
...🍀🍀🍀...
Liliana melihat Max dengan cemas, ketika bintik-bintik merah itu tampak jelas di kulitnya yang putih. "Eh, kau kenapa?" tanya Max keheranan.
Baru kali ini aku melihatnya menatapku dengan cemas. Entah kenapa aku sangat bahagia, lebih bahagia daripada saat aku menenangkan perang di perbatasan.
"Kenapa kulitmu ada bintik-bintik merah seperti ini? Apa kau sakit?" tanya Liliana panik dan khawatir. Alisnya naik turun, melihat Max dalam keadaan seperti itu.
Tubuhnya juga panas, sebenarnya dia kenapa?
"Aku baik-baik saja," jawab Max sambil tersenyum tipis, dia tidak mau membuat Liliana cemas dan mengacaukan acara mereka berdua. Walau hati nuraninya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Liliana memperhatikannya.
"Baik-baik saja bagaimana? Tubuhmu panas dan kau juga bintik-bintik begini!" Kata Liliana setengah berteriak karena cemas. Hingga orang-orang disana melihat ke arah Liliana dan Max yang sedang duduk di kursi penonton.
"Aku baik-baik saja," jawab Max sambil memalingkan wajah.
"Kau tidak baik-baik saja!" Liliana memegang tangan Max, dia menarik pria itu untuk pergi dari sana.
Mereka berdua berada ditempat yang sepi. Disana lah Liliana memeriksa kondisi Max, tangannya menyentuh wajah Max. "Aku tau kau ingin berduaan denganku, tapi apakah kau tidak terlalu agresif dengan menyentuhku seperti ini?" goda Max dengan senyuman jahilnya.
"Aku tidak sedang bercanda! Cepat buka topeng mu!" Titah Liliana tiba-tiba saja meminta Max untuk membuka topeng.
"Bu-buka topeng? Meng-mengapa?" Max mengernyitkan dahinya.
"Aku ingin melihat seberapa parah alerginya," jawab Liliana sambil melihat wajah Max.
"Alergi? Aku tidak alergi!" bantahnya tegas.
Kenapa dia bisa tau aku alergi?
"Jangan berbohong, aku tau kau alergi. Cepat buka topeng mu, sejelek apapun wajahmu aku tidak akan mengejek mu. Disini juga tidak ada siapapun," ucap Liliana dengan suara keras tak mau dibantah. Liliana tau benar soal alergi, karena dia juga alergi bubuk kacang saat dirinya masih berada didalam tubuhnya yang lama.
Dihadapan wanita itu, Max tidak bisa mengatakan tidak. Dia pun membuka topengnya, sekarang Liliana sudah melihat bagaimana rupa pria itu. Hidung mancung, mata merah, pria itu terlihat sangat tampan, tidak ada cacat di wajahnya sama sekali. Kulitnya putih bersih, membuat Liliana terpana dibuatnya. Meski terlihat bintik-bintik di wajahnya, tidak mengurangi ketampanan pria itu.
__ADS_1
"Ter.. ternyata bintik-bintik di wajah lumayan banyak," gumam Liliana sambil memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup menatap wajah pria itu.
Ternyata dia sangat tampan, aku bahkan mengira wajahnya jelek atau cacat. Ya ampun.. apa aku bilang barusan? Dia tampan?
"Ja-jadi kau alergi sup jamur atau kau alergi apa?" tanya Liliana yang masih memalingkan wajahnya.
"Aku alergi pedas.. tapi apa kau marah?" tanya Max cemas, melihat wanita itu tidak mau melihatnya.
"Oh jadi alergi pedas, ba-baiklah.. a-aku pergi dulu," Liliana mendadak gugup, dia beranjak dari tempat duduknya dan berlari cepat meninggalkan Max disana sendiri.
"Kau mau kemana?" Max heran karena Liliana berlari pergi begitu saja meninggalkannya disana.
"Blackey, ikuti dia! Kalau dia pulang ke rumahnya, maka kawal dia dengan selamat!" titah Max pada burung kesayangannya itu. Max memegang kepalanya dengan gusar.
"Baik yang mulia," jawab Blackey patuh.
Blackey mengikuti Liliana dari belakang seperti apa yang diperintahkan oleh Max. Sementara Max bersama Eugene disana, Max terlihat frustasi dia berpikir kalau Liliana marah karena dia alergi.
"Eugene, dia pasti marah padaku kan? Sial! Gara-gara alergi ini, dia marah padaku.." Max mengacak-acak rambutnya.
"Tidak marah bagaimana? Dia memalingkan wajahnya dan meninggalkanku sendirian disini. Apa dia marah karena melihat wajahku? Ahh.. aku rasa itu tidak mungkin, karena wajahku ini sangat tampan. Atau dia marah karena aku berbohong soal wajahku?" Max berspekulasi yang bukan-bukan tentang Liliana.
Eugene menahan tawa, dia tak percaya kalau Max si putra mahkota yang selalu tampak dingin dan tertekan saat berada di istana. Bisa mengeluarkan ekspresi bingung, marah, ekspresi yang bebas saat berada bersama Liliana. Gadis itu berhasil membuat Max gusar kelimpungan.
Selagi menunggu Liliana yang lama belum kembali, Max mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan seseorang yang mengikuti Liliana. Eugene membawa Max kepada orang itu yang ternyata adalah seorang nenek tua dengan membawa tongkat kayu.
Max dan Eugene berada di sebuah rumah tua, dimana Eugene menyekap wanita tua itu. "Eugene, apa kau bercanda? Kenapa kau menangkap wanita tua yang kabur dari panti jompo?" tanya Max setengah mengejek wanita tua itu. Dia tersenyum menyeringai melihat sosok wanita yang mengikuti Liliana itu.
"Yang mulia, wanita tua ini bukan wanita biasa," jawab Eugene dengan kening mengernyit.
"Oh benarkah? Menurutku dia terlihat lemah dan tidak berdaya seperti wanita tua pada umumnya," Max tersenyum sinis, dia melihat wanita tua dengan kondisi tubuh terikat tali dan mulut yang disumpal oleh kain.
"Hmphh! Hmphh!" Wanita tua itu meronta, seperti minta dilepaskan. Terlihat rambutnya yang beruban, wajah keriput, menunjukkan betapa tuanya dia.
__ADS_1
Max membuka kain yang menyumpal mulut wanita tua itu. "Ada apa? Kenapa kau mengikuti wanitaku?" tanya Max.
"Yang mulia putra mahkota, anda sudah dewasa rupanya," sapa si wanita tua sambil tersenyum ramah.
Max dan Eugene tercengang karena si wanita tua mengenali Max sebagai putra mahkota. Padahal semua orang di kota itu tidak pernah ada yang melihat wajahnya kecuali pejabat pemerintah yang bekerja di istana saja, karena Max selalu berada didalam peperangan dan tidak banyak orang yang tau wajahnya. Apalagi wanita tua yang asing ini. "Siapa kau? Mengapa kau mengenalku?" Max langsung mengambil pedang dari tangan Eugene dan mengarahkannya pada leher wanita tua itu.
"Saya hanya seorang peramal biasa. Nama saya Brieta," jawab Brieta memperkenalkan dirinya sambil menunduk seraya memberi hormat pada Max.
Wanita tua ini, dia bahkan tidak gemetar atau takut ketika aku mungkin akan menebas lehernya. Mengapa dia mengenaliku?
"Saya mengenal yang mulia dari kecil, mendiang ratu Rosabella sering membawa anda pada saya sewaktu masih kecil," jelas Brieta sambil tersenyum.
"Ibuku? Kau kenal ibuku?" Max mulai menurunkan pedangnya. Dia penasaran bagaimana bisa wanita tua asing ini bisa kenal dengan dirinya dan mendiang Ratu.
"Rupanya benang takdir itu masih terikat diantara kalian, bahkan sampai sekarang." ucap Brieta sambil tersenyum di wajah keriputnya.
"Benang takdir? Siapa? Antara siapa?" tanya Max semakin penasaran dengan apa yang diucapkan Brieta.
"Nona gemuk itu dan anda yang mulia, kalian masih terhubung sampai sekarang. Walau tubuh wanita itu kini sudah berbeda," gumam Brieta.
"Sebenarnya, apa maksudmu?" tanya Max kembali menodongkan pedang itu ke leher Brieta.
Wanita gemuk yang dimaksud itu apakah dia adalah mendiang nona Adaire?
"Benar, wanita gemuk yang sudah mati dan pernah bertemu dengan yang mulia ketika anda masih kecil. Dia berada didalam tubuh wanita berambut merah itu," jelas Brieta yakin.
Max terpana sampai menjatuhkan pedangnya, wajahnya terlihat syok setelah mendengarkan penjelasan Brieta. "Ada jiwa lain didalam tubuh wanita berambut merah itu, dia adalah jiwa dari wanita bertubuh gemuk," sambungnya lagi untuk memperjelas.
Tidak mungkin, nona Adaire sudah meninggal. Dia berada didalam tubuh Liliana? Pantas saja selama ini aku merasa tidak asing dengan dirinya. Mereka adalah orang yang sama, Adaire dan Liliana.
"Katakan! Apa lagi yang kau ketahui tentang semua ini? Nona Adaire dan Liliana!" Max berkata dengan tegas dengan rasa penasaran yang tinggi.
Disaat Max dan Eugene sedang mengintrogasi Brieta. Liliana kembali ke tempat dimana dia dan Max duduk sebelumnya, dia membawa salep dan bedak ditangannya.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak ada disini? Apa dia kembali ke istana? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?" tanya Liliana bingung.
...-----***-----...