itu adalah nama yang paling mengerikan bagi Liliana. Tidak ada yang tidak tahu tentang madam morena, wanita paruh baya yang memiliki sebuah tempat hiburan atau disebut juga sebagai tempat pelacuran. Wanita-wanita dibawa kesana dengan paksa, ada yang karena hutang, diculik dan ada juga yang suka rela datang kesana karena membutuhkan uang.


Liliana gemetar ketakutan mendengar nama madam Morena disebut. Dia tak percaya bahwa ayahnya mungkin memiliki niat menjual dirinya pada madam Morena untuk membayar hutang.


Apa ayah mau menjual ku? Apa ayah benar-benar mau melakukan itu pada anaknya sendiri?


Nancy memegang tangan Liliana seraya meminta dia untuk segera pergi, "Cepatlah! Jangan melamun begitu, kau harus segera pergi dari sini sebelum mereka-"


Duk Duk Duk!


"Lily, cepat keluar nak! Kenapa kau lama sekali? Ayo kita pergi jalan-jalan nak.." Suara pria paruh baya itu terdengar lembut seolah merayu.


Nancy dan Liliana panik melihat pintu kamar itu, akhirnya Liliana pergi dari sana bersama Nancy melalui jendela. Sadar akan anaknya yang tak kunjung menjawab panggilannya, membuat pria paruh baya yang bernama Robert itu curiga.


Robert mendobrak pintu kamar Liliana, dia melihat tidak ada siapapun disana. Padahal orang-orang sudah menunggu didepan rumah dan ingin membawanya. "Anak si*lan! Beraninya dia kabur!"


Beberapa pria kekar itu juga ikut masuk ke dalam kamar Liliana. "Bagaimana ini tuan Robert? Anakmu kabur ya?"

__ADS_1


"Apa kau sengaja ingin menipu kami?" seorang pria menarik baju Robert dan bersiap menghajarnya.


"Tuan tuan tolong sabar dulu, dia pasti belum jauh..kita harus mengejar dia!" Seru Robert dengan mata memicing menunjukkan ketakutan.


"Ya sudah, kita bereskan ini nanti! Tunggu anakmu tertangkap dulu. Kalian kejar dia!" titah seorang pria yang diduga sebagai seseorang yang bekerja pada madam Morena.


"Baik bos!" jawab 3 orang pria bertubuh kekar lainnya dengan patuh. Mereka bertiga keluar dari rumah itu dan mengejar Liliana.


"Kalau anak saya berhasil ditemukan.. apa semua hutang saya akan lunas?" tanya Robert kepada pria itu.


"Ya, hutangmu akan lunas dan kau juga akan dapat bayaran sesuai dengan yang dijanjikan, tapi itu hanya jika putrimu berhasil kami tangkap, lalu dibawa pada madam Morena!"


Liliana dan Nancy berada dalam pelarian, mereka hampir sampai menuju ke pantai. Napas mereka mulai terengah-engah, ketiga pria itu berhasil menyusul kedua gadis yang sedang berlari.


"Lily, kau pergi saja! Aku akan menghadang mereka disini!" Nancy meminta Liliana untuk pergi lebih dulu.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Liliana cemas pada sahabatnya.


"Target mereka bukanlah aku, tapi kau. Mereka tidak akan berbuat apa-apa padaku," Nancy tersenyum yakin.


"Tapi-"


"Nancy.."


"Pergilah!" Nancy mendorong Liliana seraya memintanya pergi. Ketiga pria itu sudah berada dekat dengan mereka.


"Terimakasih Nancy, kau harus baik-baik saja. Aku akan kembali!" Liliana menahan tangisnya.


Liliana berlari sekuat tenaga, sementara Nancy mengulur waktu agar sahabatnya bisa pergi. Namun, para pria itu rupanya berpencar untuk menangkap Liliana. Seorang pria menahan Nancy disana dan dia tidak bisa menolong sahabatnya.


Gadis berambut merah itu sampai di tepi pantai, tiba-tiba saja ombak datang ke arahnya dan menenggelamkan dirinya. Hingga dia terombang-ambing bersama air laut yang menyapunya.


Tolong! Tolong aku!


Liliana menutup mata.

__ADS_1


...*****...


Sesak! Aku tak bisa bernapas.. sakit...


Hosh...Hosh....


Liliana/ Adaire membuka matanya, dia melihat langit-langit yang tidak asing. Dia merasakan sakit ditubuhnya. Sesak di dada, seperti habis tenggelam. Tanpa sadar air matanya menetes, ternyata semua yang dia lihat dan dia rasakan tentang Liliana adalah mimpi dan potongan ingatan dari pemilik tubuh yang asli.


Malangnya nasibmu Liliana. Kenapa wanita secantik dirimu harus diperlakukan seperti itu? Bahkan kita juga memiliki ayah yang sama sekali tidak peduli dengan kita. Aku pikir selama menjadi orang cantik, maka hidup akan menjadi lebih mudah. Tapi ternyata aku salah, maafkan aku Liliana....aku telah mengambil tubuhmu dan aku malah melukai tubuhmu, harusnya aku menjaga tubuh ini dengan baik.


"Akhirnya kau sadar juga!"


Suara seorang pria membuat Liliana terkejut. Dia berusaha bangun dan melihat siapa pria yang berada di kamarnya. "Eugene?"


Apa aku bermimpi? Mengapa Eugene ada disini? Di kamarku?


Max menghampiri Liliana, kemudian dia memeluk wanita itu dengan lembut. "Syukurlah, aku pikir kau-" Max tidak melanjutkan kata-katanya. Dia lega karena Liliana sudah kembali sadar.


Ya Tuhan.. ini pertama kalinya aku berterimakasih padamu. Terimakasih, sudah menyelamatkan dia.


"Eugene, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Liliana bingung. "Apa kau menyusup lagi?" tanyanya lagi.


Max melepaskan pelukannya, wanita itu tidak tahu betapa cemasnya Max selama beberapa hari ini. "Apa kau harus melakukan semua ini hanya untuk balas dendam? Kau tau betapa cemasnya aku saat kau tidak sadarkan diri?" Max memegang tangan Liliana, dia menatap wanita itu dengan perasaan sedih dan berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba marah seperti ini padaku?" tanya Liliana dengan dahi yang mengernyit. Dia tidak tau kenapa Max marah kepadanya, padahal dia baru sadar.


"Kau tanya kenapa aku marah? Sial! Kenapa aku bisa gila karena dirimu? Kenapa aku harus peduli padamu seperti ini? Kau berhasil membuat hatiku terluka!" Max menangis.


"Hei, kau kenapa? Apa yang aku lakukan sehingga kau terluka?" tanya Liliana bingung melihat Max menangis.


Kenapa wajahnya seperti itu? Dia menangis? Apa itu karena aku?


"Sepertinya kau tidak peka kalau aku jelaskan dengan kata-kata," Max memberanikan dirinya mencium pipi Liliana untuk membuktikan perasaannya.


Cup!

__ADS_1


"Eugene," gadis itu memegang pipinya yang terasa panas setelah disentuh oleh bibir Max.


...----*****----...


__ADS_2