Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 124. Ini sudah berakhir


__ADS_3

Gadis tercengang mendengar ucapan suaminya yang meminta cerai.


Tidak ada angin dan tidak ada hujan, Max tiba-tiba saja meminta cerai. Ucapan Max dianggap candaan oleh Liliana. "Yang mulia, apa maksud anda? Apa anda masih bisa bercanda disaat seperti ini?" tanya Liliana sambil menatap suaminya.


"Apa menurutmu aku bisa bercanda disaat seperti ini?" Tanya Max sambil mempertahankan wajah seriusnya.


"Ke-kenapa yang mulia.... lebih baik kita bicara berdua dulu ditempat yang lain." Liliana menatap suaminya dengan bingung.


Liliana berdebar mendengar ucapan Max, dia mengajak Max bicara berdua dengannya ditempat lain. "Baik,"


Max dan Liana berada didalam sebuah ruangan kosong. Mereka berdua bicara sambil bertatap muka disana. Atmosfer diantara keduanya terasa dingin karena Max yang tidak banyak bicara.


"Yang mulia... perceraian itu...kau bercanda, kan?" Liliana menatap suaminya dengan tatapan bingung.


"Lily aku tidak akan main-main dengan ucapan sensitif seperti itu. Aku bersungguh-sungguh." Max menatap sang istri dengan penuh keberanian.


Maafkan aku Lily.


"Tapi kenapa tiba-tiba disaat seperti ini? Ada apa? Apa aku punya salah padamu?" Liliana tidak paham kenapa suaminya tiba-tiba meminta cerai.


Liliana menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Max hampir melemah melihat istrinya seperti akan menangis itu.


Kumohon Lily, jangan menangis. Kalau kau menangis, aku tidak tahu harus bagaimana.


"Kau tidak punya salah apapun. Hanya saja aku tidak mencintaimu lagi," ucap Max sambil memalingkan wajahnya dari Liliana.


Liliana memegang wajah suaminya, "Sebenarnya kenapa? Ada apa? Kenapa kau berbohong seperti ini? Yang mulia.. tataplah mataku saat bicara! Kau berbohong, kan?"


Ada apa? Kenapa Maximilian tiba-tiba seperti ini? Pasti ada sesuatu. Liliana tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya tentang perceraian.


Max menolak menatap Liliana. Dia melepaskan cincin pernikahan yang dipakainya, lalu melemparnya. "Apa yang kau lakukan yang mulia?" Liliana tercengang melihat suaminya melempar cincin pernikahan mereka.


"Kau juga.. lepaskan cincinmu!" Max memegang tangan Liliana.


Maafkan aku Lily, maaf.. aku hanya tidak mau kau bersedih jika terjadi sesuatu padaku. Perpisahan ini adalah yang terbaik untuk kita. Demi keselamatanmu juga.

__ADS_1


"Aku tidak mau! Aku tidak mau berpisah denganmu," ucap Liliana yang pada akhirnya dia menangis juga. "Aku menolaknya!"


Max melepaskan cincin itu dan melemparnya dengan jauh. Liliana berlari mencari cincin itu sambil menangis. "Dimana cincinnya?" Liliana tak percaya bahwa Max akan membuang cincin pernikahan mereka.


"Jangan dicari lagi, apa yang sudah hilang tidak ada bisa kembali." ucap Max dengan berat hati pada Liliana. Dia mengepalkan tangannya, didalam kepalan tangan itu ada dua cincin.


Liliana menghampiri suaminya, dia menangis dan memegang erat baju Max. "Kenapa kau melakukan ini? Sebenarnya kenapa?!" ucap wanita itu setengah berteriak.


Suara Liliana yang cukup kencang itu, terdengar sampai keluar ruangan. Duke Geraldine, Raja, pendeta agung dan beberapa orang yang ada disana mendengar suara Liliana.


Duke Geraldine terlihat sedih, "Lily, ayah sudah pernah mengingatkanmu untuk tidak berhubungan dengan anggota keluarga kerajaan. Ayah tidak mau kau terluka..."


"Kan aku sudah bilang, kalau aku tidak mencintaimu lagi! Apa kau masih tidak percaya? Atau kau tidak mendengarnya dengan jelas?" putra mahkota kerajaan Istvan itu memberanikan dirinya menatap Liliana. Dia melihat air mata jatuh membasahi pipi sang istri.


Jangan menangis Lily, aku mohon...jangan menangis...aku tidak tahan ingin mengusap air matamu.


"Aku tidak akan menerima perceraian ini, kalau kau tidak mengatakan alasannya! Aku tidak mau!" Liliana menangis sambil memukul-mukul tubuh suaminya. Dia menolak dengan tegas perceraian itu.


"Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak mencintaimu lagi." Max mengepalkan tangannya sekuat tenaga, dia tidak tahan untuk mengusap air mata Liliana.


"Bohong! Kau berbohong! Kau sangat mencintaiku!" Liliana tidak percaya.


Max menarik tangan istrinya keluar dari ruangan itu. Lalu dia meminta pendeta agung untuk memutuskan ikatan diantara mereka berdua. "Pendeta agung, lakukanlah!" Kata Max sambil memegang tangan Liliana dengan erat.


"Maximilian!" Liliana memanggil suaminya dengan suara keras.


"Putra mahkota.. kau tidak-" Raja mulai angkat bicara, dia tidak tahan dengan sikap putranya pada Liliana.


"Baginda, saya mohon diamlah." ucap Max pada ayahnya seraya meminta pria tua itu untuk diam.


Pendeta agung memegang tangan Liliana, dia menusuk sedikit jari Liliana dengan pisau hingga tangannya berdarah. "Kenapa.. kenapa kau melakukan ini? Kalau kau melakukan ini, maka kita akan berpisah.. mungkin untuk selamanya!"


"Memang itu yang aku inginkan!"


Liliana tercengang melihat ke arah suaminya. Dia benar-benar tak mengerti dengan Max. Hatinya hancur saat dia meminta perpisahan.

__ADS_1


Max melakukan hal yang sama, meneteskan darah ke cawan. Pendeta agung mencampurkan darah keduanya. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. "Yang mulia, aku tidak tahu apa alasanmu melakukan ini karena kau tidak menjelaskannya padaku. Tapi aku tau kau melakukannya bukan karena kau tidak mencintaiku."


"Terserah apa katamu," jawab Max dengan dingin.


"Yang mulia putra mahkota, anda harus mengatakannya sekarang!" Ujar pendeta agung pada Max.


"Aku Maximilian Gallan Istvan.. ingin memutuskan hubungan pernikahan dan ikatan darah dengan Liliana Eissa Istvan," ucap Max sambil bersumpah pada dewa.


Ini semua sudah berakhir. Batin Max berat hatinya melepaskan Liliana dengan paksa."Tapi Lily, aku janji...kita akan bersama kembali jika aku masih hidup,"


Sebuah cahaya menerangi tubuh mereka berdua, darah di cawan yang tadinya menyatu menjadi berpisah. Keduanya telah resmi berpisah dan memutuskan ikatan diantara keduanya.


Liliana dan Max merasa semua ini seperti mimpi. Perpisahan mereka benar-benar menyakiti keduanya. Namun Max harus tetap melakukannya, demi menyelamatkan semua orang. Dia menyakiti hati Liliana dengan tidak mengatakan apa-apa tentang alasan perceraian itu.


Air mata mengalir deras membasahi pipi Liliana. Air mata itu tidak mau berhenti dan terus merembes. Duke Geraldine memegang tubuh Liliana yang akan roboh. "Lily.. anakku..." tak tega Duke melihat anaknya menangis seperti itu.


"Pendeta agung, ini sudah selesai, kan? Apa aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya?" tanya Max dengan pandangan tajam ke arah wanita yang sedang sakit hati itu.


"Benar, segala ikatan diantara kalian sudah terputus." jawab Pendeta agung sambil mengangguk yakin.


"Baiklah kalau begitu," sahut Max yang ingin segera pergi dari sana. Dia tidak tahan melihat Liliana menangis.


Sekarang aku harus melawan Lucifer.


"Yang mulia putra mahkota! Tunggu!" Duke Geraldine menghentikan langkah Max. Dia menghampiri Max didepan pintu. Sementara Liliana berada cukup jauh jaraknya dari mereka berdua.


Max menoleh ke arah Duke Geraldine, "Ya?"


"Setelah ini anda tidak ada ikatan apapun lagi dengan anak saya. Jadi, kita hanya orang asing. Saya harap anda tidak mencoba mendekati anak saya lagi, atau kembali dengannya."


"Saya tidak bisa berjanji,"


"Yang mulia, anak saya bukan barang yang bisa anda mainkan sesuka hati! Saya tidak akan biarkan anda mempermainkan hati saya anak saya!" Duke Geraldine tegas.


Max menghela nafas, dia juga merasa berat ketika melepaskan Liliana. "Duke, kita bicarakan ini nanti."

__ADS_1


Max yang sudah ditunggu ke Medan perang, dia segera pergi dari sana untuk menyelamatkan semua orang. Liliana melihat kepergian Max dari jauh, dia paham pasti ada alasan kenapa Max melakukan semua ini.


...----*****----...


__ADS_2